LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 242


__ADS_3

Happy reading ....


********************


Dukungan 👍👍👍, jangan lupa yawgh.


Thank You


********************


Newcastle, Inggris....


“Is it something isn’t right happen inside? ( Apakah ada sesuatu yang tidak benar terjadi didalam? )” Itu Devoss yang bicara pada Damian yang ada bersamanya.


Karena Devoss sedikit merasa khawatir dengan apa yang terjadi pada Putra dan mereka yang bersama pria yang merupakan anak baptis Ramone, sekaligus pengganti dari Ramone itu.


Sehubungan Devoss hanya dapat mendengar sayup-sayup suara musik dari dalam bar yang agak bising dan sedikit tinggi juga volumenya, hingga membuat telinganya sedikit sulit untuk tahu keadaan didalam bar yang menjadi target mereka itu.


“I can’t tell ( Aku juga tidak dapat menebaknya )” sahut Damian.


“I think we should get in now ( Aku rasa sebaiknya kita masuk sekarang )”


Devoss mencetuskan ajakan. Damian terdiam sejenak. Namun tak lama Damian mengangguk.


Yang mana Damian, juga Devoss, sudah memegang erat senjata mereka.


Dan satu tangan Damian hendak meraih handle pintu belakang target mereka itu.


Satu tangan Damian telah mengangkat senjata yang ujungnya telah mengarah ke atas, dan satu tangan Damian lainnya yang memegang handle pintu tersebut.


“On one ( Dalam hitungan satu )” ucap Damian.


Dimana tangannya yang sedang berada pada handle pintu belakang target mereka itu kemudian langsung ia putar untuk ia buka dengan cepat, selain sudah memasang sikap waspada, termasuk juga Devoss.


Yang mana, salah satu orang kepercayaan Ramone itu akan masuk lebih dahulu dengan cepat, tepat saat pintu dibuka Damian. Namun sebelum sempat Damian membuka pintu yang handle-nya telah ia pegang itu,


DOR!.


Suara senjata api terdengar dari dalam bar.


Damian tanpa berpikir lagi untuk memutar handle pintu yang tengah ia genggam itu, bersamaan dengan tiga letusan senjata lagi yang terdengar dari dalam bar.


Klak!.


Pintu terbuka.


Devoss langsung melesat untuk masuk kedalam bar.


Namun baru satu langkah saja, Devoss langsung membatu, saat sebuah ujung senjata menempel di keningnya.


**


Sementara itu di bagian depan bar ....


“Prepare your weapon ( Siapkan senjata kalian )”


Putra berkata pada Garret, Thomas dan satu anak buah yang menyertainya, saat ia sudah siap untuk membuka pintu Bar yang ada di hadapannya, serta tiga orang yang bersamanya itu.


“Gun or knife? ( Senjata api atau pisau? )” tanya Garret iseng.


“Anything that you like ( Apa saja yang kau suka )” jawab Putra santai.


“Well, if we’re using ‘Tommy’ ( Yah, meskipun kita menggunakan ‘Tommy’ )..”


Thomas berkomentar.


“I don’t think police will come here that soon ( Aku rasa polisi tidak akan datang dengan cepat )” sambung Thomas.


“Heeemm ...” tanggap Putra.  “Come, let’s in ( Ayo masuk )” ajak Putra kemudian pada Garret, Thomas dan satu orang mereka yang sudah sigap dengan senjata yang masih masing-masing mereka sembunyikan dalam mantel panjang mereka.


Garret, Thomas dan satu anak buah mereka yang menyertai Putra itupun serempak mengangguk.

__ADS_1


Tangan Putra telah siap memutar handle pintu depan bar tersebut. “Do not make any contact first, but keep you guys eyes ( Jangan bertindak apa-apa dulu, namun tetap buat mata kalian waspada )”


Tiga orang yang menyertai Putra itu mengangguk dengan serempak lagi. Putra memutar handle pintu depan bar dan membuka pintu tersebut. Dimana beberapa orang yang berada di dalam bar yang sedang Putra berikut tiga orang yang bersamanya masuki, langsung menoleh ke arah pintu, dan sebagian besar langsung berdiri dari tempat mereka.


