
Happy reading ......
*****************
“Jangan sentuh cucu dan menantuku ....”
Namun Henrick tetap membuka mulutnya untuk berbicara.
“Apa kau sedang memohon?” Ucap Putra sinis.
“Kau seharusnya tidak menyentuh mereka karena aku sudah ikut denganmu....”
“Tergantung bagaimana nanti mood ku.” Sahut Putra.
“Ta-tapi ....”
“Diamlah, dan pikirkan nasibmu sendiri ....”
Putra berkata dengan dingin pada Henrick, dengan tanpa menoleh kebelakang.
“Dua sekutumu yang sudah kau ‘kenyang kan’ dengan uang dari hasil mencurangi beberapa bisnis ayahku bahkan hendak pergi meninggalkanmu begitu saja.”
**
(Noted yang sama untuk setiap percakapan yang sekiranya dengan bahasa Belanda, akan di Indonesiakan).
“Kalian sudah menemukan mereka?”
Putra bertanya kepada salah satu dari tiga orang yang langsung menghampirinya dan berdiri tegak dihadapannya, saat ia, Bale dan Garret telah sampai di sebuah Pelabuhan.
Satu orang menyahut, dan dua lainnya menganggukkan kepala mereka.
“Bagus.”
“Silahkan Tuan.”
Putra lalu melangkahkan kakinya, mengikuti salah seorang dari tiga yang menyambut kedatangannya bersama Bale dan Garret, dengan Henrick yang sudah dipegangi oleh dua orang lainnya.
“Wah, wah, para Pamanku yang ‘setia’! ..” Ucap Putra saat dia telah sampai di suatu bagian Pelabuhan yang nampak seperti gudang besar.
Putra tersenyum miring nan sinis pada dua orang pria paruh baya, namun lebih muda daripada Ramone dan Henrick.
“Putra! Apa-apaan ini??!!” Satu dari pria paruh baya itu langsung mencecar Putra, saat Putra ada dihadapannya.
“Paman Erwin!.. Aku dengar kau hendak bepergian dimalam bersalju ini.”
Putra tak menjawab pertanyaan dari pria yang ia panggil dengan Paman Erwin itu.
“Mendadak sekali?”
Pertanyaan berupa sindiran tercetus dari mulut Putra pada Erwin, dan ia juga melirik pada satu pria paruh baya lainnya yang duduk disamping Erwin.
Sementara Putra berdiri tegak dihadapan kedua pria paruh baya yang sedang duduk itu.
“Kaupun juga akan berpergian diwaktu yang bersamaan dengan Paman Erwin, Paman Douwe?...”
Putra menatap pria selain Erwin, yang ia panggil dengan Paman Douwe.
“Sungguh kebetulan sekali, kalian hendak pergi di waktu yang hampir bersamaan.”
“I-itu ....”
“Apakah kalian berencana untuk kabur?”
Erwin dan Douwe sama-sama terkekeh. Kekehan yang terdengar canggung dan dipaksakan.
Wajah Putra kini sudah berubah datar dan dingin.
Erwin dan Douwe saling tatap kemudian. “K-kami sungguh tidak paham maksudmu, Putra ....”
“Benarkah....”
“J-jangan katakan jika kau-kau mencurigai kami sebagai pengkhianat dalam ‘keluarga’” Sambar Erwin.
Putra menyungging miring pada Erwin dan Douwe. “Tidak, aku tidak mencurigai jika kalian adalah pengkhianat dalam ‘keluarga’....”
Erwin dan Douwe sekilas seperti menarik nafas lega.
“Aku tidak perlu mencurigai fakta bukan?....”
Namun wajah Erwin dan Douwe seketika berubah khawatir, selepas mendengar ucapan Putra yang datar dan dingin barusan, sembari menatap dua pria paruh baya itu dengan tatapan yang menusuk dengan menyungging miring.
