
Happy reading ....
🎑🎑🎑
Newcastle, Inggris..
“What you guys got? ( Apa yang kalian temukan? )”
Putra langsung bertanya pada kedua orang anak buahnya yang baru muncul itu, setelah tadi memeriksa gedung yang berada dalam sekian jarak tempat mereka berada sekarang, dimana Damian-lah yang menyuruh mereka untuk memeriksa bangunan tersebut.
“That building, is the factory ( Gedung itu, adalah pabriknya )” salah seorang dari dua orang anak buah Putra tersebut, langsung menjawab pertanyaan Putra.
“How many people inside there? ( Ada berapa orang didalam sana? )” tanya Putra lagi.
“About a dozen out from the workers ( Sekitar satu lusin, diluar dari para pekerja )”
Putra, Damian dan Garret berikut Devoss pun mengangguk, selepas satu anak buah mereka itu berbicara.
“You check the situation at front ( Kau periksa keadaan didepan )”
Putra kembali menurunkan perintah.
Kali ini pada satu anak buah yang barusan melaporkan situasi dan kondisi mengenai bangunan yang tadi ia periksa bersama satu rekannya.
“Give me your ‘Tommy’ ( Berikan padaku ‘Tommy’-mu )” ucap Putra pada anak buah yang barusan bicara padanya itu.
Si anak buah tersebut pun langsung memberikan pada Putra apa yang Bos-nya itu minta dengan segera.
‘Tommy’ yang dimaksud Putra adalah sebuah senjata api yang dikenal sebagai senjata sub-mesin terbaik pada Perang Dunia II.
Sebuah senapan sub-mesin yang masuk ke dalam senapan jenis bredel, dimana dapat memuntahkan sekaligus banyak peluru dengan cepat.
Putra menerima senjata api tersebut di tangannya dengan seringai yang nampak di wajahnya. Kemudian tanpa membuang waktu, ia langsung bergegas ke arah bangunan yang tadi telah diperiksa oleh dua anak buahnya.
“Are they bunching up? ( Apa mereka bergerombol? )”
Putra menanyakan keadaan lebih detail saat ia, Devoss, Garret dan Damian telah berjalan waspada menuju bangunan yang menjadi target dadakan mereka sekarang ini.
“Some of them, some are spreading. Four at the front right behind the entrance, three are the workers watchers, two person in each two separated doors ( Beberapa dari mereka, beberapa dari yang lainnya menyebar. Empat orang di depan tepat dibelakang pintu masuk, tiga orang adalah pengawas dari para pekerja, lalu ada dua orang masing-masing di dua pintu terpisah )”
Satu anak buah yang ditanya Putra itu menjelaskan dengan detail jawaban dari pertanyaan Putra.
Membuat Putra menyunggingkan senyuman disalah satu sudut bibirnya. Senyuman kecil, namun menggambarkan kepuasan atas kerja dari anak buah yang dikirim Accursio untuk menyertainya dan para saudaranya itu.
Devoss, Garret dan Damian juga cukup takjub pada anak buah kiriman Accursio tersebut yang nampak sudah terlatih.
Pasalnya detail keberadaan setiap orang di dalam sebuah bangunan yang menjadi target mereka yang kedua-meskipun hitungannya adalah target dadakan-dikarenakan target pertama mereka nampaknya hanya sebuah pengalihan tempat, dapat orang-orangnya Accursio yang tadi diperintahkan Damian untuk mengecek bangunan tersebut ketahui secara detail walau hanya dalam waktu yang tak lama.
“What doors? ( Pintu apa? )” tanya Putra, menanggapi penjelasan si anak buah yang tadi memberikan penjelasan detail padanya.
“I think one is a back door. But the other one is at the back corner, so we can’t see clearly that area. The area outside the building is quite dark( Aku rasa salah satunya adalah pintu belakang. Tetapi pintu yang satunya berada di sudut ujung belakang, jadi kami tidak dapat melihat dengan jelas area tersebut. Dan lagi keadaan di bagian luar sekitar bangunan itu juga cukup gelap )”
“Alright then.” Tanggap Putra. “You guys standby outside ( Kalian berjaga diluar )—“ ucap Putra pada anak buah yang tadi bicara padanya, juga pada satu anak buah yang kembali menyusul setelah Putra memintanya untuk memeriksa keadaan diluar bar setelah orang-orang yang berada di dalam bar tersebut telah dibantai oleh Putra, Garret, Thomas dan satu anak buah lainnya. “We’re in ( Kami yang masuk )”
Putra telah mengatur strategi dan mencetuskannya pada mereka yang bersamanya saat ini.
