LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 64


__ADS_3

Happy reading ...


Putra sudah membawa Gadis ke area belakang Hotel yang nampaknya sudah dipersiapkan khusus karena tempat itu nampak sepi, mengingat tamu Hotel cukup ramai saat ini. Hari beranjak senja, kala Putra dan Gadis sudah berada di pinggir pantai di belakang Hotel Casino tersebut.


“Apa kamu menyukai pantai, Gadis?”


“Suka! Sangat suka!. Dulu ayahku sering mengajakku liburan ke pantai. Kalau setelah aku di Ibukota sayangnya aku jarang-jarang bisa pergi ke pantai... hanya baru beberapa kali saja”


“Dengan siapa?”


“Sendirian saja kebanyakan. Sisanya dengan para perawat Rumah Sakit yang dekat denganku”


Putra manggut-manggut.


Gadis sendiri kemudian menatap Putra yang kini rambutnya tersapa angin pantai yang membuat rambut Putra sedikit acak-acakan, namun justru membuat Putra nampak jantan di mata Gadis.


Jangan lupakan alis lebat yang sewarna dengan rambutnya, hidung mancung serta bulu-bulu halus yang berada disekitaran rahang Putra, kesan jantan yang seringnya membuat jantung Gadis berdetak cepat bahkan sejak pertama kali melihat Putra.


Belum lagi bibir Putra yang menambah kuat pesonanya sebagai seorang pria, dan bibir itu Gadis ingat betul pernah menempel di bibirnya. Membuat Gadis selalu hampir lupa bernafas kalau mengingatnya.


‘Sesuai dengan bayanganku, memang bibirnya selembut itu ..’ Dan saat ini Gadis kembali mengingat ciuman pertama Putra di bibirnya saat mengantarnya kala itu. Ciuman pertama dari seorang pria bernama Putra, yang mencuri ciuman pertama Gadis.


Hanya saja Putra tidak tahu mungkin, kalau itu ciuman pertama bagi Gadis yang notabene tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun sampai saat ini. Meskipun di Rumah Sakit ada seorang Dokter yang sudah beberapa waktu praktek di Rumah Sakit tempatnya bekerja, yang sedang gencar mengejar cinta Gadis.


Selain beberapa pekerja pria di Rumah Sakit yang juga terang-terangan mengaguminya. Tapi tak satupun dari mereka yang di gubris oleh Gadis, meski seorang Dokter tampan pun.


Tak ada yang bisa membuat jantung Gadis bertalu-talu jika berada didekat mereka, hingga pria yang sedang berdiri dihadapannya ini datang dengan sejuta pesonanya yang membuat Gadis merasakan gelenyar aneh di hatinya sejak kali pertama bertemu.


“.....”


‘Ah ya Tuhan, apa yang kamu pikirkan Gadis?! ....’ Gadis merutuki dirinya yang sedang mengingat ciuman Putra yang tiba-tiba namun tetap berkesan lembut di bibirnya.


“Gadis?...”


“I-yaa?!” Gadis terkesiap saat Putra melambaikan jari di depan wajahnya.


“Sedang memikirkan apa, hem? ...”


“Bu-kan apa-apa...”


“Jika kamu memiliki masalah, katakan saja padaku, Gadis ...”


‘Kamu itu masalahku! Gara-gara kamu, aku rasa jantungku kini bermasalah, Putra!’


“Mungkin aku bisa membantu?”


Gadis menggeleng seraya menyunggingkan senyumnya pada Putra. “Tidak kok, aku hanya teringat jadwal pekerjaanku besok”


Putra manggut-manggut.


“Mengingat jadwal pekerjaanmu, atau mengingat Dokter pria yang sering menempel padamu itu?”


Gadis mendengus geli. “Dokter Bajra, maksudmu?” Sahut Gadis.


“Jangan sebut namanya didepanku!...” Sambar Putra. Membuat Gadis spontan merungut dan berdecak pelan.


“Tadi kamu sendiri yang bertanya...” Gumam Gadis. “Dijawab malah marah ...”


“Aku bertanya apa kamu sedang mengingat pekerjaanmu atau Dokter pria itu. Bukan menanyakan namanya yang tidak penting untukku. Cih!”


“Salah lagi ...”