“F-fakta.... Fakta apa maksudmu?....”
“Fakta jika memang kalian adalah dua dari pengkhianat dalam ‘keluarga’.”
“K-kau benar-benar menuduh kami?!....”
“K-kau jangan sembarangan, Putra!. Hanya karena kami kebetulan hendak pergi bersama, lalu kau seenaknya menuduh kami sebagai pengkhianat?!....”
Putra kembali menyungging miring.
“Ya! Lagipula kau tidak bisa menuduh kami seenaknya tanpa bukti yang dapat kau pertanggung jawabkan di depan keluarga!”
Erwin dan Douwe terus memberikan sangkalan mereka. Putra hanya mendengarkan saja sampai keduanya selesai bicara.
“Ya benar!. Lagipula kami berdua memang sedang ada urusan yang berkaitan dengan bisnis ‘keluarga’ kita di Amsterdam!”
“Maling, memang tidak akan mengaku dengan mudah, ya? ....”
Suara Bale terdengar dari belakang Putra, yang berdiri bersama Garret.
Sementara Henrick belum dimunculkan di dalam tempat dimana Putra, Bale dan Garret berada saat ini.
__ADS_1
“Heh Bale!. Kali ini kau kembali menjilat Kepala Keluarga yang baru, setelah kau menjilat pada Ramone?!”
Erwin yang sudah nampak gelisah seperti halnya Douwe itu, kini menyerang Bale dengan tuduhan mereka.
Bale pun terkekeh sinis.
“Dengar, Putra, selain kau jangan sembarangan menuduh kami, kau juga jangan sampai termakan hasutan dari Bale! Sedari dulu dia memang berusaha menjatuhkan kami di depan Ramone! ....”
Bale kembali terkekeh sinis saja.
Sementara Putra tetap menyungging miring, menatap dua pria paruh baya yang tidak henti-henti berbicara. “Apa kalian sudah selesai bicara?.”
Putra akhirnya menyela.
Membuat Erwin dan Douwe kini terdiam.
“Dengar, Putra ....”
Namun selang beberapa detik suara Douwe terdengar.
“Kupastikan pada kalian....”
Tapi Putra segera menyambar dan mengambil alih untuk bicara.
“Aku bukanlah orang yang sembarangan dalam bertindak!.” Ucap Putra tajam.
Tatapan Putra juga semakin tajam pada Erwin dan Douwe.
“Bagaimana aku mengetahui jika kalian adalah dua dari pengkhianat dalam ‘keluarga’, itu urusanku.”
“A-apa bukti yang kau punya jika kau menuduh kami adalah pengkhianat, hah?!.”
Erwin menatap Putra dengan tatapan seolah menantang.
Putra menaikkan satu sudut bibirnya kemudian. “Bukti ....”
Putra menggumam sinis.
“Ya!. Kau perlu bukti jika kau menuduh kami!.”
“Kalian lupa, jika aku ‘Kepala Keluarga’ sekarang?. Dan aku pernah mengatakan, dibawah kepemimpinan ku, peraturanku lah yang berlaku!.”
“I-iya .... ta-tapi ------“
“Tapi jika kalian penasaran, baiklah....” Ucap Putra. “Bawa dia masuk.” Perintahnya kemudian, dengan suara yang lantang.
“Hen-Henrick???!!!!” Erwin dan Douwe terkejut bukan main melihat Henrick yang di cengkram dengan ketat oleh dua orang pria berbadan besar dan berwajah sangar.
“Heh! Kalian sungguh setia kawan sekali!”
Kalimat sindiran langsung keluar dari mulut Henrick untuk Erwin dan Douwe.
“K-kau jangan bicara sembarangan dan menyeret kami berdua denganmu!.” Erwin langsung menyahut.
“Percuma kalian terus menyangkal ....”
Henrick kemudian bicara lagi pada Erwin dan Douwe.
