
Happy reading....
“Arthur”
Putra menyodorkan kartu nama milik Dalu yang pria itu berikan padanya.
“Find out the validity of this name card ( Cari tahu keabsahan tentang kartu nama ini )”
“Okay” Sahut Arthur cepat.
“Find out now, using our phone at our workroom ( Cari tahu sekarang, gunakan telepon di ruang kerja kami )”
Arthur mengangguk.
“Sekaligus cari informasi tempat tinggal, berikut keluarganya”
Putra berbicara sembari melemparkan tatapan dingin pada Dalu menyampaikan satu arti dari kata-kata dan tatapannya itu.
“Karena jika dia macam-macam, tidak hanya dirinya, tetapi juga keluarganya yang harus membayar”
Mata Dalu sedikit membesar. Otak dan hatinya sedang menilai pria yang seolah sedang menginterogasinya saat ini.
Pria yang rasanya bukan siapa-siapa, meski yah Dalu akui kalau pria yang sedang duduk dihadapannya itu berikut keluarganya, adalah orang yang sangat kaya.
Melihat besarnya tempat tinggal yang disebut Villa saat ia dibawa menuju bagian belakang Villa tersebut, Villa itu bahkan jauh lebih besar dari yang tampak sekilas dari luarnya.
Dan rasanya menurut Dalu, Villa itu masih lebih luas lagi lahan di sekelilingnya yang masih bagian dalam satu area tersebut, karena sekilas juga Dalu melihat ada sebuah jalanan yang mengarah ke satu lahan kosong lain, namun
tidak sampai terlihat ada apa di lahan kosong di ujung jalan itu karena sedikit gelap dan menjorok ke dalam.
Yah, Dalu akui melihat satu bangunan itu saja dia sudah bisa setidaknya menerka seberapa kayanya pria berikut keluarganya yang sedang berada di dekatnya itu.
Namun tetap, mereka, yakni pria yang sedang duduk dihadapannya itu berikut keluarganya, istilahnya tidak memiliki nama di negeri tempatnya lahir dan tinggal selama ini.
Karena jika iya, Dalu yang tahu persis siapa saja tokoh-tokoh penting di negerinya itu pasti tahu.
Dan empat orang pria yang sudah menghabisi Baskoro dan belasan anak buah tersebut berikut anak buahnya serta membumi hanguskan tempat tinggal Baskoro, tidak pernah Dalu tahu sebelumnya.
Dan Villa yang ditinggali oleh orang-orang tersebut, yang Dalu dengar melalui cerita memang milik seorang ekspatriat kaya raya yang tidak diketahui namanya, sedikit juga misterius karena jarang sekali datang dan Villa itu tak berpenghuni selama beberapa waktu meski terlihat cukup terawat, hingga saat ini.
Dalu tidak mengetahui sama sekali orang-orang pemilik Villa tempat ia berada saat ini. Bukan tokoh penting negeri juga.
Namun Aura mereka begitu kuat dan menyeramkan. Jadi Dalu rasanya tidak ingin mencari masalah, selain ia sayang nyawa.
Mungkin juga mereka ini macam ya itu, mafia-mafia dalam film yang Dalu tidak tahu apakah benar memang kelompok yang disebut mafia itu ada dalam dunia nyata, meskipun rumor itu pernah Dalu dengar.
Sekali lagi, siapapun orang-orang yang berada di hadapannya kini, sungguh Dalu tidak mau cari masalah yang berujung seperti Baskoro, yakni cari mati.
“Jaminan yang sepadan menurutku” Ucap Putra dengan nada suara dan wajah yang datar.
Ditambah lagi pria yang mematahkan tangan dan menembak salah satu bagian kakinya itu, menyuruh salah satu orangnya untuk menyelidiki setiap detail data diri Dalu sampai ke keluarganya.
Ah, Dalu semakin tidak ingin mencari masalah dengan orang-orang ini.
