
Happy reading ....
********************
“Kita belum pernah mencoba ‘itu’ di dalam mobil, bukan?..” bisik Putra seraya menggoda, pada Gadis yang berada di dalam mobil bersama dirinya dan satu anak buah mereka yang menjadi supir, dalam perjalanan mereka kembali ke Villa setelah melihat-lihat lahan tempat bakal pabrik teh mereka sedang dalam tahap pembangunan.
Dimana Gadis langsung membulatkan matanya, selepas Putra berbisik nakal padanya barusan.
“Dasar mesum!” sergah Gadis yang paham apa 'itu' yang dimaksud Putra.
“Nanti kamu pasti rindu pada kemesuman-ku.”
Maksud Putra hanya meledek, tapi pada kenyataannya kalimat Putra barusan membuat wajah Gadis langsung berubah sendu setelah Putra melontarkan satu kalimat itu.
“Jangan bicara begitu, Putra.... Jangan membuatku merasa sangat berat untuk melepasmu pergi besok......” Gadis melirih, sembari mengelus lesu wajah Putra. “Jangan bicara seolah kamu tidak akan kembali padaku...”
Mata Gadis juga sudah berkaca-kaca. Membuat hati Putra jadi mencelos seketika. Padahal maksudnya hanya ingin berguyon saja, menggoda Gadis seperti seringnya.
Tapi ternyata Gadis mengambil hati ucapan Putra. Dan istri Putra itu menampakkan ketidak nyamanan dalam hatinya, bahkan terlihat sedih karena kalimat yang Putra maksudkan sebagai guyonan saja.
“Hey...”Putra menyentuh dagu Gadis lalu membuat wajah Gadis mendongak sedikit agar menatapnya. “Mengapa kamu mengambil hati ucapanku?”
“Karena itu terdengar seperti sebuah kata perpisahan bagiku.”
Putra menampakkan senyumnya. “Aku kan baru pergi besok, istriku sayang. Jadi aku tidak mungkin berpamitan padamu hari ini ..”
“Tapi kata-katamu membuat aku takut,” ucap Gadis.
“Tidak perlu merasa takut.”
Putra meyakinkan Gadis.
“Sudah aku katakan aku akan menjaga diriku.”
Putra pun menegaskan dengan pancaran matanya.
“Jadi kamu tidak perlu merasa takut,” ucap Putra. “Karena aku akan kembali untukmu, juga Anth.”
“Janji? ..” Gadis meminta dengan tatapan memelas.
“Janji.”
Putra pun menjawab yakin.
Lalu Putra merengkuh tubuh Gadis lagi.
Sembari memberikan beberapa kecupan di pucuk kepala Gadis yang sedang juga memeluknya erat.
“Aku akan sekuat tenaga menjaga diriku, agar aku dapat secepatnya kembali kesini, kembali padamu dan Anth. Hem?.” Kembali Putra meyakinkan Gadis.
Dan Gadis pun mengangguk seraya tersenyum pada Putra. Keduanya saling berpelukan hingga mobil yang Putra dan Gadis tumpangi, sampai di Villa mereka.
**
Putra dan Gadis telah sampai di Villa, begitu juga anggota keluarga mereka yang lain. Anthony turun dari dalam mobil dan langsung menyambangi Putra serta Gadis yang saat pulang dari lahan pabrik, duduk di mobil yang berbeda dengannya. “Go clean yourself, okay? ( Pergi bersihkan dirimu, oke? ) ..”
Putra berbicara pada Anthony dan sedikit merundukkan tubuhnya.
Dimana bocah tampan itu segera mengangguk, dan Putra tersenyum serta mengacak pelan rambut Anthony.
“Okay Papa!”
Anthony juga menyahut antusias.
“Good boy.”
“Of course I am! ( Tentu saja aku anak yang baik! )” kata Anthony begitu antusias.
Lalu Anthony langsung berlari kecil dan masuk ke dalam Villa dengan riang.
“Hey, be careful! ( Hey, hati-hati! )”
Putra yang melihat Anthony berlari kecil itu pun berseru, namun didetik berikutnya ia tersenyum.
Setelahnya Putra kembali mengulurkan tangannya pada Gadis, untuk berjalan bersama menyusul Anthony ke dalam Villa.
