
Happy reading..
*********
“Putra.....”
“Hem?”
“Aku ikut Govi ya?”
“Tidak boleh”
“Putra..... Aku kesini kan mau berpamitan dengan teman-temanku yang ada disini”
“Tapi Putra.....”
“Excuse me (Permisi) .....”
Terdengar suara dari seorang wanita berikut sosoknya yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan tempat Putra dan mereka yang bersamanya berada.
Dan mereka semua yang berada di dalam ruangan tersebut sontak menoleh ke sumber suara.
‘Eh? .....’ Batin Gadis yang merasa sedikit familiar dengan wajah wanita tersebut.
“Forgive me for disturbing (Maaf jika saya mengganggu)” Ucap wanita yang baru saja muncul itu.
Arthur yang mendapat kode dari Putra, segera saja menghampiri wanita tersebut sebelum ia masuk lebih dalam ke tempat Putra dan rombongannya berada.
Wanita dengan paras cantik dan berpakaian sangat seksi itu kemudian diajak Arthur untuk berbicara di depan ruangan.
***
“Kamu mengenalnya?”
Putra yang memperhatikan gelagat Gadis setelah melihat wanita yang tahu-tahu muncul itu sontak bertanya pada Gadis.
“Sepertinya sih aku tidak asing dengan wajahnya .....”
Gadis menjawab Putra seraya memperhatikan wanita yang sedang berbicara dengan Arthur, sembari juga ia mengingat-ingat.
“Itu Mia..”
Gadis sedikit mengernyit, saat Govi berbisik padanya.
“Mia?” Ucap Gadis seraya bertanya pada Govi, sembari juga ia berpikir.
“Itu loh, gantinya Batari...” Bisik Govi lagi. “Asisten pribadi sekaligus cem-cem an nya Bos Frans....”
“Oh, itu dia orangnya yang gantikan Mba Batari?.....”
Govi pun mengangguk.
"Dia itu salah satu LC yang pernah dibawa Mba Batari kan?"
"Iyes, LC baru dan dia itu yang bikin Mba Batari diusir dari sini sama Bos Frans. Uler!"
"Pantes aku tuh kayak ga asing sama wajahnya" Tukas Gadis. “Kalau ada dia berarti Bos Frans ada?....”
“Seharusnya ada, tapi ga ada info kalau dia mau datang ... mungkin Big Boss ga dateng dan itu si Mia yang mewakilkan ...”
Dan Gadis manggut-manggut.
‘Oh jangan-jangan mau bicarakan soal ganti rugi aku karena keluar sebelum aku selesai kontrak disini? .....’
Batin Gadis menerka.
“Seinget aku nama dia bukan Mia deh?” Ucap Gadis yang masih kasak-kusuk dengan Govi. "Minnah ya bukannya?"
“Ya ganti nama dong”
Govi segera menyambar.
“Cem-cem an Bos, harus pakai nama yang kekota-kotaan... Kayak ga ngerti aja .....”
Kemudian dua wanita yang sedang kasak-kusuk itu pun cekikikan bersama.
Putra yang memperhatikan Gadis dan temannya yang di mata Putra seperti sedang bergosip itu hanya mendengus geli saja.
‘Women (Dasar wanita)...’ Batin Putra.
“Sstt ..” Govi memberi kode pada Gadis, saat Arthur terlihat sudah selesai bicara dengan wanita yang sedang ia dan Gadis kasak-kusuk kan itu.
“Sir.... (Tuan) ....”
Arthur mendekat pada Putra, Damian dan Garret.
Dan nampak Arthur sedikit merundukkan tubuhnya dan berbicara dekat dengan ketiga orang tersebut.
*****
“Kamu, Delima kan? ....” Wanita yang bernama Mia itu kemudian masuk saja ke dalam ruangan dan mendekati Gadis yang tengah berdiri bersama Govi.
Gadis pun mengangguk.
“I ..”
“Gadis .....”
Suara Putra yang memanggil Gadis itu segera terdengar sebelum Gadis utuh menjawab wanita bernama Mia tersebut.
Gadis pun segera menoleh kepada Putra. Govi dan wanita bernama Mia itu juga ikutan menoleh ke arah Putra.
“Kemari”
Putra menyuruh Gadis untuk mendekat padanya dengan ucapan sekaligus gerakan tangannya.
“Iya...”
"Heran perempuan begitu kok jadi Primadona disini? Cantikan aku kemana-mana!"
Wanita yang menyapa Gadis dan kini berdiri didekat Govi itu menggumam namun lebih terdengar seperti menggerutu dengan pelan.
"Itu Tuan yang membelinya pasti akan berubah pikiran setelah melihatku lebih dekat!..."
Wanita yang baru muncul itu menggumam lagi sembari menyungging miring memindai Gadis.
