
Happy reading ..
*************
“Terima kasih juga sudah mendatangkan teman-teman dekatku dan memberikan mereka semua fasilitas bagus itu ..”
“Kalau begitu nanti aku akan menagih hadiah untuk itu saat kita sampai kamar nanti”
Dan seringai pun muncul di wajah Papa Putra.
Dengan segera Gadis melengoskan wajah Putra yang menampakkan kejahilan berselimut makna mesum dibaliknya.
“Dasar Papa mesum!” Seru Gadis yang kemudian mendengus geli.
“Hey Nyonya Putra Adjieran, Papa mesum ini sekarang suamimu..”
Putra mencubit gemas hidung Gadis.
Lalu keduanya terkekeh bersama, dan saling merengkuh hingga sampai di Hotel tempat mereka menginap.
*
Sebuah sambutan yang sewajarnya dibuat oleh pihak Hotel untuk dua pasang pengantin baru yang sudah mencapai Hotel tempat Putra dan keluarganya menginap, berikut orang-orang yang sudah dianggap kerabat oleh mereka, tanpa terkecuali teman-teman dekat Gadis yang diikut sertakan dalam pernikahan dua pasang insan yang saling mencintai tersebut.
Mobil yang ditumpangi Putra dan Gadis tak lama tiba setelah mobil yang ditumpangi Addison dan Bruna telah sampai di Hotel lebih dulu bersama Anthony dan beberapa orang lainnya.
Sebelum masuk kembali ke kamar masing-masing, Putra dan kesemua rombongannya berkumpul dalam satu lantai yang sudah di booking khusus untuk mereka agar tidak ada tamu lain yang wara-wiri disana.
Bukan untuk duduk-duduk bersantai lagi, karena rasanya mereka semua sudah merasa lelah. Putra dan rombongannya berkumpul hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih darinya dan keluarganya pada setiap pihak yang telah membantu acara pernikahannya dengan Gadis, juga pernikahan Addison dan Bruna.
“Baiklah semua, selamat beristirahat .. Jika butuh apa-apa, jangan sungkan untuk memintanya pada pihak Hotel” Ucap Putra dengan ramah pada teman-teman Gadis, setelah sebelumnya ia berbicara dengan bahasa Inggris pada mereka yang tak paham bahasa Indonesia.
“Iya Tuan Putra,” Sahut teman-teman Gadis dengan serempak dengan menampakkan senyum sumringah mereka, walaupun gurat lelah juga nampak dari masing-masing nya.
“Putra saja,” Cetus Putra dengan ramah berikut senyum yang terulas di bibirnya. “Tidak perlu terlalu sungkan..” Sambung Putra.
“Tidak ah Tuan Putra, kami mana enak memanggil hanya dengan nama anda saja,” Jawab salah seorang teman perawat Gadis, yang langsung diiyakan oleh yang lainnya.
“Ya sudah terserah saja ..”
Putra masih mengulas senyumannya.
“Namun sekali lagi jangan sungkan padaku dan keluargaku”
“Iya Tuan Putra.. Terima kasih”
“Aku yang seharusnya berterima kasih”
“......”
“Kalian sudah mau direpotkan seperti ini..”
“Ndak kok Tuan Putra, kami sama sekali tidak merasa direpotkan”
“Iya betul itu, justru kita orang ini merasa senang dilibatkan dalam acara penting begini”
“Iya, lagian kita sama Gadis ini udah kayak keluarga selama ini. Jadi kami seneng bisa ambil bagian dalam pernikahan saudari kami. Gadis layak dapat semua kebahagiaan ini..”
Suster Neni berkata tulus, lalu merengkuh Gadis yang langsung merasa terharu dengan kebaikan dan keperdulian orang-orang terdekatnya selama ini. Ucapan terima kasih kembali terlontar dengan tulus dari mulut Gadis pada Suster Neni, yang juga diperuntukkan pada teman-teman Gadis tersebut.
**
“Baiklah semua, selamat beristirahat. Kita bertemu kembali saat makan malam.”
Putra berucap pada teman-teman Gadis, lalu kesemuanya saling melempar ucapan untuk saling bertemu pada waktu yang telah Putra ucapkan tadi.