Karena bagaimanapun, meski ada beberapa hal kotor yang ia lakukan demi meraup keuntungan, toh Dalu sendiri memang ingin menghidupi keluarganya lebih dari sekedar baik.
Selain bekerja di sebuah instansi pemerintah, Dalu adalah pebisnis.
Dan saat pria dihadapannya itu berkata lagi,
“Anggaplah kita sedang berbisnis, Tuan Dalu? Itu bukan namamu?” Ucap Putra seraya bertanya.
Dalu langsung mengangguk.
“Ya. Dalu Gumilar” Jawab Dalu. “Anda bisa memanggil saya dengan Dalu saja”
“Jadi, anggaplah kita sedang berbisnis saat ini Tuan Dalu” Ucap Putra. “Bagaimana?”
“I-iya!”
Ya, bisnis.
Memang seperti itu sekarang kondisinya.
Bagi Dalu, ini seperti bisnis memang adanya.
Dalu yang merasa sial bertemu dan berurusan dengan orang-orang yang berada didekatnya ini, bahkan sempat mencari gara-gara dan menyinggung salah satunya hingga berakhir dengan suvenir tangan patah dan lubang di salah satu pahanya.
Harus menganggap ini suatu bisnis. Dengan Dalu membantu orang-orang ini, yang dia dapatkan adalah nyawanya dan keluarganya tetap dikandung badan. Masalah ia akan mendapat keuntungan lain itu tidak Dalu pikirkan lagi.
Meski entah bantuan macam apa yang akan diminta dari Dalu nanti. Masa bodoh urusan belakangan itu sih.
Jadi Dalu tak berpikir panjang, dan langsung mengiyakan kala Putra mengatakan anggap saja kalau mereka sedang berbisnis.
__ADS_1
Toh apa salahnya juga, memiliki hubungan dengan orang-orang yang level kekayaannya jauh sangat di atasnya itu.
Bahkan orang paling kaya di negerinya yang Dalu cukup kenal, masih berada di bawah level kekayaan para pria asing yang bisa di katakan kasat mata ini eksitensinya.
“Jika anda ingin menganggapnya seperti itu, maka dengan senang hati saya akan mengiyakan”
Dalu berbicara dengan lugas. Tak perduli nanti akan bagaimana, yang penting sekarang dia selamat dan seterusnya selamat, begitu juga anak dan istrinya.
“Baiklah ... kuanggap kita sudah sepakat”
Dalu mengangguk antusias meski ia sadar keputusannya beresiko.
Sekali lagi, masa bodoh.
Yang penting Dalu tahu cara menjaga sikap ke depannya pada pria-pria asing ini, maka hidupnya akan dirasa baik-baik saja.
Sedikit merasa miris juga, karena biasanya ia yang memberi perintah mengingat banyaknya koneksi yang ia punya dan memiliki hubungan yang sangat baik dengan beberapa koneksinya itu hingga membuat Dalu leluasa melakukan apapun tanpa takut ada yang mengerecokinya, namun kini ia harus menjadi abdi satu keluarga. – Istilahnya.
Ah biarlah, toh Dalu juga sudah sering ‘menjilat’ untuk melancarkan segala urusannya.
Jadi anggap saja sekarang, kurang lebih begitu juga.
Hanya saat ini, Dalu ‘menjilat’ untuk bisa hidup dan memastikan anak istrinya juga aman.
Meski sepertinya pria-pria asing dihadapannya ini, tidak bisa diperlakukan seperti bagaimana Dalu ‘menjilat’ orang-orang satu negrinya selama ini.
Sekali lagi, Dalu masa bodoh. Dia hanya perlu berhati-hati dan menjaga sikap dan bicara pada pria-pria asing ini kedepannya. Dan sekarang rasanya Dalu ingin sekali pulang ke rumahnya dngan segera, meski ia harus menyetir sendiri dan jalanan sudah gelap gulita.
Dan mungkin sedikit kesulitan karena satu tangannya belum leluasa untuk digerakkan, dan kakinya juga masih terasa sakit.
