LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 254


__ADS_3

Happy reading...


***************


London, England...


“Better get in (Sebaiknya segera masuk)” Ini Hiz si pemilik rumah-mansion lebih tepatnya, meski tempat tinggalnya masih dalam kategori rata-rata bangunan tempat tinggal keluarga kalangan atas pada umumnya di Inggris.


Hiz lebih dulu celingukan sebelum ia berucap barusan, untuk mengajak Putra dan tiga orang lainnya yang telah keluar dari dalam mobil yang masing-masing tumpangi.


“Lower your hat (Rendahkan topi-mu), Putra...”


Hiz berkata sambil tangannya menyentuh topi model flat cap yang dipakai oleh Putra saat ini, lalu menurunkan lagi topi Putra hingga topi itu menjadi menutupi kening Putra, dan bagian depan topi tersebut lebih berada di atas mata Putra.


“Ck!” Putra berdecak.


“I’ve been watched, okay?”


“(Aku sedang diawasi, oke?)”


Hiz sontak berucap, sambil ia sesekali celingukan lagi ke arah gerbang tempat tinggalnya itu.


“Close the gate after their cars in! (Tutup segera gerbangnya setelah mobil mereka masuk!)”


Hiz memberikan perintah kepada dua pekerjanya yang bertugas di bagian depan tempat tinggalnya tersebut.


Dan dua pekerja Hiz itupun lekas mengangguk sigap dan menyahut.


“I did tell you about that, did I? (Aku sudah mengatakannya padamu, bukan?)...”


“Heemm...”


Putra hanya menjawab dengan deheman.


***


“Seems that you have change those men at the front? (Sepertinya kau telah mengganti orang yang bertugas di depan?)”


Putra bertanya pada Hiz kala ia memutuskan untuk berjalan kaki dari pekarangan depan mansion Hiz hingga sampai ke area bangunan yang menjadi hunian, meski salju sedang turun, walau sedikit saja.


“Yes, I am ( Iya, memang )...”


Hiz menjawab sembari ia manggut-manggut.


“One of maid saw them was talk with someone a little bir far from here and take some money from that guy. So I just guess that it must be someone that has been sent by Jaeden to buy them off watching me.”


“(Satu dari pelayanku melihat mereka berbicara dengan seseorang sedikit jauh dari sini dan menerima uang dari orang tersebut. Jadi aku langsung menebak jika itu pasti orang suruhan Jaeden yang diminta untuk menyuap dua penjaga gerbangku terdahulu untuk mengawasiku)”


Hiz memberikan penjelasan pada Putra.


“Then I fired them right away (Dan aku langsung memecat mereka)”


“I see.” tanggapPutra sambil kembali manggut-manggut dengan terus melangkahkan kakinya.


“And can be guarantee that those two men not also did the same thing like the two before? (Dan apa bisa menjamin jika dua orang itu tidak mengikuti dua orang yang sebelumnya?)”


Lalu Putra bertanya pada Hiz.


“First, I already warned them by find out about their background and family (Pertama, aku sudah memberikan peringatan pada mereka dengan mencari tahu latar belakang dan keluarga mereka)---“


Hiz pun menjawab pertanyaan Putra tadi.


“Second, I also put a ‘watcher’ outside this place to watch them, also see if any suspicious movement near (Yang kedua, aku juga menempatkan pengawas untuk mengawasi mereka dari luar, juga untuk melihat apa ada hal yang mencurigakan di dekat sini )...”


Hiz lanjut berbicara. Lalu berdiri menyamping dan merentangkan satu tangannya, saat ia telah membawa para tamunya itu sampai ke pintu depan mansion yang telah terbuka lebar, dan ada satu orang berseragam pelayan yang berdiri dengan sikap siap, didekat salah satu daun pintunya.


“Please (Silahkan)...”


Hiz mempersilahkan Putra dan tiga lainnya untuk masuk ke dalam Kediamannya itu.