Menatap tajam pada Putra, Garret, Thomas dan satu anak buah mereka. Dan salah satu dari mereka yang berdiri, juga dengan cepat menghampiri pada ke empat orang yang baru saja memasuki bar tempat mereka itu dengan ekspresi wajah garang nan angkuh. “Who are you guys? ( Siapa kalian? )” tanya pria garang yang kini sudah berdiri sambil menatap sinis pada Putra.


“We’re here to drink ( Kami disini untuk minum )” Putra yang menjawab. Karena memang mata pria garang itu tertuju padanya.


“Have you reserved? ( Apa kau sudah memesan tempat? )” tanya pria garang itu lagi.


Putra menarik tipis sudut bibirnya, sambil menatap santai pada pria garang tersebut, sementara Garret, Thomas dan satu anak buah mereka, menelisik keadaan dalam bar tersebut dengan mata mereka.


“I thought this is a bar? ( Aku pikir ini adalah sebuah bar? ) ...”


Putra menyahut santai.


“Not a fine dining restaurant? ( Bukan restoran berkelas? )”


Putra lanjut berucap, dimana pria garang yang ada dihadapan Putra itu, semakin menampakkan tatapan garangnya pada Putra.


“Better you and your fellas are leave this place now ( Sebaiknya kau dan kawan-kawanmu ini tinggalkan tempat ini sekarang )”


Seorang pria lain tak lama maju kehadapan Putra, setelah menggeser pria garang yang tadi menghadang Putra. Pria yang baru mendekati Putra itu menghampiri Putra dengan gaya santai, namun berlagak, sambil memegang sebuah pisau kecil ditangannya.


“This place is not for common people ( Tempat ini bukan untuk sembarangan orang )”


Pria yang memegang pisau itu memandang remeh pada Putra yang masih bergeming ditempatnya.


“So better leave this place if you guys like to breathe. Because police almost never be around this place ( Jadi sebaiknya tinggalkan tempat ini jika kalian suka bernafas. Karena polisi hampir tidak pernah lewat disini )”


Pria yang memegang pisau itu masih berlagak didepan Putra, dengan sudah mengangkat pisau kecilnya yang dia sudah arahkan dekat dengan dagu Putra, dengan gayanya yang sok jago.


Didetik dimana Putra menampakkan seringainya.


“Good then ( Bagus kalau begitu )”


Lalu,


Pisau yang berada dalam pegangan pria yang sok berlagak didepan Putra itu telah dirampas Putra dengan cepatnya.


JLEB!.


Dan Putra langsung tusukkan tanpa ragu di leher pria yang berlagak itu sampai seluruh ujung pisau kecil milik si pria yang berlagak itu tenggelam sepenuhnya di leher pria tersebut, hingga ia meregang nyawa dalam masa se per sekian detik saja.


Sementara hal itu berlangsung, disaat yang sama Garret yang juga sudah menyiagakan pisau dalam bagian tangan mantelnya langsung menyayat nadi di leher pria yang berwajah garang, tanpa memberikan kesempatan pria tersebut melakukan perlawanan.


Hingga membuat pria garang itu menggelepar bak ikan yang diangkat dari air, sembari memegangi lehernya sendiri.


Dan sesaat kemudian tubuh pria tersebut lunglai dengan tangannya yang tadi ia pegang ke lehernya sendiri itu, terlepas dari sana.


Sampai kemudian pria itu tak bergerak dengan mata terbuka.


Thomas dan satu anak buah mereka yang sudah sudah siaga itu langsung juga mengeluarkan senjata api mereka, yang sudah memang mereka siapkan untuk gampang diraih dengan cepat, hampir bersamaan saat Putra dan Garret mulai beraksi, setelah kedua orang tersebut dapat membaca gelagat Putra, dan Garret juga telah memberi kode, jika akan ada pertempuran yang sudah Garret baca dari gelagat Putra.