“Dia sudah tahu semuanya! .... Bahkan Jacco dan Gijs sudah mati!.”
Henrick berucap tajam, dan Erwin serta Douwe meneguk kasar saliva mereka.
“Dan sekarang giliran kalian.”
Putra pun menyambar ucapan.
“Ti-tidak!. I-Ini hanya salah paham!.”
“S-semua ini karena hasutan Henrick dan Jacco, hing-hingga kami ....” Erwin coba membela diri.
Putra menyungging miring.
“Apapun itu.... pengkhianat tetaplah pengkhianat.”
Kemudian Putra menyambar dengan nada suara yang datar dan dingin, berikut juga tatapan matanya yang seperti sedang mengkode ke garis lurus dalam pandangannya.
“Mati adalah ganjaran yang tepat.”
Putra berucap bersamaan dengan ia menganggukkan kepalanya dengan samar ke arah lurusnya.
Dan didetik berikutnya, leher Erwin dan Douwe telah terjerat tali yang dicengkram dengan kuat oleh dua orang yang memang sudah bersiap untuk melakukan eksekusi pada kedua pria paruh baya tersebut.
Erwin dan Douwe sama-sama meronta dengan kuat sambil memegangi leher mereka yang terjerat tali dengan ketat.
Dua pria paruh baya itu berusaha menarik tali yang menjerat leher mereka itu agar terlepas bahkan menjadi longgar. Erwin dan Douwe melakukan perlawanan dengan kuat, sampai mereka terjatuh ke lantai.
Namun dua pria yang sedang mencengkram leher Erwin dan Douwe tak kalah kuat tenaganya. Terlalu kuat bagi Erwin dan Douwe bahkan.
Karena cengkraman ketat mereka pada tali yang melingkar di leher Erwin dan Douwe tak berubah sedikit pun.
Masih ketat dan kuat, hingga Erwin dan Douwe sudah terlihat lemas.
Putra melangkahkan kakinya mendekati dua tubuh paruh baya yang wajahnya mulai pucat pasi.
“Tak ada ruang dalam ‘keluarga’ bagi para pengkhianat.” Ucap Putra yang berdiri tegak sembari menundukkan sedikit pandangannya, menatap Erwin dan Douwe yang sudah nampak sekarat, dengan wajah pucat pasi karena peredaran darah mereka terhenti, dan nafas mereka yang juga sudah sebentar lagi habis.
Putra menyeringai. Wajahnya nampak begitu datar saja melihat dua orang yang sedang meregang nyawa di depannya. Hingga tubuh dua orang itu kemudian tak lagi bergerak, dengan wajah yang pucat serta bibir yang mulai membiru.
Dan seringai kepuasan langsung nampak di wajah Putra, saat sudah dipastikan bahwa Erwin dan Douwe tak lagi bernyawa.
Tak lama Putra berbalik badan, masih di tempatnya berdiri. Memandang pada Henrick yang sudah nampak panik dan gurat ketakutan pun nampak jelas di wajahnya.
Putra menyeringai lagi.
__ADS_1
“Sekarang giliranmu, Henrick Jiltk.”
Dan Henrick pun langsung menelan ketat salivanya.
***
“Sekarang katakan, kau ingin mati dengan cara yang bagaimana?.”
Henrick sudah didudukkan di salah satu kursi tempat Erwin dan Douwe tadi berada sebelum mereka dihabisi oleh dua anak buah Putra.
Putra telah berdiri tegak dihadapan Henrick saat ini.
“Uhm ....”
Henrick menggumam gugup.
“Jika kau sedang mencari celah untuk kabur, atau berusaha mencari alasan untuk merubah keputusanku, kau hanya membuang waktu.”
“Aku, mo-hon, ampunilah, aku, Putra....”
“Lalu memberikanmu kesempatan untuk mencoba membunuh ayah baptisku lagi?.”
