
Happy reading..
*********
“Mati”
‘Oh Tuhaannn’ Gadis yang berada didekat Damian membatin takut.
“Putra ....” Lirih Gadis. Ia ingin mendekati Putra, namun Damian menjegal dirinya agar jangan melakukan hal itu dan tetap saja di tempatnya.
Damian menyuruh Gadis untuk duduk. Dan meski sempat tertegun sejenak seraya menatap sebentar pada Damian yang kemudian menganggukkan kepalanya, Gadispun akhirnya duduk kembali di tempatnya duduk tadi bersama Putra.
“Mengatakan kekasihku sebagai wanita murahan adalah kesalahan fatal yang kau buat. Dan mati adalah harga yang harus kau bayar untuk itu”
‘Ya Tuhann.... Aku sungguh bahagia jika Putra sangat membela kehormatanku dihadapan orang lain, tapi tidak sampai sejauh itu juga’ Kesah Gadis dalam hatinya.
“Tapi rasanya aku lebih suka membiarkanmu hidup ...”
‘Syukurlah’ Kini Gadis mend*sah lega.
“Tapi tidak juga membiarkanmu melenggang bebas begitu saja dengan mulut kotormu ini!”
“.......”
“Gar”
“At your side ... (Aku disini)...”
Mata Gadis terus memperhatikan gerak-gerik Putra dimana Garret kini sudah berdiri didekat Mia dengan seringai yang tampak di sudut samping bibirnya.
Damian masih berdiri didekat Gadis, dengan memperhatikan juga kearah Putra dan Garret.
“What a proper punishment for a slt who has a dirty mouth? (Hukuman apa yang pantas untuk seorang placur dengan mulut yang kotor?)”
“Supposed to be that we sew her mouth (Seharusnya kita jahit mulutnya) ....”
Gluk ....
Gadis menelan salivanya.
‘Tapi tidak mungkin juga mereka menjahit mulut si Minnah itu kan?’
Kembali Gadis membatin.
“Heeemmm... but too bad we don’t bring Bruna’s sew tools (Heeemmm... sayangnya kita tidak membawa alat jahitnya Bruna)”
Terdengar Garret dan Putra yang sama-sama mendengus sinis.
“But I always bring our favourite ‘toy’ (Tapi aku selalu membawa ‘mainan’ kesukaan kita) ....”
“Mainan?....” Gumam Gadis.
“Kau paham apa yang saudaraku katakan tadi?....”
Putra melemparkan pertanyaan pada Mia alias Minnah.
“Dia bilang seharusnya mulutmu ini dijahit untuk hukumanmu karena menghina kekasihku...”
“Apa itu?....” Gadis menggumam lagi saat melihat Garret mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
“Tapi sayangnya kami tidak membawa alat jahit untuk menjahit mulut kotormu ini ....”
Terdengar Putra menyambung ucapannya.
“Tapi jangan khawatir, karena kami punya ‘alat cadangan’ ... Show her, Gar (Tunjukkan padanya, Gar)”
Garret pun menunjukkan sebuah alat yang memang selalunya ia bawa, yang sudah ia keluarkan dari dalam saku celananya.
“Damian .....”
“Yes?”
Damian menoleh pada Gadis yang memanggilnya dengan pelan.
“What is in Garret’s hand?... (Apa yang dipegang oleh Garret?)...” Tanya Gadis pada Damian sembari menunjuk pendek ke arah tangan Garret.
Damian tersenyum.
Gadis menatap pada Damian.
“Our favourite ‘toy’ ... the one side could retract nail from it’s place.... and the other side, could separate finger’s node”
“(‘Mainan’ kesukaan kami.. sisi yang satu dapat mencabut kuku dari tempatnya.. dan sisi satunya, dapat memisahkan ujung jari)”
Gluk!......
Gadis menelan lagi salivanya.