Tapi untuk menginjak pedal-pedal mobil dirasa masih kuat. Terlebih lagi, Dalu cukup bersyukur kalau mobilnya tidak ikut di bakar macam rumahnya si Baskoro itu, berikut pemilik dan anak-anak buahnya sekalian.
“Terima kasih, karena sudah memberikan kesempatan pada saya, Tuan ... maaf saya lupa ...”
“Putra! Putra Adjieran”
Dalu mengangguk. “Baik, Tuan Putra .... terima kasih karena mengampuni nyawa saya dan memberikan saya kesempatan untuk bekerjasama dengan Tuan dan keluarga Tuan”
Putra manggut-manggut dan kemudian hendak berdiri.
“Maaf Tuan Putra ...” Dalu sedikit menginterupsi.
“Ya?”
“Adjiran, itu nama keluarga anda ini?”
“Anda ... berdarah Indonesia?. Karena keluarga anda terdengar seperti nama yang berasal dari sini”
“Ya, aku setengah Indonesia”
Dalu pun manggut-manggut. Namun melirik pada Garret, Damian dan Addison yang tidak ada tanda-tanda fisiknya seperti orang Indonesia.
Kalau Putra, meski sedikit, ada ciri fisiknya yang seperti pribumi.
Rambut dan alis Putra, hitam legam seperti mereka kebanyakan, para penduduk asli yang tinggal di negeri tersebut.
Lain dari itu, ciri-ciri fisik Putra adalah ciri-ciri fisik pria asing pada umumnya.
Tapi sudah, Dalu tak mau ambil pusing soal itu. Benar atau tidak mereka ada keturunan pribumi.
Yang penting sekarang, Dalu ingin pulang ke rumahnya.
****
“Kurasa kita sudah cukup berbicara”
“Iya Tuan ...”
Kemudian Putra memanggil Pak Abdul yang berada di luar istal selepas mengantarkan Bruna yang belum lama pergi untuk mengantarkan Arthur ke ruang kerja.
Pak Abdul yang bersama Suheil di luar istal untuk mengawasi dua orang lain yang Putra dan tiga saudara lelakinya bawa itu langsung menghampiri sang Tuan yang memanggilnya.
Namun suara Dalu terdengar sebelum Putra hendak mengatakan sesuatu pada Pak Abdul.
“Emm ... Tuan Putra..”
Dalu memanggil sedikit ragu, saat Putra telah beranjak dari duduknya.
“Ada apa?” Sahut Putra datar.
“Apa saya bisa pergi sekarang?”
“Tidak”
__ADS_1
‘Lah teruusss??? ...’
****
Pada akhirnya Putra meminta Pak Abdul dan Ibu Marsih untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya, Garret, Damian dan Addison selepas Putra selesai berbicara serius dengan Dalu.
Alih – alih berharap untuk pulang, Dalu tidak diperkenankan oleh Putra untuk pergi dari Villa miliknya dan
keluarganya itu saat Dalu meminta ijin pada Putra.
Tidak sampai Putra mendapatkan semua informasi mengenai Dalu dari Arthur secara lengkap.
Dalu berpikir dirinya akan menjadi tawanan kala ia mendengar Putra mengatakan ‘Tidak’ untuknya pergi dari Villa tersebut dan kembali ke rumahnya.
Tapi nyatanya tidak.
Putra dan tiga saudara lelakinya itu menjamu Dalu untuk duduk satu meja di ruang makan bersama mereka, termasuk Arthur saat sudah selesai bertelepon dengan seseorang dengan Bruna yang mengawasinya.
Para anak buah yang dibawa Arthur beserta Suheil juga diminta untuk makan, termasuk dua orang mantan pekerjanya Baskoro.
Dua orang lain yang tadi tinggal di tempat Baskoro untuk memastikan tempat tinggal Baskoro habis dilalap api juga sudah kembali ke Villa milik Putra dan keluarganya itu.
