LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 164


__ADS_3

Happy reading.....


*****************


“Lebih baik kamu membersihkan diri lalu beristirahat sejenak” Kata Putra kemudian.


“Biar aku bantu....”


Gadis yang melihat Putra sedang melonggarkan ikatan dasinya untuk Putra lepaskan itu kemudian menawarkan diri untuk membantu Putra melepaskan dasi dan jasnya.


“Kamu saja yang pergi mandi duluan Putra .... biar aku siapkan pakaian ganti untuk kamu ya?....” Ucap Gadis sembari memegang dasi dan jas Putra yang sudah ia bantu lepaskan.


“Tidak usah.... lebih baik kamu mempersiapkan yang lain saja” Cetus Putra.


“Apa?....”


“Dirimu ....”


***


“Ka-kamu mau a-pa??? ......” Gadis tergagap.


“Menurutmu?” Sahut Putra.


“A-da Anthony ......”


“Kamar mandi kita cukup kedap suara, asalkan kamu tidak sampai ‘teriak’”


Gadis semakin tidak tenang, selain jadi mulai hilang fokus saat Putra mulai melangkah seolah ingin memojokkannya sembari membuka satu per satu kancing kemejanya yang kini sudah terbuka semua. Dan otot-otot di perut putra, pun terlihat.


Namun kemeja itu tetap terpasang di tubuh Putra tanpa ia lepaskan, meski kancingnya sudah terbuka semua. Membuat kesan seksi nan menggoda seorang Putra nampak terlihat hingga Gadis tak sadar menjadi gemas dan menggigit kecil bibir bawahnya sendiri.


“Pu-Putra ..”


Gadis yang sempat terbuai dengan pemandangan otot proporsional di sekitar perut Putra itu kemudian tersadar saat merasakan punggungnya menabrak pelan benda keras dengan permukaan datar di belakangnya.


“Heem? ....”


Putra hanya menjawab dengan dehemannya, dimana dia sudah mengurung tubuh Gadis dengan tubuh yang sedikit merunduk dan kepala Putra yang sudah pria itu sedikit miringkan. Hendak menyentuh bibir Gadis dengan bibirnya.


“Putra, ada Anthony.....”


Sekali lagi Gadis mengingatkan, namun Putra seolah tak dengar. Tak mau dengar mungkin lebih tepatnya, dan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Gadis sampai sedikit lagi bibirnya sampai ke bibir Gadis.


“Papa...”


Mendengar suara Anthony barusan, buru-buru Putra menjauhkan wajahnya dari Gadis dan menegakkan kembali tubuhnya, seraya menoleh ke arah Anthony yang berada di ranjang.


Dan kesempatan itu Gadis manfaatkan untuk segera kabur dari Putra dengan langsung memasuki kamar mandi yang sudah berada tepat di belakangnya.


‘Haaahh selamat...’ Batin Gadis sambil bersandar di daun pintu saat ia sudah memasuki kamar mandi dan langsung mengunci pintunya saat ia sudah menutup dengan pelan pintu kamar mandi tersebut, saat ia masuk dengan tergesa untuk melarikan diri dari godaan Putra yang selalu membuat hatinya tak karuan.


**


“Papa...”


Putra segera menarik dirinya yang tadi sedang menggoda Gadis saat suara Anthony yang sedang terbaring di atas ranjang dalam kamarnya itu terdengar walau pelan.


“Yes, Anth?” Sahut Putra. “Anth?...” Panggil Putra. Namun tak ada sahutan dari Anthony yang matanya masih terpejam, namun posisi tidurnya sudah berubah.


Tak berapa lama Putra menarik sudut bibirnya. Lalu merapihkan selimut yang tadi menutupi tubuh Anthony, yang kini sudah sedikit tersingkap.


“.....”


Putra mendengus geli sendiri.


Anthony hanya sedikit mengigau ternyata.


Dan bocah tersebut terdengar sedikit meracau dengan kata-kata yang tak jelas sembari memeluk guling saat posisi tidurnya berubah.


**


“Tangkapanku jadi kabur” Kata Putra sembari tersenyum geli saat tak melihat Gadis di tempatnya tadi.


Putra beranjak dari ranjang setelah merapihkan kembali selimut Anthony dan membuka kemejanya, yang kancingnya sudah terbuka semua itu.


‘Dasar..’


Putra berucap dalam hatinya saat ia iseng mengecek pintu kamar mandi dimana Putra meyakini jika Gadis sedang berada di dalam sana, dan Putra kembali mengulum senyumnya.


