LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 106


__ADS_3

Happy reading....


🎑🎑🎑🎑🎑🎑🎑


Di sebuah Bandara khusus penerbangan jet elit


“Glad to see you comeback here in one piece (Senang melihatmu kembali kesini dengan utuh) , Dan” Ucap Putra pada Danny yang telah keluar dari sebuah jet elit ukuran sedang.


Putra sudah berada di Bandara tersebut terlebih dahulu sebelum jet elite sewaan yang ditumpangi Danny tiba bersama Damian, Arthur berikut beberapa orang yang akan dipekerjakan sebagai pengawal oleh Arthur berdasarkan permintaan Putra.


Danny tersenyum lebar.


“I was thinking to escape once in a while. My eyes become dazzling since from England”


“(Tadinya aku sempat berpikir untuk kabur. Mataku menjadi begitu silau sejak dari Inggris)”


“Well I’m waiting for you to do that.. So maybe I can have a little bit of fun by taking your kidney out of your body with my own hands”


“Yah aku menunggumu melakukan itu.... Jadi mungkin aku dapat memiliki sedikit kesenangan dengan mengeluarkan ginjal dari tubuhmu dengan tanganku sendiri) “


Danny spontan tergelak dan Damian terkekeh bersama Putra.


Sementara Arthur sedang mengomando beberapa orang yang ia pekerjakan untuk mengeluarkan semua yang dibawa Danny dalam jet elit tersebut dan memindahkannya ke dalam sebuah mobil Van yang juga telah dipersiapkan sebelumnya.


“Here (Ini)”


Danny menyodorkan sebuah koper kecil yang sedari tadi berada dalam genggamannya pada Putra.


Putra yang sudah tahu apa yang ada dalam koper yang diberikan Danny tersebut mengangguk dan segera menerimanya.


“Mister Putra, Mister Damian ....”


Dua orang pria berperawakan asing yang datang bersama Danny menyapa Putra dan Damian.


“How are you guys doing? (Bagaimana kabar kalian?)” Tanya Putra. “Can’t believe you still alive until now, Ken (Tidak percaya kau masih hidup hingga sekarang, Ken)”


Pria yang disebut dengan Ken itu tersenyum pada Putra.


“We’re good Sir (Kami baik Tuan)”


“We feel very glad be able to meet you both again (Kami senang sekali dapat bertemu dengan kalian berdua lagi)”


“Feel glad be able to see both of you too (Senang bisa melihat kalian berdua juga), Kenny, Conrad...” Ucap Putra lagi.


“Want to stay here for few days? (Ingin tinggal disini untuk beberapa hari?)”


“We’d love too, but now this time. Need too fly over Italy after here (Kami ingin sekali, tetapi tidak saat ini. Harus pergi ke Italia setelah dari sini)”


Putra manggut-manggut.


“Then where you going to stay to take some rest? (Lalu kalian akan tinggal dimana untuk beristirahat sejenak?)”


“In the plane, we’re leaving in about two hours (Didalam pesawat, dua jam lagi kami kembali pergi)”


Putra dan Damian manggut-manggut.


“You both go to the Alberobello, meet a priest on the Padua Church (Kalian berdua pergi ke Alberobello, temui seorang pastur di Gereja Padua)”


Putra merogoh saku jasnya.


“And give this to him (Dan berikan ini padanya)...”


Lalu mengeluarkan sebuah amplop putih dan memberikannya pada pria bernama Kenny.


“He will lead you guys to someone that we trust at there (Dia akan mengarahkan mu untuk bertemu seseorang yang kami percayai disana).....”


Kenny menerima amplop tersebut seraya mengangguk.


“That person name is Ghai.. (Nama orang itu Ghai ..) And give it to him (Dan berikan ini padanya)”


Putra memberikan satu amplop lagi pada pria satunya yang bernama Conrad yang juga langsung menerima amplop tersebut seraya mengangguk.


“What Danny gave for both of you, is that enough? (Yang sudah Danny berikan pada kalian, apa itu cukup?)”


Kenny dan Conrad sama-sama mengangguk. “More than enough, Sir! (Lebih dari cukup, Tuan!)” Ucap keduanya.


“Alright, then (Baiklah, jika begitu)” Sahut Putra.


Dan Damian mengambil sebuah koper kecil dari dalam mobil lalu memberikannya pada Kenny.