“Sudahlah lupakan saja. Ayo!..”


“Mau kemana?...”


“Ikut saja”


Putra menautkan jemari disatu tangannya pada jemari disalah satu tangan Gadis, lalu mengajaknya berjalan ke sebuah sudut pantai, dimana ada sebuah kapal layar yang berukuran tidak terlalu besar sudah bertengger di sana.


“Kenapa? ...” Tanya Putra karena Gadis menghentikan langkahnya saat melihat kapal layar yang tidak terlalu besar itu.


“Apa... kamu akan mengajakku menaiki kapal itu, Putra? ....” Tanya Gadis.


“Apa kamu takut naik kapal?...”


Gadis menggeleng.


“Lalu, mengapa wajahmu seperti itu?”


“Aku hanya tidak menyangka, kalau aku punya kesempatan untuk merasakan naik ke kapal layar yang biasanya digunakan oleh orang-orang kaya”


Gadis berkata dengan polosnya berikut wajahnya yang nampak sumringah seperti Anthony jika mendapat banyak es krim dihadapannya, membuat Putra mendengus geli sembari senyum-senyum karenanya.


‘Menggemaskan sekali ...’


Putra membatin dan tangannya tak kuasa untuk sampai ke kepala Gadis dan mengusap acak rambut Gadis yang dikuncir bak buntut kuda itu.


“Ayo?”


Putra kembali mengulurkan tangannya pada Gadis yang tadi sempat terlepas itu. Gadis pun langsung mengangguk antusias dan tanpa sadar menautkan jemarinya dengan jemari Putra yang membuat Putra menyunggingkan senyum sumringahnya sembari membawa Gadis menaiki kapal layar yang sudah ia sewa melalui bantuan Danny.


**


Putra dan Gadis sudah berada diatas kapal layar yang disewa Putra dari Hotel Casino tempatnya mengajak Gadis hari ini. Seorang staf Hotel yang ditunjuk Danny tadi sudah mempersiapkan segala sesuatunya dalam kapal layar


tersebut bersama satu orang staf lagi yang merupakan staf yang mengurus soal kapal-kapal layar yang disewakan pada para tamu Hotel untuk berkeliling sekitar pantai.


Perasaan senang kini hinggap di hati Gadis karena bisa menaiki kapal layar yang menurut Gadis hanya bisa dinaiki oleh orang-orang kaya itu, dan biasanya juga hanya bisa Gadis lihat dari majalah atau televisi saja, juga dari cerita ayahnya saat ia masih kecil.


“Loh, kok Bapak itu tidak ikut?”


Gadis menunjuk seorang staf Hotel yang sebelumnya berada di atas kapal layar tersebut.


“Kenapa memangnya?”


“Bukankah Bapak itu yang harusnya mengemudikan kapal ini?”


“Itu tidak perlu ...” Sahut Putra.


“Oh, jadi kapal ini hanya akan bersandar disini saja?”


Membuat Putra terkekeh karenanya. “Stupido ( Bodoh )”

__ADS_1


Putra berucap disela kekehannya, membuat Gadis menautkan alisnya menatap Putra yang kemudian berbicara pada dua staff Hotel yang masih berdiri di pinggir kapal dimana yang satunya nampak terlihat sedang sibuk melepaskan tali, yang Gadis tak tahu tali untuk apa itu.


Kemudian Putra nampak mengangguk pada dua orang staf Hotel tersebut yang masih memposisikan dirinya berdiri di sebuah jembatan kayu didekat kapal layar yang dinaiki Putra dan Gadis.


“Untuk apa aku menyewa kapal ini jika hanya untuk bersandar disini saja” Ucap Putra sembari menarik lengan Gadis untuk berjalan ke arah benda bulat aluminium.


“Maksud- ...”


“Aku yang akan mengemudikan nya”


“Hah?!” Gadis sedikit terkejut.


Putra melirik Gadis lalu mendengus geli melihat ekspresi Gadis itu.


“Kamu yakin bisa mengemudikan kapal ini, Putra?...” Tanya Gadis. “Apa tidak sebaiknya menyuruh Bapak itu saja yang mengemudi? Dia sudah terlatih bukan, memang supir kapal kan?. Kapal itu berbeda dengan mobil loh, Putra...? ... Panggil Bapak itu saja ya?....”


