LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 28


__ADS_3

Happy reading ....


*******************


“I think what Bruna said was right ( Aku pikir yang Bruna katakan itu memang benar )”


“About what ? ( Tentang apa? )”


“Her! ( Dia )”


“??”


“That Psychiatrist, Ilse. She has a feeling to you ( Psikiater itu, Ilse. Dia punya perasaan padamu )”


“Since when you have become a chatterer? ( Sejak kapan kau jadi penggosip? )” Celoteh Putra atas ucapan Damian barusan.


Damian langsung terkekeh mendengar celotehan Putra barusan.


“Be delicate, Putra. The way she look and smile to you is different that what she show to me, Add, Bruna and Garret ( Pekalah sedikit, Putra. Cara dia melihat dan tersenyum padamu saja sudah berbeda dari apa yang dia tunjukkan


padaku, Ad, Bruna dan Garret )”


Putra hanya tersenyum tipis sembari menatap kedalam ruangan Ilse dimana Psikiater muda yang cantik itu sedang melakukan sesi terapinya bersama Anthony. Meski Anthony sudah sedikit cepat merespon jika ada orang yang berbicara dengannya, namun bibirnya entah kenapa masih terkatup rapat untuk bersuara.


“All of my concern is Anthony. And we already have to think about what we have to start in this country ( Semua yang menjadi perhatianku adalah Anthony. Dan juga kita sudah harus memikirkan apa yang sudah harus kita mulai


di negara ini )” Ucap Putra.


“At least you need to try to build a relationship with a woman ( Setidaknya kau perlu mencoba untuk dekat dengan seorang wanita )”


“Not important ( Tidak penting )”


“How if Anth likes her? ( Bagaimana jika Anth menyukainya? ). Tanya Damian.


“We will see about it ( Lihat saja nanti )”


Putra dan Damian kemudian menghentikan obrolan mereka karena Anthony nampak sudah selesai dengan terapinya bersama Ilse.


**


“Is Anthony showed another progress? ( Apa Anthony menunjukkan perkembangan baru? )”


“Ya, Anthony had shown another progress since the last time, but still he won’t to open his mouth”


“( Anthony sudah menunjukkan perkembangan sejak terakhir kali, tapi tetap dia belum mau membuka mulutnya )”


“....”


“Is a rare condition, but me and Anthony was interact for two weeks and also not meet everyday. So it really takes time”


“ ( Kondisi yang langka, tetapi aku dan Anthony baru berinteraksi selama dua minggu itupun tidak bertemu setiap hari. Jadi ya itu memang membutuhkan waktu )”


“I see ( Aku mengerti )”


Putra manggut – manggut.


Kemudian Putra berpamitan setelah dirasa tidak ada lagi yang ingin dia tanyakan pada Ilse perihal Anthony yang sedang berada di luar ruangan Ilse bersama Damian.


“Eem Mister Putra ..” Panggil Ilse pada Putra nampak sedikit ragu – ragu.


“Yes?”


Ilse menatapnya dengan tatapan yang tidak Putra mengerti.


Ilse juga nampak ragu dan sedikit malu – malu. “Maybe next time we meet, you want to take a coffee with me? ( Mungkin lain kali kita bertemu, anda mau minum kopi bersamaku? )”


Putra tidak langsung menjawab.


“I can’t promise. But we will see about it later ( Aku tidak janji. Tapi lihat saja nanti )”


“Thank you ( Terima kasih )” Ucap Ilse yang nampak sedikit merona. Putra pun berpamitan lagi dan Ilse mengantarnya sampai depan pintu ruangan.


***


Damian dan Putra bersama Anthony, yang kini sudah berada dalam gendongan Putra bercakap di sepanjang koridor Rumah Sakit dari ruangan Ilse menuju pelataran parkir.


Ada sebuah taman di bagian tengah rumah sakit dengan sebuah pohon besar disana. Anthony menarik pelan tangan Putra dan memberi kode sepertinya ia ingin bermain disana.

__ADS_1


“You want to play there Anth? ( Kamu ingin bermain disana Anth? )”


Anthony mengangguk.


“Let him play there Putra. We can wait and sit at there”


“( Biarkan saja dia bermain dulu disana Putra. Kita bisa menunggu dan duduk disana )”


Damian menunjuk sebuah kursi  kayu dalam taman dan Putra langsung mengangguk.


