
Happy reading ....
**********
Episode sebelumnya :
“Clear all? ( Bersihkan semua? ) ....” ( Garret ).
“Clear all ( Bersihkan semua )” ( Putra ).
“Even there’s another ordinary guest? ( Meskipun ada tamu biasa? )” ( Garret ).
“We don’t have time to do some ‘interview’ ( Kita tidak punya waktu untuk melakukan ‘wawancara’ )” ( Putra ).
“.....”
“Their bad luck to be there right now ( Ketidak beruntungan mereka berada disana, saat ini )” ( Putra ).
*
“Ya, very bad! ( Iya, sangat buruk! )” cetus Garret.
“But I don’t think there’s any ordinary guest inside there right now...”
“( Tetapi aku rasa sedang tidak ada tamu biasa didalam sana saat ini )...”
Thomas menimpali.
“Most people here, kind of avoiding this area..”
“( Kebanyakan orang disini, menghindari area ini )..”
Thomas menambahkan ucapannya.
“Ya you are right ( kau benar ), Thom.”
Putra menimpali.
“I don’t think common people will come here ( Aku rasa orang biasa tidak akan mampir kesini )”
Putra kemudian berkomentar sembari ia memperhatikan bangunan dihadapannya sekarang.
“Or are not allowed to get in ( Atau tidak diperkenankan untuk masuk )” timpal Garret, dan Putra manggut-manggut.
Putra memiliki pemikiran yang sama dengan Garret, sehubungan tempat yang adalah sebuah bar itu tampak seperti sebuah restoran yang tertutup.
Dimana terlihat jika di bagian dalam pintunya terlihat tertutupi oleh kerai, termasuk pada jendelanya.
**
Author’s POV ..
Putra sudah berada di depan sebuah tempat berukuran sedang yang merupakan sebuah bar, namun sekilas tatanan bar tersebut, lebih terlihat mirip dengan sebuah restoran jika dilihat sekilas dari luar.
Namun saat Putra telah tiba di depan pintu bar, Putra tidak langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bar tersebut, yang di kanan kirinya terdapat dua buah toko.
Putra sekali lagi memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Dimana, pada lingkungan di sekitar bar tersebut memanglah sudah cukup terlihat sepi.
Meskipun daerah tersebut lumayan terlihat rapat dan sedikit padat dengan beragam bangunan disekitarnya. Tapi baik orang atau mobil hampir dikatakan sudah tidak ada yang seliweran.
__ADS_1
Dan bangunan-bangunan tersebut tampak sepi, serta beberapa juga terlihat gelap. Entah juga kesemua bangunan itu ada orang atau tidak didalamnya, ya Putra tidak tahu dengan pasti.
Mungkin karena musim dingin yang sedang bergulir saat ini, dimana salju sedikit banyak menutupi banyak sudut tempat, juga hawa dingin yang lebih menyeruak kala malam tiba, ditambah salju yang kadang berhenti turun sesaat digantikan oleh gerimis.
Selain, daerah tempat Putra dan rombongannya berada sekarang ini terkenal rawan saat malam hari. Jadi memang lingkungan sekitar pada saat ini sudah terlihat cukup sepi, walaupun hari belum dikatakan terlalu malam.
Masa bodoh juga sebenarnya Putra dengan hal itu.
Yang penting bagi Putra saat ini, adalah ‘mengurus’ targetnya saja.
Author’s POV off ..
***
“Prepare your weapon ( Siapkan senjata kalian )”
Putra berkata pada Garret, Thomas dan satu anak buah yang menyertainya, saat ia sudah siap untuk membuka pintu Bar yang ada di hadapannya itu.
“Gun or knife? ( Senjata api atau pisau? )”
Garret iseng bertanya.
“Anything that you like ( Apa saja yang kau suka )” jawab Putra.
“Well, if we’re using ‘Tommy’ ( Yah, meskipun kita menggunakan ‘Tommy’ )..”
Thomas berkomentar.
“I don’t think police will come here that soon ( Aku rasa polisi tidak akan datang dengan cepat )”
“Heeemm ...”
Putra menanggapi ucapan Thomas dengan deheman dan anggukan, begitu juga dengan Garret.
Sedikit banyak, Putra yang memang lama tinggal di Inggris sudah tahu tentang bagaimana kondisi sebuah kota, tempat ia dan rombongan berada sekarang.
Meskipun daerah tempatnya berada sekarang ini, Putra tidak pernah tapaki dengan lama sebelumnya.
Hanya pernah beberapa kali melewatinya saja, karena seperti yang Thomas katakan, daerah tersebut cukup rawan.
Tidak pernah mampir berkunjung ke salah satu tempat di daerah tersebut bukan karena ia merasa takut, melainkan karena Putra tidak pernah memiliki urusan di daerah yang tingkat kriminalisasi-nya cukup dikhawatirkan itu.
Selain menjadi tempat mereka yang berbisnis gelap tentunya.
“Come, let’s in ( Ayo masuk )”
*
Sementara itu di sudut yang berbeda, dari tempat Putra dan tiga lainnya berada.
Damian, Devoss, dan dua orang lainnya yang ikut bersama mereka sudah berada di ujung lorong jalan tempat dimana sebuah bar yang menjadi target mereka berada.
Damian, Devoss dan dua orang itu berjalan perlahan saat menyusuri lorong yang gelap tersebut.