Meski ia bergumam pelan, namun Gadis dan Govi masih bisa mendengarnya.
Gadis hanya menoleh sebentar pada wanita tersebut, dan Govi memutar bola matanya malas.
Jengah pada wanita tersebut yang sok dalam segala hal kalau menurut teman dekatnya Gadis di Pub yang bernama JP itu.
“Well, please excuse me then ... (Kalau begitu, saya permisi dulu) ...”
Govi hendak undur diri.
“Tunggu Vi!” Tahan Gadis.
__ADS_1
Lalu Gadis menoleh kepada Putra.
“Putra, aku boleh ikut Govi?.....”
“Nanti saja”
“Ya sudah”
Gadis pun patuh pada Putra.
"Vi, kamu kembali kerja aja dulu, ya?..."
Govi langsung mengiyakan ucapan Gadis, lalu pamit undur diri.
Sementara Gadis langsung duduk disisi Putra, yang kemudian direngkuh posesif oleh Putra.
***
Putra, Damian, Garret, berikut Gadis dan Arthur kini menatap pada wanita yang memiliki nama panggilan dengan Mia, yang berdiri di seberang meja yang ada di depan sofa setengah lingkaran, tempat Putra dan tiga lainnya duduk, sementara Arthur berdiri disisi kiri Putra.
“English or Bahasa? (Bahasa Inggris atau Bahasa-Indonesia?)”
Putra berkata dengan pandangan datar dan dingin pada Mia.
“Are you deaf?! (Apa kau tuli?!)”
Putra kembali bertanya, namun kali ini sedikit sarkastik, karena wanita bernama Minnah alias Mia itu tidak menjawab pertanyaannya.
Selain itu suara Putra juga sedikit meninggi.
“Ah! Ya?” Sahut Mia itu yang nampak terhenyak.
Damian dan Garret kemudian menyungging miring.
Sementara Putra masih dengan raut wajahnya yang nampak datar dan dingin, dengan satu tangannya yang melingkar di pinggang Gadis, yang duduk rapat disisinya.
“Aku tanya, kau mau aku berbicara dengan bahasa Inggris atau Indonesia?” Ucap Putra seraya kembali bertanya pada wanita dengan nama panggilan Mia tersebut.
“Aku sih mengerti bahasa Inggris, ta- .....”
“Kalau begitu aku akan berbicara menggunakan Bahasa”
Putra yang seakan enggan mendengar Mia itu berbicara lebih panjang, langsung saja menyambar.
“Ah iya, baiklah ..” Ucap Mia yang menunjukkan senyumnya kemudian pada Putra. Ia juga melempar senyuman pada Damian dan Garret.
“Aku sudah menyuruh orang kepercayaanku ini...” Putra menunjuk Arthur. “Untuk berbicara dengan Bos-mu perihal wanitaku ini. Dan ....”
“Tidakkah anda ingin mempersilahkan saya untuk duduk?....”
Wanita yang bernama panggilan Mia itu menyambar bicara sebelum Putra menyelesaikan kalimatnya.
“Apa kau pemilik tempat ini?” Cecar Putra.
“Aku adalah orang kepercayaan Bos Frans Tuan,”
Mia menyahut dengan penuh percaya diri, dimana Putra menyungging miring.
“Disse confidente (Orang kepercayaan katanya)...”
Putra berbicara dengan bahasa Italia dan menoleh pada Damian dan Garret yang kemudian ikut menyungging miring.
Dan dua saudara lelaki Putra itu kemudian memindai wanita yang dipanggil Mia itu dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan mata mereka.
“Più come una cagna capo per me.... (Lebih seperti simpanan bagiku) ....”
Damian membalas ucapan Putra juga dengan menggunakan bahasa Italia.
"Alias prostituta (Alias p*lacur)"
Garret dan Putra berikut Damian kemudian terkekeh kecil, lebih ke kekehan mengejek.
Sementara Gadis dan Arthur yang tidak paham dengan apa yang Putra, Damian dan Garret bicarakan terdiam saja sembari memperhatikan ketiga pria tampan tersebut.
Termasuk juga dengan wanita yang bernama panggilan Mia itu.
Lalu Putra kembali ke mode awal wajahnya yang datar dan dingin pada Mia.
Wanita yang dipanggil Mia itu masih menunjukkan sikap elegan yang nampak dibuat-buat dengan senyuman yang ia pasang dengan menggoda pada tiga pria yang sedang kasak-kusuk yang selain tidak dapat ia dengar jelas, dan sepertinya menggunakan bahasa asing lain selain bahasa Inggris.
“Jadi, mengenai ....”
“Apa aku menyuruhmu untuk duduk?”
Putra segera saja bersuara pada Mia yang dengan percaya dirinya sudah berjalan ke arah sofa setengah lingkaran dimana Putra, Gadis, Damian dan Garret sedang duduki, dan hendak mengambil tempat disamping Garret.
