
Noted: Baca dulu episode sebelum memberikan LIKE / COMMENT ( jika berkenan ).
Terima kasih masih setia.
***
Happy reading..
London Timur, Inggris..
Putra berada cukup sedikit lama di dalam kamar mandi.
Seumur hidup, baru ini Putra merasakan dirinya seperti sedang sakit dalam arti yang sebenarnya.
Perutnya rasa bergejolak, hingga tak sanggup menampung hingga apa yang berada di dalam perutnya yang kemudian naik sampai ia harus memuntahkan isi perutnya tersebut.
Putra tidak merasa salah makan, namun ia merasa benar – benar mual hebat. Tidak mungkin ia sedang coba diracuni bukan?. Toh dia hanya makan di Mansionnya saja sebelum sampai ke tempatnya sekarang.
Pikiran Putra seperti itu.
“Was the coffee poisoned ( Apakah kopi itu diracuni )?..”
Putra menggumam sambil ia menatap wajahnya di pantulan cermin wastafel.
‘I don’t think so. Dami and others drink the same coffee with me but they’re alright ( Aku rasa tidak. Dami dan yang lain minum kopi yang sama denganku tapi mereka baik-baik saja )---‘
Putra membatin.
‘Hish! You getting weaker Putra ( Kau mulai menjadi lemah Putra )!’
Putra merutuki dirinya sendiri sambil ia membasuh wajahnya dan kumur-kumur untuk membersihkan mulutnya yang Putra rasa tak enak setelah memuntahkan isi perutnya itu.
‘Since when you can be sick, except your mental long ago ( Sejak kapan kau bisa sakit, kecuali mentalmu dulu )?..’ kata Putra lagi dalam hatinya, sambil ia menyungging miring meremehkan dirinya sendiri.
***
“Are you okay ( Apa kau baik-baik saja )?”
Damian segera bertanya pada Putra-mewakili lainnya, ketika saudara angkatnya itu telah kembali ke tengah-tengah mereka.
Putra mengangguk.
Lalu Putra melirik ke arah meja tempatnya duduk.
Dia menatap cangkir berisi kopinya, dan melihat area lain yang kosong di atas meja, dimana tadi tersaji dua buah jenis makanan namun kini dua jenis makanan itu sudah tidak ada, bahkan harum makanan tadi pun sepertinya telah berganti dengan aroma pengharum ruangan.
***
“It already put away from here ( Makanan itu sudah dijauhkan dari sini ), Boss.” Ucap Thomas yang menyadari jika Putra melirik ke arah meja dimana Putra duduk di kursinya tadi.
“Thanks Thom.” Sahut Putra. Lalu Putra membatin serta mengingat-ingat. ‘It’s right, I feel hiccougs right after I smell that curry puff and mashed potatoes. Weird ( Iya benar, aku merasa mual tepat setelah aku mencium harum dari pastel dan kentang tumbuk. Aneh )’
Putra pun merasa aneh sendiri.
‘This coffee is alright ( Tidak ada yang salah juga dengan kopi ini )’
Putra kembali membatin sambil ia duduk kembali di tempatnya tadi, lalu tangannya meraih cangkir berisikan kopi miliknya yang mana pinggiran cangkir tersebut ia dekatkan ke hidungnya.
“Excuse me ( Permisi ), Boss –“ Thomas lebih mendekat pada Putra dan bicara dengan memandang pada Putra.
“Yes?” sahut Putra.
“Let me drink the rest of your coffee ( Biarkan saya meminum bekas kopi anda )”
Bukan tanpa sebab Thomas mengatakan itu.
Pasalnya Thomas memperhatikan gerak-gerik Putra yang seperti mencurigai jika ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam cangkir kopinya.
Padahal tidak ada campuran zat berbahaya-bahkan zat tambahan lain selain dari hasil saringan biji kopi asli yang dimasukkan ke dalam kopi milik Putra termasuk juga kopi untuk mereka yang lainnya, karena semua kopi yang tersaji sama.
Tidak mungkin Thomas ataupun orang-orang yang bersamanya yang merupakan bawahan Accursio itu berani macam-macam pada Putra yang notabene adalah Bos mereka juga.