Putra terkekeh mendengar cerocosan Gadis yang wajahnya nampak khawatir itu.


“Gadis ... Gadis ...” Gumam Putra.


“Aku serius Putra!. Aku hanya takut kita kenapa-kenapa...”


Putra tertawa kecil.


“Sudahlah, lebih baik duduklah disini” Putra menunjuk ruang yang bisa diduduki didekatnya.


Lalu Putra menyalakan mesin kapal layar tersebut. “Benar ini kamu bisa mengemudikannya, Putra?...”


Gadis yang nampak khawatir itu bertanya lagi sembari mendudukkan dirinya di tempat yang ditunjuk Putra barusan.


“Duduklah dengan baik.... nanti kamu akan tahu apa aku bisa mengemudikannya atau tidak”


Gadis tidak menjawab. Ia hanya memilin bibirnya sembari memperhatikan Putra yang tangannya sudah berada di sebuah tuas samping roda kemudi aluminium.


**


Gadis yang duduk di belakang Putra itu kemudian menatap Putra melalui punggungnya karena Putra sedang mengemudikan kapal layar itu melaju pelan menuju bagian pantai agak sedikit jauh dari Hotel tempat mereka berada tadi. Kenyataan kalau ternyata Putra bisa mengemudikan sebuah kapal layar membuat Gadis semakin mengagumi pria tersebut.


Gadis mengedarkan pandangan disekelilingnya kala Putra sedang membawa kapal layar itu melaju dengan santai.


Ada satu dua kapal layar yang sejenis dengan yang ia dan Putra tumpangi saat ini, yang berhenti di atas perairan pantai. Dan jika Gadis memperhatikan, diatas satu dua kapal itu hanya ada dua orang, yakni sepasang pria dan wanita.


Memperhatikan mereka yang berada di kapal layar lain yang dilalui kapal yang ia tumpangi, kemudian Gadis melirik Putra dan merasakan kapal yang dikemudikan Putra mulai melambat.


‘Apa kapal ini memang dikhususkan untuk pasangan?..’


Gadis membatin lalu menatap lagi punggung Putra.


‘Apa iya begitu? Putra menganggap aku pasangannya?’


“Gadis” Suara Putra membuyarkan lamunan Gadis. Membuat Gadis sedikit terkesiap.


“Y-a?...”


“Ayo....”


Putra mengulurkan tangannya pada Gadis dan ia sudah mematikan mesin kapal hingga saat ini kapal tersebut berhenti di atas perairan pantai, cukup berjarak dari satu dua kapal yang ada tadi. Gadis menyambut uluran tangan dan kemudian berdiri.


“Apa kamu menyukai senja?” Tanya Putra yang membawa Gadis ke bagian ujung depan kapal layar yang mereka tumpangi itu. “Karena aku menyukainya...”


“Aku senang kalau kamu juga menyukainya, Gadis...”


“Ini indah sekali”


“Memang ...” Sahut Putra. “Tapi bagiku, kamu lebih indah”


Blushh ...


Gadis langsung saja merona karena pujian Putra barusan.


Dan kini...


Nafas Gadis seolah tertahan, selain hatinya yang mulai berdentum tak karuan.


Saat sepasang tangan kokoh melingkar di perutnya dan si pemilik tangan berdiri rapat dibelakang Gadis.


Gadis begitu gugup saat kini Putra tengah memeluknya dari belakang. Gadis terpaku, sembari mengatur dentuman hatinya agar Putra tidak sampai mendengarnya.


“Aku menyukaimu, Gadis ...” Ucap Putra sembari mengeratkan dekapan tangannya diperut Gadis, hingga punggung perawat cantik itu menempel dengan dadanya. “Bahkan lebih dari sekedar rasa suka”


‘Oh Tuhan, aku mau pingsan!’ Batin Gadis yang kemudian merasakan kecupan di pucuk kepalanya. Gadis ragu-ragu, namun ia memberanikan diri untuk sedikit mendongakkan kepalanya kearah belakang.


Disana sepasang netra indah sedang menatap Gadis dengan tambahan senyuman dari bibir menggoda seorang Putra, yang membuat Gadis kembali merona, dan hatinya semakin sulit dikendalikan.


“Bagaimana denganmu?”


