
Happy reading ....
***********
Netherlands, Europe ....
“Putra!”
“Yes, Yonna?”
Putra yang baru saja sampai di lantai bawah kediaman Ramone itu langsung menyahut pada Yonna yang memanggilnya barusan.
“A man name Hiz is calling, and he said that he want to inform you something about Jaeden ( Seorang pria bernama Hiz yang menelepon, dan ia mengatakan ingin berbicara padamu terkait tentang Jaeden )”
“Okay.” Sahut Putra cepat. “You all may go to the hall first, I’ll catch you up as soon as possible ( Kalian semua pergilah duluan ke aula, aku akan menyusul secepatnya )”
Putra berkata pada Ramone, Garret dan Yonna.
“Maybe I’ll go with you Putra. Let Ramone will be accompany with her to the hall.”
( Mungkin sebaiknya aku ikut denganmu Putra. Biar Ramone ditemani olehnya )
Garret bersuara, sambil menunjuk pada Yonna.
Putra pun mengiyakan dan ia pun langsung saja bergegas untuk pergi ke kamar Ramone lalu menerima panggilan dari Hiz, seperti yang dikatakan oleh Yonna barusan.
Karena jika Hiz sampai menghubunginya ke nomor rahasia Ramone yang memang ia beritahukan pada Hiz semalam, itu berarti sesuatu yang penting untuk Putra dengar hendak disampaikan oleh Hiz.
****
Putra dengan segera menyambar gagang telepon yang sudah ditutup terlebih dahulu oleh Yonna, sebelum ia memanggil Putra. Dan Putra langsung saja menekan beberapa nomor yang ia hafal di luar kepala.
Dan setelah di dering yang kesekian, panggilan Putra pada saluran telepon amat kemudian diterima dari nomor yang Putra hubungi.
“Yes Hiz, talk ( bicaralah ) ....” ucap Putra dengan lugas setelah panggilan teleponnya bersambut. Lalu Putra nampak mendengarkan dengan seksama.
***
“Alright then ( Baiklah jika begitu ), Hiz.”
Putra sudah nampak akan selesai berbicara dengan pria bernama Hiz dalam sambungan telepon.
“If you can’t reach me here, you may talk with my Godfather. I will tell him about you. Also always tell Ad for every particular information while you can’t reach me.”
( Jika kau tidak bisa menghubungiku disini, kau bicaralah dengan ayah baptisku. Akan aku katakan tentangmu padanya. Juga selalu informasikan pada Ad setiap informasi selama kau tidak dapat berbicara denganku )
Putra berbicara lagi pada Hiz sebelum kemudian ia menutup teleponnya.
“Was Hiz giving you a latest information about that bastardo? ( Apa Hiz memberikanmu informasi terbaru tentang keparat itu? )”
Garret langsung saja bertanya saat Putra meletakkan gagang telepon ke tempatnya.
“Yes.” Jawab Putra.
“Means that we’re positively will off to Italy? ( Itu artinya kita positif pergi ke Italia? ) ....”
**
Indonesia ....
“Putra really haven’t call again? ( Putra benar-benar belum menghubungi lagi? ) ....”
“Yes, he haven’t made another call here again ( Iya, dia belum menghubungi kesini lagi ), Gadis.”
“Can’t we just call him to Vader’s place? ( Apakah tidak bisa kita menghubunginya ke tempat Vader? )”
“We can, but I think that we supposed to wait, because Putra also have to do some important things at there ( Bisa saja, tetapi aku pikir kita harus menunggu, karena Putra juga memiliki hal penting untuk dilakukan disana )”
“I see....”
“....”
“*What did Putra said when the last time he talked to yo*u ( Apa yang Putra katakan saat terakhir kali dia berbicara denganmu ), Ad?”
“He said, if there’s no call for him anymore along this day or several times, means that he already off to Ravenna ( Dia mengatakan, jika tidak telepon lagi darinya dalam hari ini atau beberapa waktu, itu artinya dia sudah bertolak ke Ravenna ) ....”
Gadis yang sedang berada di kamarnya dan Putra itu sedang tercenung sendirian, sembari mengingat pembicaraan singkatnya dengan Damian dan Addison semalam perihal Putra.
‘Oh Putra, aku bisa mati karena khawatir kalau seperti ini,’ lirih Gadis dalam hatinya.
****
Netherlands, Europe ....
Setelah selesai berbicara di telepon ber-saluran rahasia dengan pria kepercayaan Putra yang bernama Hiz di Inggris, Putra berikut Garret segera pergi menyusul Ramone ke aula kediaman pribadi ayah baptisnya itu.
