LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 40


__ADS_3

Happy reading ..


🌿🌿🌿🌿


“Cobalah”


“Coba..”


“Cobalah. Sebut namaku”


“.....”


“Tanpa kata ‘Tuan’ didepannya”


“.....”


‘Karena aku ingin mendengar kamu menyebut namaku dengan suara lembutmu itu. Gadis....’


Putra membatin sembari menatap Gadis. Dan Gadis sedikit terlihat menjadi kikuk ditatap seperti itu oleh Putra.


‘Bisakah aku menggantikan lidahmu?’


Hati Putra seolah lancang berucap saat Gadis membasahi bibirnya.


“.....”


‘Damned Putra! What are you thinking?! She is going to be a nun For God Sake! (Sial Putra! Sadarlah! Apa yang kau pikirkan?! Dia itu calon biarawati!)’


Namun kemudian Putra sadar sendiri.


Hingga kemudian sebuah sentuhan kecil Putra rasa di punggung tangannya yang membuat Putra langsung terkesiap.


“Hem?! ...”


“Maaf Tuan Putra, tapi Anthony berbicara padamu”


“Oh ya?! What is it Anth? (Kenapa Anth?)”


“Kalau tidak salah dia bertanya apakah Tuan ....”


“Aku bilang jangan lagi sungkan Nona Gadis”


Gadis mengangguk.


“Anthony ingin es krim, apa boleh?”


Gantian Putra yang mengangguk.


“Tentu saja boleh” Ucap Putra.


Lalu Putra menaikkan tangannya untuk memanggil seorang pelayan dan memesankan es krim untuk Anthony.


****


“Terima kasih untuk waktu anda hari ini Nona Gadis”


“Tidak perlu berterima kasih Tuan....”


“Apa sulit sekali menyebut nama saya Nona?”


“Engg ....”


Gadis membasahi bibirnya.


“Tidak sih, tapi .... saya belum terbiasa ....”


“Maka biasakanlah ....”


“Iy-yaa ....” Gadis manggut – manggut. “Saya yang seharusnya berterima kasih Tu - .... Put-ra ....”


‘Bagus sekali’ Batin Putra tersenyum. “Baiklah, jika begitu saya dan Anthony permisi dulu. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk Anthony”


“Kan sudah ku- saya, maaf. Sudah saya ....”


“Sepertinya itu lebih bagus”


“Apanya?....” Gadis sedikit bingung.


“Kalau Nona Gadis tidak berbicara terlalu formal padaku”


“Maksudnya?....”


“’Aku’ terdengar lebih bagus”


“O-h....”


“Apa anda keberatan?”


Gadis sejenak menatap Putra, lalu ia menggeleng dan gelengan itu membuat Putra menarik sudut bibirnya.


“Terima kasih jika begitu” Ucap Putra.


“Terima kasih kembali Tu- .... Putra”


Putra mengangguk.


“Say thank you to Gadis, Anth (Katakan terima kasih pada Gadis, Anth)”


“Tha-nk you, Gadis (Te-rima kasih, Gadis)”


“You welcome, Anthony (Sama – sama, Anthony)”


“Baiklah, kami permisi dulu Nona Gadis”


“Ga-dis....” Panggil Anthony.


Gadis pun menyahut dan menunjukkan senyumnya sambil mengusap pelan pipi Anthony.


“Ya Anthony?”


“Ca-n I meet you everyday?”


“(Bi-sakah aku menemuimu setiap hari?)”

__ADS_1


Gadis tersenyum dan mengangguk. “Of course (Tentu saja)”


Anthony yang senang itu spontan memeluk Gadis meski ia berada dalam gendongan Putra.


Membuat tubuh Gadis seketika bersinggungan dengan lengan Putra karena Gadis seolah kaget saat Anthony memeluknya.


Satu tangan Putra spontan terulur ke pinggang Gadis, hingga membuatnya keduanya tertegun sesaat dan salah tingkah kemudian.


“Ma-maaf ....” Putra dan Gadis berucap berbarengan. Lalu Gadis memposisikan dirinya tegak kembali dan berbicara pada Anthony.


Ada semu di wajah Putra dan Gadis. Dan untuk itu Putra sebentar memalingkan wajahnya.


“Tha-nk you, Gadis” Sahut Anthony yang memecah kecanggungan antara Putra dan Gadis.


“You welcome, Anthony (Sama – sama, Anthony)”


Gadis menyahut sekali lagi sambil mencubit gemas hidung Anthony.


“Apa tidak masalah jika kami datang setiap hari?”


Gadis menggeleng.


“Tidak, Tu- Putra.... maksudku- ehm saya”


“Jika Nona Gadis ingin membahasakan dirimu dengan ‘aku’ saat kita bicara, rasanya itu lebih baik”


“Eum, .....” Gadis sekali lagi nampak ragu. “Baiklah”


Namun kemudian Gadis ia mengiyakan.


“Senang mendengarnya”


Gadis mengangguk saja.


“Baiklah jika begitu, kami permisi dulu Nona Gadis”


Putra hendak berpamitan kembali.


Putra pun meminta Anthony untuk berpamitan dengan Gadis.


