
Happy reading ....
“You decide it Putra. From now on every decision according Anth and our next move are on you ( Kau yang memutuskan Putra. Mulai dari sekarang setiap keputusan terkait Anthony dan langkah kita berikutnya berdasarkan keputusanmu)”
“Why on me? ( Kenapa harus menunggu keputusanku? )”
“Because me, Dami, Bruna and Garret were decided something ( Karena aku, Dami, Bruna dan Garret telah memutuskan sesuatu )”
“Decided what?. ( Memutuskan apa? )”
“That you, who become our leader now ( Kau, yang akan menjadi pemimpin kami sekarang )”
Putra menatap tiga orang di dekatnya itu. Namun tak lama kemudian ia terkekeh sambil geleng – geleng.
“Silly ( Konyol )”
“Nothing is silly ( Tidak ada yang konyol )”
“Of course it silly!. We are equal. No leader! ( Tentu saja itu konyol!. Kita ini sama setara. Tidak ada bagian kepemimpinan! )”
“It’s been decided! You are our leader now! ( Sudah diputuskan! Kau pimpinan kita sekarang! )”
“I refused that! ( Aku menolaknya! )”
“Cannot! ( Tidak bisa! )”
“Tsk!”
“Dami right, you can not refused it, Putra ( Dami benar, kau tidak bisa menolaknya, Putra )”
“Of course I can ( Tentu saja aku bisa )”
“Just accept it, Putra ( Terima sajalah Putra )”
“Listen, we are not in a mafia circle which need a leader. Beside, we are all family now. There is no such leader in family! ( Dengar, kita ini bukan perkumpulan mafia yang membutuhkan pemimpin. Lagipula, kita keluarga sekarang.
Tidak ada bentuk kepemimpinan dalam keluarga! )”
“Ya, I agree with you. But we are going to build everything just like we ever did in Ravenna and around it seven years ago. We want to make Jaeden pay for what he had done to Rery, Madelaine, Anth? Even for Kingsley Smith family and every people who has been loyal to us. We need a leader for it”
“( Ya, aku setuju denganmu. Tapi kita akan membangun semua hal seperti yang kita lakukan di Ravenna dan sekitarnya tujuh tahun lalu. Kita mau membuat Jaeden membayar atas apa yang dilakukannya pada Rery, Madelaine, Anth?. Bahkan untuk keluarga Kingsley Smith dan setiap orang yang sudah setia pada kita )”
“.....”
“You can lead the way Putra ( Kau bisa memimpin jalannya Putra )”
“Ad right. You are good in strategy. We are family. We are. But for what we going to do outside, certainly a leader is needed. And you, are the most eligible among us ( Ad benar. Kau mahir dalam berstrategi. Kita keluarga. Iya. Tetapi untuk apa yang kita lakukan di luar, tentu saja seorang pemimpin dibutuhkan. Dan kau, yang paling pantas diantara kami semua )”
“Just accept it. I think late Rery will be agree if it’s you who is going to lead us now ( Terima saja itu. Aku rasa juga almarhum Rery pasti setuju jika kau yang memimpin kami sekarang )”
***
Esok hari....
“Are we going to take Anth to the Capital today? ( Apa kita akan membawa Anth ke Ibukota hari ini? )”
“Hmmm.... I think it’s better like this.... ( Aku pikir sebaiknya begini.... )”
Putra bersuara menanggapi pertanyaan Damian.
“How about you Ad, go to the Capital first. If you already find the Psychiatrist, then we took Anth there ( Bagaimana kalau kau Ad, pergi terlebih dahulu ke Ibukota. Kalau kau sudah menemukan Psikiater itu, barulah kita membawa Anth kesana )”
Addison kemudian mengangguk.
“This is a new place not only for us, you guys. But also for Anth ( Ini tempat baru bagi kita, bagi kalian. Juga untuk Anth ) ...”
“.....”
__ADS_1
“I don’t even have a chance to show Anth everything around here. I want to make sure to make him get usual here and make him comfortable also ( Aku bahkan belum berkesempatan untuk mengajak Anth berkeliling. Aku ingin memastikan agar dia mulai terbiasa disini dan tentunya merasa nyaman )” Jelas Putra.