Selain itu pun Thomas tidak memiliki motif untuk menghabisi baik Putra dan para saudaranya, berikut orang-orang Accursio yang bercampur dengan beberapa orang Ramone yang sudah dipastikan kesetiaannya.
Namun begitu, Thomas ingin lebih meyakinkan Putra.
__ADS_1
“I think the coffee is okay ( Aku rasa tidak ada masalah dengan kopinya )---“
“I think that so ( Aku juga berpikir seperti itu )---“
“I also don’t smell something suspicious in this coffee ( Aku juga tidak mencium bau yang mencurigakan di dalam kopi ini )..”
Damian, Garret, dan Devoss saling menyahut. Putra pun manggut-manggut. “I know ( Aku tahu ) –“ Lalu Putra menyahut sambil ia masih nampak berpikir.
“Allow me to make you feel sure ( Ijinkan saya untuk lebih meyakinkan anda )” ucap Thomas.
“Feel free then ( Silahkan saja kalau begitu )” Putra mempersilahkan Thomas untuk mengambil cangkir kopinya.
“Excuse me, Boss.” Thomas meminta ijin untuk mengambil cangkir berisikan kopi milik Putra.
“Don’t feel offended, because I just feek weird that I sudenly feel hiccougs ( Jangan tersinggung, karena aku merasa aneh saja dengan tiba-tiba mual )”
‘I don’t feel offended. I just want to proove that all of us are loyal worker, considering that they’re look pale now ( Aku tidak merasa tersinggung. Aku hanya ingin membuktikan jika kami ini pekerja yang setia, menimbang wajah mereka sudah pucat sekarang )’
Thomas yang sedang menyesap kopi bekas Putra itu membatin sambil melirik anak buahnya yang menyajikan kopi untuk Putra dan para saudaranya itu.
Yang memang nampak jelas terlihat sangat khawatir hingga wajah mereka nampak pias, akibat takut dikira pengkhianat. Padahal tidak.
“Your right ( Hak anda ), Boss-“ ucap Thomas, setelah ia menyesap kopi bekas Putra. “Few minutes ( Sebentar ), Boss..”
Thomas menyela dengan sopan, sambil ia mengangkat satu tangannya sambil matanya melihat pada arloji yang sedang ia kenakan.
“If I’m not mistaken, the time until you get hiccougs after drink that coffee is about three minutes ( Jika aku tidak salah, jeda waktu dari anda meminum kopi tadi sampai saat anda mual itu sekitar tiga menit )”
Putra mendengus geli dengan sikap Thomas. “No wonder Sio made you become one of his trusted man ( Tidak heran Sio menjadikanmu satu dari orang kepercayaannya )”
Lalu Putra berucap dan tersenyum tipis, sambil memandang pada Thomas yang nampak teliti itu-selain awas dengan keadaan. Thomas pun mengangguk samar, tanda hormat karena ucapan Putra bermakna sanjungan untuknya.
“I just do what I have to do ( Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan ), Boss—“ tanggap Thomas. “It’s three minutes already ( Ini sudah tiga menit )---“ ucap Thomas selanjutnya.
“And he’s okay ( Dan dia baik-baik saja )” tukas Garret, yang diaminkan oleh Damian dan Devoss dengan anggukkan kepala. “Beside your coffee is same with us, which pour from here ( Lagipula kopimu memang sama dengan yang kami minum, yang mana dituang dari sini )---“ tunjuk Damian pada sebuah teko yang ada di atas nampan pada tengah meja.
“As I said, I know, okay ( Seperti yang aku katakan tadi, aku tahu, oke )?..” sambar Putra. “I just make sure beside wonder why I sudenly get hiccougs ( Aku hanya ingin memastikan selain aku merasa heran kenapa aku tiba-tiba mual )..” sambungnya. “You’re so chatty ( Kau cerewet sekali ), Dami ...” rutuk Putra.
"Then why are you become sensitive just like women who get their period time ( Lalu mengapa kau jadi senstif seperti wanita yang sedang datang bulan )?" ledek Damian.
*
“So it means you got hiccougs because of the mashed potatoes and the curry puff ( Jadi itu artinya kau mual karena kentang tumbuk dan pastel )? ...”