Apa yang Putra rasakan pada Gadis telah ia ungkapkan secara gamblang dengan kelembutan pada Gadis yang sedang menatapnya kini.


Jika hati Gadis berdentum tak karuan, kiranya hati Putra juga sedang bertalu – talu saat ini. Wajah cantik yang sedikit mendongak menatapnya itu membuat Putra merasakan ada kelainan dengan jantungnya sejak kali pertama


bertemu dengan Gadis, meski hanya sekilas.


Sering membuat penyangkalan pada lubuk hatinya yang terdalam tentang rasa yang ia punya pada wanita bernama Gadis itu.


Tapi ternyata, rasa yang bisa disebut Cinta itu mulai menjalar dan keinginan untuk menjadikan Gadis miliknya semakin besar disetiap detik yang Putra lewati.


“Katakan,..”


Putra membalikkan tubuh Gadis yang tertunduk kini.


“Bagaimana perasaanmu padaku, Gadis?..”


Mengangkat wajah Gadis yang tertunduk itu melalui dagunya yang digerakkan oleh telunjuk Putra, hingga mereka saling berpandangan.


“Hem? ..” Tanya Putra yang menunggu jawaban dari mulut Gadis yang nampak gugup. “Aku tidak menerima jawaban kalau kamu katakan untuk meminta waktu”


“Ak – u ..”


“Karena aku tidak suka menunggu..”


Gadis tertegun kemudian, karena kini wajahnya dan wajah Putra kian dekat, hingga aroma Clementine dan Thyme yang sensasional dari Putra sudah menerpa indra penciumannya dan nafas Putra juga seperti sudah menyentuh


bibirnya.

__ADS_1


“So please, katakan sekarang, bagaimana perasaanmu padaku?” Tanya Putra dengan lembut.


“Ak – u ..”


Kembali Gadis tergugu. Ia ingin jujur menjawab kalau ia memiliki rasa yang sama seperti halnya Putra yang mengatakan kalau Pria itu menyukainya, bahkan lebih dari sekedar suka. Tapi Gadis punya keraguan dan ketakutannya sendiri, pada pria yang menurut Gadis terlalu jauh kelas sosialnya diatas Gadis.


“Aku, rasanya tidak pantas untukmu – Putra...” Ucap Gadis pelan. “Kita ..”


“Itu bukan jawaban pertanyaanku”


Kini wajah Gadis di tangkup oleh kedua tangan Putra, yang matanya menelisik jauh ke manik mata Gadis.


“Iya, tapi..”


Cup..


Gadis terpaku ketika Putra sudah mendaratkan bibirnya menempel di bibir Gadis.


Bibir Gadis yang dibungkam Putra dengan ciuman tiba – tiba dan lebih lama dari kali pertama Putra menciumnya membuat Gadis seolah seperti tersengat listrik yang membuat seolah jantungnya hendak loncat keluar dari tempatnya.


Sementara kedua tangan Putra memegang wajah Gadis agar wanita itu tidak menjauhkan bibirnya. Bibir Putra masih bergerilya, ia mulai menikmati bibir Gadis, meski si pemilik bibir sendiri tidak membalas ciumannya.


Tapi saat ini, Putra tak mau perduli.


Hingga Putra makin memperdalam ciumannya, dan tak berapa lama ia merasakan ada tangan yang memukul pelan dadanya. Barulah Putra melepaskan bibir Gadis namun tidak melepaskan tangkupan tangannya dari wajah Gadis.


Putra menempelkan keningnya dengan kening Gadis. “Jadilah milikku, Gadis”.


Ibu jari Putra mengusap lembut bibir Gadis yang kini menatap sayu padanya. Dengan nafas yang masih terengah dan suara yang sedikit parau karena ada hasrat yang mulai bergejolak di tubuh Putra.


Gadis mengerjap – ngerjapkan matanya, masih terpaku dengan lidahnya yang ia rasa kelu atas serangan mendadak Putra pada bibirnya.


“Kamu menyukaiku juga bukan?”


“A – apa..?..”


“Kamu juga memiliki rasa yang sama denganku, Gadis .. benar begitu bukan?..”


“A – pa maksudmu? .. aku – tidak..”


“Buktinya kamu diam saja saat kucium tadi?..”