“Aku tidak mempersilahkanmu untuk duduk, jadi kau jangan lancang!”
“Aku sudah bilang kan, kalau aku ini orang kepercayaan Tuan Frans, jadi ...”
“Berdiri dari tempatmu dan enyahlah dari hadapanku!”
“Hah????!!!...” Mia nampak terkejut mendengar suara Putra yang terdengar mengusirnya.
“Aku katakan sekali lagi, berdiri dari tempatmu dan enyahlah dari hadapanku!”
“Anda mengusirku???....”
“Ya!”
Putra menyahut tajam pada wanita yang dipanggil Mia itu.
“Anda tidak bisa mengusir saya begitu saja, Tuan... Saya memiliki hak penuh untuk berada di tempat manapun dalam Pub ini”
Mia nampak tidak terima.
“Lagipula keberadaan saya disini atas dasar perintah dari Tuan Frans untuk mengurus wanita itu!”
Mia menunjuk pada Gadis.
“Anda pikir jika bukan karena Tuan Frans yang meminta, memangnya aku mau mengurusi wanita murahan macam dia?...”
Putra langsung menatap tajam pada Mia.
“Apa katamu?”
Putra bangkit dari duduknya, dan menatap tajam tanpa putus pada wanita yang dipanggil Mia itu.
Putra mengayunkan langkahnya ke arah Mia.
“Putra ...”
Gadis juga ikut berdiri dan hendak menahan Putra.
Pasalnya Gadis menyadari perubahan wajah Putra yang kini menampakkan kemarahan.
Gadis paham apa penyebab perubahan wajah Putra.
__ADS_1
Karena wanita yang bernama panggilan Mia itu telah menghinanya barusan.
Dan Putra selalu bilang, dia tidak akan tinggal diam jika ada orang yang merendahkan atau menghina Gadis-nya.
“Tetap di tempatmu” Ucap Putra yang dimaksudkan pada Gadis yang sudah mulai nampak gugup itu tanpa menoleh pada Gadis.
“Ta- ...”
“Aku katakan tetap di tempatmu Gadis”
Dan Gadispun seolah membeku, jika Putra sudah bersikap seperti sekarang ini.
Damian dan Garret yang juga menyadari ada gurat tidak senang di wajah Putra langsung saja bertanya pada Gadis tentang alasan mengapa Putra seperti itu, dan apa wanita yang sedang dihampiri Putra itu telah katakan, hingga
memicu kegeraman Putra.
“What a damned mouth she has.... (Sungguh sial sekali mulutnya) ....”
Damian yang paham itu pun berucap sinis sembari memandang ke arah Putra yang sudah berdiri menjulang di hadapan wanita dengan nama panggilan Mia itu.
“Wanita murahan katamu? ...”
Putra merundukkan tubuhnya sembari tetap menatap tajam pada Mia.
“Y-ya.... dia kan hanya penyanyi rendahan yang sama seperti lainnya, yang bisa ‘dibawa’ oleh siapa saja....”
“Berani sekali kau ...” Raut wajah Putra berikut suara dan ucapannya nampak menusuk pada wanita yang bernama panggilan Mia tersebut, yang sudah nampak gugup dan takut sembari menatap pada Putra.
“Y-ya memang begitu kenyataannya ... Dia itu sama saja seperti para wanita yang bekerja disini. Anda saja yang menilainya terlalu tinggi ... Karena dia sok jual mahal ...”
“Gadis-ku tidak seperti para wanita yang bekerja disini. Dan dia, jauh lebih ‘tinggi’ daripada kau!. Seharusnya kau berkaca pada dirimu sendiri sebelum kau menghina Gadis-ku itu. Kaulah yang pantas disebut sebagai wanita
murahan karena aku yakin kau merangkak ke atas ranjang Bos-mu itu hingga kau berada di tempatmu sekarang!”
“Jangan sembarangan anda!. Wanita murahan yang hendak anda beli itu ...”
GREP!
“Putra!”
Pekikan Gadis terdengar seiring tangan Putra yang mencengkram kuat wajah wanita yang bernama panggilan Mia itu hingga pipi wanita itu nampak maju, hampir menyatu dengan bibirnya.
Dan Arthur langsung bergegas ke arah pintu ruangan dan segera menutupnya dengan rapat setelah memerintahkan pada empat anak buah mereka untuk berjaga-jaga.
Seorang pelayan khusus dalam ruangan yang ikut terkejut itu membeku di tempatnya setelah mendapat peringatan tajam dari Arthur dengan tatapannya.
Beruntung wanita dengan nama panggilan Mia itu datang sendirian ke ruangan yang disewa Putra dan lainnya itu.
