LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 165


__ADS_3

Happy reading.....


*******************


“Bo-leh, ya? ...”


Putra sudah menyiapkan senjata tempurnya.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan di pintu terdengar, namun Putra abaikan.


Papa sedang bersiap dan berkonsentrasi untuk ‘bertamu’ di dalam Gadis.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan di pintu kamar mandi terdengar lagi.


“Putra ... ada yang mengetuk pintu...”


Putra mengabaikan ucapan Gadis dan kembali menyambar bibir Gadis sementara ia sudah sangat bersiap untuk ‘bertamu’ dan ‘bersemayam’ di dalam hangatnya Gadis.


“Papaa...”


Suara seorang bocah terdengar dari luar pintu setelah dua kali suara ketukan.


Putra berlagak tak dengar. ‘Tanggung sekali ini ya ampuun!’ Batin Putra. “Sebentar saja Gadis ...”


Tok ... Tok ...


“Papaa!...”


“Putra!” Gadis yang akhirnya menggerakkan dirinya untuk berbalik dan menghadap Putra, itu berbisik seraya mendelik agar Putra tak melanjutkan niatnya untuk ‘bertamu’ di dalam Gadis.


Dan suara dengusan Putra sontak saja terdengar. ‘Haish Aanthh. Kenapa kamu bangun disaat yang sangat ‘tepat’!’


Putra sudah membebaskan Gadis dari kukungan nya.


“Papaaaa are you inside?... Gadiisss? ...”


Anthony kembali memanggil sembari mengetuk pintu kamar mandi sekali lagi.


“Yes coming! ( Iya aku datang! )”


Putra menyahut pada akhirnya. Lalu mengusap kasar wajahnya.


“Haish!”


Putra mendengus frustasi, namun ia berjalan keluar dari bilik shower dimana Gadis memilih untuk bersembunyi saja disana.


Putra segera menyambar bathrobe yang tergantung di satu dinding kamar mandi lalu memakainya dengan tergesa, sembari merasakan pening di dua kepala.


Lalu bergegas untuk menuju pintu kamar mandi dan membukanya, menemui Anthony yang seolah tak sabar menunggu pintu kamar mandi terbuka.


**


Putra sudah membuka pintu kamar mandi dan Anthony sudah berdiri didepan pintu tersebut saat Putra membukanya, lalu menutupnya lagi dengan buru-buru. “Hey Anth .. you wake up already? ( Kamu sudah bangun? )” Sapa Putra sekaligus bertanya basa-basi pada Anthony.


“What took you so long to open the door Papa? ( Kenapa Papa lama baru membuka pintu? )..” Tanya Anthony dan Putra langsung menarik sudut bibirnya ke atas.


“I’m taking a bath Anth ( Aku sedang mandi Anth )” Jawab Putra. Anthony manggut-manggut.


“Where is Gadis, Papa?.. ( Dimana Gadis Papa? )” Tanya Anthony lagi.


“Emm.. maybe she go downstair to check our food for dinner .. ( Emm .. mungkin dia sedang pergi ke bawah untuk mengecek makanan untuk makan malam )..”


“I see then.. ( Ya sudah kalau begitu ) ..”


Anthony kembali manggut-manggut.


“I want to take a pee ( Aku ingin pipis )” Anthony hendak masuk ke kamar mandi dalam kamar Putra yang berada dibelakang sang Papa.


Dimana Putra menjadi sedikit panik.


“Why Papa? ( Kenapa Papa? )”


Anthony sontak bertanya, karena Putra tak membiarkannya masuk kamar mandi.


“Emm that’s .. ( itu )..” Putra menggantungkan kalimatnya. “Ah, I haven’t finish taking a bath! ( Ah, aku belum selesai mandi! )”


“I won’t be long .. ( Aku tidak akan lama ) ..”


“Don’t you have your own bathroom in your room? .. ( Kamu kan memiliki kamar mandimu sendiri dalam kamarmu? )..”