Lalu Putra melangkahkan kakinya menuju walk-in-closet, untuk sekedar mengganti pakaian sembari menunggu Gadis selesai dari kegiatannya dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Sementara itu di dalam kamar mandi...


Gadis yang langsung kabur saat Putra mengurai jarak mereka yang sempat sangat dekat tadi karena calon suaminya yang kadang mesum itu hendak menciumnya itu, kini sedang menanggalkan satu per satu pakaian yang ia kenakan dari tubuhnya.


Bilik shower menjadi pilihan Gadis untuk membersihkan seluruh tubuhnya setelah beraktifitas hampir seharian.


Gadis rasanya enggan jika harus berendam karena ia merasa sangat mengantuk dan ingin segera beristirahat setelah mandi, sambil menunggu waktu makan malam tiba.


***


Syurr...

__ADS_1


Kucuran air shower langsung menerpa tubuh polos Gadis yang sedang berdiri di bawahnya.


“Dasar Papa Putra ..”


Gadis menggumam saat kucuran air shower sudah membasahi kepalanya, sembari ia mengulum senyumnya.


‘Dia selalu saja menggodaku macam tadi tanpa perduli situasi!’


Gadis kembali mengulum senyumnya sembari menuangkan shampoo ke atas telapak tangannya.


‘Nanti kalau kepergok oleh Anthony macam waktu itu lagi. Mau ditaruh dimana mukaku ini??!!...’


Gadis mengingat waktu Anthony tahu-tahu terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di atas pangkuan sang Papa, hingga membuat Gadis dan Putra menjadi salah tingkah.


Lagi-lagi Gadis mengulum senyumnya. Dan wajah Gadis terasa memanas, karena yang memori tentang semua keintimannya bersama Putra dari sejak awal, tahu-tahu berkelebat begitu saja di pikirannya.


‘Semoga Tuhan mengampuniku karena melakukan sudah dosa besar sebelum pernikahan ...’ Batin Gadis lagi. ‘Hahhh... kenapa lah Tuhan melepaskan setan setampan dan segagah Putra di muka bumi ini, dan mendekatkannya padaku...’


Gadis bermonolog dalam hatinya lagi sembari mulai mengaplikasikan sabun mandi ke tubuhnya.


Entah otaknya terus saja memikirkan momen keintimannya dengan Putra yang sudah beberapa kali terjadi.


“Dasar setan tam-... akh!”


Hingga kemudian Gadis memekik akibat teramat terkejut kala punggung ber-sabunnya terasa disentuh dari belakang.


**


Waktu sebelumnya ..


“Tangkapanku jadi kabur”


Putra beranjak dari ranjang setelah merapihkan kembali selimut Anthony dan membuka kemejanya, yang kancingnya sudah terbuka semua itu.


‘Dasar..’


Putra berucap dalam hatinya saat ia iseng mengecek pintu kamar mandi dimana Putra meyakini jika Gadis sedang berada di dalam sana, dan Putra kembali mengulum senyumnya.


Lalu Putra melangkahkan kakinya menuju walk-in-closet, untuk sekedar mengganti pakaian sembari menunggu Gadis selesai dari kegiatannya dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Gadis .. Gadis .. Dia selalu saja membuatku sulit menahan diri..”


Putra menggumam sembari mengulum senyum.


“Seandainya saja dia tidak mengunci pintu kamar mandi ..”


Putra tersenyum geli sendiri.


Sembari Putra mematut dirinya di cermin walk-in-closet saat mulai membuka ikat pinggang celananya.


Putra menanggalkan celana panjangnya yang kemudian ia lempar dalam keranjang pakaian kotor yang tersedia di dalam walk-in-closet setelah celana panjang bahannya sudah ia lepaskan, dan kemeja yang tadi sudah ia tanggalkan pun sudah lebih dulu Putra masukkan ke dalam keranjang pakaian kotor tersebut.


‘Eh?’ Hingga kemudian Putra menajamkan telinganya selepas ia memasukkan celana yang sudah ia masukkan ke keranjang pakaian kotor, saat telinga Putra menangkap sayup-sayup suara gemericik air dari suatu tempat.


Lalu Putra menolehkan kepalanya ke arah dimana suara gemericik air itu berasal.


‘Bagaimana aku melupakan connecting door walk-in-closet dan kamar mandi dalam kamar ini?..’ Dan seringai pun segera muncul di wajah Putra. ‘Aku yakin Gadis melupakan pintu ini’


Sungguh Putra bersemangat untuk sekali lagi menggoda Gadis saat ini.