Devoss, Garret dan Damian menanggapi dengan anggukan arahan Putra barusan, dengan telah mempersiapkan senjata api yang sudah siap untuk langsung dioperasikan, dimasing-masing kedua tangan mereka.
Putra pun telah menyiapkan senjata sub-mesin yang tadi telah dimintanya dari salah satu anak buah kiriman Accursio itu.
“Yes, Sir.”
Dua anak buah itu langsung menjawab sigap, menanggapi ucapan Putra yang membagi tugas pada mereka.
Kedua orang anak buah kiriman Accursio itu sudah paham tugas mereka, dan mereka pun segera bersiap untuk mengambil posisi.
“How’s outside? ( Bagaimana keadaan diluar? )”
“Nothing has to be worried Sir ( Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Tuan )”
Putra pun menanggapi jawaban anak buahnya itu dengan anggukan.
“How about the workers? ( Bagaimana dengan para pekerja? )..” tanya Damian.
“Feel free to save them if you want to see your creator soon, after those flies shower you with bullets from their guns ( Silahkan saja jika kau memang ingin menemui penciptamu dengan cepat, tepat setelah para lalat itu memandikan-mu dengan peluru dari pistol-pistol mereka )” jawab Putra.
“Well, I choose to get shower with a sexy lady ( Yah, aku lebih memilih mandi bersama seorang wanita seksi )” seloroh Damian.
__ADS_1
Seketika pun, Damian dan tiga orang yang bersamanya itu sama-sama mendengus geli.
Hanya sesaat saja mereka nampak bersenda gurau. Karena didetik berikutnya, wajah ke empat pria tersebut telah berubah dengan serius.
“Stay alive, Fratello Mio! ( Tetaplah hidup, Saudaraku! )”
Putra berucap saat ia dan tiga lainnya itu telah berada tepat di depan pintu yang dipastikan adalah pintu masuk bangunan yang menyerupai sebuah gudang tua tersebut.
Tok .. Tok ..
Damian mengetuk sebuah pintu besar yang merupakan pintu utama dari bangunan tua yang ia, Putra, Devoss dan Garret sambangi untuk dihancurkan.
Klek!.
Tepat saat terdengar suara pintu yang akan dibuka dari dalam, yang daun pintunya barusan diketuk oleh Damian, dan dengan cepat pula Damian mendorong kasar dan kuat pintu tersebut.
Dimana Putra, Devoss dan Garret langsung melesat masuk dan memberondong semua yang ada dalam pandangan mereka dengan muntahan peluru yang mereka keluarkan dari senjata api yang sudah masing-masing mereka pegang.
Muntahan-muntahan peluru tersebut keluar dari selongsong peluru tanpa jeda selama beberapa detik ke setiap arah yang dibidik oleh empat orang yang memasuki tempat tersebut dengan paksa.
Terlebih, rasanya tidak akan ada yang akan luput dari berondongan peluru yang keluar dari senjata api sub-mesin yang Putra gunakan saat ini.
Membuat orang-orang yang berada di dalam sekitaran Putra dan tiga orang yang bersamanya, tak ada satupun yang luput dari sapaan peluru yang keluar dari senjata api milik Devoss, Garret dan Damian, serta sapaan peluru dari dua orang anak buah mereka yang telah ambil posisi tersembunyi untuk melindungi empat orang yang sedang berada di area dalam bangunan tersebut.
Posisi yang kedua orang ambil itu memang berada pada titik dimana mereka dapat melihat setiap sudut, sehingga jika ada ancaman tersembunyi mereka yang akan membidik target dari posisi mereka itu.