Setelah keduanya memberi laporan pada Putra, lima orang anak buah dan dua orang mantan pekerjanya Baskoro, berikut Suheil di giring Pak Abdul ke ruang makan yang lain untuk menyantap makanan yang telah dirinya dan sang istri sediakan.
Sementara Bruna memilih untuk kembali ke kamar Putra untuk menemani Anthony dan ikut mengistirahatkan dirinya disana, setelah meminta ijin dulu pada Putra yang mempersilahkan dan nanti Putra mungkin akan menggunakan kamar lain untuk mengistirahatkan dirinya.
Arthur dan Dalu diberikan kamar tamu yang berbeda untuk keduanya, selepas mereka semua selesai makan malam.
Lima orang anak buah yang anggaplah sebagai penjaga atau pengawal itu, dibagi menjadi dua kelompok untuk berjaga bergantian.
Sisanya, yakni baik para Tuan maupun Pak Abdul berikut anak dan istrinya kembali ke kamar mereka masing – masing, terkecuali Putra yang rasanya belum mengantuk meski dirasa tubuhnya sedikit lelah.
***
🎵I see trees so green, red roses too, I see them bloom for me and you, And I think to myself what a wonderful world🎵
Putra memilih untuk masuk ke dalam ruang kerja dan memutar sebuah piringan hitam pada sebuah gramofon.
🎵I see skies so blue and clouds so white, The bright blessed day, the dark sacred night, And I think to myself what a wonderful world🎵
“It is supposed to be you who play this, after we finish ‘something’”
“( Seharusnya kau yang memutar ini, setelah kita menyelesaikan ‘sesuatu’ )”
Ada senyum tipis yang tersungging di bibir Putra, kala memorinya sedang mengingat beberapa hal yang sering ia lakukan bersama Rery dan para saudaranya itu.
Baik tiga orang yang bersamanya kini, juga mereka yang tewas bersama Rery dan Madelaine.
🎵The colors of the rainbow so pretty in the sky, Are also on the faces of people going by🎵
Lalu berkumpul bersama untuk sejenak bercengkrama, sembari mendengarkan lantunan lagu yang akan diputar Rery dari sebuah piringan hitam yang disematkan pada sebuah gramofon.
“Forgive me Rery, I supposed to be there that day....”
“( Maafkan aku Rery, aku seharusnya ada disana hari itu .... )”
Putra duduk tertegun di kursi kerja dengan matanya yang sudah berkaca – kaca.
“Cause maybe, you, Madelaine and Anthony might have a chance to live happily now in here ...”
“( Karena mungkin saja, kau, Madelaine dan Anthony punya kesempatan untuk hidup bahagia disini saat ini )”
🎵I see friends shaking hands saying how do you do, They're really saying I love you, I hear babies crying, I watch them grow, They'll learn much more than I'll ever know🎵
“And I’m sorry, for not come to meet and see you for the last time.... very sorry ...”
“( Dan aku minta maaf, untuk tidak datang dan menemuimu untuk yang terakhir kalinya, benar – benar minta maaf ).....”
Ada isakan yang tertutup oleh suara alunan lagu yang keluar dari pengeras suara pada gramofon yang sedang memutar satu piringan hitam berisi lagu favorit almarhum Rery, berikut bahu Putra yang bergetar.
Isakan berikut air mata yang seringnya Putra sembunyikan dari siapapun atas besarnya penyesalan Putra atas kematian Rery dan Madelaine.
‘But don’t worry, Rery ... Madelaine ... I will take a very good care of Anth ... and give him back the world that Anth supposed to have ( Tapi jangan khawatir, Rery ... Madelaine .... Aku akan mengurus Anth dengan sangat baik ..... dan memberikannya kembali dunia yang seharusnya ia miliki )...’
🎵
And I think to myself what a wonderful world
Yes I think to myself what a wonderful world
Yes I think to myself what a wonderful world
🎵
__ADS_1
****
To be continue ...