‘Sudah kuduga, jika Gadis tidak mengingat pintu penyambung ini ..’ Batin Putra sembari membuka dengan sangat perlahan pintu yang menyambungkan walk-in-closet dan kamar mandi dalam kamar tersebut.


Kini Putra sudah berada di dalam kamar mandi dalam kamar yang sudah dia klaim sebagai kamarnya dan Gadis, hingga sampai mereka menikah nanti, sampai menua mungkin.


Yah, mudah-mudahan saja. Itu harapan Putra memang. Jatuh cinta dan menikah sekali saja seumur hidup dengan wanita yang ia cintai dan menua bersama hingga ajal memisahkan.


‘Aku yang malah tergoda jika seperti ini!’


**


Menyesal tak menyesal Putra masuk menyusul Gadis yang orangnya sedang mandi di bawah kucuran shower. Alih-alih ingin menggoda Gadis saja, nyatanya tubuh polos Gadis yang nampak sedang menghadap ke dinding kamar mandi membuat boxer yang Putra kenakan mulai mengembung. Mencoba untuk pergi, karena rasanya Putra tidak akan bisa menahan diri jika berlama-lama menatap tubuh Gadis yang polos itu, meskipun hanya bagian belakangnya saja.


Tapi, ah. Kaki Papa Putra berat sekali untuk melangkah pergi dan melewatkan momen yang membuat jantung Papa berdebar tak karuan, sekaligus rasa ngilu di ‘kantor pusat’ tubuh si Papa.


Menimbang dan menimbang, sembari mata Putra memindai tubuh bagian belakang Gadis berikut gerak-gerik Gadis dalam bilik shower.


‘Terlalu membuat tak tahan’


Hingga timbangan otak dan hati Putra berat untuk melangkah, dan selanjutnya yang ia lakukan adalah melepas boxernya dengan cepat.


Dimana Gadis yang sedang menyabuni dirinya sendiri, membuat gembungan boxer Papa Putra kian membesar, dan terasa menyakitkan jika tidak segera dibebaskan.


Papa Putra melangkah dengan perlahan untuk menghampiri Gadis yang masih berdiri menghadap dinding kamar mandi dan sedang menyabuni punggungnya itu.


‘Salahnya sendiri yang melupakan pintu penghubung antara kamar mandi dan walk in closet’


**


“Dasar setan tam-...akh!”


Suara pekikan Gadis sontak saja terdengar, berikut dirinya yang mengendik kencang akibat keterkejutan yang teramat sangat, kala ia merasakan sentuhan tangan di punggungnya.


“Butuh bantuan? ...”


Ah, setannya betul-betul datang, dan sudah merapatkan dirinya dengan punggung Gadis yang menempel pada dada bidang si setan tampan nan menggoda iman kewanitaan Gadis.

__ADS_1


Suara bariton dalam nan menyapa sangat dekat di telinga Gadis berikut nafasnya yang menyapu sampai kulit leher Gadis, membuat hati Gadis spontan berdebar tak karuan. “Put-ra... ka-mu...”


“Sedang merutuki-ku hem?...” Ucap Putra dengan nada suara yang terdengar sensual di telinga Gadis, terlebih Putra memberikan kecupan yang sama sensualnya di bahu telanjang Gadis.


“Ti-dak...” Kilah Gadis.


Gadis ingin membalikkan badannya, tapi Putra mengukungnya rapat, seolah takut jika dirinya berusaha melarikan diri.


“Aku mendengarmu menyebut-setan... hantu kan maksudnya?... hem?...” Kata Putra lagi dengan suaranya yang masih terdengar begitu sensual di telinga Gadis.


Belum lagi, kecupan-kecupan kecil nan sensual bibir Putra juga sudah menyentuh bagian tengkuk Gadis, dengan satu tangan Putra yang menyibakkan rambut basah Gadis yang tergerai dan Putra tahan agar tak menghalangi tengkuk dan punggung bagian atas Gadis yang sedang ia kecupi, dan satu tangan Putra mengelus-elus lengan Gadis dengan cara yang sensual juga.


“Apa kamu mengataiku dengan sebutan itu? ...”


“Ti-dak, bukan itu maksudku...”


“Lalu?...” Tanya Putra dengan suaranya yang mulai terdengar serak.


“A-ku... Enghh...” Ucapan Gadis terpotong dengan lenguhan nya sendiri, saat Putra sedikit menghisap bagian tengkuk Gadis, dengan tangan Putra yang tadinya mengelus lengan Gadis kini sudah berpindah ke perut Gadis dan bergerak-gerak, membuat pola abstrak dengan sensual.


