
Happy reading .....
“Aku sebenarnya ada janji lain setelah ini”
“Dengan kekasihmu?”
“Bukan”
“Atau mungkin ...”
“.........”
“Suamimu?”
Mata Gadis sedikit membelalak dan menatap Putra.
Namun kemudian Gadis tersenyum lebar. “Kamu terdengar seperti sedang menginterogasi ku Putra”
“Itu hanya perasaanmu saja. Aku hanya sekedar bertanya saja. Aku tidak ingin dipandang sebagai laki – laki pengganggu istri orang”
“Ehem!” Danny menginterupsi. “I’ll go get car. You guys wait here ( Aku akan mengambil mobil. Kalian tunggu disini )” Katanya lagi, dan Anthony meminta untuk ikut dengan Danny ke mobil.
Putra dan Gadis mengangguk.
******
“Jadi?” Satu kata pertanyaan tercetus lagi dari mulut Putra saat ia dan Gadis hanya tinggal berdua saja di depan Restoran kecil tempat mereka makan siang bersama tadi. Gadis langsung mendongak saat mendengar suara Putra yang sepertinya melemparkan pertanyaan padanya itu.
“Apanya, yang Jadi?”
“Kau sudah memiliki kekasih, atau sudah menikah?”
“Kenapa kamu begitu ingin tahu tentang kehidupan pribadiku?” Gadis balik bertanya. Dan Putra spontan berdecak karenanya.
“Jangan bertanya sebelum kamu menjawabku” Sahut Putra datar. Gadis memilin bibirnya.
“.....”
“Kau sudah memiliki kekasih, atau sudah menikah?”
Putra mengulang lagi pertanyaannya. Gadis menghela nafasnya.
“Tidak dua – duanya”
“Benarkah?”
“Bagus kalau begitu”
“Bagus?”
Gadis mengernyit.
“Apanya yang bagus?”
Putra berdehem. “Bukan apa – apa”
Gadis manggut – manggut.
“Ngomong – ngomong, Tuan Danny ambil mobilnya tumben agak lama kok ya?. Apa mungkin mobil kalian bermasalah?”
**
Sementara itu....
Di dalam mobil yang akan dikendarai Danny dan masih berada dalam parkiran Rumah Sakit.
Danny sudah duduk di belakang kemudi dan Anthony ia dudukkan di kursi penumpang sampingnya.
Namun Danny tidak langsung menyegerakan menstarter mobilnya.
“Un – cle .... ( Pa – man ) .......” Anthony memanggil seraya menoleh pada Danny.
“Yes, Anth?. ( Ya, Anth? )”
“I – s the car is broke down?. ( Apa – kah mobilnya rusak? )”
“No. Our car is fine. ( Tidak. Mobil kita baik – baik saja? )” Jawab Danny pada Anthony seraya menoleh pada bocah tersebut.
“Th – en why you are not make this car moving?. ( La - lu mengapa Paman tidak menjalankan mobilnya?)” Tanya Anthony lagi.
“Eennggggg ....”
Danny mengusap tengkuknya, sedikit nampak bingung.
Kemudian Danny membasahi bibirnya. “Look Anth, do you like Gadis right?. ( Begini Anth, kamu menyukai Gadis bukan? )”
“Y – es I am. ( I – ya aku menyukainya )”
“So, what about if Gadis and Papa Putra get closed?. ( Jadi, bagaimana jika Gadis dan Papa Putra menjadi dekat? )”
“........”
“Do you mind?. ( Apa kamu keberatan? )”
“D – o you mean like falling in love?. ( Mak – sud Paman seperti jatuh cinta? )”
“Hahaha...” Danny spontan tergelak, sekaligus gemas pada Anthony sampai tak tahan untuk mencubit pipinya.
“I –s it like that ( Apakah seperti itu )Uncle Danny? ..”
“Heeeemm kind of...... ( Dapat dikatakan seperti itu )...”
Danny masih terkekeh.
Sementara Anthony langsung menyunggingkan senyuman.
“Do you want Papa Putra and Gadis falling in love each other?. ( Apa kamu mau Papa Putra dan Gadis saling jatuh cinta? )”
__ADS_1
Anthony mengangguk dengan antusias. Danny pun terkekeh lagi. “Good. ( Bagus )” Ucap Danny kemudian. “That’s why we just stay here for a little bit more. ( Itulah kenapa kita perlu disini saja dahulu sebentar lagi )”
“O – kay Uncle Danny!..”
“Nice. ( Bagus )” Danny mengangkat jempolnya pada Anthony.