“Saya benar – benar berterima kasih untuk kesediaan anda menemani Anthony, Nona Gadis”


“Aku senang kok”


“Saya pun senang mengetahuinya”


Putra melemparkan senyumnya, lalu mengangguk dan kemudian mengayunkan kakinya untuk pergi dari hadapan Gadis.


“Mari, Nona Gadis kami pamit...”


“Putra ....” Panggilan Gadis menghentikan langkah Putra.


“Ya?”


“Jika kamu menyuruhku memanggilmu hanya dengan namamu, maka sebaiknya kamu pun seperti itu juga memanggilku”


“.....”


“Baiklah, Gadis ...” Ucap Putra yang berusaha keras agar senyumnya tidak berlebihan.


“Sampai jumpa....”


“Sampai Jumpa, Gadis...”


“Bye, Anthony....”


“By – e, Gadis....”


Ketiga orang itu pun sama – sama berbalik berlawanan arah setelah saling berpamitan.


Senyum juga sama – sama terpatri di wajah ketiganya.


Anthony yang tersenyum senang, karena sedari awal memang menyukai Gadis karena Anthony merasa nyaman bersamanya, sementara senyum yang terpatri di wajah Putra adalah senyuman yang artinya hanya hati Putra saja yang mengetahuinya.


Namun ada senyum lain juga, yang menghias di wajah cantik seorang perawat berseragam putih – putih.


Yang berbalik sebentar, memandang punggung Putra yang menggendong Anthony sedang berjalan menjauh dari tempatnya tadi.


***


Putra dan Anthony berikut juga Danny yang bersama keduanya sudah sampai kembali ke rumah sewaan Putra dan keluarganya. Damian dan yang lainnya yang memang belum berencana kemana – mana selain mengurus beberapa hal tentang usaha pertama yang akan mereka rintis di Negeri tempat tinggal mereka sekarang, sudah


menunggu kedatangan tiga orang tersebut di ruang tengah rumah sewaan mereka itu.


Bruna langsung melangkahkan kaki untuk membuka pintu rumah saat suara mobil terdengar masuk pekarangan tempat tinggal mereka.


Anthony langsung di bawa Bruna menuju kamarnya untuk dibersihkan selain Bruna juga penasaran ingin mendengar cerita dari mulut bocah tersebut tentang pertemuannya dengan Gadis. Terlebih ingin tahu lebih lanjut tentang sikap seorang Papa Putra dihadapan Suster Gadis saat mereka makan siang bersama.


Sementara itu Putra memilih untuk langsung menyambangi Garret, Damian dan Addison di ruang tengah dengan Danny yang ikut berjalan di belakangnya.


Tiga orang yang sebelumnya terdengar seperti mengobrol dan membahas sesuatu itu langsung menoleh ke arah Putra saat pria itu muncul bersama Danny.


“What an annoying face you have Dam! .. (Wajahmu sungguh menjengkelkan Dam! ..)” Celetuk Putra saat melihat Damian tersenyum jahil padanya. Damian pun sontak terkekeh, begitu juga Garret, Addison dan Danny.


“Please reporting something interesting Dan .. (Tolong laporkan sesuatu yang menarik Dan)”


Putra berdecih geli mendengar ucapan Garret barusan.


Sisanya terkekeh kecil.


“Will you have a mandate to bring someone for a date?”


“(Apa kau mendapat tugas untuk mengantar seseorang untuk berkencan?)”


“Eum.. not that far yet (Tidak sejauh itu sih)” Sahut Danny. “But there is someone who cannot stop to smile along the way (Tapi ada seseorang yang tidak berhenti tersenyum sepanjang jalan)” Sambungnya.


“Real – ly?.. (Benar-kah? ..)” Damian mesam – mesem.


“Hummm!”


“So, Our Bos will tangled up to a romance with a nurse, hem? (Jadi, Bos kita akan terjerat percintaan dengan seorang perawat, hem?)”


“I believe so.. (Kurasa begitu)”

__ADS_1


Putra memutar bola matanya malas.


“A bunch of chatterer! (Sekelompok penggunjing!)”


“Hahahahahaha!! ..”


***


“Have you talked with Anth that we are going back to Villa next week, Putra? (Apa kau sudah mengatakan pada Anth kalau kita akan kembali ke Villa minggu depan, Putra?)” Tanya Addison saat mereka tengah membahas soal kartu identitas mereka yang sudah di kantongi sebagai izin tinggal mereka secara resmi di Negeri yang mereka tinggali sekarang.


Putra menggeleng. “Not yet (Belum)”


“Better you tell Anth as as soon as possible (Sebaiknya kau secepatnya mengatakan pada Anth). Knowing that he is starting to feel comfortable with that nurse (Soalnya dia terlihat sudah merasa nyaman dengan perawat itu)”


Putra manggut – manggut. “I will talk and give a cognition to Anth (Aku akan bicara dan memberikan pengertian pada Anth)”


“.......”