( Noted: Percakapan yang sekiranya berbasis latar belakang bahasa Belanda, otor Indonesiakan yawgh. Ogah ribet, harap maklum. 😁).
“Aku rasa dengan siapa yang tidak ada dihari ini, berikut informasi tentang beberapa anggota keluarga ini yang ditemukan tewas, telah cukup menjelaskan siapa pengkhianat didalam sini seperti yang aku katakan kemarin,” ucap Putra pada semua orang yang berada di aula setelah ia masuk ke dalamnya.
“Aku juga sudah mencurigai mereka sudah berlaku curang padamu, yang mana itu artinya pada kita semua ....”
Salah seorang anggota keluarga berbicara.
“Tapi aku sungguh tidak menyangka, jika mereka sampai berani mencoba untuk membunuh Ramone, bahkan kita semua jika kau tidak menemukan fakta bahwa ada racun dalam wine yang disuguhkan pada kita kemarin.”
__ADS_1
Pria yang tadi berkomentar lalu melanjutkan ucapannya.
“Lalu mereka semua, termasuk Gijs, apa kau yang menghabisinya, Putra?”
“Ya.”
Putra menjawab tanpa ragu pada pria lain yang bertanya. “Jangan tanya soal bukti padaku,” ucap Putra. “Karena mata dan telingaku sudah cukup kuanggap sebagai bukti yang akurat.”
Putra pun memberikan penegasannya.
“Seperti yang aku katakan juga kemarin, masaku, peraturanku.”
Putra menatap satu-satu orang yang berada di aula dengan tatapannya yang mendominasi.
“Dan aku sangat yakin, kalian yang tersisa disini adalah para anggota keluarga yang memang menjunjung tinggi ikatan dan kepercayaan dalam keluarga ini. Tapi aku tetap harus memberikan kalian pilihan, karena kini akulah kepala dalam keluarga ini.”
Kembali Putra memberikan penegasannya.
“Jadi, ikut peraturanku, atau silahkan mengundurkan diri menjadi bagian dari keluarga ini.”
“Jika tak suka dengan keputusan sepihakku, seperti yang anakku baru saja katakan. Tinggal dan patuh dan tentunya tetap dengan kesetiaan kalian, atau silahkan mengundurkan diri menjadi bagian dalam keluarga ini...”
Ramone kemudian berbicara.
“Atau mungkin diantara kalian ada yang ingin mengikuti jejak Henrick, Jacco, Douwe dan Erwin, silahkan saja ..” sambung Ramone.
“Kami , aku dan anakku ini terutama. Tentunya sangat bodoh jika mengikuti jejak ke empat pengkhianat itu.”
“Ya benar ....”
Kemudian tanggapan-tanggapan pun saling bersahutan di dalam pertemuan yang sedang berlangsung dalam aula khusus tersebut.
Yang kesemuanya adalah tanggapan-tanggapan positif dan ucapan kekaguman pada apa yang telah dilakukan Putra dalam menemukan dan memberantas pengkhianat yang ada di dalam lingkungan dekat Ramone.
Termasuk juga dukungan untuk Putra sebagai kepala yang baru dalam keluarga mereka.
Karena memang, seperti yang Putra katakan, bahwa mereka yang hadir disini, tidak ada lagi yang bersekongkol dengan ke empat orang pengkhianat yang telah Putra habisi tanpa memberikan pengampunan lagi.
“Baiklah, aku rasa kita bisa menyudahi pertemuan hari ini. Terima kasih untuk kalian semua yang memang memiliki kesetiaan pada keluarga ini.”
Putra kiranya merasa cukup untuk berada dalam pertemuan keluarga saat ini.
“Terima kasih sudah menerimaku untuk menjadi kepala keluarga mulai dari sekarang,” ucap Putra kemudian.
“Terima kasih yang sama dari kami, Putra ..”
Sahutan-sahutan, berikut pelukan dan jabatan kekeluargaan bergulir satu-satu dari mereka yang berada di aula pada Putra. Yang memang mereka semua adalah para anggota keluarga yang setia pada Ramone.
“Aku mohon maaf, tidak bisa berlama-lama untuk mengobrol dengan kalian saat ini, karena ada hal penting lainnya yang harus aku lakukan.”
Putra kemudian undur diri, setelah juga memperkenalkan Garret pada keluarga Ramone, yang kini menjadi pegangannya.
***
“So hurry ( Buru-buru sekali )” celetuk Yonna yang sudah bersama Ramone saat melepas kepergian Putra dan Garret dari kediamannya untuk menuju landasan terbang.
