LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 171


__ADS_3

Happy reading..


*****************


Putra sudah menggulingkan badannya ke samping Gadis dengan nafas yang masih terengah, selepas pergulatan panas mereka yang baru saja selesai itu.


Sebentar saja, lalu Putra mengajak Gadis untuk berpindah tempat, karena posisi mereka saat sedang mereguk kenikmatan tidak pas di tempat sebagaimana mereka biasa tidur.


“Kenapa?, mau minta maaf setelah apa yang kamu lakukan tadi?”


Putra pun terkekeh kecil setelah mendengar ucapan Gadis barusan.


Lalu Putra membawa Gadis dalam dekapannya, dan Gadis mengulum senyuman di bibirnya.


Gadis tahu betul jika berhubungan intim di luar pernikahan tidak benar dari segi manapun, tapi Gadis tak mampu untuk menampik setiap kali Putra membawanya kesana.


Tak mau munafik, jika Gadis menyukai selain menikmati setiap kali Putra membawanya ke dalam gejolak gairah yang memabukkan dengan berbagi peluh dalam kenikmatan. Yang selalunya membuat Gadis seolah hilang akal.


“Ya memang seharusnya aku meminta maaf karena telah membuatmu menyerahkan diri padaku lagi, bukan?”


Putra berucap dan Gadis langsung mendengus geli.


“Membuatmu tak punya pilihan untuk menolakku, meski aku tahu, sebenarnya hati kecilmu menolak jika aku memberikanmu pilihan..”


Putra meraih dagu Gadis dan membuat wajah wanita itu menghadapnya.


“Bukan begitu, Nona Gadis?” Putra menampakkan senyumnya pada Gadis.


“Hmm, mungkin begitu..”


Gadis manggut-manggut dengan juga tersenyum kecil.


“Tapi dari sejak pertama kali melakukan itu denganmu .. entah kenapa aku tidak pernah menyesalinya ..”


Gadis kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Putra dan menempelkan kepalanya di dada polos Putra. Dada bidang yang bisa membuat Gadis merasa nyaman.


“Mungkin aku bodoh atau apa .. mau saja disentuh olehmu dan memberikan sesuatu yang paling berharga dalam diriku .. tapi aku tak menyesal sama sekali, karena yang aku tahu jika aku mencintaimu”


Dimana hati Putra tersentuh dan terasa menghangat saat mendengar ucapan Gadis barusan. “And I love you more (Dan aku lebih mencintaimu), Gadis ..” Balas Putra. Kemudian satu kecupan Putra daratkan di pucuk kepala Gadis.


“Aku tahu ..” Jawab Gadis pelan, dan tak lama ia sudah jatuh ke alam mimpi.


****


Beberapa hari kemudian


“Apa kita jadi menggelar pesta untuk pernikahan Addison dan Bruna, Putra?..”


“Jadi, tapi tidak langsung dihelat setelah pernikahan. Karena aku, Ad, Dami, Garret, berikut Danny dan Ar, ingin mengurus beberapa hal dulu yang berhubungan dengan bisnis dan sebagainya”


Gadis yang sedang menyiapkan pakaian Putra yang akan dipakai oleh calon suaminya di dalam walk-in-closet itu pun manggut-manggut saja.


“Kalau begitu, biar aku yang bantu mengurus pesta untuk Addison dan Bruna. Kamu tinggal katakan padaku bagaimana konsepnya, dan dimana pestanya mau diselenggarakan, berikut daftar undangan..”


“Tidak perlu..” Ucap Putra sembari ia berpakaian, dengan pakaian yang sudah dipilihkan Gadis untuk ia pakai.


“Kenapa?”


“Karena semua itu sudah ada yang mengurusnya” Kata Putra.


“Iya tapi aku juga ingin membantu mengurus .. Daripada tidak ada yang aku lakukan? ..”


“....”