“Perhaps ( Mungkin saja )”
Putra menyahut.
Damian mengernyit kemudian.
“But you haven’t taste it ( Tapi kau belum mencobanya )” ucap Damian lagi.
“Hem. And I think the taste it’s good ( Hem. Dan aku rasa itu enak )”
“Ya. For sure ( Iya. Betul sekali )!-“ timpal Damian. “Beside, from what I’ve remember, you are like mashed potatoes don’t you ( Lagipula, seingatku, kau menyukai kentang tumbuk bukan )?”
Damian berkata. Putra manggut-manggut.
“I do not understand about it either( Aku juga tidak mengerti tentang hal itu )”
Lalu Putra berucap, sambil mengingat-ingat jika memang ia menyukai kentang tumbuk yang diberi bumbu sederhana itu.
Dan jika Putra ingat-ingat lagi, satu jenis makanan itu adalah salah satu dari makanan yang ia sangat sukai sejak ia kecil.
Tapi kenapa tahu-tahu dia merasa mual hanya dengan mengendus aromanya saja? ...
“I think you little bit unwell ( Aku pikir kau sedikit kurang enak badan ), Boss.” Celetuk Devoss.
Damian serta Garret pun mengiyakan celetukan Devoss. “Maybe better we hold our move today, and you take some more rest ( Mungkin sebaiknya kita tunda dulu pergerakan kita hari ini, dan kau beristirahat lebih lagi ), Putra.”
“I’m okay. So don’t need to hold any of our plans (Aku baik-baik saja. Jadi tidak perlu menunda satupun rencana-rencana kita ) ...” tanggap Putra. “Finish what we can finish today ( Selesaikan apa yang dapat kita selesaikan hari ini )”
Putra pun memberi penegasan dengan ucapan dan juga tatapannya.
“If you say so ( Sesuai dengan keinginanmu kalau begitu )” sahut Garret.
“You all may fulfil your stomache first before go. And Thom ( Kalian semua silahkan mengisi perut kalian terlebih dahulu sebelum kita pergi. Dan Thom )—“
Putra beralih ke Thomas setelah bicara pada tiga orang terdekatnya, dan Thomas pun dengan cepat lebih mendekat pada Putra.
__ADS_1
“Told our men to fulfil their stomache also ( Beritahu juga pada orang-orang kita untuk mengisi perut mereka )”
Putra melanjutkan ucapannya pada Thomas yang langsung menyahut sigap.
“Yes, Boss.”
“And who will go to Saint Bees ( Dan siapa yang akan pergi ke St. Bees )?”
“Me, Boss.” Richard sudah menghampiri Putra. “Me with two of our men ( Aku dan dua orang kita lainnya )”
“Alright then.”
Putra mengangguk mengiyakan ucapan Richard.
“Fulfil your stomach and also those men who go with you first.”
( Isi dulu perutmu dan juga mereka yang ikut denganmu ).
“Yes, Boss.”
****
“This is soup and also this ginger tea to make your stomach warm and better ( Ini sup dan teh jahe untuk membuat perut anda hangat dan menjadi lebih baik ), Boss ---“
Thomas mempersilahkan Putra untuk menikmati sajian yang ia antarkan ke hadapan Putra saat ini. “Thanks Thom ---“ sahut Putra dan Thomas pun mengangguk serta membalas ucapan terima kasih Putra. “However how about the communication line here. Is it able to use ( Ngomong-ngomong bagaimana dengan saluran komunikasi disini. Apakah dapat digunakan )?”
“Unable, but it will become normal in few hours based on the information that our men got( Belum bisa, tetapi akan kembali berfungsi dengan normal dalam beberapa jam lagi sesuai dari informasi yang orang kita dapat )”
Putra pun manggut-manggut.
Lalu Putra menikmati sup hangat dan teh jahenya setelah menyuruh Thomas untuk mengisi perut juga, meski ia tidak ikut pergi dengan Putra.
Sambil Putra memikirkan lagi rencana yang ia sudah susun rapih dalam otaknya.