Kemudian Hiz mempersilahkan Putra dan rombongannya untuk masuk ke sebuah ruangan dengan perapian di dalamnya setelah mereka semua telah masuk, setelah juga pria itu meminta beberapa maid-nya untuk menyiapkan makanan bagi para tamu kehormatannya itu.


“Also prepare food for our men outside (Juga siapkan makanan untuk orang-orang kami diluar)”


Putra berkata pada Hiz yang langsung dijawab dengan anggukan oleh pria tersebut.


Dan Hiz langsung juga memerintahkan maid-nya untuk melakukan seperti apa yang Putra minta.


“Prepare food for five, three others will catch up (Siapkan makanan untuk lima orang, tiga lagi akan menyusul)”


Putra kembali berucap.


“Okay,” sahut Hiz.


***


Putra telah bersama empat orang pria lainnya, termasuk si pemilik Kediaman yang ia, Damian, Garret dan Devoss sambangi saat ini. Dan kelimanya telah berada di dalam sebuah ruangan yang merupakan ruang keluarga dalam kediaman milik Hiz, dimana ada sebuah perapian dengan nyala api untuk menghangatkan ruangan tersebut.


“Jean and kids still in Estonia? (Jean dan anak-anak masih di Estonia?)” tanya Putra yang telah melepaskan mantel panjangnya dan mendudukkan dirinya dengan santai. Hiz menjawab pertanyaan Putra dengan anggukkan, sebelum ia bersuara kemudian.

__ADS_1


“They’re more save there for this time (Mereka lebih aman berada disana untuk saat ini)” ucap Hiz dan Putra tersenyum tipis.


“Say my appologize to Jean for making her away from her husband (Sampaikan kata maafku pada Jean karena membuatnya jauh dari sang suami)”


Putra berbicara, lalu tersenyum lagi.


Hiz pun tersenyum juga. “Don’t worry, Jean totally understand about it (Jangan khawatir, Jean sangat memahami hal itu)”


Hiz berucap.


Sementara tiga lainnya hanya mendengarkan saja Putra dan Hiz yang sedang berbicara santai saat ini.


Lalu Hiz berjalan menuju jendela dalam ruangan tersebut, saat ia merasa seolah mendengar suara mobil dari arah pekarangan depan rumahnya.


“Maybe that’s our men (Mungkin itu orang kami) ..”


Damian bersuara, saat Hiz mengintip ke arah luar dari balik gorden jendela.


“Two cars? (Dua mobil?) ..”


Hiz bertanya. Sambil masih mengintip dari gorden jendela tempatnya berada sekarang.


“One actually, but the other one must be the ‘bonus’ (Satu sebenarnya, tapi yang satunya kemungkinan adalah ‘bonus’)” ucap Putra.


“Bonus?” tanya Hiz yang tak paham.


“Yes, bonus.”


Damian yang telah berdiri di dekat jendela itu kemudian berbicara setelah melihat dua mobil yang tadi Hiz maksud.


“Just sit and you’ll know (Duduk saja dan nanti kau akan tahu)”


Putra berucap, saat ia melihat Hiz mengernyit.


Dan Hiz pun kembali duduk ke tempatnya semula.


Devoss berdiri saat Hiz duduk, lalu Devoss undur diri untuk mengecek dua mobil yang baru saja tiba itu.


“Well just like what I said to you that I’m being watched, my man said that there’s a car always stop nearby this house everyday and will change every night. I know Jaeden sent them, after he unsucced to ‘use’ my gate guards before to see every people who come here.”


“(Yah seperti yang telah aku katakan padamu, orangku bilang ada sebuah mobil yang selalu berhenti di dekat rumah ini setiap harinya dan akan berganti saat malam. Aku tahu Jaeden yang mengirim mereka, setelah dia gagal ‘menggunakan’ penjaga gerbangku sebelumnya untuk mengawasi setiap orang yang datang kesini)”


Lalu Hiz bicara panjang lebar.