Putra memandangi Henrick dengan tatapan dan datar dan dingin, selaras dengan nada suaranya yang sama seperti raut wajahnya.
“Atau mungkin mencari sekutu baru untuk berusaha membunuhku juga?.”
“Tid-dak!. Itu tidak mungkin aku lakukan!. A-ku, tidak akan berani! ....”
Henrick dengan cepat menampik dugaan Putra.
“Setelah ini aku, tidak mungkin akan berani melawanmu. Jadi tolonglah, ampuni aku....”
Henrick memohon dengan sangat, namun Putra nampak dingin menanggapinya.
“K-au sudah membunuh anakku satu-satunya....”
Henrick nampak memelas kini.
“Jacco punya anak dan istri ....”
Kembali Henrick memelas.
“Kini hanya aku yang mereka punya .... Jika kau membunuhku juga, bagaimana nanti nasib cucu dan menantuku?....”
Henrick merapatkan tangannya untuk memohon.
“J-adi tolonglah ampuni aku ....”
“Henrick ....” Sambar Putra. Ditatapnya Henrick oleh Putra dengan pandangan yang sangat datar. “Bagaimana nasib cucu dan menantumu ....”
Nada suara Putra pun sama datar dengan wajahnya.
“Itu bukan urusanku.”
“Put-ra.... Tolonglah ....” Henrick bahkan turun dari dari kursi dan berlutut dihadapan Putra sembari berucap dengan sangat lirih.
Dimana Putra sudah menggenggam sebuah pistol yang ia keluarkan dari balik mantel panjang yang ia kenakan.
“Put-ra aku mo-hon....”
Henrick kembali memohon dengan sangat serta melirih, saat Putra sudah mengarahkan ujung pistolnya ke tengah kepala Henrick.
“Sampaikan salamku pada anakmu.” Ucap Putra.
“P----“
Bang!.
Tak sampai Henrick kembali membuka mulutnya, pria paruh baya itu seketika ambruk kebelakang, saat peluru panas yang dimuntahkan pistol dalam genggaman Putra menembus kepalanya.
“Tak ada ruang dalam ‘keluarga’ bagi para pengkhianat.” Ucap Putra dengan datar dan dinginnya, menatap jasad Henrick yang sudah ambruk dengan lubang di kepala pria paruh baya itu.
Hening seketika menyeruak dalam ruangan yang bak seperti gudang besar, dalam sebuah area Pelabuhan yang nampak terbengkalai tersebut.
“Gantung Erwin dan Douwe di rumah mereka masing-masing.” Ucap Putra memecah keheningan. Dan kemudian, sahutan mengiyakan dari para anak buahnya pun terdengar. “Kau aturlah Bale.”
“Baik.” Sahut Bale.
“Lakukan hal yang sama pada Henrick. Tapi letakkan saja ia disini.”
“Baik.”
Sahutan dari Bale terdengar lagi, berikut dari para anak buah mereka.
“Mereka akan menjadi contoh nyata, bagi semua yang hendak ‘bermain-main’ dalam Kerajaan ayah baptisku, yang kini telah menjadi Kerajaan ku.” Tegas Putra.
Setelahnya Putra langsung berbalik dari hadapan jasad Henrick sembari memasukkan kembali pistol miliknya ke balik mantel panjang yang ia kenakan.
Raut wajah Putra tak berubah sampai saat ia memasuki mobil yang sama dengan yang ia tumpangi tadi.
Jahat.
Atau mungkin kejam.
Jika orang luar menilai, setelah melihat apa yang telah dilakukan seorang Putra Adjieran Vinson malam ini.
Namun begitulah Putra. Ia tidak akan segan untuk membereskan siapapun yang dirasa mengusiknya.
‘Just a little bit more, and I will come to ‘visit’ you, Jaeden. (Hanya tinggal sedikit lagi, dan aku akan ‘mengunjungi’ mu, Jaeden)’.
***
To be continue ...
__ADS_1