
**Happy reading ...
🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓
**
“Ah, ma – maaf......”
Gadis yang seketika menyadari jika ia melepaskan kotak susu yang ia pegang itu, spontan merundukkan tubuhnya, kala Putra yang dengan cepat menangkap kotak susu tersebut sedikit berjongkok di depannya.
Dan dengan refleks juga tangan halus Gadis sampai ke bahu telanjang Putra.
Dimana hal tersebut benar – benar sudah mengganggu fokus ketahan dari pertahanan jiwa kelakian si Papa.
“Maaf ya, Putra.... Aku kaget banget soalnya ....” Ucap Gadis.
Dengan refleks juga Gadis berjongkok dan menoleh sembari tersenyum pada Putra.
“Apa kaki kamu sakit, Putra?....” Tanya Gadis karena tadi Putra melesat dengan cepat dihadapannya untuk menangkap kotak susu yang terlepas dari pegangan Gadis dimana Gadis khawatir lutut Putra mungkin saja membentur lantai dibawahnya.
Tapi sedari tadi Putra diam saja.
Penampilan dan efek sentuhan Gadis di bahu telanjang Putra itu, sungguh menimbulkan efek hawa panas disekujur tubuh Putra saat ini.
Belum lagi bibir merah muda milik Gadis yang menambah buyar nya konsentrasi pertahanan Putra. “Putra?....”
Putra yang sudah tak fokus itu, memang seolah tak mendengar ucapan maupun pertanyaan yang terlontar dari mulut Gadis.
Merasa Putra diam saja sedari tadi, tangan Gadis refleks terulur menyentuh garis rahang Putra, dimana Putra spontan memejamkan matanya.
‘Cukup sudah!’ Batin Putra. “Gadis ....”
Putra bersuara. Pelan, sedikit parau disaat Gadis hendak mengambil kotak susu dari tangan Putra dan bangun dari posisinya.
“Hm?....”
“Ma – af ....”
“A - ....”
Belum sempat Gadis melanjutkan kata – katanya, Putra sudah bergerak dengan sangat cepat meraih tengkuk Gadis, menyambar bibirnya seraya bangun dari posisinya, menempatkan kotak susu yang ia pegang diatas lantai dengan sembarang dan kini Putra sudah mengurung Gadis dalam cengkramannya, dimana bibir Putra sudah menempel dengan cepat di bibir Gadis, menari seolah sedang tergesa.
Putra sudah diambang batasnya. Sudah tak bisa lagi menahan gejolak dalam dirinya.
Putra sudah berhasil tadi sebenarnya.
Meredam rasa untuk tidak menerkam Gadis, karena memang Putra tulus mencintai Gadis dan ingin melakukan segalanya, dalam hal ini menyalurkan hasrat kelakiannya dengan benar.
Katakanlah Putra orang yang kuno untuk satu hal itu. Yang maunya melakukan hubungan menyangkut keintiman yang begitu dalam antara pria dan wanita hanya setelah terikat dalam pernikahan.
Tapi situasi dan kondisi yang Putra hadapi sekarang, yang membuat gejolak kelakiannya semakin naik ke permukaan, sungguh tak sanggup lagi Putra tahan.
Penampilan dan gerak – gerik Gadis, ditambah sentuhannya sudah membuat akal sehat seorang Putra Adjieran terbang.
Dimana Gadis yang terkejut setengah mati atas serangan tiba – tiba Putra itu kini gelagapan. Benda kenyal milik Putra itu menyerang bibir Gadis dengan membabi buta saat ini.
Hingga Gadis kesulitan bernafas karenanya. Tak sedikitpun Putra memberi celah bagi Gadis untuk menghindar dari serangannya itu. Bibir Putra masih menari dengan liar di bibir Gadis dengan satu tangannya yang memegangi tengkuk Gadis, dan satu tangannya lagi merengkuh erat pinggang Gadis.
Gadis tak bisa melawan Putra yang menjadi liar saat ini. Putra sudah memerangkap dirinya tanpa memberikan ruang bagi Gadis untuk bergerak.
Baru saat Putra merasakan ia sendiri kehabisan nafas, bibir merah muda milik Gadis pun ia lepaskan. Namun tidak cengkraman posesif Putra pada tengkuk dan pinggang Gadis.
Hanya tautan bibirnya saja yang Putra lepaskan, tapi tidak cengkramannya.
Putra menempelkan dahinya dengan dahi Gadis. Namun Putra tidak bicara. Hanya diam menatap dalam manik mata coklat milik Gadis yang nampak tersengal dengan bibirnya yang nampak memerah akibat perbuatan bibir Putra.
__ADS_1
Gadis pun sama menatap Putra. Dan untuk beberapa detik mereka saling pandang dalam diam, hanya deru nafas keduanya saja yang saling bersahutan. Namun tak lama, Putra kembali menyerang bibir Gadis dengan bibirnya.