Dan setelah mencapai sebuah sudut yang adalah sebuah ujung jalan dimana ada satu lorong kecil searah, Damian dan mereka yang bersamanya, tidak langsung menyusuri lorong tersebut.
“Clear, Sir. No one’s here ( Aman, Tuan. Tidak ada sesiapapun disini )” ucap salah seorang anak buah yang diminta Damian untuk menelisik keadaan di sekitar lorong tersebut sampai ke ujungnya.
Damian pun mengangguk, dengan tetap mempersiapkan senjata api di tangannya yang sudah siap untuk memuntahkan peluru.
Meski satu anak buah yang tadi Damian suruh untuk menelisik keadaan tempat mereka saat ini, termasuk jalan tembusan dari lorong tempat mereka berada sekarang, Damian tetap waspada.
__ADS_1
Tempat tersebut cukup gelap, selain begitu sunyi. Hanya deru nafas dirinya sendirilah yang Damian dengar, selain deru nafas tiga lainnya, yang mengeluarkan kepulan asap yang keluar dari hidung dan mulut mereka saat bernafas dan membuka mulut.
Namun Damian tetap menajamkan telinga dan matanya, saat ia telah sampai pada ujung lorong searah tersebut.
Kemudian Damian berjalan pelan, sedikit mengendik, sambil matanya menyisir keadaan sekitar. Devoss dan dua lainnya juga melakukan hal yang sama seperti Damian.
“As I thought that the bar has shiftily back door ( Seperti dugaanku jika bar tersebut memiliki pintu belakang yang mencurigakan ) ...” ucap Damian setengah menggumam.
Devoss menanggapi dengan anggukan ucapan Damian barusan. Karena memang seperti yang Damian katakan, pintu belakang yang ditengarai adalah pintu tembusan dari bar yang menjadi target mereka itu cukup mencurigakan keberadaannya yang hanya sendirian.
Padahal disisi kiri dan kanannya ada tempat lain yang kemungkinan besar adalah toko-toko. Dan normalnya, dua toko yang mengapit bar tersebut harusnya memiliki pintu belakang juga. Tapi nyatanya tidak ada pintu lagi, selain pintu yang merupakan pintu belakang tersebut dari sebuah bar yang menyerupai restoran dari depan tersebut.
Bar yang menjadi target Putra dan mereka yang bersamanya, untuk dikacaukan, sekaligus dihancurkan sebagai bagian dari balas dendam Putra dan para saudaranya itu pada Jaeden.
“Should we check that place, Sir? ( Apa kami harus memeriksa tempat itu, Tuan? ) ...”
Salah satu anak buah mereka, yang merupakan adalah kiriman dari Accursio yang nampak sudah terlatih itu berucap seraya bertanya pada Damian dan Devoss saat melihat sebuah bangunan lain yang berada selurusan pintu belakang bar target mereka.
“Go check then ( Periksalah kalau begitu )” jawab Damian sambil menggerakkan dagunya.
Dua anak buah Accursio itu pun mengangguk tanggap pada Damian.
“Do not make any contact. Just watch everything there, then comeback here when you finish watching or find something ( Jangan membuat kontak apapun. Hanya awasi saja segalanya disana, lalu kembali kesini saat kalian selesai atau menemukan sesuatu )”
“Yes Sir ( Baik Tuan )”
Dua anak buah Accursio itu pun menyahut sigap pada titah Damian.
Keduanya paham dengan apa yang Damian maksudkan untuk mereka lakukan.
Memang mereka sudah terlatih, dan memang kedua orang tersebut adalah beberapa orang terbaiknya Accursio seperti yang Putra minta.
“If remark this place building area, I don’t think this bar is their factory ( Jika memperhatikan luasnya bangunan ini, aku rasa bar ini bukan pabrik mereka )...”
“I guess so ( Aku pikir juga seperti itu )...” tanggap Damian pada ucapan Devoss. “Considering that place lay out ( Jika melihat letak tempat itu )—“
Damian menunjuk pada bangunan yang sedang disisir oleh dua anak buah mereka itu dengan dagunya.
“I think that place it’s the factory ( Aku rasa tempat itulah pabriknya )” sambung Damian. Dan Devoss mengangguk mengiyakan.
“Why don’t we go there? ( Mengapa kita tidak pergi kesana saja? )” ajak Devoss. Damian menggeleng.
“Clean up here first ( Bereskan dulu yang ada disini )” ucap Damian kemudian. Dan Devoss segera mengangguk.
Lalu Devoss dan Damian saling ambil posisi, dengan senjata api dalam genggaman mereka sambil merapatkan diri pada dinding bar.
“Come in now? ( Masuk sekarang? )” kata Devoss.
“Not yet. We need to make sure if Putra and them are in already first ( Belum. Kita harus memastikan jika Putra dan mereka sudah berada didalam terlebih dahulu )”
“But I don’t hear anything ( Tetapi aku tidak mendengar apapun )” kata Devoss lagi. Karena ia hanya mendengar suara sayup-sayup musik saja dari dalam bar saat ia menegaskan telinganya pada pintu.
Damian juga sama menegaskan telinganya seperti Devoss.
Sedikit merasa mulai gelisah juga Damian sambil melirik jam tangannya.
“Is it something isn’t right happen inside? ( Apakah ada sesuatu yang tidak benar terjadi didalam? )”
“I can’t tell ( Aku juga tidak dapat menebaknya )”
“I think we should get in now ( Aku rasa sebaiknya kita masuk sekarang )”
__ADS_1
*
To be continue ...