Putra masih berdiri menghalangi pintu kamar mandinya.


“Oh ya! How can I forget my own room?! ( Bagaimana aku bisa lupa pada kamarku sendiri?! )”


Anthony berseru antusias.


Bocah tampan itu pun segera berlalu dari hadapan Putra.

__ADS_1


‘Haahh!’


Putra sontak menghela nafas lega.


“Putra” Tahu-tahu ada yang memanggil Putra dengan suara berbisik dari belakangnya.


Putra segera saja menoleh ke sumber suara.


“Tolong ambilkan pakaian untukku”


Itu Gadis yang kepalanya saja sedikit menyembul dari balik pintu.


“Kamu bisa mengambilnya sendiri Gadis” Ucap Janji.


“Tapi nanti Anthony bisa-bisa melihatku keluar dari kamar mandi”


Gadis masih berbicara dengan berbisik.


Putra sontak mendengus kecil.


“Apa kamu tidak melihat ada pintu penghubung antara kamar mandi dan walk in closet?”


“Oh iya aku lupa”


Gadis cengengesan.


“Ya sudah. Segeralah berpakaian. Aku akan menyusul Anth”


Putra berkata pada Gadis yang langsung mengangguk dan menutup kembali pintu kamar mandi dalam kamar Putra dengan perlahan.


‘Haish!’


Putra mendengus lagi.


Lalu segera melangkahkan kakinya untuk menyusul Anthony ke kamar bocah tampan tersebut yang tersambung dengan kamar pribadi Putra dan Gadis.


**


“What’s wrong? ( Ada apa? )..” Tanya Garret pada Putra saat ia dan lima pria lainnya sedang berkumpul di ruang tamu Villa sembari menunggu makan malam mereka siap. “Are you sick? .. ( Apa kau sakit? ) ..”


Garret kembali bertanya karena Putra nampak sedikit lesu dan sesekali memijat pelipisnya sendiri.


‘My Junior who is sick ( Junior ku yang sakit )..’ Batin Putra.


“Seems that you look a little bit jaded.. ( Kau terlihat sedikit lesu ) ..”


Addison menambahkan.


**


Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, bahwa Putra dan para saudara lelakinya dan Danny serta Arthur yang saat ini ada dan akan menginap di Villa mereka, dan Bruna yang juga ikut duduk berkumpul bersama Putra dan yang lainnya di ruang santai lantai dua Villa, mereka semua akan membahas segala hal yang akan mereka lakukan dalam waktu kedepan.


Sementara itu Anthony sedang bersama Gadis dalam kamar pribadi Putra dan Gadis untuk belajar bahasa dari Negeri yang ia tinggali dengan orang tua angkatnya itu, dimana Gadis akan segera menjadi ibu angkatnya secara resmi juga setelah menikah dengan Putra. Namun begitu, Gadis sudah mulai memposisikan dirinya sebagai pasangan Putra, yakni menjadi seorang ibu layaknya Bruna selama ini yang Anthony butuhkan.


Beberapa berkas sudah berada di atas meja dalam ruangan terbuka tempat tujuh orang itu berkumpul sekarang.


“If you feel tired, maybe we can do the discussion tomorrow ( Kalau kau merasa lelah, mungkin kita melakukan pembicaraan ini besok )” Ucapan Arthur dimaksudkan pada Putra yang memang terlihat sedikit lesu itu.


“No I’m fine ( Tidak aku baik-baik saja )” Sahut Putra. “I don’t like to procrastinate anything, especially if those things connected to my main aim.. ( Aku tidak suka menunda-nunda segala hal, terutama jika hal tersebut berhubungan dengan tujuan utamaku ) ..”


“Alright ( Baiklah )”


**


Segala hal penting yang dirasa Putra perlu untuk dibahas secepatnya sudah selesai dibicarakan, dengan urutan yang sudah disesuaikan dengan rapih.