Semua orang yang berada di dalam lantai tersebut pun membubarkan diri untuk masuk ke kamar mereka masing-masing, kecuali tiga asisten rumah tangga kepercayaan Putra dan keluarganya yang memilih untuk kembali ke kediaman majikan mereka yang berada di Ibukota ketimbang menginap di hotel, padahal Putra mau menyediakan kamar hotel untuk ketiga asisten rumah tangganya yang bekerja di Villa milik Putra dan keluarganya itu.
Namun ketiga asisten rumah tangga terpercaya dalam Villa itu amat sangat merasa sungkan untuk menerima kebaikan majikan mereka yang di mata mereka adalah orang yang tidak pernah membedakan status sosial seseorang dan perduli pada setiap orang yang bekerja padanya.
“Jika Pak Abdul, Ibu Marsih dan kamu, Suheil.. Berubah pikiran dan ingin menginap disini, bicaralah pada mereka yang berjaga di kediaman untuk mengantar kalian kesini.”
Begitu kiranya yang Putra ucapkan pada ketiga asisten rumah tangga terpercayanya itu.
***
“Papa ..” Panggil Anthony pada Putra saat mereka hendak kembali ke kamar bersama keluarga inti mereka, karena kamar mereka semua terletak cukup berdekatan.
Terpisah dari lorong deretan kamar teman-teman Gadis yang berada di satu lantai di bawahnya.
“Yes Anth?”
__ADS_1
“Now Gadis officially become my mom right? ( Sekarang Gadis sudah resmi menjadi ibuku kan? )..”
“Yes she is ( Iya benar ). And for that, you don’t call her with only her name anymore, would you? .. ( Dan untuk itu, kamu jangan memanggilnya hanya dengan nama saja, ya?.. )”
“Of course Papa .. ( Tentu saja Papa .. )”
Anthony menyahut sumringah.
“Heemmm ..”
Anthony menjeda langkahnya.
Yang sedang bersama Anthony ikut-ikutan menjeda langkah mereka, sembari memperhatikan bocah tampan tersebut yang nampak sedang berpikir dan terlihat menggemaskan, hingga membuat mereka yang sedang memperhatikan dirinya mengulas senyuman di wajah masing-masing.
“How should I call Gadis now? ( Bagaimana aku harus memanggil Gadis sekarang? ). Mom?”
“Mama Gadis”
Gadis yang menyahut.
“Ah yes! .. Papa’s couple is Mama, right? ..”
( Ah iya! .. Pasangannya Papa kan Mama, ya? .. )
Anthony pun menimpali dengan antusias ucapan Gadis barusan. Para orang dewasa tersebut masih mengulas senyuman di bibir mereka sembari memperhatikan Anthony.
“Mama Gadis .. I love it!” Ucap Anthony dengan wajah bahagianya.
“And I love you” Timpal Gadis yang langsung memberikan kecupan pada Anthony.
“I love you too, Mama!”
Anthony berhambur memeluk Gadis, hingga pada akhirnya Gadis berjongkok dan memeluk Anthony dengan perasaan bahagia.
Aura kehangatan pun menguar disekitar mereka yang sebenarnya sudah berada di dekat kamar mereka.
Namun Anthony seolah selalu saja dapat menyihir siapapun, untuk tidak berpaling darinya.
“Now, let’s take a rest Anth .. ( Sekarang, ayo kita beristirahat Anth.. )” Ucap Putra.
Anthony mengangguk antusias.
“Come! ( Ayo! )”
“Hemm Anth.. Do—“
“I’m so happy to take a rest with Papa and Mama.”
( Aku sangat bahagia untuk beristirahat bersama Papa dan Mama ).
Anthony langsung bicara lagi sebelum Putra menyelesaikan kalimatnya.
Disaat yang bersamaan, Putra pun sedikit meringis lesu, karena Anthony sudah mengarah tepat di depan pintu kamarnya dan Gadis.
