LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 111


__ADS_3

Happy reading ....


“HARSA! MADANI! GOVI! TOLONG AKU!! ”


“Hentikan teriakanmu Nona, karena itu percuma saja”


“LEPASKAN AKUU!!..”


Gadis tidak perduli, ia terus berteriak hingga sampai di depan pintu yang terletak didekat kantor Bos Besar Pub tersebut, namun tidak ada penjaga yang biasanya ada di sekitaran lorong dan pintu tersebut.


Gadis menyadari hal itu, dan merasa sedikit heran.


Gadis tetap meronta dan hendak berteriak lagi, namun pintu dihadapannya nampak terbuka dari luar.


Dan seseorang yang nampak berdiri setelah pintu tersebut terbuka, membuat Gadis tak jadi kembali berteriak.


Bahkan Gadis tak lagi meronta.


Malahan Gadis jadi terpaku, sembari memperhatikan orang yang ia lihat itu dengan mengernyitkan dahinya.



**Waktu sebelumnya


“Emm... are we going to residence or want straight go to Villa, or maybe you want to go to somewhere else, Sir? .. ( apa kita kembali ke kediaman atau ingin langsung kembali ke Villa, atau mungkin kau ingin pergi ke suatu tempat


lain, Tuan? ) ...”


“Residence ( Kediaman )”


Putra menjawab Arthur tanpa menoleh ke arah pria itu.


Mata Putra memandang lurus ke depan, malas untuk berpaling ke arah jendela mobil sebelah kirinya, karena Ilse masih berdiri di sana dan Putra tahu jika Dokter wanita yang sudah terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Putra itu, dapat Putra tangkap melalui ekor matanya, masih terus menatapnya dari tempat Ilse berdiri.


“Yes Sir ( Baik Tuan )...”


Putra kemudian menyandarkan dirinya di sandaran jok mobil penumpang yang ia duduki saat mobil sudah bergerak maju. Dengan salah seorang anak buahnya yang menyetir, sementara yang satu lagi mengikuti dengan mobil lain di


belakangnya.


Putra memejamkan matanya, dengan kepala yang ia topangkan di sandaran, hingga ia menjadi sedikit mendongak. Terdengar Putra menghembuskan nafasnya dengan berat.


“Aku tidak seperti yang kamu pikirkan Putra!”


“Hentikan....”


“Aku bekerja disini sebagai penampil Putra, bukan sebagai wanita penghibur! .... Jadi tolong, jangan menuduhku, karena kamu, tidak tahu apa-apa tentang aku....”


“Setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjelaskan Putra ....”


“Aku bukan ingin membela diri, untuk membuat kamu tetap disisi aku hanya karena status sosial dan kekayaan kamu, Putra ....”


Angan Putra kembali pada pertemuan dan pembicaraannya dengan Gadis


beberapa waktu lalu.


“Percaya atau tidak .... aku tulus mencintai kamu ....”


‘Kalau kau memang mencintaiku, mengapa tak mengejarku?!’


Putra membatin kesal.


‘Damned! ( Sial! )’


Putra merutuk dalam hatinya, kala teringat suara Gadis yang melirih mengatakan jika wanita mencintainya.


“Haish!” Putra kembali terdengar mendengus.


Tak menampik, Putra menangkap ketulusan dari suara Gadis yang mengatakan mencintainya dengan tulus, meski Putra tak menoleh pada Gadis kala wanita itu mengucapkan jika ia mencintai Putra.


Namun Putra menangkap ekspresi Gadis sekilas dengan ekor matanya.


Putra geram sebenarnya, pada Gadis yang Putra anggap tidak jujur dan membohonginya mentah-mentah.


Ada rasa tak terima dalam hati Putra akan itu.


Namun juga tak bisa Putra tampik, ada rasa tak nyaman setelah ia meninggalkan Gadis yang Putra tahu masih menangis, meski ia masih merasa geram pada wanita itu.


Karena Putra melihat Gadis yang menemani seorang pria lain, meski di ruangan itu ramai orang.


Namun Gadis begitu rapat berdansa riang dengan pria tersebut, serta tertawa-tawa dan itu membuat Putra bertambah geram.


“Berikan aku sedikit saja waktu untuk menjelaskan.... dan setelah itu terserah, kamu mau bagaimana .... aku terima ....”


Helaan nafas Putra terdengar lagi, selepas ia mengingat kembali kalimat terakhir Gadis sebelum Putra meninggalkannya, setelah Putra melemparkan sejumlah uang pada Gadis.


“Kembali ke Pub tadi” Ucap Putra dengan bahasa Indonesia, membuat Arthur sontak menoleh untuk memastikan, setelah sebelumnya saling lempar tatap sejenak dengan anak buah yang menjadi supirnya dan Putra saat ini.


