LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 309


__ADS_3

Happy reading ..


Bandung, West-Java, Indonesia..


“I-I’m afraid ( A-aku takut ), Pa – pa –“


“Seems that it is Putra who is calling ( Sepertinya Putra yang menghubungi )”


Bruna berucap pelan saat setelah sempat terkejut bersama Addison, Gadis dan Ramone karena Anthony berteriak kencang menyebut Papanya.


Dan ucapan Bruna tersebut diiyakan dengan anggukan oleh tiga orang yang bersamanya itu, saat melihat Anthony yang kini melirih dan terisak sambil berbicara di lubang gagang telepon.


Anthony memang melirih dan terisak, namun tidak histeris lagi, dan lirihan serta isakannya tersebut kini terdengar seperti rengekan manja, sambil ia berbicara melalui lubang di pesawat telepon yang bocah tampan itu sedang pegang.


Setelahnya, ke empat orang dewasa yang sedang menemani Anthony itu hanya tersenyum dan membiarkan Anthony  untuk bicara dengan Papa Putra tercintanya sepuas hati.


“Kamu bisa ikut mendekat pada Anth untuk bicara dengan Putra, Gadis ..” tawar Ramone dan Gadis menggeleng seraya tersenyum.


“Tidak Vader, biarkan saja Anthony puas dulu melepas rindu pada Putra agar dia tenang. Jika ada kesempatan baru nanti aku bicara dengan Putra –“


Gadis menjawab lembut.


“Yang penting aku sudah tahu kalau Putra baik-baik saja disana.”


***


“She is, Papa. Mama is even more worry and sad than me ( Iya, Papa. Mama bahkan lebih khawatir dan sedih daripada aku )...”


Gadis tersenyum saat mendengar mengatakan hal tersebut pada Putra, sambil Gadis meletakkan susu dan biskuit yang sebelumnya diminta Anthony dan telah dibawakan oleh salah seorang asisten rumah tangga setelah Gadis meminta tolong padanya menyiapkan susu dan biskuit tersebut untuk Anthony.


“Tuan, Nyonya, silahkan diminum dulu tehnya selagi masih hangat.”


Pak Abdul, yang merupakan kepala asisten rumah tangga di Villa berucap setelah dirinya juga membawakan empat cangkir minuman di atas nampan.


“Terima kasih, Pak Abdul, Bu Marsih...”


Gadis, Addison, Bruna dan Ramone sama-sama mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tersebut.


Addison dan Bruna sudah sedikit-sedikit paham Bahasa Indonesia, dan melatih diri mereka untuk menggunakannya sehari-hari agar lebih fasih, dan dapat berbaur dengan para pribumi ke depannya, terutama untuk berkomunikasi dengan para pekerja di Villa.

__ADS_1


***


“Too worry and sad, untill Mama was screaming at her sleep ( Terlalu khawatir dan bersedih hati, sampai-sampai Mama berteriak didalam tidurnya )----”


“Aduh, Anthony----“ gumam Gadis. ‘Seharusnya tadi aku sempat mengatakan pada Anthony agar tidak menceritakan apa yang menimpaku agar Putra tidak menjadi khawatir.’ Lalu membatin kemudian kala Anthony panjang lebar mengadu pada Putra tentang apa yang terjadi padanya.


Bruna, Ramone dan Addison langsung menoleh pada Gadis yang berkesah dalam gumaman itu, lalu nampak sedikit meringis sambil menggaruk satu sisi bagian kepalanya.


Ketiga orang itupun mengulum senyumnya, yang menyadari tingkah Gadis yang mereka tangkap jika sebenarnya Gadis tidak ingin menceritakan apa yang tadi terjadi atas diri Gadis hingga membuat semua orang datang dengan panik ke kamarnya-pada Putra.


Memang benar apa yang dipikirkan Bruna, Ramone dan Addison-kalau sebenarnya Gadis tidak ingin apa yang terjadi padanya tadi sampai ke telinga Putra, semata-mata Gadis tidak ingin Putra jadi kepikiran.


Walau sebenarnya, jika ingin egois, kondisinya yang mengarah pada depresi itu bisa menekan Putra untuk segera pulang, tak peduli apakah Putra sudah selesai dengan balas dendamnya atau belum.


***


“Oh by the way Papa, I’m going to have little sister and brother ( Oh ngomong-ngomong Papa, aku akan memiliki adik kecil )! .....”


‘Ah, ya ampun!’ Gadis langsung membatin, kala Anthony memberitahukan Putra bahwa akan ada anggota baru dalam keluarga mereka secara tidak langsung. 'Itu kan belum pasti juga, Anthony .....'


Gadis berkesah dalam hatinya, sambil ia geleng-geleng. Padahal Gadis berencana akan memberitahukan soal prediksi kehamilannya setelah memeriksakan hal itu ke Rumah Sakit.


Sementara Bruna, Ramone dan Addison hanya mendengus geli saja.


Gadis berkeluh kesah dengan tersenyum geli pada Bruna, Ramone dan Addison yang kemudian ikutan tersenyum geli juga.


“He’s just too excited about your pregnancy ( Dia hanya terlalu bergembira tentang kehamilanmu ), Gadis....”


Bruna kemudian berkomentar.


“I bet he is ( Tentunya begitu ) .....”


Gadis menyahut sambil terkekeh kecil, bersama Bruna, Ramone dan Addison.


“Mama ......”


Namun kemudian perhatian Gadis teralih karena Anthony memanggilnya.


Gadis pun lekas menyahut pada Anthony seraya ia menoleh, “Iya, Anthony?”

__ADS_1


“Papa wants to talk with you ( Papa ingin bicara denganmu ) ......”


Anthony berucap sambil mengarahkan gagang telepon pada Gadis yang tersenyum lebar.


‘Akhirnya aku bisa juga bicara dengan Putra-‘


Gadis membatin senang.


***


Gadis sudah menggantikan posisi Anthony yang kini sudah duduk bergabung bersama Bruna, Ramone dan Addison sambil ia mengatakan betapa senangnya ia dapat berbicara dengan Papa Putra.


“Putra .....”


Gadis menyapa lembut dengan hati yang berdebar, seperti saat Putra masih melakukan pendekatan padanya.


Merasa merindukan, hingga tak sabar untuk saling bertegur sapa walau hanya lewat panggilan telepon saja.


Seperti itulah yang sedang Gadis rasakan saat ini, bahkan rasanya rindunya pada Putra kian membuncah. Hingga saat .....


“Gadis, istriku sayang .....”


Seseorang yang Gadis rindukan itu terdengar suaranya dan menyapa Gadis dengan mesra, Gadis tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya.


“Pu-traaa .....”


Terlalu bahagia, hingga Gadis sampai tersenyum dengan air matanya yang turun sebulir dari pelupuk mata Gadis dan melirih manja.


“Apa kabarmu, sayangku Gadis? ....”


“Aku hampir mati merindukanmu,”


Dan kekehan renyah terdengar dari sebrang telepon yang Gadis sedang tempelkan di telinganya itu.


Tapi didetik berikutnya ...


“Putra? ...” panggil Gadis dengan sedikit mengernyit.


Namun tak ada jawaban dari seberang telepon.

__ADS_1


***


To be continue....


__ADS_2