Disaat itu Gadis berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan dirinya, menyentuh dada bidang milik Putra, hingga membuat Putra terkesiap dan melepaskan bibir Gadis. Putra menundukkan sedikit kepalanya, menatap tangan
Gadis yang menyentuh dada telanjangnya.
Didetik yang sama Gadis baru tersadar, jika Putra shirtless saat ini.
Gadis yang menyadari hal tersebut hendak menjauhkan tangannya dengan cepat dari dada polos Putra itu. Namun gerakan Gadis kalah cepat dengan Putra yang sudah menangkap sekaligus menahan tangan Gadis untuk tetap disana. Dan dalam sepersekian detik, Putra sudah memojokkan Gadis ke pintu kulkas, merapatkan tubuhnya dengan Gadis. “Put-....”
Namun tak sempat Gadis berucap lengkap karena Putra sudah kembali m**** bibirnya, bahkan menggigit kecil dan menghisap bibir Gadis tanpa ampun.
“Jangan! Put, ra....”
Gadis memekik, bersamaan dengan tangannya yang mencengkram tangan Putra, kala Gadis merasakan tangan Putra mulai bergerak kearah tali bathrobe yang Gadis kenakan.
Tapi satu tangan Putra kembali memegangi tangan Gadis yang sedang menahan tangannya itu. Menyatukan kedua tangan Gadis dan memeganginya kuat, seraya menempelkan di dadanya. “I – want you – Gadis...”
Putra berbisik di telinga Gadis dimana bisikan Putra itu membuat Gadis bingung bagaimana meresponnya.
Lidah Gadis pun rasanya kelu. Ia hanya terdiam memandangi Putra yang kini sudah memposisikan kembali wajahnya tepat di depan wajah Gadis.
Terpaan hembusan nafas Putra yang dibarengi sentuhan lembut ibu jari Putra di bibir Gadis, dimana Putra menempelkan dahinya kembali, hingga hidung Putra dan Gadis bersentuhan.
“I-really want, you ...” Ucap Putra dengan suaranya yang terdengar rendah dan serak berikut matanya yang sudah nampak sayu memandangi Gadis dan Gadis mematung sembari memandangi Putra yang menatapnya dalam namun teduh di pandangan Gadis.
Putra menyentuh kembali bibir Gadis, kini dengan bibirnya. Kembali mengunci pergerakan Gadis terutama kepalanya, karena Putra kembali memegangi tengkuk Gadis. Hanya saja tidak sekuat cengkraman Putra sebelumnya. Dan kini gerakan bibir Putra tidak seliar sebelumnya.
Ciuman Putra kali ini begitu lembut dan pelan, terasa memabukkan bagi Gadis. Hingga Gadis tanpa sadar menutup kedua matanya.
Putra melepaskan p*gutannya. Karena Gadis tak memberikan respon padanya.
Lalu Putra memperhatikan Gadis yang sontak membuka matanya kala Putra berhenti menciumnya.
“Kiss-me, Gadis.....”
Putra berucap pelan, seolah memohon sembari ibu jarinya kembali menyentuh bibir Gadis yang orangnya diam saja, namun kedua mata Gadis menatap sayu padanya.
Yang membuat Putra kembali mencium bibir Gadis sama seperti sebelumnya. Pelan, lembut dan memabukkan. Hingga kembali Gadis terbuai dan kembali juga memejamkan matanya.
Entah Gadis sadar atau tidak, tangannya sudah berada di pinggang polos Putra saat Putra mulai membuai nya dengan ciuman Putra.
Dengan kepalanya yang sedikit mendongak, karena Putra postur tubuh Putra yang tinggi itu, Gadis membalas ciuman Putra dengan ritme yang sama.
Membuat Putra tak bisa berhenti begitu saja. Karena kini, balasan gerak bibir Gadis di bibirnya terasa memabukkan bagi Putra. Ingin Putra nikmati lebih dalam lagi dan lagi.
Putra menjadi egois. Kelembutan yang dia berikan pada ciumannya di bibir Gadis kini berubah kembali menjadi menuntut perlahan dan pasti.
Gadis mulai kembali kewalahan mengimbangi aksi Putra.
Namun tak pelak, Gadis juga menikmatinya, hingga tanpa komando tangan Gadis yang tadi berada di pinggang Putra, kini sudah berpindah melingkar di leher Putra.
Disaat dimana bibir Putra kini sudah bergerak turun ke leher Gadis. “Eumh..” Entah apa yang ada di otak Gadis hingga ia mengeluarkan suara aneh itu. Membuat Putra spontan menyeringai di sela aksi bibirnya pada leher Gadis.
Didetik yang sama Putra merasa gemas hingga menyesap leher Gadis dengan lembut dan dalam, dan sesapannya itu menciptakan sebuah tanda berwarna merah disana.
Terdengar lagi suara Gadis yang kembali meloloskan suara lenguhan pendek seperti sebelumnya.
‘Sial sekali mulutku ini!’