Dan Anthony ikutan juga mengangkat jempolnya pada Danny.
‘I wonder, how can I act like a match maker now .. ( Aku heran, kenapa sekarang aku bertingkah seperti seorang mak comblang .. )’
Danny membatin, geli sendiri.
***
Kembali ke dua orang yang sedang sengaja dibiarkan berduaan sejenak
“Ngomong – ngomong, Tuan Danny ambil mobilnya tumben agak lama? Apa mungkin mobil kalian bermasalah? ”
“Hemmm..”
Ucapan Gadis akhirnya membuat Putra melemparkan pandangannya ke arah Rumah Sakit tempat Gadis bekerja.
“Kalau begitu biar aku menyusul mereka”
“.......”
“Kamu tunggu disini sebentar”
Putra hendak berjalan menyusul Danny dan Anthony ke parkiran Rumah Sakit.
Sebuah sentuhan di lengan Putra, membuatnya mengurungkan langkahnya sejenak.
“Putra ..”
“Ya?”
“Kamu, Anthony dan Tuan Danny silahkan langsung saja pulang”
“Aku kan sudah katakan kalau akan mengantarmu pulang” Sahut Putra.
“Iya, tapi kan aku sudah bilang tadi kalau aku ada janji dengan teman” Ucap Gadis lagi.
“Kalau begitu kami antar ke tempat temanmu berada”
Kening Gadis langsung berkerut. ‘Aduh, papanya Anthony ini....’ Gadis membatin geregetan. “Ta ..”
“Menolak niat baik seseorang itu tidak sopan, apa kamu tahu?” Tutur Putra.
Gadis jadi serba salah. “Iya ... tapi.....”
“Dan aku tak terbiasa dengan penolakan”
Gadis sedikit meringis, dengan takut – takut menatap Putra yang seolah sedang mengintimidasinya lewat tatapan dari netra tajam pria dihadapannya itu.
Berikut nada suara Putra yang datar, namun menyiratkan ketegasan.
“Ah, itu mereka!...” Ucap Putra saat mobil yang dikendarai Danny kemudian terlihat. “Mari” Putra mempersilahkan Gadis untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang belakang, saat mobil yang dikendarai Danny
berhenti tepat didepan Putra dan Gadis.
**
Gadis duduk di kursi penumpang belakang bersama Anthony yang sudah meminta pindah duduk sejak Gadis masuk ke mobil mereka. Putra membiarkan saja Anthony bercengkrama bersama Gadis di belakangnya.
Sementara Danny fokus mengemudi, dengan arahan Gadis yang membagi perhatiannya dari Anthony untuk menunjukkan jalan. Putra sendiri kadang – kadang mencuri pandang dari spion depan untuk melihat perawat yang nampak asyik bercengkrama dengan Anthony.
“Ehem” Putra berdehem. “Gadis”
“Ya?” Sahut Gadis.
“Aku dan Anthony, kami sekeluarga tepatnya. Akan kembali ke tempat tinggal kami yang sebenarnya pekan depan”
Putra sedikit memiringkan tubuhnya dan menatap pada Gadis.
“Jadi kalian akan kembali ke negara asal kalian?” Tanya Gadis.
“Bukan”
Putra menyanggah.
“Kami sudah memiliki izin untuk menetap di negara ini dalam jangka waktu yang cukup lama”
“Oh, maksudnya kalian tidak tinggal di kota ini?”
“Iya” Jawab Putra. “Tempat tinggal kami yang sebenarnya, dari sejak pertama kami datang ke negeri ini, sedikit jauh dari kota ini”
Gadis manggut – manggut. “Dimana? Jika aku boleh tahu?” Tanya Gadis lagi.
“Bandung” Jawab Putra.
“Humm ...”
Gadis beralih menatap Anthony.
“So... we will not meet, again?. ( Jadi .. jadi kita tidak akan bertemu, lagi? ) ya Anthony?”
Wajah Anthony berubah menjadi sedikit muram saat Gadis berbicara sambil menangkup wajahnya.
“Bukan tidak akan bertemu lagi”
“..........”
“Hanya tidak sesering saat ini..”
“Oh iya, aku ingatnya kalian mau kembali ke negara kalian”
Gadis menyahut sembari tersenyum lalu kembali menangkup wajah Anthony.
__ADS_1
“I’m sorry.... ( Aku minta maaf )” Ucap Gadis.
Lalu sejenak Gadis nampak berpikir.
“Eemm....... ralat – meralat itu apa bahasa Inggrisnya ya?”
“Rectify”
“Jadi, bagaimana aku harus mengatakan pada Anthony?”