“Aku kan sudah tidak bekerja, jadi waktuku banyak sekali .. Mengurus Anthony juga tidak banyak menyita waktuku..”


“Ya sudah pergunakan saja waktumu itu untuk melakukan hal-hal yang kamu sukai.. Hal-hal yang biasanya para wanita sangat sukai untuk mereka lakukan”


Putra merengkuh Gadis dari belakang setelah ia rapih berpakaian.


“Belanja dan mempercantik diri?” Sambung Putra.


“Memang aku tidak cantik, ya? ..”


Gadis pun merungut, dan Putra mendengus geli.


“Kata siapa?”


Putra berucap.


“Jika kamu tidak cantik, mana mungkin aku bisa tertarik dengan cepat padamu dan sampai tergila-gila seperti ini, hem?..”


Gantian Gadis yang mendengus geli.


“Memang manis sekali mulutmu!..” Ucap Gadis kemudian. Putra terkekeh kecil.


“Then give me a kiss (Kalau begitu berikan aku ciuman).. Bukankah kamu menyukai mulut manisku ini, Nona Gadis? .. Hem?..” Putra mengurai rengkuhannya dan membalikkan tubuh Gadis hingga berhadapan dengannya.


Gadis terkekeh geli, saat Putra dengan gaya konyolnya sudah memajukan bibirnya.


Cup!.


Gadis pun mengecup bibir Putra sekilas saja. Lalu Putra mengurai senyumannya.


Cup!.


Gantian Putra yang kemudian mengecup bibir Gadis.


“Lalu soal pesta untuk Addison dan Bruna bagaimana? ..”


“Bagaimana apanya?”


“Ya aku mau bantu mengurusnya” Cetus Gadis.


“Kan aku katakan tadi tidak perlu? ..” Tukas Putra.


“Tapi aku mau ikut andil mengurus pesta untuk Addison dan Bruna, Putra ..”


Gadis merajuk.

__ADS_1


“Ya?..”


“Aku dan Ad sudah menunjuk orang-orang yang akan mengurus pesta tersebut. Jadi kita semua nanti hanya tinggal menikmati pesta saja, tidak perlu lelah mengurusnya ..”


Putra menjelaskan.


“Lagipula, daftar undangan juga masih kami buat. Karena rencananya, saat pesta nanti aku akan sekaligus memperkenalkan keluarga kita ini pada kalangan tertentu”


“Huumm begitu..” Gadis pun manggut-manggut setelah mendengar penuturan Putra barusan.


“Ya sudah, ayo!” Putra meraih tangan Gadis dan menautkan jemarinya di jemari Gadis, hingga mereka bergandengan. “Mereka pasti sudah menunggu kita di ruang makan”


Lalu Putra membawa Gadis untuk berjalan ke ruang makan dan sarapan  bersama yang lainnya, karena setelahnya, Putra dan keluarganya itu termasuk juga Gadis, akan langsung berangkat ke Ibukota.


**


Ibukota ...


Putra dan keluarganya sudah sampai di Ibukota beberapa jam kemudian. Sedikit lebih lama, karena Anthony meminta mampir di berbagai tempat yang menarik hati si bocah tampan tersebut sepanjang jalan dari Villa sampai menuju Kediaman pribadi mereka yang berada di lbukota.


“Who wants to meet the house owner that we want to buy to do the dealing of the purchasing at Ar’s office? ( Siapa yang hendak menemui pemilik rumah yang akan kita beli untuk transaksi pembelian di kantornya Arthur? )..” Tanya Addison sembari menatap para saudara lelakinya.


“Better four of you, who go there ( Sebaiknya ya kalian ber empat, yang pergi kesana )” Bruna yang menyahut pertanyaan Addison pada Putra, Damian dan Garret. Dan keempat pria tersebut kemudian manggut-manggut.


“Alright then! ( Baiklah kalau begitu )” Ucap Damian.