“Like this.. (Seperti ini) ..” Kemudian tangan Damian memperagakan seperti seseorang yang sedang memotong kuku.
“Ap-pa?..”
Gadis mendelik ngeri.
“Sepertinya kau akan menjadi wanita murahan yang cacat.... Tahan ya?, ini hanya sakit sedikit”
Suara Putra yang kembali terdengar, membuat Gadis dan Damian kembali menoleh ke arah Putra yang masih dalam posisinya yang mencengkram kuat wajah Mia, dengan Garret, Arthur dan Pelayan khusus ruangan mereka tersebut.
“Aku tidak menginginkan nyawamu...” Sambung Putra dengan tangannya yang masih mencengkram kuat wajah Mia. “Hanya ujung jari-jarimu saja sebagai souvenir......”
‘Oh Tu-haan..’
Gadis sudah sangat bergidik ngeri sampai ia menutup mulutnya.
“You may close your eyes if you think that you incapable to see it ... (Kamu bisa menutup matamu jika dirasa kamu tidak sanggup untuk melihatnya)..” Ucap Damian seraya tersenyum pada Gadis, yang Damian yakini pasti calon istri salah satu saudara lelakinya itu sedang menuju syok jika Putra benar-benar melakukan apa yang ia katakan pada si Mia itu.
“Is, is .... (Apa, apa) ...”
“Your future husband will do everything he said (Calon suamimu akan melakukan semua yang ia katakan)”
Gadis spontan menggelengkan kepalanya.
Terdengar Putra memanggil Arthur, dan Putra sudah melepaskan cengkraman tangannya dari wajah Mia.
“TO – Hmpphh .....”
Mia alias Minnah hendak berteriak dan mencoba beranjak dari tempatnya.
Tapi sayang tak bisa karena tangan Arthur sudah menggantikan Putra dan membekap mulut wanita itu dengan satu tangannya, dan satu tangannya lagi mencengkram satu sisi bahu Mia, dimana yang satu lagi dicengkram oleh Garret yang terus saja menyeringai senang.
Kemudian Putra berdiri miring dan tampak mengkode pelayan khusus di ruangan mereka untuk mendekat padanya. “Bantu orangku memeganginya dengan kuat” Perintah Putra pada Pelayan tersebut.
“Ta-tapi....” Pelayan khusus itu nampak ketakutan, selain terlihat linglung.
“Lakukan apa yang aku perintahkan, jika kau sayang nyawamu” Tukas Putra.
Pelayan khusus tersebut meneguk salivanya. Semakin ketat, karena Putra menyingkap sedikit jasnya, dan nampak sebuah senjata ada di selipan celananya.
Hingga mau tidak mau, si Pelayan khusus itu melakukan apa yang Putra perintahkan padanya.
Putra kembali menyeringai, saat si Pelayan tersebut melakukan apa yang ia perintahkan. “Pegang dengan sangat kuat”
Pelayan tersebut mengangguk takut-takut. “Iy-a, Tu-an ....”
Putra menepuk-nepuk Pelayan khusus tersebut.
“Bagus! .. akan kuberikan bonus untukmu nanti..”
Lalu Putra menoleh pada Garret.
“Do it Gar (Lakukan Gar)” Kata Putra.
__ADS_1
“Aye Capt!” Garret menyahut antusias dan tangannya sudah meraih satu tangan Mia yang geleng-geleng ketakutan dengan matanya yang sudah basah dan memerah.
“Putra!” Suara Gadis yang memekik terdengar dan Putra serta mereka yang berada didekatnya spontan menoleh ke arah Gadis. “Jangan lakukan itu ..” Pinta Gadis. “Aku mohon ....”
“Aku hanya memberinya pelajaran Gadis...” Sahut Putra, sembari tangannya mengkode pada Garret untuk jangan dulu melanjutkan hal yang akan pria itu lakukan.
“Jangan sekejam itu, aku mohon ..” Gadis mengiba. Putra menarik sudut bibirnya.