“Ke JP maksud anda Tuan Putra?” Tanya Arthur.


Putra mengangguk. “Bawa Gadis padaku, bagaimanapun caranya”


“Baik Tuan Putra” Sahut Arthur yang langsung berbicara pada anak buah mereka yang menyetir yang kemudian mengiyakan dengan segera dan patuh.


****

__ADS_1


“Apa ada pintu lain di tempat itu, Ar?”


“Sepertinya ada. Tapi aku akan menyuruh Ray untuk mencari tahu”


“Berhenti disini  saja, dan panggil Ray” Titah Putra.


Kemudian sang supir yang paham langsung menghentikan mobilnya di parkiran Pub dimana satu mobil yang dikendarai anak buah mereka akhirnya ikut berhenti juga, lalu Arthur mengeluarkan tangannya agar anak buahnya yang berbeda mobil itu mendatanginya.


“Kau tidak ingin menunggu didalam saja Tuan Putra?” Tanya Arthur seraya menawarkan.


“Tidak” Sahut Putra cepat. “Aku malas jika harus bertemu dengan Dokter menyebalkan itu lagi”


***


“Katakan pada mereka yang menyambutku tadi jika aku ingin Delima ikut denganku saat ini juga”


“Baik Tuan” Pria bernama Ray itu menyahut sopan seraya mengangguk pada Putra dari luar kaca mobil.


“Ikut dengannya Ar, kau hubungi pemilik tempat ini” Titah Putra lagi “Katakan padanya keinginanku”


Arthur pun mengangguk patuh. “Baik Tuan” Lalu Arthur segera keluar dari mobil.


***


“Bagaimana?” Tanya Putra saat Arthur dan orangnya telah kembali ke tempat Putra sedang menunggu mereka. “Kau sudah bicara pada si Frans itu?”


“Sudah”


Arthur menyahut cepat.


“Dia bilang silahkan saja, jangan Delima katanya, seluruh wanita yang bekerja disini jika kau ingin bawa pun, si gila itu mempersilahkan”


Putra hanya tersenyum miring.


“Ya sudah, bawa Gadis padaku dengan segera”


Putra menurunkan kembali titahnya.


“Dia masih didalam kan?”


“Masih”


“Apa dia kembali ke tempatnya sebelum bertemu denganku?” Tanya Putra lagi.


“Soal itu aku tidak memastikannya” Jawab Arthur.


“Ya sudah. Bawa Gadis padaku”


Arthur pun mengangguk.


Arthur menunjuk kesatu arah.


“Itu pintu khusus yang tidak sembarangan orang boleh menggunakannya”


“Mengapa?”


“Kau kan ingin menghindari Dokter genit itu bukan?” Jawab Arthur. "Aku tidak tahu jika dia masih di dalam atau tidak. Tapi jika kau memang ingin menghindarinya lebih baik kau tunggu disana saja"


“Heeemmm..” Sembari Putra manggut – manggut.


****


“Silahkan menunggu di ruang pribadi Bos Frans, Tuan. Kami akan segera membawa Nona Delima pada anda”


Salah seorang dari bodyguard Pub bicara pada Putra.


“Tidak, kau tunjukkan saja dimana Delima, biar anak buahku yang membawanya. Aku menunggu disini saja”


“Baik Tuan”


****


“LEPASKAN AKUU!!..”


Gadis tetap meronta dan hendak berteriak lagi, dan mata Gadis juga secara spontan memperhatikan pintu yang berada dihadapannya itu dan nampak terbuka dari luar.


Dan seseorang yang nampak berdiri setelah pintu tersebut terbuka, membuat Gadis tak jadi kembali berteriak.


Bahkan Gadis tak lagi meronta.


Malahan Gadis jadi terpaku, sembari memperhatikan orang yang ia lihat itu dengan mengernyitkan dahinya.


“Tu – Tuan Arthur????...” Ucap Gadis yang sedikit tergugu.


“Nona Gadis ...” Ucap Arthur sopan seraya menampakkan senyumnya pada Gadis, yang wajahnya menyiratkan jika ia sedang bertanya-tanya dalam hatinya.


“Anda...”


“Silahkan Nona”


Arthur merentangkan tangannya.


“Anda sudah ditunggu”


Arthur menunjuk pada mobil didekatnya.

__ADS_1


Mata Gadis pun mengikuti arah telunjuk Arthur, dimana ada seorang pria yang sudah duduk di balik kemudi mobil tersebut.


“Putra???....”


“Naik!”


“Eemm...”


“Naiklah Nona Gadis”


Arthur menyarankan agar Gadis segera menaiki mobil dimana Putra yang sudah duduk di balik kemudi itu berada, dengan pintu mobil yang sudah dibukakan oleh salah seorang anak buah mereka.