Rasanya tubuh Gadis tersengat aliran listrik dengan cepat karena perbuatan Putra itu, yang kini sudah kembali menggerilyakan bibirnya, menjelajahi punggung serta bahu Gadis disisi yang satunya.


Semakin Gadis dibuat kebat-kebit oleh Putra, saat rambutnya sudah disampirkan Putra kesatu sisi, dan kedua tangan Gadis ditarik ke belakang oleh Putra, dan dikaitkan melingkar ke leher Putra. Dimana pada detik berikutnya, kedua tangan Putra sudah berada di pinggang polos Gadis dan mengelus-elus pelan kulit pinggang Gadis dengan bibir Putra yang tak diam dengan masih mengecupi bagian atas belakang tubuh Gadis.


‘Berhentilah menyiksaku Tuan Putraa...’


Gadis membatin lirih, karena sentuhan dan kecupan sensual Putra sudah membuat Gadis tak sanggup menahan gejolaknya.


Tubuh Putra dan Gadis sudah basah dengan air yang mengalir dari shower.


Putra mengulurkan satu tangannya kemudian, untuk mengecilkan volume air shower, namun tetap pada posisinya yang mengurung tubuh Gadis dari belakang.


Hingga saat tangan Putra yang tadi memutar untuk mengecilkan shower sudah kembali ke pinggang Gadis, kini menyentuh wajah Gadis hingga mendongak miring dan berhadapan dengan wajahnya.


Dan didetik berikutnya, bibir Putra sudah ******* bibir Gadis dengan lembut. Gadis membeku, tak berdaya untuk menolak sentuhan bibir Putra di bibirnya.


Gadis pun memejamkan matanya, tangannya yang mengalung di leher Putra, salah satunya sudah berada di tengkuk Putra. Kembali Gadis melenguh pelan saat bibir Putra sudah lepas dari bibirnya, lalu menurun ke rahang dan kini kembali ke lehernya.


Sama-sama terbuai dengan momen yang menghadirkan gejolak yang membuat kepala pening dan jantung berdebar kencang, Putra semakin merapatkan tubuh Gadis dengan tubuhnya.


Hingga punggung Gadis berbenturan dengan dadanya, dan meraih lagi bibir Gadis yang mulai Putra raup dengan rakus.


“Engghh...”


Lenguhan lolos lagi dari bibir Gadis saat ia merasakan ada sesuatu yang telah mengeras di bawah sana dan mendesak sedang mendesak nakal tak tahu aturan.


Suhu tubuh Putra kian memanas, sudah tak tahan untuk menuntaskan hasrat kelakiannya yang sudah menggebu saat ini. Gadis yang begitu seksi dibawah kucuran shower itu menambah gejolak kelakian Putra kian bertambah.


“Eeenghh... Putra...” Lirih Gadis dengan suaranya yang serak.


Pening rasanya kepala Gadis saat tangan Putra sudah bermain di dadanya.


Gadis mulai bergerak gelisah.


Tangan Putra yang bermain dengan lembut di dadanya, terutama di puncaknya yang sudah mengeras membuat Gadis semakin merasa tak karuan.


Dan ketika satu tangan Putra mulai merambat turun, Gadis semakin gelisah dan kepala Gadis semakin pening saja.


“Bo-leh, ya? ...”


Suara Putra yang dalam dan berat terdengar, seiring dorongan kecil yang Putra buat di pinggulnya.


Gadis sontak mendesis, saat Putra menggerakkan pinggulnya barusan.


Sensasi geli yang seolah ada ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya, langsung muncul saat ada yang menyapa di bawah sana.


Baru menyapa, belum ‘bertamu’ saja sudah seperti itu sensasinya. Hingga kemudian Gadis menganggukkan kepalanya dengan Pelan.


Lagi-lagi Gadis kalah.


Kalah dengan rayuan sensual si setan tampan bernama Putra Adjieran.


Pria itu selalu saja bisa membuatnya merasa gila seperti ini, jika Putra sudah melancarkan aksi sensualnya.


Putra sudah menyiapkan senjata tempurnya.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan di pintu terdengar, namun Putra abaikan.


Papa sedang bersiap dan berkonsentrasi untuk ‘bertamu’ di dalam Gadis.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan di pintu kamar mandi terdengar lagi.


“Putra ... ada yang mengetuk pintu...”


Putra mengabaikan ucapan Gadis dan kembali menyambar bibir Gadis sementara ia sudah sangat bersiap untuk ‘bertamu’.


“Papaa...”


**


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2