Namun Arthur tetap harus waspada, jika ada kemungkinan hal buruk akan dilakukan Putra pada wanita yang sedang dicengkram kuat wajahnya oleh Putra itu.
***
Gadis hendak melangkah mendekati Putra, karena Gadis takut Putra melakukan hal yang lebih kasar pada Mia, hingga nantinya akan memicu keributan dalam Pub, dimana Gadis takut juga karena ia tahu jika pemilik Pub tempatnya pernah bekerja sebagai seorang Penyanyi, bukanlah orang yang sembarangan.
“Do not interrupt him while he like this (Jangan menginterupsinya jika dia sedang seperti ini)”
Namun Damian menahan Gadis.
“B-but .... (Ta-tapi) .....”
Gadis tergugu menatap Damian yang kemudian menggeleng.
“Aku rasa Bos-mu tidak akan bersedih jika ia kehilangan salah satu p*lacurnya”
Kembali pada Putra yang masih mencengkram kuat wajah wanita dengan nama panggilan Mia itu.
“Kau tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang berani menghina keluargaku? Dan wanita yang kau bilang murahan itu adalah kekasihku yang mana membuatnya menjadi salah satu bagian dari keluargaku ...”
Seringai kemudian muncul di wajah Putra, dengan tangannya yang masih mencengkram wanita yang bernama panggilan Mia itu.
“Mati”
Dimana Mia yang sulit berkata-kata karena mulutnya dirapatkan dengan paksa dan sangat kuat itu kemudian menggeleng cepat dengan matanya yang sudah berkaca-kaca sembari menatap Putra.
Gadis dan Arthur meneguk keras saliva mereka.
“Putra ....” Namun Gadis hanya bisa melirih dari tempatnya, karena Damian masih menjegal dirinya.
“Mengatakan kekasihku sebagai wanita murahan adalah kesalahan fatal yang kau buat. Dan mati adalah harga yang harus kau bayar untuk itu”
Bola mata Putra nampak bergerak memindai wajah wanita bernama panggilan Mia itu dengan masih menatap tajam ke netra wanita yang sudah nampak semakin ketakutan itu.
“Tapi rasanya aku lebih suka membiarkanmu hidup ...” Putra mendengus sinis. “Tapi tidak juga membiarkanmu melenggang bebas begitu saja dengan mulut kotormu ini!”
“.......”
“Gar” Putra memanggil Garret.
“At your side ... (Aku disini)...”
Garret sudah berdiri disisi berdekatan dengan wanita yang bernama panggilan Mia itu. Pria itu juga nampak sedikit menyeringai.
“What a proper punishment for a slt who has a dirty mouth? (Hukuman apa yang pantas untuk seorang placur dengan mulut yang kotor?)”
“Supposed to be that we sew her mouth (Seharusnya kita jahit mulutnya) ....”
“Heeemmm... but too bad we don’t bring Bruna’s sew tools (Heeemmm... sayangnya kita tidak membawa alat jahitnya Bruna)”
Garret dan Putra sama-sama mendengus sinis. Damian yang mendengar ucapan Putra juga sama mendengus sinis sembari memandang ke arah Putra dan Garret berada sekarang.
“But I always bring our favourite ‘toy’ (Tapi aku selalu membawa ‘mainan’ kesukaan kita) ....”
Putra kembali menunjukkan seringainya pada wanita yang masih ia cengkram wajahnya, meski wanita itu sudah nampak ketakutan dan kesakitan.
“Kau paham apa yang saudaraku katakan tadi?....”
Putra melemparkan pertanyaan pada Mia.
“Dia bilang seharusnya mulutmu ini dijahit untuk hukumanmu karena menghina kekasihku...”
Mia itu nampak menggeleng pelan dengan air matanya yang kemudian turun juga. Selain kedua pasang netra yang nampak sedang memohon pada Putra, serta suara yang tidak jelas bunyinya.
“Tapi sayangnya kami tidak membawa alat jahit untuk menjahit mulut kotormu ini ....”
Putra menyambung ucapannya.
“Tapi jangan khawatir, karena kami punya ‘alat cadangan’ ... Show her, Gar (Tunjukkan padanya, Gar)”
Garret pun menunjukkan sebuah alat yang memang selalunya ia bawa, yang sudah ia keluarkan dari dalam saku celananya.
“Sepertinya kau akan menjadi wanita murahan yang cacat...."
Putra terkekeh dengan menyeringai iblis pada si Mia itu.
"Tahan ya?, ini hanya sakit sedikit” Ucap Putra sembari masih menampakkan seringainya, yang membuat Mia bergidik ngeri. “Aku tidak menginginkan nyawamu...” Sambung Putra dengan tangannya yang masih mencengkram kuat wajah Mia. “Hanya ujung jari-jarimu saja sebagai souvenir......”
***
__ADS_1
To be continue ...
Terima kasih masih setia disini.