“Berapa kali dia mengucapkan kata murahan yang dia tujukan padamu?” Putra nampak tak menggubris permintaan Gadis.
Lalu Putra berpaling dari menatap Gadis.
“Dua jika aku tidak salah..” Kata Putra. “Benar kan Ar? ..”
“Seems ... (Sepertinya)....” Jawab Arthur.
Putra pun manggut-manggut. “Just two fingers Gar.. (Dua jari saja Gar) ..” Kata Putra kemudian.
“As your wish Capt ..... (Sesuai keinginanmu Kapt)..”
Garret kembali meraih tangan Mia dengan menyeringai.
“You’re not bad actually ... But too bad, you can’t keep your mouth clean...... This is what you get if you insulted one of our woman ... (Kau lumayan sebenarnya ... Tapi sayang kau tidak bisa menjaga mulutmu... Ini yang kau dapatkan jika berani menghina salah satu wanita kami) ...”
Garret berbicara pada Mia alias Minnah, yang sudah teramat sangat ketakutan, terlihat dari tangannya yang gemetaran saat Garret sudah memposisikan alat yang ia pegang.
“NO!” Gadis sudah melangkah dengan cepat menghampiri ke tempat Putra berada. “Please don’t do that! (Tolong jangan lakukan itu!)..”
Gadis menggeleng ke arah Garret, lalu menatap pada Putra.
“Jangan Putra..”
Kembali Gadis mengiba pada Putra.
“Do it (Lakukan saja), Gar”
“Sorry Gadis, his voice that I have to hear and his will that I supposed to do ....”
“(Maaf Gadis, ucapannya lah yang harus aku dengar dan keinginannya lah yang harus aku lakukan) ...”
Garret berucap pada Gadis, dan ia kembali untuk melanjutkan apa yang hendak ia lakukan berdasarkan keinginan Putra yang tak Garret tolak sama sekali.
Dan Garret sudah siap melakukan eksekusi kecilnya.
“JA-,”
KLEK!.
Disaat yang bersamaan kala Gadis hendak berteriak dimana Garret sudah akan menggerakkan tangannya agar alat yang ia sudah sematkan disalah satu jari Mia itu menjalankan fungsinya, pintu ruangan tempat Putra dan mereka yang bersamanya berada, tahu-tahu terbuka.
Semua orang yang berada di dalam ruangan pun spontan menoleh.
“You? (Kau?) ...”
Arthur berucap saat seorang pria berperawakan warga negara asing seperti halnya Putra, Damian, Garret dan Arthur terlihat saat pintu ruangan terbuka, bersama dua orang yang nampak seperti Bodyguard.
****
“Bos! ...” Dua Bodyguard yang datang bersama pria asing langsung berseru saat melihat pemandangan dalam ruangan tempat Putra dan mereka yang bersamanya berada.
“Do not let her go (Jangan lepaskan dia) ...”
Putra bersuara.
“Hmppppph!...”
“Arthur Delwyn...”
Pria asing yang baru saja muncul itu kemudian bersuara selepas mengangkat tangannya untuk mengkode pada dua Bodyguardnya itu untuk tidak bergerak lebih jauh, meski pria itu sempat menampakkan raut wajah terkejut saat
melihat pemandangan didepannya.
Dimana sebuah alat yang ia yakin adalah alat yang dapat memutuskan jari dengan mudah, sudah mengunci di salah satu jari wanita yang ia kenal.
“And you are? (Dan kau?)”
Putra melontarkan pertanyaan langsung pada pria tersebut.
“Frans Ruben ... Or should I call you with the other name? (Atau aku harus memanggilmu dengan nama lain?)...” Sambar Arthur sembari tersenyum tipis.
“Sayang tolong aku!...”
Mia alias Minnah yang sempat terlepas mulutnya dari bekapan tangan Arthur langsung saja berseru pada pria yang Arthur sebut namanya sebagai Frans Ruben itu.
