LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 158


__ADS_3

Happy reading..


♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠


“Then we’re still going back to Villa today? (Jadi kita tetap kembali ke Villa hari ini?) ..”


“No (Tidak)”


“Was there any problem? (Apa ada masalah?) ..”


“No problem at all.. (Tidak ada masalah sama sekali) ..”


“......”


“I just have something to do today (Hanya ada sesuatu yang mau aku lakukan hari ini) ..”


“And what is that?.. (Dan apa itu?)..”


“Don’t say that you will keep going with your plan (Jangan katakan bahwa kau tetap akan menjalankan rencanamu itu?)..”


Addison bertanya dengan penuh selidik pada Putra.


“Let’s talk about it later ... (Kita bicarakan itu nanti)..”


Dimana Putra menatap penuh arti pada Addison dan seolah mengkode agar Addison tidak melanjutkan pembicaraannya.


Menunjuk pada Anthony dan Gadis dengan ekor matanya. Addison yang paham itu mengangguk samar. Beruntung Anthony tidak sedang memperhatikan pembicaraan para orang tua angkatnya yang barusan.


Memang Anthony seolah tahu dan paham mana ranah dimana dia tidak bisa masuk campur dalam pembicaraan para orang tua angkatnya.


***


Selepas sarapan Putra, Addison, Damian dan Garret langsung memisahkan diri untuk berbicara di dalam ruang kerja, sementara Gadis dan Bruna serta Anthony sedang melakukan sesuatu di pekarangan kediaman.


“So tell me, what happened at the Pub last night? ... But before, tell me. Are you going to run your plan to go to England?... (Jadi katakan kepadaku, apa yang terjadi di Pub semalam?... Tapi sebelumnya, katakan padaku. Apa kau akan menjalankan rencanamu untuk pergi ke Inggris?)...”


Addison memulai pembicaraan.


“For now, No (Untuk sekarang, No)...”


Putra menyahut.


“Like you guys what said, I have to ‘wait’ until we are really ready”


“(Seperti yang kalian katakan, aku harus ‘menunggu’ sampai kita benar-benar siap)”


“I feel relief to hear it ... (Aku merasa lega mendengarnya)...”


“We will arrange another plan, after we have some advices (Kita akan menyusun rencana lain, setelah kita mendapat beberapa saran)...”


“Advice?... (Saran?) ...” Tanya Addison dengan ekspresi sedikit heran.


“Hem”


“From? (Dari?)...”


“Ramone Zeeman ...” Cetus Garret.


“Your Godfather? ... (Ayah baptis mu?)...”


“Yes ... (Ya) ...”


“Ah damned! ... How can I forget about him? ... But is that mean that you or maybe all of us have to go to Netherland?... (Ah sial!... Bagaimana aku lupa tentangnya?... Tapi apa itu berarti kau atau bahkan mungkin kita semua harus pergi ke Belanda?)...”


“......”


“Knowing that he is someone that we can’t reach by phone”


“(Mengingat dia bukan seseorang yang dapat kita hubungi dengan telepon)”


“I was thinking to go to Netherland to meet him, right after we talked yesterday. But now it doesn’t need to ... (Aku sempat berpikir untuk pergi ke Belanda untuk menemuinya setelah pembicaraan kita kemarin. Tapi sekarang itu tidak perlu) ...”


“Why?... (Kenapa?)...”


Addison sontak bertanya.


“Cause he’s here already...”


“(Karena dia sudah disini)...”

__ADS_1


***


“Ada yang dapat aku bantu?” Tanya Putra pada Gadis yang sedang berada di pekarangan belakang bersama Anthony dan Bruna yang nampak sedang asik berkebun. Putra langsung pergi ke pekarangan belakang tersebut selepas ia selesai berbicara di ruang kerja dengan Addison, Damian dan Garret.


Gadis yang langsung menoleh saat mendengar suara Putra berikut sosoknya yang kini sudah berjongkok disamping Gadis itu spontan tersenyum pada Putra. “Nanti tangan anda kotor Tuan”


“Untuk membantu wanita cantik seperti Nona, rasanya aku tidak keberatan...”


Gadis dan Putra saling melempar kelakar, lalu sama-sama mendengus geli kemudian.


“Ada apa?...” Tanya Putra sembari mengusap pelan kepala Gadis, karena Gadis seperti sedang memikirkan sesuatu berdasarkan dari raut wajah Gadis yang Putra baca sekarang.