‘Haish .. Jika Anth beristirahat bersamaku dan Gadis, seharusnya aku tidak meminta pihak hotel untuk menghias kamar tersebut dengan dekorasi romantis. Aku kan tidak mungkin melarang Anth untuk masuk ke kamar pengantinku dan Gadis.’
Papa Putra pun menjadi lesu dan tak berdaya disaat yang bersamaan.
***
Putra merasa keberuntungan sedang kembali tak berpihak padanya untuk berduaan bersama Gadis, menikmati waktu sebagai pengantin yang sangat baru .
Padahal Putra sudah dengan khusus meminta kamarnya dan kamar Addison di hias sedemikian rupa sebagaimana layaknya sebuah kamar pengantin dengan dekorasi romantis, pendukung kehangatan suasana saat berduaan dengan Gadis selepas telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Tapi Putra kan juga sangat menyayangi Anthony. Dan pernikahannya dengan Gadis adalah untuk membahagiakan Anthony yang memang sangat berharap jika Putra dan Gadis bersatu dan Anthony punya orang tua yang utuh, setelah kematian kedua orang tua kandungnya. Selain Anthony juga merasa bahagia dengan para orang tua angkatnya yang lain.
Namun karena ikatan batin antara Anthony dan Putra itu lebih kuat, jadi Anthony katakanlah lebih dekat, bahkan sangat dekat dengan Putra. Karena dengan Putra, Anthony dapat lebih merasakan keberadaan sosok ayah kandungnya yang semasa hidup juga sangat akrab dengan Putra. Dan keakraban Putra serta Anthony juga terjalin, seiring keakraban antara ayah kandung Anthony dan Putra.
Jadilah saat ini Putra merasa dilema saat Anthony sangat terlihat bahagia dan antusias disaat yang bersamaan untuk masuk ke kamarnya dan Gadis yang telah kiranya ‘disulap’ menjadi sebuah kamar pengantin.
Alhasil, Putra menghela nafasnya dengan sedikit berat.
‘Jika aku melarang Anth, betapa egoisnya aku. Tapi jika aku membiarkan Anth ikut masuk ke kamarku dan Gadis, betapa malangnya nasibku yang tak bisa menikmati waktu intim ku dan Gadis sebagai sepasang pengantin baru.. Haahh nasibku..’
***
“Papa I can’t open the door .. ( Aku tidak bisa membuka pintunya.. )”
“Papa Putra jangan egois”
Gadis berbisik di telinga Putra dengan maksud meledek suaminya itu.
__ADS_1
Lalu Gadis terkekeh kecil dengan satu tangannya yang menutupi mulutnya.
Putra langsung mendengus geli. “Aku ini Papa yang sangat pengertian..” Putra balas berbisik pada Gadis.
“Hey Prince! ( Pangeran! )” Suara Damian terdengar saat Putra merogoh saku celananya untuk mengambil kunci dan membuka kamarnya.
Damian pun berjongkok di dekat Anthony. Hanya tinggal dirinya, Anthony dan Garret, Putra dan Gadis saat ini, karena Putra sudah menyuruh Bruna dan Addison untuk pergi ke kamar mereka lebih dulu.
“Yes Daddy Dami?..” Jawab Anthony pada salah satu ayah angkatnya itu.
“What about you stay in my room and let Papa Putra also Mama Gadis have their time? ..”
( Bagaimana jika kamu tinggal dulu di kamarku dan biarkan Papa Putra juga Mama Gadis menikmati waktu mereka?.. ).
Damian berujar pada Anthony.
“But I also want to have my time with Papa and Gadis.. Mama Gadis I mean ( Tapi aku juga ingin menikmati waktuku dengan Papa dan Gadis.. Mama Gadis maksudku )..”
“I understand it. But.. ( Aku mengerti itu. Tetapi .. )”
“It’s okay, Dam.” Sambar Putra yang menggandeng tangan Gadis, dan satu tangannya membelai kepala Anthony dengan lembut.
Meskipun dapat dikatakan ini adalah hari besarnya dan Gadis, tentunya Putra tidaklah egois dengan menolak Anthony untuk beristirahat bersamanya dan Gadis.