Frans sempat menoleh ke arah Mia yang kini, meskipun mulutnya tidak dibekap, namun Arthur masih mencengkram kan tangannya di bahu Mia, dibantu dengan si Pelayan khusus yang tadi diperintahkan oleh Putra untuk ikut serta memegangi Mia.
“Bo-boss... Sa-saya...”
“Jika kau melepaskan tanganmu darinya sebelum aku menyuruhmu, atau bahkan kau melonggarkan cengkraman mu, maka bukan hanya dua jarinya saja yang akan aku minta saudaraku untuk memutuskan dari tempatnya”
Dan si Pelayan pun kian dibuat bingung dan takut disaat yang bersamaan, setelah mendengar kalimat Putra barusan. Dimana Frans menarik sudut bibirnya.
“Sayang tolong aku!...”
Mia alias Minnah kembali mengiba sembari menatap Frans yang nampak bergeming seraya ia meronta.
“Mereka gila!” Seru Mia. “Mereka ingin memutuskan jari-jariku!” Sambung Mia histeris. “Tolong aku sayangg!!!! ...”
Namun Mia sulit sekali melepaskan diri dari cengkraman Arthur dan si Pelayan khusus yang pada akhirnya tidak berani menjauhkan tangannya yang mencengkram keras bahu Mia, karena daripada dipecat, dia lebih takut untuk
kehilangan salah satu atau bahkan beberapa ujung jarinya mengingat, ia melihat jika para tamu dalam ruangan tersebut yang menjadi tanggung jawabnya untuk melayani, memiliki aura yang menyeramkan.
Si Pelayan khusus itu tetap mencengkram kuat bahu Mia, meskipun Mia sudah mencaci maki dan berteriak kencang dengan mata melotot padanya.
“If I might know, what is going on here? ... Because that woman is my trusted lady... (Jika aku boleh tahu, apa yang sedang terjadi? ... Karena wanita itu adalah wanita kepercayaanku)...”
Frans menatap pada Putra selepas melayangkan pandangannya pada Mia, sembari ia menampakkan senyumnya.
“She’s so impudent (Dia sangat lancang)”
“I see ... (Begitu ya)...” Frans mengangguk-angguk pelan.
“And I will give her a lesson for insulted my lady (Dan aku hendak memberikannya pelajaran karena menghina kekasihku)”
Putra berkata datar namun dengan wajah dingin dan serius, menatap tanpa takut pada Frans yang Putra tahu jika ia adalah pemilik Pub tempatnya dan empat orang yang datang dengannya berada saat ini.
“Ah, Delima ...”
“Bos Frans ...”
“Gadis” Putra segera menyangkal ucapan Frans yang menyebut nama komersilnya Gadis di Pub miliknya itu.
Bersamaan dengan Gadis yang juga menyapa pria yang dapat dikatakan adalah mantan Bosnya sekarang. Frans tersenyum pada Putra dan Gadis, seraya ia mengangguk setelah mendengar sangkalan Putra agar jangan menyebut Gadis dengan nama Delima.
Dimana Putra sedang menelisik Frans dengan tatapannya. Bertanya dalam hati, mengapa pria itu nampak bersikap sungkan padanya sementara mereka tidak saling mengenal sebelumnya.
Apa Arthur sudah bercerita pada pria bernama Frans itu tentang siapa Putra dan keluarganya?. – Kurang lebih itu yang ditanyakan Putra pada dirinya sendiri. Tapi rasa-rasanya, itu tidak cukup menjawab pertanyaan Putra pada
dirinya tentang mengapa ia merasa jika pria bernama Frans itu nampak sungkan padanya.
“Apa kabarmu De-, Gadis maksudku?”
“Aku baik Bos Frans”
“Sayang tolong aku!...”
Untuk yang kesekian kalinya, Mia alias Minnah berseru meminta pertolongan Frans yang tampak mengabaikannya.