“There are two envelopes inside it. I write down which one that you guys must give to the priest, and which one that you guys must give to Ghai (Ada dua amplop didalamnya. Aku sudah menuliskan mana yang harus kalian berikan pada pastur itu, dan mana yang harus kalian berikan pada Ghai)”


Kenny dan Conrad manggut-manggut paham.


“Is it money? (Apakah ini uang?)...”


“Yes (Iya)” Jawab Putra. “You guys just give it to them. It’s Italian Lira (Kalian berikan saja langsung pada mereka. Ini Lira Italia)”


Kenny dan Conrad pun mengangguk paham.


Lalu berbicara sebentar lagi sebelum Putra, Damian berikut Danny dan Arthur dan orang-orang yang bersama mereka pergi dari Bandara khusus tersebut.


“Alright then, see you guys soon (Baiklah jika begitu, sampai bertemu lagi secepatnya)”


“Yes, Sir (Iya, Tuan)”


“Will let you know soon, once we gathered every people then destroy that guy including all of his allies (Kami akan secepatnya mengabari, setelah kami berhasil mengumpulkan semua orang lalu menghancurkan pria itu berikut


sekutunya)”


“Can’t wait for it (Tidak sabar menunggunya)”


"Say our greeting to Mister Ad (Sampaikan salam kami untuk Tuan Ad)"


Putra langsung mengangguk, kemudian berpamitan dari hadapan Kenny dan Conrad, lalu pergi menaiki mobil yang ia tumpangi bersama Damian yang dikendarai oleh Suheil, dan Danny ikut menumpang di mobil yang sama dengan Putra dan Damian.


***


“How many bars inside the bag? (Ada berapa banyak batang dalam satu tas?)”


Putra bertanya pada Danny saat mereka dan rombongan telah sampai di Kediaman mereka yang berada di Ibukota.

__ADS_1


“Ten (Sepuluh)”


“Okay” Sahut Putra yang sedang berdiri di bagian belakang Van yang dikendarai oleh anak buah mereka.


“You want them to move it inside? (Kau ingin mereka memindahkannya ke dalam?)” Tanya Arthur yang belum tahu apa isi beberapa tas dalam Van yang dibawa Danny dari Inggris yang menurut anak buahnya itu begitu berat terasa


saat diangkat.


“Ya, bring all of these inside (Ya, bawa semua ini kedalam)” Jawab Putra dan Arthur langsung mengangguk lalu menyuruh anak buah mereka untuk memindahkan semua tas yang ada didalam Van ke dalam rumah melalui bagian belakang kediaman mereka itu yang tertutup.


**


“Is there any commendable things for me from Hizkia? (Apa ada titipan lain lagi dari Hizkia untukku?)”


Danny mengangguk, lalu mengambil sebuah koper berwarna abu-abu berukuran sedang.


“Here .. (Ini) ..”


“Thank you” Ucap Putra setelah menerima koper tersebut dari Danny, dimana Putra, Damian dan Danny berikut Arthur kini sudah duduk bersama secara pribadi di salah satu bagian rumah.


Suheil diminta Putra untuk beristirahat, dan anak buah yang lain diminta untuk berjaga bergantian.


Putra dan Damian tersenyum saat koper telah terbuka.


“Wow!”


Danny dan Arthur kompak berseru pelan saat melihat isi koper tersebut.


“Hizkia totally understand us (Hizkia benar-benar memahami kita)” Celetuk Damian sembari mesam-mesem dan Putra masih tersenyum sembari mengecek satu-satu barang dalam koper.


“Feel free to choose one (Silahkan pilih satu) ...”


Putra menghadapkan koper itu pada Danny dan Arthur.


“If you guys know how to use it... (Jika kalian tahu cara menggunakannya...)”


Damian melemparkan ledekan sembari mengeluarkan satu senjata api, diantara beberapa jenis senjata yang ada didalam koper tersebut.


Danny, Arthur termasuk Putra terkekeh.


“Are we going to rob a Bank? (Apa kita mau merampok Bank?) ...”


“Haha!!...”


Putra dan Damian tergelak mendengar celotehan Danny yang mengambil satu jenis senjata api dari dalam koper tersebut.


Danny sudah menjatuhkan pilihannya pada satu senjata api yang terisi penuh selongsongnya, kemudian ia simpan dalam tasnya.


“What about you Arthur?... You don’t want to have one? (Bagaimana denganmu Arthur? ... Kau tidak ingin memiliki satu diantaranya?)”