**
“Kamu pergi duluan ke kamar ya?” ucap Putra pada Gadis saat mereka telah berada di dekat tangga yang berada di area ruang tamu Villa. “Sekaligus aku minta tolong kamu lihat Anth siapa tahu dia membutuhkan sesuatu.”
“Iya. Tidak usah kamu bilang kalau soal itu ..” sahut Gadis. “Aku pasti akan melihat Anthony dulu sebelum aku pergi ke kamar kita.”
Putra langsung menanggapi dengan senyuman ucapan Gadis barusan.
“Lupa siapa aku memangnya? Aku ini ibunya Anthony selain Bruna, tahu? ..”
__ADS_1
Gadis kembali berbicara, dan Putra terkekeh kecil.
“Maaf Nyonya, aku terkadang lupa jika kamu tidak hanya milikku ..” guyon Putra.
Gadis pun mendengus geli.
“Kamu tidak mau istirahat dulu?” tanya Gadis pada suaminya yang seperti tidak memiliki rasa lelah itu.
“Tidak,” jawab Putra. “Nanti saja sekalian. Ada yang ingin aku bahas dulu dengan Ad, Dami dan Garret.”
Seperti yang Gadis kira, jika Putra tidak memiliki rasa lelah, begitu juga tiga orang yang Putra sebutkan tadi.
Padahal sudah dari pagi mereka pergi.
Dan juga saat di Restoran, Putra masih memeriksa berkas penjualan bersama tiga saudara lelakinya tersebut.
Tapi Gadis mengerti. Mengerti jika suaminya itu orang yang tidak suka menunda-nunda sesuatu. Kalaupun harus menunda, pasti ada pemikiran yang matang dibalik itu.
“Ya sudah aku naik duluan kalau begitu.”
Putra mengangguk dan tersenyum kecil menanggapi ucapan Gadis.
“Aku bukan ingin mengatur, apalagi melarang kamu. Aku hanya tidak ingin kamu kelelahan ..”
Gadis menyentuh wajah Putra, yang kemudian memegang tangan Gadis yang sedang menyentuh wajahnya itu.
“Jadi jika bisa, bahas lah saja dulu yang penting ..” sambung Gadis. “Sisanya kan bisa nanti, setelah kamu istirahat dulu barang sejenak.”
“Iya .. Akan aku lakukan sesuai permintaanmu itu,” ucap Putra. “Aku hanya ingin membahas sedikit hal saja dengan mereka saat ini,” sambung Putra.
Gadis pun mengangguk dan tersenyum lagi pada suaminya itu.
“Ya sudah aku naik duluan, ya?” ucap Gadis seraya berpamitan untuk pergi ke lantai atas lebih dulu.
Putra pun mengangguk dan sama tersenyum seperti Gadis.
“Jangan mandi terlebih dahulu sebelum aku datang,” bisik Putra.
Membuat Gadis terkekeh kecil karenanya.
Cup!.
Gadis mengecup pipi Putra.
Membuat Putra makin menambah volume senyumnya, karena Gadis sudah tak lagi canggung untuk bersikap mesra padanya lebih dulu.
Lalu ia melenggang pergi dari hadapan Putra.
Bahkan Gadis mengerling nakal pada suaminya itu.
“Wah, wah, sudah semakin berani menggodaku, hem? ..” Putra spontan berucap dari tempatnya, sembari ia menatap Gadis yang melenggang menaiki anak tangga.
Gadis hanya tersenyum jahil seraya menoleh pada Putra, dan menjulurkan sedikit lidahnya, meledek sang suami, yang sedang tersenyum memandangnya naik ke lantai atas Villa.
‘Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu saat kita telah berdua saja di dalam kamar.’ Putra membatin mesum.
*
Putra langsung pergi menuju lantai atas Villa tempat dimana kamar-kamar para penghuni utamanya berada, termasuk mereka yang tadi berbicara dan berdiskusi dengan Putra di ruang keluarga lantai bawah Villa, yang berjalan bersama Putra menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya masing-masing dan mengistirahatkan tubuh mereka sejenak.