“Diam!”
Frans berseru kencang sembari mendelik tajam pada Mia yang langsung terdiam.
__ADS_1
Namun...
“AAAARRRKKHHH!! ...”
Suara lolongan kesakitan seketika terdengar dari mulut Mia alias Minnah, berikut darah yang mengalir dari salah satu jarinya.
“It’s her who make that happened ... (Itu terjadi karena salahnya sendiri) ...” Garret langsung berbicara dan menjauhkan tangannya dari Mia, yang satu ujung jarinya telah terputus. Karena memang seperti itulah yang terjadi.
Mia alias Minnah mengendikkan bahunya saat Frans membentaknya, dan membuat jemari Garret yang sudah ter-posisi pada alat yang dipegangnya secara refleks menekan alat tersebut hingga menjalankan fungsinya disalah satu jemari Mia.
Putra hanya berekspresi datar. Sementara Gadis merasakan kakinya lemas dan gemetar melihat pemandangan dihadapannya kini. Putra sampai membantu Gadis agar tidak lunglai ke atas lantai.
Damian nampak santai saja, namun dia seperti halnya Garret sudah dalam mode waspada, jika Frans menjadi tidak senang atas insiden putusnya salah satu ujung jari Mia. Arthur juga nampak tenang.
Setidaknya mencoba membuat dirinya terlihat santai, tapi dalam hati ia bergidik juga. Meski sudah pernah melihat Garret memutuskan jemari seseorang didepan matanya, tetap saja Arthur rasanya belum terbiasa.
Sisanya, yah, apalagi jika tidak merasa ngeri dan mual melihat potongan ujung jari yang ada diatas lantai berkarpet tak jauh dari kaki Mia yang sudah berteriak histeris sembari menangis memegangi tangannya.
“Bos ...”
Bodyguard Frans berseru lagi.
“You heard what my brother said. It was accidentally (Kau dengar yang saudaraku katakan barusan. Itu tidak disengaja)”
Putra menatap pada Frans.
“Do you want to make a computation for that?”
“(Apa kau ingin membuat perhitungan untuk itu?)”
“Bos!” Bodyguard Frans berseru lagi.
“Beside, it’s supposed to be two fingers that I asked (Lagipula, seharusnya dua jari yang aku minta)”
Putra kembali menyambung ucapannya bersamaan dengan Frans yang mengangkat tangan, mengkode dua pengawal pribadinya.
Mengira jika Frans akan membuat perhitungannya dengannya, dan Putra juga sudah nampak waspada untuk melindungi Gadis terutama, tapi lagi-lagi Frans tersenyum padanya.
Kembali Putra sedikit merasa heran karenanya.
“Well, if she was really impudent for you, I don’t mind with that... Even if you want to take one more to pay her unrespectful to you, I still don’t mind ...”
“(Jika dia memang lancang menurutmu, aku tidak keberatan soal itu... Jika memang anda ingin mengambil satu lagi atas sikap tidak hormatnya padamu, aku tetap tidak keberatan)...”
Frans berkata dengan santainya.
“Cu-kup Putra... Ini sudah cukup...” Lirihan Gadis terdengar.
Putra menarik tipis sudut bibirnya, menoleh sebentar pada Gadis yang melayangkan tatapan mengiba padanya.
“Well...”
Putra setengah mendengus.
“Like my lovely darling said (Seperti yang kekasihku katakan)..”
“.......”
“I consider that’s enough”
“(Aku anggap itu cukup)”
Putra menyungging miring pada Frans.
“May I take her now? ... (Boleh saya membawanya sekarang?)...”
Putra membuka tangannya.
Mempersilahkan Frans jika ingin membawa Mia alias Minnah yang nampak sudah lemas dan pucat pasi.
“Go ahead (Silahkan saja)”
“Thank you... (Terima kasih)...”