Kemudian Damian, Putra, Addison dan Garret langsung pergi dari Kediaman mereka tersebut, tanpa beristirahat lagi.


**


Meninggalkan Bruna, Gadis dan Anthony yang tetap tinggal di Kediaman,


Putra, Addison, Damian dan Garret sudah berada di kantornya Arthur saat ini. Pria yang bernama Dalu pun sudah ada juga untuk mengurus soal transaksi jual-beli sebuah properti mewah tersebut.


Si pemilik rumah yang akan dibeli oleh Putra dan keluarganya juga sudah berada di kantor Arthur bersama dengan beberapa orang yang datang dengan si pemilik rumah tersebut.


Kesepakatan telah disetujui bersama, oleh pihak Putra dan keluarga dan si pemilik rumah.


Dan segala berkas perjanjian berikut berkas jual beli sudah di tanda tangani oleh kedua belah pihak.


Selebihnya pihak Putra yang akan mengurus sisanya. Namun secara teknis, kepemilikan dari sebuah properti mewah yang disukai Anthony sudah menjadi milik Putra dan keluarganya sekarang.


Hanya tinggal menunggu berkas-berkas resminya siap saja, dan pria bernama Dalu itu yang akan mengurusnya. Karena sejak ia pernah disandera Putra, pria bernama Dalu itu kini sudah dapat dikatakan mengabdi pada Putra dan keluarganya.


“Who is she by the way? ( Ngomong-ngomong siapa wanita itu? )”


Garret melontarkan pertanyaan, selepas si pemilik rumah yang sudah mereka beli, yang adalah seorang wanita itu telah hengkang dari kantor Arthur, berikut orang-orang yang menyertai wanita tersebut.


“An owner of a Big Taxi’s Company here.. ( Seorang pemilik Perusahaan Taksi Terbesar disini )..” Jawab Arthur.


“Heeemmm..”


Garret pun manggut-manggut.


“Don’t tell me you interesting to her ( Jangan katakan kau tertarik padanya ) ..”


Damian berceloteh dan Garret langsung terkekeh kecil.


“Cih! You guys ( Cih! Kalian ini )”


Garret terkekeh kecil lagi sambil geleng-geleng.


“I’m coming far away from Italy to here, not to be a mistress an old lady ( Aku jauh-jauh datang dari Italia kesini, bukan untuk menjadi simpanan wanita tua kaya ) ..”


Garret pun mengeluarkan cibiran kecil dari mulutnya, yang membuat mereka yang bersamanya terkekeh kemudian.


“Even my own personal money not as much as you guys, but I still have dignity, and of course high taste of women! ( Meskipun uang pribadiku tidak sebanyak kalian, tapi aku masih memiliki harga diri, dan tentunya selera yang tinggi atas wanita! )”


“Cih! High taste my as! ( Cih! Selera tinggi apanya! ) ..” Putra mengeluarkan umpatan. “You can’t hold yourself when you see women in a sexy clothes and be willing to pay just to ‘ride’ them!* ( Kau kan tidak bisa menahan diri saat melihat wanita dengan baju seksi dan bersedia membayar hanya untuk ‘menunggangi’ mereka! )”


Dan suara gelakan memenuhi ruangan Arthur seketika, selepas Putra mengeluarkan cibiran panjangnya untuk Garret.


“Let’s get back home then ( Ayo kita pulang kalau begitu )” Ucap Putra, saat ia merasa sudah tak ada lagi hal yang perlu dibahas dan dilakukan olehnya di kantor Arthur.


Putra sudah berdiri dari duduknya, diikuti oleh yang lainnya yang juga bangkit dari tempat duduk mereka.


Lalu memasuki mobil untuk kembali ke Kediaman mereka yang berada di Ibukota tersebut.


**


Putra, Addison, Damian dan Garret menaiki mobil yang sama saat pergi ke kantor Arthur. Sementara Danny tetap stay di Bandung untuk mengurus Restoran milik Putra dan keluarganya itu, selain untuk standby menunggu informasi dari saluran telepon rahasia milik Putra dan para saudara lelakinya itu.