Gadis yang masih nampak ragu – ragu untuk masuk ke dalam mobil dimana sudah ada Putra disana itu kemudian melirik pada dua orang pria yang ia kenal, dan mereka yang merupakan bodyguard Pub yang memang Gadis sudah kenal, mengkode dengan gerakan kepala mereka yang pelan, agar Gadis menaiki mobil tersebut.


Pada akhirnya, Gadis pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang depan di samping Putra yang sudah duduk di balik kemudi mobil.


****


Putra sudah melajukan mobil yang ia kendarai sendiri sekarang, saat ia memutuskan hal tersebut kala menunggu Gadis yang sedang di jemput oleh kedua orangnya.


Rasanya Putra ingin berbicara dengan Gadis tanpa ada orang lain di dekatnya.


Keduanya saling diam selama beberapa saat mobil yang dikendarai Putra sudah melaju. Gadis sesekali melirik kecil ke arah Putra yang nampak berekspresi datar lebih ke dingin dan hanya menatap lurus ke arah depan.


Gadis menarik nafas dan menghembuskannya pelan. “Pu ..”


“Kau begitu tertarik pada uang, hem?” Gadis sudah hendak berbicara barusan, namun tak melanjutkan karena Putra tahu – tahu berbicara dengan mengeluarkan cibiran yang terdengar pelan, namun tetap saja kesinisan dari


ucapan Putra begitu ketara.


Gadis meremat tangannya yang memang sedang memegang segepok uang yang tadi Putra lemparkan padanya saat di Pub dan sudah Gadis kumpulkan dan rapihkan kembali.


“Ini ..”


Gadis yang sontak menoleh saat sebuah kalimat cibiran keluar dari mulut Putra itu, menyadari lirikan sinis Putra yang mengarah pada tangan Gadis yang ia topangkan di atas kedua pahanya.


“Aku akan menambahkan nya, kau tenang saja ...”


Namun Putra kembali keburu menyambar lagi. Masih bernada sinis.


“Apa maksudmu??!” Tukas Gadis dan Putra hanya menyungging miring, kembali menatap lurus pada jalanan di depannya. “Katakan apa maksudmu?!”


Namun  Putra tak menyahut.


“Aku mengumpulkan uang yang kamu lemparkan padaku tadi, karena aku ingin mengembalikannya padamu asal kamu tahu!”


Gadis menegaskan, namun Putra nampak tersenyum miring dan terdengar mendengus sinis. "Heh!"


“Kalau kamu menganggapku rendah, itu hak kamu! Tapi asal kamu tahu, aku tidak pernah mengincar uangmu!”


Putra mengeluarkan tawa dengan tiba – tiba.


Tawa yang terdengar bak sebuah tawa ejekan lebih tepatnya.


“Berhenti bersikap munafik didepanku, Nona Delima...” Sindir Putra.


Gadis sontak terkekeh getir sembari menggeleng – geleng.


Bruk!


“Ini uangmu, dan turunkan aku disini!”


Gadis meletakkan dengan kasar segepok uang yang ia pegang di atas dashboard mobil dan berkata dengan ketus.


Membuat Putra mengerem mobilnya dengan mendadak.


Pash!...


“Sudah kubilang berhenti bersikap munafik di depanku!”


Putra menyambar uang yang Gadis letakkan tadi seraya menyapu dengan tangannya uang yang tersusun rapi tersebut, hingga uang – uang tersebut kembali bertebaran dimana sebagian besar mengenai wajah dan tubuh Gadis.


“Aku akan menambahkan dengan jumlah yang lebih banyak padamu Nona Delima! Dan akan kupastikan jauh lebih banyak dari jumlah mereka yang pernah membayar mu untuk ‘mencicipi’ tubuhmu!”


Plaakk!!


Telapak tangan Gadis mendarat dengan cepat dan kerasnya di pipi Putra, hingga wajah Putra terpaling keras ke arah kanannya.


Sejenak mata Putra terpejam saat Gadis menampar dan dengan cepat juga menjauhkan tangan kanannya yang sudah menampar Putra itu.


Gigi dan bibir Putra terkatup rapat, berikut rahangnya yang nampak mengeras. Kemudian menoleh pada Gadis yang matanya sudah berkaca –kaca dan menggigit bibir bawahnya.


‘Oh Tuhan... apa yang sudah aku lakukan?? ...’


Gadis membatin takut melihat tatapan Putra yang begitu tajam padanya.


“Ma ..”


“Akan kupastikan kau membayarnya!”


Putra berucap dengan nada suara yang terdengar dingin setelah ia memalingkan wajahnya dari Gadis, dan menggerakkan dengan kasar perseneling mobilnya lalu melajukan mobil yang ia kendarai dengan cepatnya, sebelum Gadis menyelesaikan ucapannya.


****


To be continue ..

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ...


__ADS_2