“My time is very precious my dear sister ( Waktuku sangat berharga adikku )”
Putra menimpali ucapan Yonna.
“Ya, ya...” Yonna lekas menjawab malas.
Putra terkekeh diikuti, kekehan dari Garret dan Ramone juga.
“Let me know right away, when you guys already arrived ( Segera beritahukan padaku jika kalian sudah sampai nanti )”
Kemudian Ramone berbicara, dan Putra serta Garret pun serempak mengiyakan.
“We will ( Pasti )”
****
Indonesia ....
“Why you don’t eat nicely ( Mengapa kau makan dengan tidak baik ), Anth?” Itu Addison yang bertanya pada Anthony yang nampak hanya menghabiskan setengah dari makanan dan minumannya .
“I don’t feel tasteful ( Aku tidak berselera ), Padre....” Anthony menjawab lesu.
“Don’t be like that, would you?....”
( Jangan seperti itu, ya? )
Bruna ikut berkomentar.
“If you don’t eat that well, you might get sick .... And we will be sad if that happened. Papa Putra will be feel the same thing also”
( Jika kamu tidak makan dengan benar, nanti kamu bisa sakit .... Dan kami akan sedih jika itu terjadi. Papa Putra juga akan merasa sedih juga nanti )
“Madre was right, handsome .... ( Madre benar, anak tampan .... )” Gadis menimpali. “You must eat well ( Kamu harus makan dengan baik ), ya?” sambung Gadis.
“But you also eat just a little bit ( Tapi kamu juga hanya makan sedikit saja ), Mama Gadis,” sahut Anthony sembari menoleh pada Gadis.
Gadis tersenyum canggung.
‘Aku sebenarnya juga tidak berselera makan seperti Anthony, karena mengkhawatirkan Putra....’
__ADS_1
Gadis membatin lesu.
“Well then, if I finished my breakfast, then you have to finish your breakfast too.”
( Baik kalau begitu, jika aku menghabiskan sarapanku, kamu juga harus menghabiskan makananmu )
Namun kemudian Gadis mencoba menunjukkan sikapnya yang seperti biasa pada Anthony, demi membujuk bocah tampan tersebut agar makan dengan baik.
“You don’t want make Papa Putra feel worry or even sad, don’t you? ( Kamu tidak ingin membuat Papa Putra merasa khawatir atau bahkan sedih jika kamu sakit, bukan? ) ....”
Karena Gadis sadar dia memiliki tanggung jawab seperti yang lainnya untuk menjaga dan merawat Anthony.
Maka dari itu Gadis akan menahan egonya dihadapan Anthony. Meskipun ia sendiri juga sedang tidak memiliki selera untuk makan saat ini.
“Alright then ( Baiklah jika begitu ). I will eat very well ( Aku akan makan dengan sangat baik )....” Anthony kemudian mengiyakan ucapan Gadis.
“Good boy ( Anak baik ) ....” timpal Damian sembari tersenyum dan mengusap kepala Anthony yang memang duduk disebelahnya. Addison, Bruna dan Gadis ikut menampakkan senyum mereka juga.
“How about we go around the tea garden with horse after breakfast? Also you can see the pool construction again after that ( Bagaimana jika kita pergi berkeliling perkebunan teh dengan kuda setelah sarapan? Juga kamu dapat melihat pembangunan kolam renang lagi setelahnya ) ....”
Addison kemudian memberikan penawaran untuk menyenangkan hati Anthony.
Dan untungnya saja Anthony mau menerima tawaran Addison tersebut.
****
“Don’t think too much ( Jangan berpikir terlalu keras ), Gadis ....”
Itu Bruna yang sedang bersama Gadis, selepas kepergian Anthony, Addison dan Damian yang pergi untuk berjalan-jalan ke sekitar perkebunan teh mereka dengan menggunakan kuda.
Bukan tanpa sebab Bruna bicara demikian, karena ia melihat wajah Gadis yang murung sedari semalam akibat Putra yang belum lagi menghubungi Villa.
“I’m so worried ( Aku benar-benar khawatir ), Bru....” sahut Gadis pada Bruna.
Bruna mengulas senyuman. “I can understand it ( Aku dapat memahaminya ), Gadis ....”
Lalu Bruna mendekati Gadis dan merengkuh pundak Gadis.
“I ever felt the sama you feel, before I met Ad again after we left Ravenna ( Aku juga pernah sama merasakan dengan yang kamu rasakan, sebelum aku bertemu kembali dengan Ad setelah kami meninggalkan Ravenna ) ....”
Bruna coba menghibur Gadis. Dan Gadis pun tersenyum tipis pada Bruna.