Mereka yang diduga adalah para anak buah dari pemilik tempat pengolahan bisnis ilegal yang sedang dikacaukan Putra ini, tidak ada yang sempat meraih senjata mereka untuk melakukan perlawanan. Putra, Devoss, Garret dan Damian sudah dengan baik mengurutkan setiap langkah mereka untuk bergerak, membidik cepat, lalu menembak dengan tepat.
Dengan mata, tubuh berikut gerak kaki yang selaras, untuk bergerak dan mengarah ke depan, sisi kanan dan kiri bahkan belakang.
Putra, Garret dan Damian sudah memang nampak terlatih dengan baik, berdasarkan pengalaman mereka saat di Italia dulu. Dan Devoss sendiri, sudah beberapa kali menghadapi situasi yang serupa bersama Ramone.
***
“Five minutes ( Lima menit )”
Putra berucap dikala area tempatnya berada sekarang telah menjadi sunyi, setelah ia melirik arloji di pergelangan tangannya.
DOR!.
Suara letusan senjata terdengar lagi, dimana Putra, Garret dan Damian menoleh ke sumber suara letusan senjata tersebut.
Devoss pun berkata santai, sambil menurunkan tangannya yang masih menggenggam senjata yang baru saja ia muntahkan lagi pelurunya pada satu orang. Putra, Garret dan Damian hanya mendengus geli saja dengan singkat.
“Check all ( Periksa semua )” titah Putra.
Tiga orang yang bersama Putra pun mengiyakan dan berbagi tugas.
Putra juga berjalan sembari memeriksa dengan waspada yang disertai ke-awasan matanya.
Dua orang anak buah mereka yang tadi pada posisi persembunyian mereka kini sudah bergabung dengan Putra dan tiga orang yang bersamanya itu.
Ikut juga menyisir tempat dengan cepat, seperti halnya Putra, Devoss, Garret dan Damian. Beberapa kali suara letusan senjata susulan terdengar, dari senjata kelima orang selain Putra.
Kelima orang itu menyisir setiap jasad yang sudah bergelimpangan di atas lantai bangunan tempat mereka berada saat ini.
Dan peluru dimuntahkan, jika ada yang terlihat masih bergerak setelah menerima sapaan dari peluru-peluru yang tadi dimuntahkan Putra dan rombongannya.
“Destroy this place without any rest! ( Hancurkan tempat ini tanpa sisa! )” Putra berucap tanpa ragu sama sekali. Kelima orang yang bersamanya pun mengiyakan.
“They have small money, here ( Mereka menyimpan sedikit uang disini )”
Salah satu anak buah mereka membawa sebuah koper dan menunjukkan isinya pada Putra.
Dan memang seperti yang salah seorang anak buah mereka katakan itu, satu koper berukuran sedang tersebut berisikan tumpukan uang.
“Take it ( Bawa uang itu )” titah Putra. “Check more if there’s another and bring all the money, if there’s any ( Cek kembali jika masih ada lagi dan bawa semua uang tersebut jika memang ada )” sambung Putra. “Then blow this place ( Lalu ledakkan tempat ini )”
***
Setelah menyisir setiap bagian yang ada dalam bangunan sebuah gudang tua yang setiap orang didalamnya sudah dipastikan tidak bernyawa, Putra berikut Devoss, Garret dan Damian, segera melangkahkan kaki mereka untuk keluar dan menjauh dari bangunan yang sedang dipasangi dinamit oleh dua anak buahnya.
Dua anak buah yang tadi ikut berjaga di luar dan sekitar mobil yang mereka parkirkan secara terpencar itu kemudian muncul guna membantu dua rekannya yang lain atas perintah Thomas yang sudah menggantikan mereka untuk berjaga-jaga di luar bar dan sekitar mobil mereka bersama anak buah yang lain. “What you have from inside ( Apa yang kau dapat dari dalam ), Thom?”.
Putra bertanya pada Thomas.
“I already put it inside our car’s trunk, Sir ( Aku sudah meletakkannya di bagasi mobil kita, Tuan )” jawab Thomas.
__ADS_1
“Money? ( Uang? )”
Putra bertanya lagi.
“A lot ( Banyak )” jawab Thomas.
“Okay.” Sahut Putra sembari manggut-manggut.