Gadis menggeleng pelan.


“Kamu bisa saja menyangkal...”


Putra berucap sembari masih mengusap pelan kepala Gadis.


“Tapi aku tahu ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu”


“Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari kamu ya?”


“Memang seharusnya tidak ada yang perlu kamu sembunyikan dariku”


Gadis manggut-manggut sembari tersenyum. Ia masih sibuk dengan pot berisikan bunga yang baru saja ia tanam.


“Jadi katakan apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” Tanya Putra lagi.


“Aku sedikit merasa gelisah” Jawab Gadis.


“Kenapa? ...”


“Karena ucapan Addison saat sarapan tadi” Jawab Gadis lagi.


“Hemm ...”


“Tentang rencana kamu akan sesuatu. Aku berpikir kalau kamu akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Jadi hati aku sedikit tidak tenang...”


Putra mengulas senyuman. “Tidak perlu mengkhawatirkan aku ...”


“Bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkan kamu Putra?...”


Gadis menatap sendu pada Putra. Putra masih mengulas senyum di bibirnya.


Putra berkata dengan tenang.


Lalu meletakkan satu telunjuknya di dagu Gadis dan membuat Gadis menatapnya.


“Sekalipun nanti aku akan melakukan hal yang berbahaya, aku akan menjaga diriku dengan baik agar aku bisa kembali dengan selamat untuk Anth dan untukmu”


Putra meyakinkan Gadis yang kemudian menghela nafasnya yang terdengar sedikit berat dengan menatap khawatir pada Putra. "Jangan melakukan hal ceroboh yang bisa membahayakan nyawamu ya?" Pinta Gadis.


“Aku akan menjaga keselamatan diriku dengan baik, hem?. Jadi tenanglah...” Tutur Putra. “Apapun yang akan aku lakukan ke depannya, kamu dan Anth akan menjadi pertimbanganku jika hal itu berbahaya. Lebih baik kamu memikirkan soal pernikahan kita saja”


Gadis mengangguk seraya tersenyum selepas Putra berbicara. “Rasanya aku harus fokus untuk membantu persiapan pernikahan Bruna dan Addison terlebih dahulu sebelum memikirkan soal pernikahan kita” Ucap Gadis.


Lalu Gadis berdiri untuk menaruh pot yang sudah ia tanamkan bunga ke sebuah rak besi khusus pot di taman pada pekarangan. Putra segera mengambil alih pot yang dipegang Gadis, lalu ia yang meletakkannya di rak tersebut.


“Tidak perlu terlalu repot... Kamu kan juga calon pengantin”


“Heu?...”


Gadis mengernyit.


“Bruna dong yang calon pengantin,”


Gadis kemudian berucap.


“Kita baru akan berbicara soal pernikahan kita lebih lanjut kan setelah pernikahan Bruna dan Addison ...”


“Ya kita kan akan menikah juga... Jadi kalau kamu disebut sebagai calon pengantin juga kan sah-sah saja?...”


“Ya, iya sih...” Sahut Gadis seraya manggut-manggut.


“Lagipula kamu memang calon pengantin seperti Bruna”


“Heu?” Gadis mengernyit lagi. “Calon pengiring pengantin mungkin maksud kamu”


Kemudian Gadis berucap.

__ADS_1


“Iya kan?”


“Heemm ..”


***


Hari sudah memasuki waktu siang.


“Where are we going (Kita mau kemana) , Papa?...”


Anthony bertanya pada sang Papa yang sedang bersiap-siap dalam kamarnya.


“I’ll take you to meet my Godfather... (Aku akan membawamu untuk bertemu dengan ayah baptis ku)...”


“So you have a Godfather like me also Papa?... (Jadi Papa punya ayah baptis sepertiku juga?)...” Tanya Anthony lagi.


“Yes I have ... (Iya aku punya)...”


“You never told me if you have a Godfather...”


“(Papa tidak pernah cerita padaku jika punya ayah baptis)...”


“Ya that’s because he lives far away from here (Ya itu karena dia tinggal jauh dari sini)”


“I see... (Oh begitu)...”


Anthony pun manggut-manggut.


“Shall we?... (Ayo?) ...” Putra langsung mengajak Anthony dengan mengulurkan tangannya selepas Gadis membantu Putra memakaikan jasnya.