“Ya, you were right ( Ya, kau benar )” Sahut Bruna. “I will accompany Ad to the Capital ( Aku akan menemani Ad pergi ke Ibukota )”
“Ya, Bruna you go with Ad. You can choose which one of the Psychiatrist which is proper for Anth, if there are a lot ( Ya, Bruna kau pergilah dengan Ad. Kau bisa memilihkan Psikiater mana yang layak untuk Anth, jika disana ada banyak )”
Bruna mengangguk.
“Not so many I guess, but yes there must be more than one ( Tidak banyak kurasa, tapi ya pasti ada lebih dari satu )”
“Okay. When we go then? ( Baiklah. Jadi kapan kita berangkat? )”
“Tomorrow. I still want to interact with Anth ( Besok. Aku masih ingin berinteraksi dengan Anth )”
“Alright then ( Baiklah jika begitu )” Sahut Bruna pada ucapan Addison barusan.
****
“Hey Anth!.....”
Putra menyambangi Anthony yang sudah selesai memakan sarapannya.
Kini Anthony sudah mau merespon Putra setelah semalaman Putra bersamanya, mendekapnya, membacakan cerita hingga ia tertidur, sama seperti saat sang Daddy juga Mommynya sering lakukan jika Anthony bermimpi buruk.
Meski Anthony tak berbicara, namun ia langsung menggerakkan kepalanya menoleh pada Putra saat satu Pamannya itu datang menyapa sambil membelai kepalanya.
Paman yang paling dekat dengan Anthony diantara paman – pamannya yang lain. Namun Anthony juga menyayangi para paman yang pernah dekat dengan sang Daddy. Hanya saja perasaan sayang Anthony pada Putra jauh lebih besar daripada yang lain.
“Finish your breakfast? ( Sudah selesai sarapannya? )”
Anthony mengangguk pelan. Putra sumringah.
Anthony sudah begini saja, Putra sudah cukup bahagia. Setidaknya bagi Putra, itu berarti Anthony ada kemungkinan untuk bisa menjadi normal kembali. Menjadi Anthony yang ceria lagi.
“I want to take you for a walk around here, to see mountain and everything around here. Do you want to go or not? ( Aku ingin mengajakmu berjalan – jalan di sekitar sini, melihat gunung dan lainnya. Kamu mau pergi atau tidak? )”
“I’m glad then ( Aku senang kalau begitu )” Ucap Putra sembari membelai lembut kepala Anthony dan mengacak sedikit rambutnya, setelah Anthony mengangguk.
****
“Do you feel cold? ( Apa kamu kedinginan? )”
Putra sudah membawa Anthony berkeliling dari mulai menyusuri Villa, hingga mengajaknya berjalan – jalan sampai ke sebuah perkebunan teh yang juga sudah menjadi milik almarhum Rery.
“Are you tired, Boy? ( Apa kamu lelah, Nak? )” Tidak hanya Putra dan Anthony saja yang berjalan – jalan berkeliling di sekitar Villa bersama Pak Abdul yang mengantar dan menemani mereka untuk menjelaskan segala hal disana.
Tetapi Damian, Addison, Bruna dan Garret juga ikut serta berkeliling, karena mereka juga belum sempat. Damian sempat berkeliling di sekitar Villa bersama Putra, namun tidak sampai sejauh sekarang.
Udara sejuk mereka hirup dan rasakan di indra dan kulit mereka. Membuat nyaman, daerah sekitar Villa yang dipilih Putra.
Villa yang terletak diatas sebuah bukit yang ada di sekitar Pegunungan yang dipilih Putra itu sebenarnya
peninggalan orang tuanya yang sempat di jual pada orang lain, namun akhirnya Putra beli kembali saat Rery memutuskan untuk pindah dari Italia ke Indonesia.
Dan Putra merasa, Villa tersebut cocok untuk menjadi tempat tinggal untuk mereka.
Meski yah, sekali lagi disayangkan kalau Rery dan Madelaine tidak kesampaian untuk bisa berada disana.