“Are we going to blow this place too? ( Apa kita akan meledakkan tempat ini juga? )” tanya Thomas untuk memastikan, menunjuk pada bar-tempat pertama yang mereka targetkan, dan telah juga menghabisi orang-orang yang tadi berada didalamnya.
“No.” Jawab Putra pasti. “Let it be just like that ( Biarkan saja seperti itu )” sambungnya.
“Okay Sir ( Baik Tuan )” jawab Thomas lagi pada Putra.
Lalu Putra masuk ke dalam mobil yang ia tumpangi bersama Garret dan Thomas dan satu anak buah yang menjadi supirnya.
“Here Sir ( Ini Tuan )” Thomas memberikan sebuah pisau kecil pada Putra.
“Keep it if you want or throw it away. My dactyloscopy won’t stay on it.”
( Simpan saja jika kau menginginkannya atau kau buang saja. Sidik jariku tidak akan ada disitu )
Putra berucap pada Thomas sambil mengangkat tangannya yang tertutupi dengan sarung tangan kulit, yang baru Thomas sadari.
“I’m sorry, I didn’t keep my eye on it ( Aku minta maaf, aku tidak menyadarinya )” ucap Thomas. “I just try to avoid any trouble ( Aku hanya berusaha untuk mencegah segala masalah )”
Thomas menerangkan. Putra menarik sudut bibirnya. “That would be fine ( Tidak masalah ), Thom.” Putra berujar. “However ,I like your precision ( Bagaimanapun, aku menyukai ketelitianmu )”
“Thank you Sir ( Terima kasih Tuan )” ucap Thomas.
BAM!.
Lalu suara ledakan yang cukup besar terdengar.
Tak lama, mereka yang tadi menyelesaikan sisa tugasnya pada bangunan tua-yang mana setiap orang yang berada didalamnya telah dihabisi tanpa terkecuali, kini telah kembali dengan langkah cepat ke tempat Putra berada.
Dan kedatangan empat orang anak buah Putra yang merupakan orang-orang kiriman Accursio itu, disusul suara ledakan lain yang kemudian terdengar beruntun dari bangunan tua tersebut. Mereka langsung memasuki mobil yang mereka gunakan masing-masing saat datang, segera, setelah Putra memerintahkan mereka untuk itu.
“Where are we going to after here Sir? ( Kita kemana lagi setelah ini Tuan? )”
“Home ( Rumah )”
“I thought we’re going to the Casino?”
( Aku pikir kita akan pergi ke Kasino )
Garret berkomentar, dan Putra tersenyum kecil.
“Let’s do it tomorrow ( Kita akan melakukannya besok )” ucap Putra. “Don’t we have to count money? ( Bukankah kita harus menghitung uang? )”
Putra menyeringai miring kemudian. Garret pun tersenyum lebar dengan saling melempar tatap penuh arti pada Putra.
Dan sejenak kemudian Putra dan rombongan memperhatikan bumbungan api yang kian meninggi pada satu arah di bawah langit.
Terukir gurat kepuasan di wajah Putra saat melihat bumbungan api yang meninggi itu, sambil sesekali suara ledakan masih terdengar.
***
“I really want to see their face, when the information that they’re factory are blown away with those stuffs in it, through their ears. Jaeden especially ( Aku sangat ingin melihat wajah mereka, saat informasi mengenai meledaknya pabrik mereka berikut isinya, sampai ke telinga orang-orang itu. Jaeden terutama )”
Garret buka suara, setelah mobil melaju agak jauh dari tempat mereka membantai orang-orang yang berada di dua tempat.
“I’m sure they will shock ( Aku yakin mereka akan syok )” Thomas menimpali.
“Losing those million price coccaine, will make them go crazy ( Kehilangan jutaan kokain, akan membuat mereka gila )”
“Don’t forget the money ( Jangan lupakan uangnya )” Thomas kembali menimpali ucapan Garret. Lalu mereka sama-sama terkekeh.
Sementara Putra hanya tersenyum kecil saja.
“It’s just a beginning ( Ini baru awalnya saja )...”
Putra berucap penuh arti kemudian
***
To be continue ..
__ADS_1
Dukung terus cerita ini ya.
Terima kasih.