“And I’m sure he’s already feel ‘itchy’ to kill me, but he still have to keep it until he gets what he wants (Dan aku yakin jika dia sudah merasa ‘gatal’ untuk membunuhku, tapi dia masih harus menyimpannya sampai dia mendapat apa yang dia inginkan)”


“........”


“(Dan yah, aku juga memiliki bukti jika Kasino yang dia buka itu terhitung ilegal sebenarnya karena dia belum mengantongi ijin resmi dari pemerintah pusat namun dia sudah menjalankannya, dan itu karena dia menyuap seseorang di tempat tersebut untuk menutupi ke-ilegal-an Kasinonya itu)”


“You told him directly? (Kau mengatakan itu langsung padanya?)” tanggap Putra dan Hiz mengangguk.


“I said that if he try to harrash me, I will make him get a big losing, so my death will not really useless (Aku katakan jika ia coba menggangguku, aku akan membuatnya mengalami kerugian yang besar, jadi kematianku tidak terlalu sia-sia)”


Hiz lalu kembali berbicara.


“With a small thread that I already give a copy of evidence to ‘someone’ (Dengan sedikit ancaman jika aku telah memberikan salinan bukti pada ‘seseorang’) ..”


“And that’s why he send someone to watch and following you everywhere you go to find that ‘someone’ which not exist (Dan itulah mengapa dia menyuruh orang untuk mengawasi dan mengikuti kemana kau pergi untuk menemukan ‘seseorang’ yang mana tidak ada sebenarnya)”


Putra kemudian menimpali ucapan Hiz yang langsung terkekeh. “Well, well, you still a smart guy (Wah, wah, kau ternyata masih seorang pria yang pintar), huh?” kekeh Hiz.


Damian dan Garret lainnya ikut terkekeh kemudian. Sementara Putra mendengus geli saja.


“And you still a person with a big mouth (Dan kau masih orang yang bermulut besar)” cibir Putra dan Hiz terkekeh lagi.


“Well my ‘big mouth’ can make me save until now, okay? (Dan ‘mulut besarku’ ini dapat menyelamatkanku sampai dengan sekarang, oke?)”


Lalu ia menimpali cibiran Putra padanya barusan.


“Since that stupid a$shole don’t know me that well, so he believe to what this ‘big mouth’ said (Si keparat bodoh itu tidak mengenalku dengan baik, jadi dia percaya saja dengan apa yang ‘mulut besar ‘ini katakan)”


Hiz mendengus geli.


“How stupid! (Betapa bodohnya!)”


“He is (Memang dia bodoh)”


Putra menimpali kemudian Hiz menghela nafasnya sejenak.


“Well even stupid, but that a$shole is foxy and mean (Tapi walaupun bodoh, si keparat itu licik dan kejam)”


Garret berkomentar. Dan Hiz manggut-manggut.


“He is.” Sahut Hiz. “He killed every Kingsley’s fam and men who refused to be at his side, spitless (Dia membunuh semua orang keluarga dan orang setia Kingsley yang tidak mau berada di pihaknya, tanpa ampun)”


Putra terdengar mendengus sinis namun samar, dan nampak tersenyum miring setelahnya.


Sejenak suasana dalam ruangan menjadi hening.

__ADS_1


Hingga kemudian Hiz lalu berbicara dengan tampang serius sambil melihat pada Putra.


“Jaeden called me ( Jaeden menghubungiku ) ..”


Putra pun menoleh pada Hiz, begitu juga dengan tiga lainnya.


“However, I forget to ask. Did you guys saw a suspicious car outside when you came here? (Ngomong-ngomong, tadi aku lupa bertanya. Apa kalian melihat mobil yang mencurigakan diluar saat kalian datang kesini?)”


Lalu Hiz berbicara seraya bertanya.


“What did he said then? (Lalu apa yang dia katakan?)”


Putra tidak menjawab pertanyaan Hiz barusan, karena ia lebih tertarik soal Jaeden yang menghubungi Hiz.