“Don’t go too far, hem?. Just play not too far from me and Uncle Dami ( Jangan main jauh – jauh, hem?. Bermainlah di tempat yang tidak jauh dariku dan Paman Dami )”


Anthony mengangguk pelan. Kemudian ia nampak berlari kecil menuju tengah taman yang tertutup rerumputan pendek dan mendekati pohon besar yang ada ditengah taman.


Putra dan Damian tersenyum melihat Anthony yang nampak senang di taman tersebut meski hanya pepohonan dan tumbuhan rindang disana.


“I think we need to take him out quiet often. Maybe he bored ( Aku rasa kita harus sering membawanya keluar. Mungkin saja dia bosan )” Ucap Putra


“Ya I agree with you ( Aku setuju denganmu )” Sahut Damian sembari mengangguk tanda setuju.


Putra dan Damian yang sudah duduk disebuah kursi kayu dalam taman itu kemudian membicarakan tentang rencana mereka kedepannya di negara yang mereka tinggali sekarang.


Tentang bisnis yang akan mulai mereka rintis, berikut jenis dan pemilihan tempat dimana mereka akan mulai membangunnya.


“I am thinking about managing the tea garden ( Aku berpikir untuk mengelola perkebunan teh )


“I think that’s a good idea. We can start from there ( Aku rasa itu ide yang bagus. Kita bisa mulai dari sana )”


Damian mengiyakan lagi ucapan Putra.


“Let us talk with Add, Bruna and Garret after we comeback. But the tea garden of ours at Villa was not too big. Better we buy all of the tea garden around it”


“( Nanti kita bicara dengan AD, Bruna dan Garret setelah kita kembali ke rumah. Tapi perkebunan teh yang kita miliki tidak terlalu besar. Sebaiknya kita beli perkebunan teh yang ada disekitarnya juga )”


“.......”


“And after that we can ask Pak Abdul, Ibu Marsih and Suheil to find people to work in it ( Dan setelahnya kita bisa meminta Pak Abdul, Ibu Marsih dan Suheil mencari orang untuk bekerja disana )”


Putra mengangguk atas ucapan dan saran Damian barusan.


Damian mengangguk dan bersama Putra hendak memanggil Anthony untuk mengajaknya pulang. Namun mereka segera berdiri dari duduknya karena Anthony tak ada dalam pandangan mereka.


Damian dan Putra seketika menjadi panik.


“Anth!” Damian dan Putra memanggil – manggil Anthony dan berpencar mencari di sekitar taman.


Namun Anthony tidak Damian dan Putra temukan disekitaran taman rumah sakit tersebut.


“I will look in the front, maybe Anth walked there! ( Aku akan mencari ke depan, mungkin Anth berjalan kesana )”


“I will looking around here, then ( Aku akan mencari sekitar sini, kalau begitu )”


Damian dan Putra membagi tugas mencari di bagian berbeda dalam Rumah Sakit tersebut.


Sementara Damian berjalan ke arah lobi depan Rumah Sakit, Putra mengayunkan langkahnya dengan cepat untuk pergi ke sebuah lorong ruangan pasien di sekitar taman.


**


Putra dengan cepat mencari Anthony dibeberapa ruangan pasien yang pintunya terbuka. Mungkin saja bocah kecil itu iseng dan memasuki salah satunya. Tapi Putra tidak menemukan Anthony di satupun ruangan pasien tersebut.


Putra menatap ujung lorong dan sepertinya ada sebuah ruangan khusus perawat disana.


“Anth!” Putra langsung berseru saat melihat Anthony sedang berada dalam gendongan seseorang dan berlari kecil namun cepat untuk menyambar Anthony dari gendongan orang yang menggendong Anthony itu.


“Eh!”


Orang yang sedang menggendong Anthony pun sontak terkesiap saat Putra menyambar Anthony dari gendongannya.


“Oh Anth, I have been looking for you ( Aku mencarimu kemana – mana )” Ucap Putra tanpa memperdulikan keberadaan orang yang menggendong Anthony tadi.


Anthony juga nampak asik memakan roti yang berada ditangannya.


“I am – so sorry, Mister.. ( Aku – mohon maaf, Tuan ).. He is.. ( Dia ) .. He.. ( Dia ) ..”


“Bicara dengan bahasa saja, jika anda kesulitan. Saya paham bahasa Indonesia” Ucap Putra.


Putra baru memperhatikan orang yang menggendong Anthony barusan.

__ADS_1


Dia seorang wanita, seorang perawat rumah sakit tersebut. Putra kenali  profesi wanita itu dari seragamnya.