“When your godfather will comeback here? ( Kapan ayah baptismu akan kembali kesini? ) ..”


Addison yang duduk di samping Putra pada kursi penumpang belakang itu bertanya. Sementara Damian duduk di kursi penumpang depan, dan Garret yang mengemudikan mobil.


“Not really know.. But he will come before the wedding.. That’s what he said. And he will let us know right when he already here ( Tidak terlalu tahu tepatnya .. Tetapi dia akan datang sebelum pernikahan. Itu yang dia katakan. Dan dia akan segera memberitahukan kita tepat saat dia sudah berada disini )”


Addison pun manggut-manggut setelah mendengar penuturan Putra barusan.


“Sure he will come? .. ( Yakin dia akan datang? )..”


“He will come ( Dia pasti datang )”


Putra menjawab dengan yakin pertanyaan Damian.


Damian pun manggut-manggut.


“I specially asked him to become a father for the brides ( Aku sudah memintanya secara khusus untuk menjadi seorang ayah untuk para pengantin wanita )....”


Putra menarik sudut bibirnya.


“So my godfather will surely come ( Jadi ayah baptisku itu pasti datang ) ...”


**


Esok hari ..


Suara obrolan terdengar dari ruang santai Kediaman Putra dan keluarganya yang berada di Ibukota.

__ADS_1


Mereka yang tinggal dalam Kediaman tersebut sedang membahas rumah yang baru saja mereka beli berikut bahasan rencana pertimbangan untuk merenovasi rumah tersebut atau tidak.


“When can we move to the new house Papa? ( Kapan kita bisa pindah ke rumah baru Papa? ) ...” Tanya Anthony ditengah obrolan para orang tua angkatnya.


Bocah tampan tersebut sedang duduk bersama Putra sembari melihat-lihat sebuah majalah.


“Haven’t sure yet Anth ... ( Belum dapat memastikan Anth )...” Jawab Putra.


“Why Papa? ( Kenapa begitu Papa? )” Tanya Anthony lagi. “Didn’t we already bought that house? You said like that to me ( Bukankah kita sudah membeli rumah itu? Papa kan yang bilang begitu padaku )...”


Putra menarik sudut bibirnya ke atas dan tangannya mengacak pelan rambut Anthony.


Para orang tua selain Putra juga ikut tersenyum memperhatikan Anthony yang sedang berinteraksi dengan Putra itu.


“Yes, we are already bought that house ( Iya, kita memang sudah membeli rumah itu ) ...” Terang Putra. “But, we can’t move just like that ( Tetapi, kita tidak bisa pindah begitu saja ) ...”


“Why? ( Kenapa? ) ...”


“We need to check everything ( Kita perlu mengecek segalanya ) ...”


“Such as? ( Contohnya? )”


“The whole condition of the house ( Kondisi rumah itu secara keseluruhan )”


“Huumm” Anthony manggut-manggut, lalu bocah tampan tersebut terdiam sejenak.


“Hopefully we can move there as soon as possible after the wedding ( Mudah-mudahan saja kita sudah bisa pindah kesana secepatnya setelah pernikahan ) ...”


“Really?.. ( Benarkah? )...”


Putra menjawab pertanyaan Anthony dengan anggukan.


“Me and Dad Garret will go to see the house and check everything there tomorrow”


“( Aku dan Dad Garret akan pergi untuk melihat rumah itu dan memeriksa semua yang ada disana besok )”


Addison berkata.


“I know! ( Aku tahu! )”


Tiba-tiba Anthony berseru.


Bocah tampan tersebut seperti punya ide akan sesuatu.


Dan para orang tua angkat Anthony sontak langsung memperhatikan bocah tampan itu.