“But you must know that our men, is not only handsome and smart, but they also strong and know how to keeping up themselves ....”
( Tapi kamu harus tahu kalau pria-pria kita itu, tidak hanya tampan dan pintar, tetapi mereka juga kuat dan tahu bagaimana menjaga diri mereka sendiri.... ).
Gadis mengangguk lemah selepas mendengar ucapan Bruna.
“I know it, Bru. But I can’t erase my restlessness before I can hear Putra’s voice, or even know how is he right now....”
( Aku tahu itu, Bru. Tapi aku tidak bisa menghilangkan kegelisahanku sebelum aku bisa mendengar suara Putra, atau setidaknya mengetahui bagaimana keadaan Putra sekarang .... ).
Gadis berkata dengan lirih pada Bruna.
Bruna mengulas senyuman tipis. Ia merasa prihatin melihat Gadis. Sedikit banyak ia memahami Gadis yang belum terbiasa dengan kehidupan mereka yang rumit dan kadang memiliki bahaya yang mengancam.
“Alright how about this, I will asked Ad and Dami when they’re back to make a call to Vader’s place to find out the latest news about Putra and Garret also ( Baiklah bagaimana kalau begini, aku akan meminta Ad dan Dami saat mereka kembali untuk membuat panggilan ke tempat Vader agar dapat mengetahui kabar terbaru tentang Putra dan juga Garret )”
Bruna lalu menyampaikan idenya pada Gadis.
“Hopefully they were still there, even Ad and Dami said that Putra and Garret probably already left Netherlands....”
( Semoga saja mereka masih berada disana, meskipun Ad dan Dami mengatakan kalau Putra dan Garret kemungkinan sudah meninggalkan Belanda .... )
Gadis pun mengangguk dan ia nampak terlihat sedikit lega.
Karena Gadis merasa hal itu mungkin akan lebih baik, meskipun ia tidak tahu kabar seperti apa yang nantinya ia akan dengar setelah Addison dan Damian menghubungi tempat tinggal Ramone di Belanda, untuk mengetahui kabar terbaru Putra dan juga Garret.
“Well now, better you go for take a rest for a while ( Nah sebaiknya sekarang, kamu pergilah beristirahat sejenak ), Gadis....” saran Bruna. “I know you don’t sleep well last night ( Aku tahu kamu tidak tidur dengan baik semalam )” sambungnya. “You also need to pay attention of your health. Cause if you sick, I think Putra will be so upset to me, Ad dan Dami. ( Kamu juga perlu memperhatikan kesehatanmu. Karena jika kamu sakit, aku rasa Putra akan sangat kesal padaku, Ad dan Dami ) ....”
Dimana Gadis tersenyum kecil selepas mendengar ucapan Bruna barusan.
****
Beberapa saat kemudian....
“How is it? ( Bagaimana? ) ....”
Itu Gadis yang bertanya pada Addison yang mengambil alih untuk menghubungi Kediaman Ramone di Belanda, dalam saluran telepon rahasia mereka, yang juga berada di ruang rahasia dalam ruang kerja di Villa mereka.
Addison mengiyakan permintaan Bruna untuk menghubungi Ramone, atas janjinya pada Gadis. Addison telah keluar dari dalam ruang rahasia dan sudah berada di hadapan Gadis serta Bruna yang menunggunya selesai berbicara di telepon dimana kedua wanita itu menunggu di ruang kerja bersama juga Damian dan Anthony, yang pada akhirnya tahu soal ruangan rahasia dalam ruang kerja di dalam Villa.
Sudah kadung kalau menurut Addison dan Damian.
Toh mereka juga berharap andai Putra dan Garret masih ada di Kediaman Ramone, dan bisa untuk bicara, maka selain akan mempersilahkan Gadis untuk berbicara dengan Putra, mereka akan memberikan kesempatan yang sama pada Anthony.
Karena tidak tega juga melihat Anthony yang nampak murung karena belum berbicara dengan Putra sejak kepergian Putra ke Belanda.
“Can I talk with Papa ( Bisa aku berbicara dengan Papa ), Padre? ....”
Anthony juga ikut bertanya pada Gadis setelah Addison keluar dari ruang rahasia.
Bocah tampan tersebut nampak antusias untuk berbicara dengan Putra, selain juga sedang antusias dengan ruang rahasia yang beberapa saat lalu ia ketahui.
“I’m sorry ( Maafkan aku ), Anth, Gadis....” suara Ad terdengar lirih. “Both of them were left already from Netherlands ( Mereka berdua sudah pergi dari Belanda )”
__ADS_1
****
To be continue..