“Kamu bisa katakan, I rectify my words, Anth. I didn’t mean to say that we won’t ever meet again, but only unfrequent moment to meet. ( Aku meralat kata – kataku, Anth. Aku tidak bermaksud mengatakan kalau kita tidak akan bertemu lagi, hanya mungkin tidak sering bertemu )”
Putra memberikan contoh pada Gadis apa yang sekiranya bisa ia katakan pada Anthony. Namun Gadis malah menunjukkan raut wajah yang lucu dalam pandangan Putra. “Panjang sekali. Rasanya lidahku sulit mengulangnya”
Putra dan Danny spontan terkekeh.
Gadis nampak mencebik sebal. “Ya, ya silahkan saja mentertawakan ku yang bahasa Inggrisnya sangat minim ini”
“Ternyata kamu sensitif juga ya?” Ucap Putra yang sudah menghentikan kekehannya.
“Hahahaha”
Gadis malah tergelak.
“Kalian ini orang – orang asing, kenapa selalu serius sih?”
Gadis meredakan gelakannya, namun ia masih sedikit terkekeh.
“Maksudmu?” Tanya Putra yang sedikit kurang paham.
“Hem! Iya, dari beberapa orang Eropa yang aku kenal.....”
“..........”
“Eh, kalian dari Eropa kan ya?”
Putra mengangguk.
“Aku, Anth, dan keluargaku lainnya, iya. Danny dari Amerika”
“Hummm”
“Teruskan ucapanmu sebelumnya. Apa maksudmu kami orang Eropa selalu serius?”
“Ya seperti tadi contohnya. Kalian menganggap serius guyonan” Jelas Gadis. Putra mengangkat satu alisnya.
“Guyonan? ....”
“Guyonan itu candaan maksudnya”
Putra pun langsung manggut – manggut.
“Te – ach me, your language Gadis... ( A – jarkan aku, bahasa mu Gadis ) ...”
“Really?... ( Benarkah? ) You want to speak Bahasa? ( Kamu mau berbicara Bahasa Indonesia? ). Ah, learn, I mean ( belajar, maksudku )”
Anthonypun langsung mengangguk.
Gadis pun tersenyum lebar. “Oke!”
“Tha – nk you Gadis ......”
“You welcome Anthony..”
‘I wish that I can have that hug too. ( Aku berharap jika aku mendapatkan pelukan itu juga )’
Putra membatin, merasa sedikit iri pada Anthony, kala Gadis memeluk Anthony. Putra mencuri - curi harap. Namun hati Putra terasa menghangat melihat interaksi Anthony dan Gadis.
Terlihat memang, kalau Gadis memang tulus pada Anthony.
“Do you want to get a hug also Mister Putra....? ( Apa kau ingin dipeluk juga Tuan Putra ....? )”
Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Putra, Danny iseng saja mengeluarkan celetukan nya sembari terkekeh kecil.
Membuat Putra mendelik sebal padanya, meski ledekan Danny tadi diucapkan dengan suara yang kecil yang mungkin hanya didengar oleh Putra.
“Ga – dis ...”
“Ya Anthony?”
Gadis kembali menoleh pada Anthony setelah ia menunjukkan arah lagi pada Danny.
“D – o you like my Papa?.... ( A – pa kamu menyukai Papaku? )....” Tanya Anthony dengan polosnya.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Papa Putra sampai tersedak meskipun dia tidak sedang minum saat ini. Sementara Gadis nampak kikuk ditempatnya.
“D – o you ....? ( Su – ka tidak....? )” Kembali Anthony bertanya. “Pa – pa Putra is handsome right? ( Pa – pa Putra tampan bukan? )” Tanya Anthony lagi.
“Eennngg ....”
“You have to answer Anth’s question, Gadis.... ( Kamu harus menjawab pertanyaan Anth, Gadis .... )”
Putra berujar dari tempatnya, namun tidak menoleh.
“Eennngg .... yes .... ( iya )....” Sahut Gadis pelan dan Anthony tersenyum lebar.
“S –o you like my Papa??.... ( Jadi kamu suka pada Papaku??.... )” Ucap Anthony antusias dengan matanya yang berbinar. "I - am so happy that you like my Papa .... ( A - ku sangat bahagia kalau kamu menyukai Papaku )...."
“Ehh, bukaaaan .... maksud yes nya bukan itu, Anthonyyy ....”
Gadis menggigit bibir bawahnya sendiri.
'Duuh.... bocah tampan ini kenapa kesimpulan yang itu yang dia tangkap siihh....'
***
To be continue ...
__ADS_1