Seperti biasa, Putra akan lebih dulu menyambangi kamar Anthony sebelum ia masuk ke kamarnya dan Gadis. Seolah kaki dan tangan Putra akan bergerak otomatis jika sudah berada di depan kamar Anthony, untuk berhenti, lalu membuka knob pintu, dan mengecek keberadaan Anthony disana. Dan sekarang ini pun seperti itu. Sudah kebiasaan bagi Putra.
“Anth?” panggil Putra, karena tidak melihat Anthony di atas ranjangnya.
“I’m here ( Aku disini ), Papa!” Suara sahutan langsung Putra dengar setelah ia memanggil Anthony yang tidak ia lihat keberadaannya.
Sudut bibir Putra tertarik otomatis, dan kakinya ia langkahkan untuk masuk menuju kamarnya melalui pintu penghubung dengan kamar Anthony, karena suara bocah tampan itu berasal dari kamarnya dan Gadis.
Dan benar saja, memang Anthony ada disana, di dalam kamarnya dan Gadis, namun sendirian di atas ranjang.
“Where’s ( Dimana ), Mama?” tanya Putra pada Anthony yang sedang membaca buku dia atas ranjang ayah dan ibu angkat kesayangannya, dengan dirinya yang telah mandi dan berganti pakaian.
“Mama is taking a bath ( Mama sedang mandi )”
Anthony menjawab cepat.
Putra pun manggut-manggut saja.
Iya, Papa Putra hanya bisa manggut-manggut saja, sembari ia melepaskan jasnya, lalu duduk dan membuka sepatunya, setelah lebih dulu mengambil slipper sebagai pengganti alas kakinya.
Sebenarnya dalam hati Papa Putra sedang menyesali keadaan, disaat Gadis sedang mandi, tapi Anthony sedang berada di kamarnya dan Gadis. Yang mana, Papa Putra tidak mungkin masuk ke dalam kamar mandi dan bergabung dengan Gadis disana.
Karena jika Papa Putra menyusul Mama Gadis yang sedang mandi, acara di dalam kamar mandi tidak akan berlangsung sebentar adanya.
Dan Anthony pasti akan menggedor pintu kamar mandi, jika mereka berada terlalu lama di dalam sana. Belum lagi suara-suara yang bisa timbul dari mulut Papa Putra dan Mama Gadis, akibat acara favorit Papa Putra di kamar mandi.
__ADS_1
‘If I go to the bathroom no matter what, then Anth will ask. Consider I have a reason for it. But if me or Gadis got become lulled, I’m not sure whether me or her can hold our satisfying voice. And Anth, must be asked about that.’
( Jika aku nekat masuk ke dalam kamar mandi, maka Anth pasti bertanya. Anggaplah aku dapat menemukan alasan untuk itu. Tapi jika aku dan Gadis terbuai, aku tidak yakin baik aku ataupun dia dapat menahan suara kepuasan kami. Dan Anth, pasti akan bertanya tentang itu ).
Putra bermonolog dalam hatinya.
‘Now I got dizzy imagining Gadis’s smooth body that watered under shower, and I can’t join ..’
( Sekarang aku merasa pusing membayangkan tubuh polos Gadis dibawah kucuran shower, dan aku tidak dapat bergabung .. )
Papa Putra hanya bisa berkesah dalam hati saja, karena pasrah. Lalu bangkit dari duduknya setelah melepas sepatu, dan mengenakan slipper-nya untuk menghampiri Anthony yang berada di ranjang sambil menunggu Gadis selesai mandi.
‘Mengapa Gadis lama sekali di kamar mandi sih?!’ gerutu Papa Putra dalam hatinya. ‘Selain tubuhku memang sudah terasa tidak nyaman dan segera ingin ku bersihkan, suara kucuran shower kan membuat otakku ini menjadi susah fokus pada setiap ucapan Anth!’
Papa Putra masih menggerutu, padahal baru lima menit saja dia menunggu. Sementara Anthony masih nampak asik dengan buku bacaan barunya yakni sebuah novel pendek berbahasa Inggris yang dia dapatkan dari sebuah toko buku tua yang ada di pusat kota. Dan sesekali mengajak Putra untuk ikut membaca novel tentang cerita hewan-hewan yang menggulingkan kekuasaan manusia pada sebuah peternakan.