Arthur nampak sedang berpikir.


“It’s been quite long that I didn’t touch this thing. I have one, once. But I have put it away (Sudah cukup lama aku tidak menyentuh benda ini. Aku pernah memiliki satu. Tetapi aku sudah membuangnya jauh-jauh)”


Arthur mengangkat satu jenis senjata api yang ia perhatikan dengan seksama.


“But, seems that I want to have one now (Tetapi, rasanya aku ingin punya satu sekarang)”


Arthur pun sudah menjatuhkan pilihan dan langsung memasukkan senjata api pilihannya yang juga sudah terisi penuh selongsongnya ke dalam saku jasnya, setelah Putra dan Damian mempersilahkannya.


“Collection! (Koleksi!)”


Putra dan Damian kompak menyahut dan terkekeh kemudian.


“Are those bags also guns inside? (Apa didalam tas-tas itu juga berisikan senjata?)...”


Arthur kemudian menunjuk beberapa tas berwarna hitam.


“You want to know? (Kau ingin tahu?)”


“Just asking ... (Hanya sekedar bertanya)...”


Putra, Damian dan Danny mendengus geli.


“So you’re not feeling curious (Agar kau tidak penasaran)...”


Damian mengambil satu tas hitam yang tadi ditanyakan oleh Arthur, lalu meletakkannya diatas meja.


“Sweet Jesus... (Demi Tuhan)...”


Arthur tidak menahan ketakjubannya seiring mata yang membelalak dan mulutnya yang menganga, saat Damian membuka tas yang sudah diletakkannya diatas meja dan memperlihatkan isinya pada Arthur.


Dimana isi didalamnya adalah beberapa batangan emas murni.


“Th – those bags... are also filled with all of the – se?? ... (Se – semua tas itu... juga berisikan semua i – ni?? ...)”


Damian, Putra dan Danny manggut – manggut bersamaan.


‘Oh God ... Are they part of the royal family??.. (Oh Tuhan ... Apa mereka bagian dari keluarga kerajaan??...)'


Arthur seketika pening.


**


“What time that you guys is going back to Villa tomorrow? (Pukul berapa kalian akan kembali ke Villa besok?).....”


Danny menatap pada Putra dan Damian.


“Not in hurry (Tidak buru – buru).....”


Putra yang menyahut, kemudian menoleh pada Damian.


“For at least until this sleepy head wake up! (Setidaknya sampai si tukang tidur ini bangun!)” Cibir Putra.


Damian pun terkekeh.


“Cih!” Decih Putra. “Better you go with us, Dan (Sebaiknya kau ikut dengan kami, Dan)” Kemudian berbicara pada Danny.


“Ya, sure..... (tentu).....” Sahut Danny.


“By the way, Putra ..... (Ngomong – ngomong, Putra) ..... Are you going to meet Gadis at her works tomorrow morning before we leave? (Apa kau berencana menemui Gadis di tempat kerjanya besok pagi sebelum kita pergi?)”

__ADS_1


“Maybe not (Mungkin tidak)”


Putra menyahut cepat.


“Is it.... that you don’t want to meet her again due the information that Arthur got about her? (Apakah ..... apakah kau tidak mau menemuinya lagi sehubungan dengan informasi yang Arthur dapatkan tentangnya?)”


“Don’t know ..... (Tidak tahu .....)”


“Don’t want to talk and ask so you might a have a clear explanation, from her? (Tidak ingin berbicara dan bertanya jadi mungkin saja kau bisa mendapatkan penjelasan yang pasti, darinya?).....”


Putra mengendikkan bahunya saja atas pertanyaan Damian. Membuat Danny sedikit penasaran dengan pembicaraan Putra dan Damian.


“What exactly you guys talking about? (Apa yang sebenarnya kalian berdua sedang bicarakan?)” Tanya Danny. “Gadis? .....”


Damian manggut – manggut.


“That nurse? (Perawat itu?)” Tanya Danny lagi.


“Yup!”


"Who else a woman name Gadis that we all know, you moron! .. (Memang siapa lagi wanita bernama Gadis yang kita kenal, bodoh!)"


“What’s wrong with her?..... (Ada apa dengannya?) .....”


Danny menatap Putra dan Damian bergantian dan menatap Arthur juga, namun Putra hanya diam, nampak malas untuk menjawab.