Frans mengangguk dengan tetap menampakkan senyum dan sikap ramahnya pada Putra.
Lalu menyuruh salah satu Bodyguardnya untuk membawa Mia keluar dari ruangan tersebut.
Kemudian Frans menyuruh Pelayan yang bertugas di ruangan tersebut yang tadi ikut memegangi Mia alias Minnah dan nampak syok itu untuk membersihkan noda darah Mia yang ada di karpet yang membentang di lantai ruangan.
****
“Forgive me if all of you feel uncomfortable because of that stupid woman... (Maafkan saya jika kalian merasa kurang nyaman karena wanita bodoh itu)...”
Frans bersuara setelah Mia dibawa oleh salah satu anak buahnya, sembari kembali melayangkan pandangan ramah pada Putra dan mereka yang bersamanya.
“Well, since you are here, then let’s make it fast... (Karena kau sudah disini, maka mari membuat ini berjalan dengan cepat) ...” Tukas Putra. “Gadis wants to say goodbye with all of her friends here (Gadis ingin mengucapkan
selamat tinggal pada teman-temannya disini)”
Putra menyambung ucapannya.
“And for taking her out from here, I already paid for that and I believe that you already received that money ...”
“(Dan untuk membuatnya keluar dari sini, aku sudah membayar untuk itu dan aku rasa kau sudah menerima uang tersebut)...”
Putra menegaskan, namun dengan sikap yang santai. Dan Frans manggut-manggut tanpa menghilangkan senyumnya. “Ya, I already received that... But seems that I will return it to you ... (Iya, aku sudah menerimanya ... Tapi sepertinya aku akan mengembalikannya padamu)...”
Disaat dimana Putra, Damian dan Garret berikut Gadis dan Arthur mengernyitkan dahi mereka.
“If you change your mind for push her to stay in here and work for you, I’m afraid it won’t be happened (Jika kau merubah keputusanmu untuk membuatnya tetap tinggal dan bekerja padamu, hal itu tidak akan terjadi)”
Putra kini memandang serius pada Frans.
“Don’t make us spread another blood here”
“(Jangan membuat kami menumpahkan darah lain disini)”
Kemudian ancaman bernada datar keluar dari mulut Putra.
“I won’t change my mind to something that you’ve asked regarding Delima- Gadis, I mean. Even is quite hard for me losing my best Lady Singer here“
”(Saya tidak berniat untuk merubah keputusan saya tentang hal yang anda minta menyangkut Delima- Gadis, maksudku. Walaupun sangat berat bagiku untuk kehilangan Penyanyi Wanita terbaik disini)”
Frans berucap.
“I will return your money ... (Aku akan mengembalikan uangmu)...”
“What deal? (Kesepakatan apa?)” Putra langsung menyambar seraya bertanya atas terkaannya karena sikap Frans dirasa sedikit mencurigakan.
Kemudian Putra saling lempar tatap cepat dengan Damian dan Garret.
Lalu kembali menatap pada Frans. “Tell us (Katakan pada kami)” Tukas Putra. “What deal you want with us so you become so generous (Kesepakatan apa yang ingin kau buat dengan kami hingga kau begitu murah hati)”
“No deal (Tidak ada kesepakatan)” Jawab Frans dengan cepat. Putra memicingkan mata, sekaligus mengernyitkan dahinya. “I have no deal to offered (Aku tidak menawarkan kesepakatan)...” Sambung Frans. Dan membuat Putra kembali memindai raut wajah Frans dengan matanya.
“Hemm”
“Do not think negative about me ...”
“(Jangan berpikir negatif tentang saya)...”
Frans menatap Putra.
“I’m here to extend a message for you... (Saya disini untuk menyampaikan pesan pada anda)...”
“Extend a message?... (Menyampaikan pesan?)...” Putra mengernyit pada Frans.
“There is someone who wants to meet you (Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu)”
****
__ADS_1
To be continue..