“Know what? ( Tahu apa? )” Bahkan juga bertanya dengan serempak pada Anthony.


“You all said that the house need to be check right? ( Kalian semua bilang kalau rumah itu harus diperiksa bukan? )”


“Yes we are ( Iya ) ..” Putra yang menjawab. “Padre and Dad Garret will go there tomorrow, just like what your Padre said ( Padre dan Dad Garret akan pergi kesana besok, seperti yang Padremu katakan tadi )...”


“Just to check right? ( Hanya untuk mengecek bukan? )” Kata Anthony seraya bertanya. Dan Putra yang sedang ditatap Anthony itu pun langsung mengangguk. “If everything good, then what to do is just clean the house? ( Jika semuanya baik, lalu hanya tinggal membersihkan rumah itu? ) ...”


“Yes kind of... ( Ya seperti itu kira-kira ) ..”


“Then why have to wait tomorrow? ( Lalu mengapa harus menunggu esok hari? )....”


“Be - ... “


“Let’s go there now! ( Ayo kita pergi sekarang! )”


Anthony langsung menyambar sebelum Putra menyelesaikan kalimatnya.


Lalu meraih satu tangan Putra dan tangan Damian yang duduk paling dekat dengannya.


“Go where? ( Pergi kemana? )”


“To our new house of course! ( Ke rumah baru kita tentunya! )”


“But what for?.... ( Tapi untuk apa? ) ..”


Damian langsung bertanya pada bocah yang nampak antusias itu.


“We go there to check everything just like you all said, if are all good, then we can call Pak Abdul, Suheil, Ibu Marsih, Pak Tri and Ibu Minah to come here and clean up the house, and.... bla.... bla.... bla....”


“( Kita pergi kesana untuk mengecek segala hal seperti yang kalian katakan tadi, jika semuanya bagus, lalu kita bisa menghubungi Pak Abdul, Suheil, Ibu Marsih, Pak Tri dan Ibu Minah untuk datang kesini dan membersihkan rumah itu, dan... bla... bla... bla... )”


‘Haish... we supposed not to tell Anth that we already bought that house ( seharusnya kami tidak mengatakan dulu pada Anth jika kami sudah membeli rumah itu )’ Batin para ayah angkat Anthony berkata.


“Let’s go! ( Ayo kita pergi! )”


Anthony nampak menggebu-gebu.


“But Anth ... ( Tapi Anth ) ...” Putra bersuara.


“Do not be a procrastinator, remember? ( Jangan menjadi orang yang suka menunda-nunda pekerjaan, ingat? )..”


Anthony menatap satu-satu para ayah angkatnya itu.


“You guys taught me, so don’t you deny your own words, hem? ( Kalian kan yang mengajariku, jadi jangan ingkar pada kata-kata kalian sendiri, loh? )”


“Haish....”


Dimana para ayah angkat Anthony yang merasa itu, mendesis dengan kompak.


‘We supposed not let Anth become too smart! ( Seharusnya kami tidak membiarkan Anth menjadi terlalu pintar! )’


Batin para ayah angkat, yang rencananya hari ini hanya ingin berleha-leha saja dulu dalam Kediaman.


‘Why Anth has to have a good memory of every particular things? ( Kenapalah Anth harus memiliki ingatan yang bagus untuk setiap hal? )’


Para ayah angkat membatin lagi. Entah harus menyesal atau bersyukur dengan otak cerdas yang dimiliki Anthony, yang kadang malah membuat mereka tak berkutik untuk menolak keinginan Anthony.


“Wah, wah, sepertinya Anthony sudah memojokkan kalian ya?” Gadis berbisik pada Putra dengan terkekeh kecil. Dan Putra langsung manggut-manggut.


‘Punya anak pintar itu bagus, tapi jika terlalu pintar juga tidak bagus sepertinya ..’ Papa pun Putra membatin pasrah.


**

__ADS_1


To be continue....


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian...


__ADS_2