Dan setelah Putra selesai dengan sup dan teh jahenya, serta merasa perutnya sudah lebih baik-bersamaan juga dengan lainnya yang sudah selesai mengisi perut mereka, kesemuanya kini berkumpul kembali dengan Putra yang kembali mengatur apa, siapa dan bagaimana mereka bergerak sekarang ini.
Putra dan kawanannya mengecek persenjataan setelah ia selesai menerangkan panjang lebar rencananya dan memastikan semua orang mengerti maksud dan keinginannya agar semua rencana berjalan lancar dan rapih. “Do it very fast ( Lakukan dengan sangat cepat ).”
“Yes, Boss!” Sahut para anak buah yang sedang ditatap Putra dengan serempak, setelah masing-masing dari mereka telah mengantongi informasi baik foto, alamat dan kemungkinan keberadaan target mereka saat ini, dimana informasi tersebut adalah dari anak buah lain yang sudah disebar lebih dulu untuk mengawasi target-target yang akan Putra dan kawanannya urus secara bersamaan.
Jadi Putra kawanannya yang telah membagi menjadi beberapa kelompok itu, akan langsung mendatangi titik-titik yang sudah diberitahukan oleh para informan-informan mereka yang tersebar.
****
Putra dan kawanannya telah bersiap untuk pergi ke tempat target-target mereka. Target yang adalah orang-orang yang dulunya bekerja pada keluarga almarhum Rery-terutama ayahnya, termasuk mereka yang dulunya berada dipihak Kingsley Smith.
Namun orang-orang itu membelot, hingga menyebabkan Kingsley Smith sendiri-ayah Rery tewas dibunuh, termasuk orang-orang yang tetap mempertahankan kesetiaannya pada ayah kandungnya Rery itu-berikut keluarga mereka yang ikut dibantai juga oleh Jaeden yang menyuruh orang-orangnya.
Dan itu terjadi karena pihak-pihak pembelot yang menjadi target Putra dan kawanannya saat ini. Dimana tentu saja, atas pengkhianatan orang-orang yang menjadi target sasaran Putra dengan kawanannya itu, juga Putra anggap bertanggung jawab atas kematian Rery dan istrinya, berikut para saudara angkat Putra yang setia pada Rery sampai ikut serta ke Ravenna.
Jangan lupakan juga penderitaan Anthony dari sejak bocah itu menyaksikan sendiri ayah dan ibunya dihabisi di depan mata kecilnya hingga menyebabkan Anthony menjadi trauma hebat, bahkan sempat koma, karena Jaeden pernah berusaha untuk juga menghilangkan nyawa Anthony dengan kejamnya menenggelamkan anak Rery dan istrinya itu ke perairan dalam dermaga di Ravenna dengan tubuh yang diikat.
Laknat!.
Pendapat Putra dan mereka yang masih tersisa dari pihak Rery atas Jaeden.
Makanya mereka sangat dendam, lebih-lebih Putra.
“Livingston---”
Damian berucap saat ia telah berdiri bersama Putra, Garret dan Devoss menunggu mobil yang sedang disiapkan oleh beberapa anak buah mereka.
“Are his family too ( Apa Keluarganya juga )?” tanya Damian.
“No exception ( Tidak ada pengecualian ), Dami.”
“Even Tess ( Termasuk Tess )?...”
“She and other Livingston family members enjoy facilities from her husband betrayal to Kingsley right ( Dia dan para Livingston lainnya menikmati semua fasilitas dari pengkhianatan suaminya atas Kingsley bukan )?”
Damian mengangguk setelah mendengar ucapan Putra.
“Then she and others Livingston family members a traitor too ( Maka dia dan para anggota keluarga Livingston lainnya juga pengkhianat )” tegas Putra dengan nada suara yang datar.
Damian kembali mengangguk setelah mendengar lagi ucapan Putra, lalu masuk ke dalam mobil yang sama bersama Garret.
Sementara Putra berada dalam satu mobil dengan Devoss. Setelahnya beberapa mobil yang melaju dari sebuah daerah kumuh itu, berpisah karena memiliki tujuan di arah yang berbeda.
“Let’s get the party started ( Mari kita mulai pestanya )”
__ADS_1
****
To be continue...