“Don’t say that your fiance..... (Jangan bilang kalau tunanganmu itu .....)”


Damian yang sedang menyesap kopinya itu sedikit tersedak mendengar kata ‘tunanganmu’ keluar dari mulut Danny.


“What did you say, Dan? Fiance? ..... (Kau bilang apa, Dan? Tunangan?).....”


“Yes” Sahut Danny polos. “I’m right, Am I? (Aku benar, kan?).....” Lalu menatap Putra. “You purposed her on the yacht that day, right Putra?..... (Kau sudah melamarnya hari itu di kapal layar, benar bukan Putra?.....)”


Mata Damian membola sembari menatap Putra.


“Seriously Putra?! You purposed her already?! (Benar itu Putra?! Kau sudah melamarnya?! Really – really purposed her?! (Benar – benar melamarnya?!)”


Putra mencebik saja, pada Damian yang kini sudah nampak antusias bahkan sudah mendekati Putra.


“Answer, Bastardo! (Jawab, Ba**ngan!)” Kekeh Damian dan Putra memutar bola matanya malas.


“Ck!”


Putra berdecak malas.


“Woah!”


Damian berseru sembari menunjukkan wajah tidak percaya sembari geleng – geleng dan berkacak pinggang dihadapan Putra.


“Why you didn’t tell us about that?! (Kenapa kau tidak mengatakan itu pada kami?!)” Seru Damian. “I thought that you just doing some kind of love relation with her (Aku pikir kau hanya baru sampai dengan menjalin hubungan cinta dengannya).....”


Putra tak menjawab, tetap malas menanggapi celotehan Damian.


“You really purposed her?! (Kau benar – benar melamarnya?!)”


“I told you guys that I’m going to marry her! You just don’t take a note when I said that! (I pernah bilang pada kalian kalau aku akan menikahinya! Kau saja yang tidak memperhatikan saat aku mengatakannya!)”


Putra akhirnya bersuara.


“Well, I don’t think that you are serious when you said that (Yah, aku tidak berpikir kau serius tentang ucapanmu waktu itu).....”


Putra berdecih.


“And she said yes? (Dan dia bilang iya?) .....”


“You think???!! (Pikirmu??!!)”


Putra mendelik pada Damian. Lalu membuang pandangannya malas dari Damian yang terkekeh.


“Now can you shut up?! (Sekarang bisakah kau diam?!)”


“No wonder why you seem become that upset when you know the truth about her (Tidak heran mengapa kau menjadi nampak terlihat kesal saat tahu kebenaran tentangnya)”


“What truth? (Kebenaran tentang apa?) .....” Sela Danny.


Menatap pada Putra, namun pria itu bergeming. Malas menjawab nampaknya.


“She’s not only a nurse..... (Dia bukan hanya seorang perawat .....)”


“She has another occupation? (Dia punya pekerjaan lain?)”


“She’s working at JP (Dia bekerja di JP)”


Damian yang menjawab. Dan Danny nampak sedikit terkejut.


“As? (Sebagai?)” Tanya Danny.


“Lady singer! (Penyanyi!)” Sahut Damian.


“Then, what’s wrong with that? (Lalu, apa yang salah dengan itu?)”


Danny melemparkan pertanyaan.


“I think, a singer is not bad at all (Menurutku, seorang penyanyi itu tidak buruk sama sekali)”


“It is.... (Iya memang .....)”


“So? ..... (Lalu?).....” Tanya Danny.


“The problem is, the ladies singer on JP .. they can be ‘booked’ (Masalahnya, para penyanyi wanita di JP.. mereka itu bisa ‘disewa’)”


Arthur menjawab pelan dengan mengangkat kedua tangannya pada Danny yang menggambarkan tanda petik pada kata terakhir.


“Oh My.....” Gumam Danny sembari melirik Putra yang nampak biasa saja, namun Danny menangkap kegusaran di mata pria itu.


Sedikit banyak, Danny yang sudah mendengar bagaimana sifat seorang Putra dari cerita Addison, dan sedikit banyak Danny juga sudah bisa menyelami sifat Putra, kini sedang berspekulasi dalam otaknya.


‘Really ..... I wonder, what he will do to Gadis, if that thing, is right (Sungguh..... Aku penasaran, apa yang akan dia lakukan pada Gadis, jika hal itu, memang benar)’


**

__ADS_1


To be continue...


Terima kasih untuk kalian yang masih setia ...


__ADS_2