Putra dan enam orang lain yang bersamanya itu merapihkan berkas-berkas yang berserakan diatas meja.


“If it’s possible, everything about the licensing to build our new factory could be done before the wedding..”


“( Jika memang memungkinkan, segala hal tentang perijinan untuk membangun pabrik baru kita dapat diselesaikan sebelum pernikahan )..”


Arthur dan Danny mengiyakan dengan segera ucapan Putra yang berupa permintaan itu. “I will talk to Dalu ( Aku akan bicara dengan Dalu )” Cetus Arthur.


Putra dan enam lainnya kemudian mengangguk selepas mendengar ucapan Arthur.


“Also make sure that there will be no trouble about the land that we choose for the new factory in future”


“( Juga pastikan lagi bahwa tidak akan ada masalah dikemudian hari mengenai tanah yang kita gunakan untuk pabrik baru kita itu )”


“I already took care of it ( Aku sudah mengurus soal itu )”


Putra menimpali ucapan Damian.


“I already talked and make a dealing to a officer that ever came here right after they got information about what happened to the guy named Baskoro ( Aku sudah berbicara dan membuat kesepakatan pada petugas yang pernah datang kesini tepat setelah mereka mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi pada pria bernama Baskoro itu )”


“Hasan if I’m not wrong ( Hasan jika aku tidak salah )” Timpal Danny. “Right? ( Benar bukan? ) ..” Kemudian meminta kepastian Putra.


“Right ( Benar )” Sahut Putra.


“You guys know him? .. ( Kalian mengenalnya? )..”

__ADS_1


Putra bertanya pada Danny dan Arthur. “Just ever heard from Dalu ( Hanya pernah mendengar dari Dalu )” Arthur yang menjawab.


“Ya Dalu knows him.. And Dalu do his part very good ( Ya Dalu mengenalnya .. Dan Dalu melakukan bagiannya dengan sangat bagus ) ..”


Putra berucap lagi.


Garret, Danny, Addison, Bruna, Damian dan Arthur manggut-manggut.


Setelahnya tujuh orang yang tadi sedang rapat itu membubarkan diri dan kembali ke kamar mereka masing-masing.


Namun Putra menahan Bruna sejenak. “Bru ..” Panggil Putra.


Bruna pun segera menoleh dan menyahut pada Putra.


“Ya?”


“Everything about the wedding dress are set up? ..”


“( Segala hal tentang gaun pengantin sudah siap? ) ..”


“Just waiting for some adjustment are finish then they will call..”


“( Hanya menunggu beberapa penyesuaian selesai lalu mereka akan menghubungi )..”


“Good ..” Putra manggut-manggut. “Was they do the measurement to Gadis also?.. ( Apa mereka juga sudah melakukan pengukuran pada Gadis? )..”


Putra sedikit menurunkan intonasi suaranya dan berbicara lebih dekat pada Bruna yang masih ditemani Addison juga saat ini. Sementara empat lainnya sudah kembali ke kamar mereka masing-masing.


“Not yet.. ( Belum )..”


“Why? ( Kenapa? ) ..”


“You guys was asked to get out from the Boutique right after I finished fitting, remember? ..”


“( Kalian kan langsung menyuruh pergi dari Butik tepat setelah aku selesai mencocokkan pakaian pengantin, ingat? )..”


“......”


“If you want, I can take Gadis to the Boutique to do the measurement while I also want to see the progress of my wedding dress .. ( Kalau kau mau, aku bisa membawa Gadis ke Butik untuk melakukan pengukuran sekalian aku ingin melihat perkembangan gaun pengantinku )..”


Putra terdiam untuk sejenak.


“Two days ahead we also need two check the rings too. So we can also go to the Bridal Boutique in the same day.. ( Dua hari lagi kita juga akan mengecek cincin. Jadi kita juga bisa sekalian pergi ke Butik Pengantin dihari yang sama )..”