Anthony mengangguk dan bangkit dengan cepat dari duduknya seraya meraih tangan Putra, lalu meraih juga tangan Gadis untuk ia gandeng bersamaan. Dan ketiganya langsung berjalan keluar dari kamar mereka dengan senyuman yang menghiasi wajah ketiganya.


***


Putra dan seluruh keluarganya berikut Danny dan Arthur yang ikut serta, sudah sampai di sebuah Hotel Ikonik di Ibukota, yang juga ikonik di Negeri tempat tinggal Putra dan keluarganya sekarang. Disebut ikonik, karena Hotel tersebut merupakan Hotel Bintang Lima pertama yang ada di Negeri tersebut, serta merupakan gedung tertinggi di Ibukotanya.


‘Wow!’ Batin Gadis bersuara takjub. ‘Putra memang sudah banyak bercerita padaku tentang diri dan kehidupannya .. tapi aku sungguh masih penasaran tentang seperti apa kehidupan Putra sebenarnya, hingga ia seperti seseorang yang punya kedudukan penting, selain sisi gelapnya mungkin’


Gadis masih punya rasa penasaran yang besar tentang Putra dalam hatinya. Pasalnya sejak awal menjadi begitu dekat, Gadis sudah sering keluar masuk tempat-tempat mewah selain di Pub tempat ia bekerja sebagai seorang penyanyi. Datang sebagai tamu, bukan sebagai pekerja yang menghibur tamu dengan suara.


Dengan sekejap, Gadis merasa kelas sosialnya naik dengan tajam. Terlebih sekarang, Putra mengajaknya untuk bertemu dengan ayah baptis Putra yang sudah Gadis kenal semalam di sebuah Hotel tempat para pejabat dan tamu-tamu penting negara di jamu.


‘Sebenarnya ayah baptis nya Putra itu siapa sih? ...’


Gadis membatin lagi, saat mobil yang ia tumpangi bersama Putra dan Anthony berikut Danny sudah sampai di pelataran lobi Hotel, dimana banyak jejeran pria berpakaian safari yang memang nampak menyambut mereka.


Terlihat semua pria berpakaian safari yang berjejer rapih dikanan dan kiri pintu masuk lobi, langsung menundukkan kepala, kala Putra turun dari mobil.


Bahkan dari sejak memasuki Hotel, sudah ada jejeran pria bersafari yang nampak mengatur mobil-mobil yang masuk ke area Hotel dan bertanya tentang nama.


Dan saat mobil yang Putra tumpangi memasuki area Hotel lalu Putra menyebutkan namanya dengan lengkap, kemudian beberapa dari pria berpakaian safari langsung mengawal mobil Putra dan tiga iringan mobil dibelakangnya dengan setengah berlari disisi kanan dan kiri Putra.


“Ada apa? ...” Tanya Putra.


Gadis mengulas senyuman, kala ia sudah turun dari dalam mobil dan kini tangannya melingkar disalah satu lengan Putra.


“Aku merasa seperti Ibu Negara dengan penyambutan seperti ini” Ucap Gadis dengan senyum yang seolah menampakkan rasa geli dalam dirinya, yang tak habis pikir jika sekarang ia berada diposisinya sekarang.


Menjalin hubungan dengan pria tampan, perlente kaya raya nan cukup misterius, lalu merasakan banyak hal yang bahkan tidak berani ia bayangkan sebelumnya.


“Lebih baik kamu menjadi ibu dari Anth dan anak-anak kita nanti” Bisik Putra di telinga Gadis. “Nanti langsung kita buat ya?” Kata Putra dengan jahilnya.


“Buat apa?” Tanya Gadis yang tak paham.


“Buat calon anak-anak kita” Jawab Putra dengan seringai jahil di wajahnya.


“Nikahi aku dulu, baru bicara soal anak-anak” Tukas Gadis dengan pelan, namun ia mendelik pada Putra yang mengulum senyum gelinya. “Jangan sampai aku hamil sebelum kita mengikat janji!”


“Bisa diatur kalau soal itu ...” Balas Putra enteng. “Yang penting iyakan dulu permintaanku tadi soal ‘membuat’ calon anak-anak kita dengan segera...”


“Bicara mesum lagi aku gigit, baru tahu rasa!”


“Nanti saja saat kita berduaan di kamar tanpa pakaian, silahkan gigit aku sepuas hatimu...”


“Putraa!...”


***


To be continue..

__ADS_1


Othor selalu menantikan dukungan kalian semua, wahai para reader yang war biasah.


Semoga selalu enjoy


__ADS_2