Putra memasang senyum iblis nan menawan.


“Itu karena kamu yang tiba-tiba menciumku dan tidak memberiku kesempatan bicara” Ucap Gadis yang melemparkan tatapan kesal pada Putra.


“Tapi kamu tidak menolaknya. Mencoba menghentikanku pun tidak. Hem?”


Kembali Putra menyeringai, membuat Gadis menjadi salah tingkah sendiri. “Ya, itu, itu karena kamu pandai membuat seorang wanita terbuai dengan ciuman..”


Gadis langsung menutup mulutnya sendiri. Tak sangka ia keceplosan tentang apa yang ia rasa atas ciuman Putra.


Membuat Putra seketika tersenyum miring sembari menatap Gadis yang sudah melepaskan dirinya dari Putra. “Jadi kamu terbuai?”


Gadis menggelengkan kepalanya berkali – kali. Putra terkekeh.


"Apa kamu mau membunuhku?" Protes Gadis namun Putra tak menyahut.


Tapi kemudian tangan Putra dengan cepat meraih pinggang Gadis, hingga tubuh Gadis bertubrukan dengan dadanya.


Membuat Gadis seketika meronta, namun Putra mengabaikan pukulan – pukulan kecil dari kepalan tangan Gadis di dadanya. Putra tidak mencoba menghentikan aksi Gadis itu. Dia malah sedang menikmati ekspresi Gadis hingga


akhirnya Gadis menghentikan sendiri pukulannya di dada Putra.


“Sudah puas?”


“Apanya..?”


“Memukuliku?”


Gadis terdiam lalu mencoba membuang pandangannya dari Putra yang sedang intens menatapnya itu, demi mengalihkan debaran jantungnya yang sudah tak beraturan dentumannya.


“Kamu terbuai dengan ciumanku, hem?”


“Tidak!” Sanggah Gadis dengan cepat.


“Munafik sekali ..”


“Apa kamu bilang?!”


“Aku bilang kamu munafik. Mulutmu berkata tidak tapi wajahmu mengatakan kalau kamu memang menikmati ciumanku”


“Enak saja! Kamu jangan sembarangan mengataiku! Jangan sembarangan menyimpulkan .. hmphhhpp ..”


Gadis kembali terbungkam, karena lagi – lagi Putra mencuri ciuman darinya.


Namun kali ini ciuman Putra terasa begitu lembut, hingga membuat Gadis benar – benar terbuai akannya.


Dan tanpa sadar, kini tangan Gadis malah sudah mengalungi leher Putra. Menatap sebentar Putra yang mencium sambil menatapnya dengan tatapan sayu dari netranya hingga kemudian Putra memejamkan matanya menikmati manisnya bibir Gadis.


Tak Gadis mampu bohongi hatinya\, kalau ia sangat berdebar – debar saat ini menikmati pa**tan – pa**tan lembut bibir Putra di bibirnya\, hingga rasanya Gadis bergetar sampai ia juga memejamkan matanya sendiri pada akhirnya.


Ada senyum yang tersungging di bibir Putra disela ciumannya, kala ia merasakan kalau Gadis sudah mulai membalas ciumannya.


Putra merapatkan tubuh Gadis pada tubuhnya. Keduanya berciuman dengan penuh kelembutan, hingga akhirnya Putra rasa tak tahan atas hasrat yang sedang menjalar ditubuhnya kini.


Dan akhirnya bibir Gadis menjadi korban kebrutalan bibir Putra yang menjadi begitu rakusnya, me**mat bibir Gadis tanpa ampun hingga membuat Gadis kewalahan mengimbanginya.


Setelah beberapa lama, akhirnya Putra melepaskan ciumannya dan membingkai wajah Gadis dengan tangannya, kembali menyatukan keningnya dan kening Gadis.


Putra memperhatikan wajah Gadis yang merona saat ini, terkekeh kecil melihat bibir Gadis yang sedikit menebal akibat ulahnya yang mengoyak bibir Gadis tanpa ampun dengan ciumannya itu.


“Kamu milikku sekarang, Gadis”


**


To be continue ....


Terima kasih untuk kalian yang masih setia.


Support selalu emak tunggu iyeeee...


Like dan Vote ( jika berkenan )

__ADS_1


Loph Loph


__ADS_2