“I will accompany you also ini Daddy’s Dami, Anth.. ( Aku juga akan ikut menemanimu di kamar Daddy Dami, Anth.. )” Garret ikut berbicara, paham maksud Damian yang sedang membujuk Anthony agar tidak mengganggu sepasang pengantin baru yang masih berada bersama mereka saat ini.
“Never mind Gar .. if Anth want to stay with me and Gadis right now, that would be okay. ( Tidak apa Gar.. jika memang Anth ingin bersamaku dan Gadis saat ini, itu tidak apa-apa ).” Tutur Putra pada Garret.
Putra paham juga jika dua saudaranya itu memahami kondisinya yang baru saja menikah. Namun sekali lagi, Putra tidak merasa kesal sama sekali dan egois untuk menolak keinginan Anthony yang pastinya sedang berbahagia saat ini, karena keinginan Anthony agar dirinya dan Gadis menikah telah terpenuhi.
Putra terlalu menyayangi Anthony biar bagaimanapun juga. Tekad Putra memang selain menjaga dan melindungi Anthony, adalah membuat bocah tampan itu bahagia bagaimanapun caranya.
Dan pernikahannya dengan Gadis adalah salah satu usaha Putra untuk membuat Anthony bahagia. Terlepas jika dirinya juga sedang diliputi kebahagiaan karena dapat menikah dengan wanita yang ia cintai dan yang Putra tahu jika wanita yang ia nikahi itu pun mencintainya dengan sepenuh hati.
Gadis mendukung ucapan Putra dengan anggukan kepalanya, berikut sebuah senyuman yang terulas di wajah Gadis dengan juga satu mengusap lembut kepala Anthony.
“Putra is right, let Anthony with us if he wants it .. ( Putra benar, biar saja Anthony bersama kami jika memang dia ingin.. )”
Gadis berucap pada Damian dan Garret, bersamaan dengan Putra yang sedang membuka pintu kamar hotel tempatnya menginap yang saat ini dapat dikatakan sebagai kamar pengantinnya dan Gadis.
“Shall we? ( Ayo masuk? ) ..”
Putra sudah membuka kunci pintu kamarnya.
Disaat dimana Damian seperti habis membisikkan sesuatu di telinga Anthony.
“I change my mind Papa! .. ( Aku berubah pikiran Papa! .. ). I will go to have a rest in Daddy’s Dami room .. ( Aku akan beristirahat di kamar Daddy Dami .. )”
Entah apa yang Damian bisikkan pada Anthony hingga bocah tampan tersebut kemudian mau merubah pikirannya untuk tidak jadi tinggal dan beristirahat bersama Putra dan Gadis seperti selalunya.
Padahal beberapa saat lalu Anthony sangat antusias ingin beristirahat bersama dua orang yang sudah bisa Anthony umumkan sebagai ayah dan ibunya, sebagaimana kedua orang tua kandungnya.
Putra pun langsung menatap pada Anthony.
“Are you sure about it?.. ( Apa kamu yakin tentang itu? .. )”
“Yes Papa! Very sure! ( Iya Papa! Sangat yakin! )”
Anthony menyahut antusias.
“See you at dinner ya ( Sampai bertemu saat makan malam nanti ya ), Papa, Mama.”
Anthony yang sudah menggandeng tangan Damian itu berpamitan pada Putra dan Gadis.
“Come Dads!” Ajak Anthony sembari menggandeng juga tangan Garret.
“You-owe-me! ( Kau-berhutang-padaku! )” Ucap Damian tanpa suara pada Putra dengan sedikit memiringkan tubuhnya sambil berjalan bersama Anthony yang menggandengnya.
Putra terkekeh dengan juga tanpa suara dan mengangkat jempolnya pada Damian.
Lalu Putra melirik pada Gadis dan menampakkan senyuman jahil kearah istrinya tersebut.
‘Habislah ..’ Batin Gadis.
Gadis yang nampak sedikit gugup itu membuat Putra menaikkan lagi sudut bibirnya.
“Ah, aku rasa aku butuh pijatan,” Ucap Putra dengan wajah jahilnya. “Aku rasa kita bisa saling memijat.”
***
To be continue..
__ADS_1