Gadis merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Gadis merinding dan kegelian disaat yang bersamaan. Tapi juga ada gelenyar aneh yang kian menjalar dalam tubuhnya yang perlahan membuatnya merasa tak nyaman juga mendamba disaat yang bersamaan.
Apa yang dilakukan Putra di leher Gadis, membuat Gadis seolah hilang kendali atas dirinya sendiri. Hingga ia sedikit membuka mulutnya kala bibir Putra kembali kesana dan menjalin p*gutan. Putra tidak menyiakan kesempatan itu.
__ADS_1
Putra semakin mengunci tubuh Gadis yang punggungnya masih menempel di pintu kulkas. Dan tak berapa lama Putra menarik tubuh Gadis hingga sampai menyentuh dada polosnya tanpa melepaskan tautan bibirnya pada Gadis.
Jemari Putra bergerak memainkan rambut Gadis. Melepas p*gutannya lalu tangannya berpindah ke dagu Gadis. Keduanya saling bertukar tatapan. Sebentar saja, hingga kemudian Putra mengucapkan satu kalimat yang membuat jantung Gadis kembali berdebar dengan kencang.
“Aku benar-benar menginginkanmu saat ini, Gadis..”
Gadis tertegun, diam tak bersuara. Hingga akhirnya Gadis memilih untuk memejamkan matanya.
Tanpa lagi berpikir panjang, kembali Putra mem*gut bibir Gadis dengan intim. Gadis sedikit berjinjit dengan tangannya yang masih mengalung di leher Putra.
Rasa panas sudah kian dirasakan oleh Putra dan Gadis. Kini tangan Putra mulai bergerak menyentuh bagian tubuh belakang Gadis. Tak ada penolakan dari Gadis.
Putra sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Dengan gerakan yang cepat, Putra mengangkat tubuh Gadis tanpa melepaskan sentuhannya.
Secara otomatis juga, kaki Gadis melingkar di pinggang Putra. Tubuh ramping Gadis tidak menyulitkan Putra untuk membawanya seperti itu, bahkan tanpa melepaskan sedikit pun pertautan yang bibir mereka jalin.
Putra membawa Gadis ke dalam kamarnya dan mengunci kamar itu dengan satu tangannya dengan cepat.
Dan dengan cepat pula, Putra membaringkan Gadis di atas ranjangnya, mengurung tubuh Gadis di tengah tepat di bawahnya.
Tanpa mengucapkan satu patah kata pun, Putra menatap lekat wajah Gadis.
Sejenak saja, karena Putra kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Gadis. Ia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.
Saat ini, Putra benar-benar ingin merasakan semuanya.
Semua yang ada dalam diri Gadis.
Gadis, kurang lebih sama. Ia pun sudah kehilangan akal sehatnya saat ini. Apa yang dilakukan Putra benar-benar sudah membuai nya terlalu jauh.
“Putra ..” Gadis mendorong tubuh Putra, karena merasa tidak sanggup lagi jika tidak bernafas.
Sekali lagi Putra menatap Gadis dengan lekatnya. Tak bersuara, namun tangan Putra sudah menarik tali bathrobe Gadis hingga bathrobe tersebut menjadi begitu longgarnya dan membuat sepasang aset kembar menyembul dengan indahnya di mata Putra meski belum terlihat secara keseluruhan, namun sudah cukup membuat mata Putra berkabut.
Dan Gadis pasrah saja, saat bathrobe yang ia kenakan kemudian Putra buka dengan perlahan setelah dilonggarkan terlebih dahulu. Putra dan Gadis sama – sama meneguk dalam salivanya.
Otak Putra dan Gadis sudah kosong sekarang. Yang ada di otak Putra hanya ingin menjadikan Gadis miliknya secara penuh malam ini.
Gadis yang juga sudah tak sanggup berpikir sehat itu pun sudah menganggap dirinya gila sekarang.
Ya gila, karena membiarkan Putra melihat tubuhnya yang meski masih memakai bathrobe, namun bagian atasnya sudah terekspose lebar sekarang tanpa penutup apapun.
Gadis tak tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini kala Putra sudah menjulang gagah diatasnya, walau masih tersisa jarak.
Gadis malu sebenarnya, ditatap Putra dengan seintens itu. Sementara Putra, setelah menatap Gadis lamat – lamat, perhatiannya seratus persen teralih pada sepasang aset kembar milik Gadis yang mengobarkan g*irahnya.
Merasakan kering di tenggorokannya dikala Putra membayangkan kedua benda kembar nan indah milik Gadis itu berada di tangan dan mulutnya.
Dan tentunya, jika hanya membayangkan, itu tak cukup rasanya bagi Putra.
Kini, Putra sudah merundukkan tubuhnya, lalu memulai aksinya.
Ehem!
**
To be continue..
Wa elah serius amat bacanya
Minum dulu minum
Wkwkwkwkwk
__ADS_1