****
“So Anth, do you like it here? ( Jadi bagaimana Anth, apa kamu menyukai berada disini? )”
Anthony mengangguk pelan.
“I’m glad then ( Aku senang jika begitu )”
Putra menampakkan senyumnya pada Anthony yang sudah ia gendong sekarang.
__ADS_1
Damian dan yang lain juga sama tersenyum seperti Putra. Mereka sama senangnya melihat Anthony yang sudah memberikan respon pada setiap ucapan, meski baru dengan anggukan saja.
“Let us go back home now. I bet that you already hungry again? ( Ayo kita kembali ke rumah sekarang. Pasti kamu sudah merasa lapar lagi sekarang? )” Ujar Putra.
Anthony mengangguk lagi.
“Do you allow me to carry you now Anth?. I’m envy with Uncle Putra ( Apa kamu mau aku gendong Anth?. Aku iri dengan Paman Putra )”
Damian berucap dengan senyuman yang ia tampakkan pada Anthony sambil sedikit membuka tangannya di hadapan Anthony dan Putra.
Dan senyum Damian mengembang sempurna saat mendapat jawaban berupa anggukan dari Anthony.
Karena biar bagaimanapun, Damian menyayangi Anthony seperti halnya Putra dan semua orang terdekatnya Rery di Ravenna.
Meskipun juga Damian tak sedekat Putra pada Anthony, namun tetap ia menyayangi Anthony sepenuh hati.
“Do we have horse? ( Apa kita punya kuda? )” Garret bertanya. Putra dan Damian menggeleng.
“Why? ( Kenapa memang? )”
“Nothing. Just feel that we can do a horse riding if we have horses. Because I think this place is amazing and will be nice if we have horses and riding to see around all of this place ( Bukan apa – apa. Hanya merasa jika kita bisa berkuda jika kita memiliki kuda. Karena menurutku tempat ini mengagumkan dan akan menyenangkan jika kita memiliki kuda dan dapat menyusuri tempat ini )”
“Hmm”
“Do you afraid of horse Anth? ( Apa kamu takut pada kuda Anth? )” Tanya Putra.
Anthony menggeleng.
“Do you want to do a horse riding Anth? ( Apa kamu mau berkuda Anth? )”
Anthony mengangguk.
“We will buy horses then! ( Kalau begitu kita akan membeli kuda! )”
Putra langsung bersuara setelah melihat Anthony mengangguk setelah Damian bertanya pada bocah itu.
“Horaaayyy ...” Damian yang kegirangan sambil mengangkat satu tangan Anthony. Sementara bocah itu sendiri datar saja mukanya.
Membuat Putra, Addison, Bruna dan Garret terkekeh pada kelakuan satu rekan dekat mereka itu.
****
“How many horses you buy? ( Berapa kuda yang kau beli? )”
“Four ( Empat )”
“So many ( Banyak sekali ). We don’t even have stable here ( Kita bahkan tidak punya istal disini )”
“I already told Pak Abdul to find people to build it behind ( Aku sudah menyuruh Pak Abdul mencari orang untuk membangunnya dibelakang )”
“Rich guy, heh? ( Pria kaya, heh? )”
Putra terkekeh pada ledekan Damian begitupun Garret.
Sementara Addison dan Bruna sudah pergi ke Ibukota sejak beberapa hari yang lalu.
“I also have legacy from Kingsley ( Aku juga dapat warisan dari Kingsley )” Celoteh Putra dan gantian Damian serta Garret yang terkekeh.
Putra tersenyum penuh makna, sembari memperhatikan empat kuda yang baru saja tiba di Villa mereka dan Pak Abdul sedang mengarahkan orang – orang yang membawa kuda tersebut ke tempat sementara untuk ke empat kuda yang sudah dibeli oleh Putra.
“Anything for Anth ( Apapun untuk Anth )” Gumam Putra.
Ya, Putra terlalu menyayangi Anthony. Terlebih setelah Rery dan Madelaine tiada.
Dan Putra akan melakukan apapun untuk membuat Anthony merasa bahagia.
****
__ADS_1
To be continue ...