Dimana seperti yang Putra ucapkan dalam hatinya tadi, bahwa ia sedang sedikit tidak fokus otaknya.
Jadi Papa Putra hanya menanggapi dengan anggukkan dan senyuman saja setiap kali Anthony mengajaknya bicara untuk membahas sesuatu pada bab novel yang ia baca.
“Anth ..” panggil Putra pada Anthony yang nampak asik membaca itu. Papa Putra tersenyum teduh.
“Yes, Papa? ..” sahut Anthony.
“Don’t you feel tired and sleepy? ..”
( Apa kamu tidak merasa lelah dan mengantuk? .. )
Tentu saja ada makna terselubung dibalik ucapan Papa Putra barusan.
“No, I’m good ( Tidak, aku baik-baik saja ), Papa.”
Sayang sekali jawaban Anthony diluar ekspektasi Putra.
***
Sore hari yang membuat dua kepala Putra agak sedikit pening terbayar saat malam hari. Putra puas sekali memadu kasih yang rasanya ia tidak ingin hentikan sedikitpun, dalam berlama-lama berbagi kenikmatan bersama Gadis. Dan Anthony seolah tahu diri, untuk tidak meminta tidur bersama Putra dan Gadis.
Bukan tahu diri juga sih sebenarnya.
Tapi Anthony memang sudah bertekad untuk bisa mandiri, dalam hal ini tidur di kamarnya sendiri sejak ia memiliki kamar pribadi.
Toh hari ini juga sudah puas menghabiskan waktu bersama Putra dan para orang tua angkatnya sepanjang hari.
Hanya terjeda saat waktu istirahat saja saat sore tadi kala mengistirahatkan diri sejenak.
Itupun Anthony tidak berisitirahat sampai waktu makan malam tiba, dan menghabiskan waktu itu bersama Putra dan Gadis di kamar mereka.
Serta bermain dan menghabiskan waktu lagi selepas makan malam bersama para orang tua angkatnya, berikut satu paman angkatnya juga, yang sudah bergabung ke Villa.
Anthony puas bermain dan menghabiskan waktu, terutama dengan tiga orang ayah angkatnya yang akan pergi untuk waktu yang tidak dapat ditentukan lamanya.
****
“Tidurlah sayang ..” ucap Putra saat entah untuk yang kesekian kalinya ia selesai memadu kasih berpeluh dengan Gadis.
Putra dan Gadis berada di kamar pribadi mereka, di atas ranjang yang menjadi saksi, betapa malam ini keduanya nampak seolah tak habis tenaga, untuk memadu kasih berdua, karena esok akan berpisah.
Gadis yang berada dalam dekapan Putra yang tubuhnya masih polos sama seperti dirinya itu menggeleng pelan. “Aku tidak mengantuk.”
Dengan cepat Gadis pun menyahut. Membuat Putra sedikit mengurai pelukannya, dan membuat dirinya sejajar dengan Gadis yang berbaring miring di atas ranjang mereka.
“Jika kamu tidak tidur, nanti aku tak habis-habis ‘mengerjaimu’,” canda Putra.
“Tidak apa. Aku rela.”
Jika sedang dalam keadaan dimana Putra tidak akan pergi jauh esok hari, mungkin kalimat Gadis barusan akan menjadi mortir bagi diri Gadis sendiri, mengingat akan betapa senangnya Papa Putra mendengar ucapan Gadis barusan.
Namun alih-alih senang, hati Putra ia rasa mencelos mendengar Gadis yang berucap pasrah dengan raut wajah yang sendu, juga lesu.
“Aku berharap esok jangan datang ..”
***
Namun sayangnya, esok pasti datang.
Dan esok yang Gadis tidak nantikan, nyatanya kini sudah datang.
Datang untuk membuat Putra pergi entah untuk beberapa lama dari sisinya. Dari sisi Anthony, dari keluarga mereka yang berada di Villa, jauh dari Indonesia.
“Aku pergi dulu, Gadis ..”
Putra berpamitan.
***
__ADS_1
To be continue ..
Terima kasih masih setia, tinggalkan jejak dukungan jika berkenan.