“But I am afraid that Anth will be sad (Tetapi aku takut jika Anth menjadi sedih)”


“Just tell him we just get back there just for few days. Or tell him even we get back there we still can take Anth to meet that Nurse anytime he ask”


“(Katakan saja padanya kalau kita hanya beberapa hari disana. Atau katakan meskipun kita kembali kita masih bisa membawanya untuk bertemu perawat itu kapanpun dia mau)”


Putra kembali manggut – manggut.


“By the way, I am a little bit bored. Let us go somewhere tonight? (Ngomong – ngomong, aku sedikit bosan. Ayo pergi ke suatu tempat malam ini?)”


“Good idea (Ide bagus)”


“You know a place for us to relax and also provide some drinks? (Kau tahu suatu tempat untuk bersantai dan menyediakan beberapa minuman?)”


“Yes I know a place (Ya aku tahu satu tempat)” Sahut Danny pada pertanyaan Damian.


“Good then (Bagus jika begitu)”


“I never get inside, but I ever heard that there is one Pub which is good here (Aku tidak pernah masuk, tetapi aku pernah mendengar ada satu Pub yang bagus disini)”


“But you know where it is, don’t you? (Tapi kau tahu letaknya, kan?)”


“Yes”


“Alright let us go there tonight (Baiklah ayo kita pergi kesana malam ini)” Damian nampak antusias.


“Alright. What time should I pick you guys up? (Baiklah. Jam berapa aku harus menjemput kalian?)”


“What about eight? (Bagaimana kalau jam delapan?)”


“Alright then. Now please excuse me (Baiklah kalau begitu. Sekarang aku permisi dulu)”


“Thanks Dan (Terima kasih Dan)”


“My pleasure Sir (Dengan senang hati Tuan)”


***


“Oh come on Putra, you should have to relax just for a little bit time! .. (Oh ayolah Putra, kau harus sedikit bersantai! ..)” Bujuk Damian karena Putra enggan untuk ikut pergi bersantai ke sebuah Pub di kota tempat mereka berada sekarang.


“You guys go. I can’t leave Anth (Kalian saja yang pergi. Aku tak bisa meninggalkan Anth)” Sahut Putra. "Take Bruna too (Ajak Bruna juga)


“You need to waive your shoulder for a moment, Putra. Just go with them. Me and Bruna will stay to look after Anth here (Kau harus meringankan sedikit pundakmu sebentar, Putra. Pergilah bersama mereka. Aku dan Bruna yang akan menjaga Anth disini)”


“Listen to Ad, Bos! You, need some relax!. Beside, Anth is way better now. And he won’t getting maudlin (Dengarkan Ad, Bos! Kau, butuh sedikit bersantai! Lagipula Anthony sudah jauh lebih baik sekarang. Dan dia tidak cengeng)”


“Alright, Alright (Baiklah, baiklah)”


***


Putra, Damian, Garret dan Danny sudah sampai ke sebuah tempat yang nampak lebih ramai saat malam hari. Tempat dimana mereka yang ingin bersantai dan berkumpul sejenak dapat menghabiskan waktu mereka dengan menikmati beragam minuman beralkohol yang tersedia.


“Not bad (Lumayan)”


“Shall we? (Mari kita masuk?)”


“Come! (Ayo!)”


Ke empat pria tampan itupun memasuki bangunan yang interiornya itu didominasi dengan kayu, dan cahaya yang sedikit temaram, namun cukup ramai.


***


“She said that there a place upstair which is not too crowded. But we need to pay extra (Dia bilang ada tempat di atas yang tidak terlalu ramai. Tetapi kita harus membayar lebih)”


Danny berkata pada Putra, Damian dan Garret setelah ia memanggil seorang waitress dan menanyakan tempat pada waitress tersebut.


Untuk orang asing yang baru beberapa bulan tinggal di suatu negeri asing, Danny terbilang sangat cepat belajar, terutama soal Bahasa. Jadi dia tidak sulit untuk menjalin komunikasi dengan orang – orang setempat.


“Yes sure (Ya tentu)”


Lalu Putra, Damian, Garret dan Danny diantar ke tempat yang sudah mereka pesan oleh waitress setelah Danny berbicara lagi padanya.


“They are showing a live music too (Mereka menampilkan pertunjukkan musik juga)”


“Wow! A lady singer! Quite sexy from here! (Penyanyi wanita! Terlihat seksi dari sini)” Ucap Damian dengan mata berbinar saat melihat seorang wanita dengan gaun yang tercetak indah ditubuhnya naik ke atas panggung yang tidak terlalu besar dilantai bawah dekat bar.


Garret menoleh dengan antusias dari tempatnya. Sementara Putra dan Danny melirik saja.


“Seems that she is a flower of this place (Sepertinya dia adalah bunga di tempat ini)” Celetuk Garret.


Damian manggut – manggut.


“I think she is! (Kurasa iya!)”


Garret dan Damian yang berdiri disisi sebuah sanggahan di lantai tempat area duduk mereka itu memperhatikan suasana di Pub tersebut menjadi sedikit ramai dengan tepuk tangan dan suitan saat penyanyi wanita yang mereka lihat dari atas itu sudah berada di atas panggung dan berdiri dengan anggun di belakang sebuah mikrofon bertiang.


***


“Selamat malam ....”


‘Eh?’


***


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2