Sedikit menelisik, karena wanita itu bisa membuat Anthony mau dia gendong padahal sudah pasti Anthony dan perawat yang barusan menggendongnya itu baru bertemu untuk yang pertama kali.


'Beautiful! ( Cantik! )'


Hebat juga, perawat yang Putra duga adalah seorang calon biarawati mengingat rumah sakit tempat mereka berada sekarang merupakan rumah sakit yang ikonik dengan suatu agama tertentu dan rumah sakit tersebut kental dengan unsur keagamaan.


Tapi hati kecil Putra teringat Ilse yang sudah melakukan sesi terapi dengan Anthony selama dua minggu ini, dan mungkin saja perkembangan yang Ilse bilang tadi adalah Anthony mulai bisa menerima orang baru disekelilingnya


dengan mudah. Membuat semangat dihati Putra menjadi bertambah untuk menambah sesi terapi dengan Ilse dan berterima kasih pada Psikiater cantik itu.


‘Maybe I have to accept the invitation to have a coffee with Ilse ( Mungkin akan aku terima undangan untuk minum kopi bersama dari Ilse )’


Putra membatin. Namun ia tetap memperhatikan perawat yang menurut Putra adalah calon suster yang wajahnya memang cantik, khas Indonesia. Cantik seperti Ilse, tapi perawat itu seperti punya daya tarik lain dalam dirinya.


“Ah iya. Maaf Tuan, saya baru saja akan mencari orang tua anak ini. Mohon maaf juga, bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus. Tadi anak ini masuk ke ruangan kami, jadi saya pikir dia tersesat. Dan saya baru akan membantunya


kembali pada orang tuanya”


“Iya terima kasih”


Putra berterima kasih dengan sopan pada perawat tersebut.


“Sama – sama Tuan. Saya permisi kalau begitu”


Putra mengangguk pada perawat tersebut.


“Oh iya, saya harap anda tidak keberatan karena saya memberikan roti padanya. Karena saat saya tawarkan dia mengangguk”


“Iya. Sekali lagi terima kasih”


“Sama – sama”


Perawat wanita itu menyahut dengan sopan dan tersenyum tipis pada Putra.


“Byee ( Daah )”


Perawat wanita itu melambaikan tangannya setelah menyentuh pipi Anthony. Dia nampak gemas.


Namun kembali Putra dibuat terkejut oleh reaksi Anthony yang langsung menoleh setelah perawat itu menyentuh pipi Anthony.


Dan kejutan lagi untuk Putra, Anthony melambai balik padanya. ‘Maybe because of the bread she gave to Anth ( Mungkin karena ia memberi Anth roti )’


Kemudian Putra ikut berbalik dan pergi dari lorong tersebut, bersamaan Damian yang datang dengan setengah berlari dari arah depan Rumah Sakit tersebut lalu menghela nafasnya dengan lega karena sudah melihat Anthony yang berada dalam gendongan Putra.


Kemudian ketiganya melangkah pergi menuju mobil untuk kembali ke rumah yang disewa Addison dan Bruna.


**


Putra, Damian dan Anthony sudah sampai kembali di rumah yang disewa Addison dan Bruna.


Saat malam tiba Putra dan Damian membahas apa yang tadi dirinya dan Damian bahas di taman Rumah Sakit bersama Addison, Bruna dan Garret setelah mengantar Anthony pergi tidur.


Putra menjelaskan rencananya pada ke empat rekannya tersebut, kemudian menyetujui usulan Putra untuk memulai usaha mereka di negeri yang mereka tinggali sekarang dengan dimulai untuk mengelola sebuah perkebunan teh yang berada disekitar Villa mereka yang berada jauh diluar Ibukota.


“Then we need go back to our Villa. At least few of us and you have to go also Putra”


“( Kalau begitu kita harus kembali ke Villa, setidaknya beberapa dari kita dan kau juga harus pergi Putra )”


“I can’t leave Anth, he still has some sessions therapy with Ilse ( Aku tidak bisa meninggalkan Anth, dia masih ada sesi terapi bersama Ilse )”


“....”


“And I don’t know how long ( Dan aku tidak tahu sampai berapa lama )”


“Thinking about something Putra. If we waiting untill Anth get normal, we won't start anything and means we give a big opportunity for Jaeden”


“( Pikirkan sesuatu Putra. Jika kita menunggu sampai Anth benar – benar normal, kita tidak akan bisa memulai segalanya dan itu artinya kita memberikan kesempatan besar bagi Jaeden )”


“....”


“You know what that means right? ( Kau paham maksudnya kan? )”


**


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2