“There’s a lot of things that we have to do here before we comeback to the Capital and focus for the wedding preparation until the due day. We’re not going to the Capital before the date that we have been set”


“( Banyak hal yang harus kita lakukan disini sebelum kita kembali ke Ibukota dan fokus pada persiapan pernikahan sampai ke hari H. Kita tidak akan kembali ke Ibukota sebelum tanggal yang telah kita tentukan )”


“Then, how to make Gadis can do the measurement? I’m afraid the time is so narrow if you want Gadis get measured when we’re back to the Capital.. ( Lalu, bagaimana caranya membuat Gadis untuk dapat diukur? Aku khawatir waktunya terlalu sempit jika kau ingin Gadis diukur saat kita kembali lagi ke Ibukota ) ..”


Putra terdiam sejenak lagi. Tampak sedang berpikir dalam otak tampannya. “Call the Bridal Boutique and told them to send their staff here to do the measurement for Gadis.. ( Hubungi Butik Pengantin itu dan katakan pada mereka untuk mengirim staff mereka kesini untuk melakukan pengukuran pada Gadis )..”


Bruna manggut-manggut. “I can do that .. ( Aku bisa melakukan itu )..” Ucap Bruna. “But if Gadis asked why she has to get measure?.. ( Tetapi jika Gadis bertanya mengapa ia harus melakukan pengukuran? ).. What we’re going to tell her? .. ( Kita mau mengatakan apa padanya nanti? )..”


“I’m gonna think about it ( Aku akan memikirkan alasan untuk itu )” Sahut Putra dan Bruna pun manggut-manggut.


“Alright then. Just let me know .. ( Ya sudah kalau begitu. Beritahu saja aku )..” Ucap Bruna lagi.


“Okay”


Putra pun mengangguk dan Bruna serta Addison kemudian undur diri dari hadapan Putra.


**


Seperti halnya enam orang yang bersamanya tadi yang sudah pergi ke kamar mereka masing-masing, Putra pun melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamarnya dan Gadis juga.


Putra memang sedikit merasa letih. Baik tubuh maupun otaknya.


Tapi selalunya, jika hanya keletihan itu masih sedikit porsinya, tidak akan terlalu digubris oleh Putra.


Terlebih Putra sudah menyusun dan merencanakan berbagai macam hal di otaknya demi tujuan utama dalam hidupnya saat ini.


Untuk itu, Putra tak kenal kata ‘nanti saja’.


Jadi rapat dengan tiga saudara lelakinya dan satu saudarinya berikut dua orang yang kini sudah menjadi orang kepercayaan Putra dan para saudara dan satu saudarinya langsung saja Putra cetuskan dan lakukan.


Mengabaikan keletihan di tubuhnya yang tak seberapa, Putra fokus mengurut dan menyusun segala hal yang ada dalam otaknya, yang telah ia sampaikan pada enam orang lain yang tadi rapat dengannya. Dan cukup sukses juga membuat ‘pening’ di kepala Putra akibat kegiatan intimnya bersama Gadis yang sangat tanggung di kamar mandi tadi sore pun teralihkan.


Dan setelah semua pembahasan selesai dibahas, Putra akan mengistirahatkan dirinya di kamarnya dan Gadis dalam Villa. Kamar yang akan ia sering tempati seterusnya.


**


Saat terakhir Putra melihat Gadis dan Anthony sebelum ia pergi berkumpul untuk rapat kecil bersama enam orang yang bersamanya tadi, Anthony dan Gadis seingat Putra sedang berada di kamar yang sudah Putra sebut sebagai kamarnya dan Gadis. Tapi saat Putra membuka pintu kamar tersebut, dua orang yang tadinya ada disana kini tidak ada.


“Dimana Anth dan Gadis? ..”


Putra bertanya-tanya sendiri saat mendapati kamarnya dan Gadis yang tampak kosong.


**


To be continue....

__ADS_1


Tetap Enjoy dan bahagia.


__ADS_2