Namun Hiz tak langsung menjawab pertanyaan Putra, karena salah seorang maid datang ke dalam ruangan lalu memberitahukan jika makanan untuk majikan dan tamu-tamunya itu telah siap.


“Better you guys eat first (Sebaiknya kalian semua makan terlebih dahulu)” ucap Hiz pada Putra, Damian dan Garret. Lalu Devoss masuk kembali ke dalam ruangan.


“They’re get them (Mereka mendapatkan orang-orang itu)” ucap Devoss dihadapan empat orang pria dalam ruangan tersebut.


“Bring them here (Bawa mereka kesini)” sahut Putra cepat. Sementara Hiz mengernyit bingung.


***


“You asked about if we saw a suspicious car when we came here, were you? (Kau tadi bertanya apa kami melihat mobil yang mencurigakan saat kami datang kesini, bukan?) –“ ucap Putra setelah Devoss memberi laporan.


Hiz pun mengangguk.


Dan Putra tersenyum miring.


Lalu Hiz menggelengkan kepalanya.


“Don’t say that you saw, you killed them and bring their bodies here? (Jangan katakan jika kau melihat, lalu kau habisi dan membawa mayat mereka kesini?) ..” Hiz nampak was-was.


“Well, I let them alive (Yah, aku membiarkan mereka hidup)—“


Putra berucap.


“For now (Untuk saat ini)”


Putra menyambung kalimatnya, disaat yang sama dimana dua orang yang dalam kondisi terikat tubuhnya, dibawa masuk oleh Richard dan Stan dengan kepala kedua orang tersebut yang juga ditodongkan pistol oleh Richard dan Stan.


Selain mulut kedua orang yang terikat itu di sumpal oleh kain yang diikat simpul pada belakang kepala keduanya.


Hiz lalu mendengus geli sambil geleng-geleng. “You totally cannot be underestimate (Kau memang tidak dapat diremehkan), Putra ..”


Hiz berucap takjub.


“I can (Bisa saja)”


Putra menyahut datar.


“Because I can’t save Rery and Madelaine (Karena aku tidak dapat menyelamatkan Rery dan Madelaine)” lirih Putra.


Lalu menghela nafas sedikit berat, tak hanya Putra yang melakukannya, namun juga Damian, Garret dan Hiz.


“But it wasn’t your fault (Tetapi itu juga bukan salahmu)..”


Hiz kemudian berucap sambil menepuk-nepuk pelan punggung Putra.


“Ya if not because of Locko\, that m*therfuck*r\, Jaeden\,  won’t find Rery at Ravenna! (Ya jika bukan karena Locko, si keparat Jaeden itu tidak akan sampai menemukan Rery di Ravenna!)”


Damian menimpali dengan nada geram.


“Locko Boyd?”


Hiz memastikan.


“Your father trusted man? (Orang kepercayaan ayahmu itu?)”


Hiz menatap pada Damian.


“Yes.” Jawab Damian cepat dan datar.


“Damned.” Cetus Hiz. “But how (Tapi bagaimana)—“


“Will tell you later (Nanti diceritakan)” sambar Putra dan Hiz pun mengangguk. “Have you guys get something from them? (Apa kalian mendapatkan sesuatu dari mereka?)” Putra kemudian bertanya pada Richard dan Stan.


Kedua orang yang ditanya Putra itu pun mengangguk bersamaan dengan segera. “Yes Sir.”


“Say it (Katakan)” tukas Putra.


“Jaeden who sent them right? (Jaeden yang mengirim mereka bukan?)” tanya Hiz sekaligus menebak dengan yakin sambil memandang pada dua orang yang terikat tubuhnya, dan disumpal mulutnya.


Namun Richard dan Stan menggeleng.


“No Sir. They said that they were sent by a man name Gaines.”


“(Tidak Tuan. Mereka mengatakan jika mereka dikirim oleh seorang pria bernama Gaines)”

__ADS_1


***


To be continue ..


__ADS_2