Selain, Garret sudah tau persis tabiat Putra, serta kemampuan saudara angkatnya itu.


Lalu Thomas dan satu anak buah mereka itu, langsung memuntahkan peluru mereka pada dua orang yang tadinya hanya duduk di kursi bar, yang menyerupai kursi restoran tersebut. Dua orang yang ditembak oleh Thomas dan anak buah mereka, langsung tumbang karena tembakan mereka tepat tertuju pada kepala dua orang yang keduanya tembaki.


Disaat yang sama juga, Garret dan Putra memuntahkan satu peluru dari masing-masing pistol mereka, pada dua orang lainnya yang berada didalam bar tersebut.


Dan hanya dalam sekejap saja, enam orang yang berada dalam bar target tersebut sudah tak ada lagi yang bernyawa.


Suara tembakan yang meletup dari pistol Putra, Garret, Thomas dan satu anak buah mereka sedikit teredam dengan suara alunan musik berlagu yang keluar dari sebuah mesin pemutar musik dalam restoran tersebut.


“Someone at the back ( Seseorang ada di belakang )”


Garret langsung berjalan cepat setelah meletuskan tembakan dari pistolnya.


“It must be Dami dan Dev ( Itu pasti Dami dan Dev )”


Putra pun berucap.

__ADS_1


Dimana Garret telah bersiaga di pintu belakang bar.


Dan Putra mengecek setiap saku dari enam jasad yang bergelimpangan di lantai bar, dibantu oleh Thomas.


Karena siapa tahu mereka menemukan sesuatu yang dapat mereka manfaatkan nantinya.


Dan satu anak buah mereka sudah mengambil posisi di dekat Garret.


Klak!.


Pintu belakang bar terbuka dan Garret langsung menodongkan senjata ke arah kening orang yang langsung menerobos masuk ke dalam bar saat pintu belakang bar tersebut terbuka.


Devoss yang muncul ternyata, dengan Damian dibelakangnya yang berdecih geli kemudian. “I thought you guys were fall asleep ( Aku pikir kalian tertidur ) ....” cibir Garret sambil ia menarik ujung pistolnya dari kening Devoss.


“Heh. Our Boss said that me and Dev do not make any contacts, if we don’t hear any ruckus ( Bos kita mengatakan jika aku dan Dev jangan membuat gerakan, jika kami tidak mendengar adanya keributan )” balas Damian atas cibiran Garret barusan.


Sambil Damian menyelempitkan dirinya untuk melewati Garret.


“What we got here? ( Apa yang kita dapat disini? )....” kata Damian seraya bertanya dan mendekati Putra yang telah kembali menegakkan dirinya.


“Nothing important from them ( Tidak ada yang penting dari mereka )” sahut Putra sambil matanya melirik pada jasad yang bergelimpangan, yang kemudian ia langkahi sambil matanya menelisik di sekeliling area dalam bar tersebut.


“Where our men who were with both of you? ( Mana dua orang kita yang tadi bersama kalian berdua? )....”


Garret bertanya pada Damian dan Devoss.


Putra jadi melengos sambil melirik pintu belakang karena pertanyaan Garret tersebut.


“They’re checking a building behind ( Mereka sedang mengecek gedung di belakang )....”


Devoss yang menjawab. Putra dan lainnya mengangguk. “Thom, you and him ( Thom, kau dan dia )....”


Putra menunjuk satu anak buah yang menyertainya itu.


“Check everything here ( Periksa segala yang ada disini ).”


“Yes Sir!” Dua orang yang mendapat perintah dari Putra itu pun segera menyahut.


Disaat dimana dua orang yang tadi bersama Damian dan Devoss muncul dari arah belakang, dengan cepat namun berhati-hati, seperti sedang mencoba bersembunyi.


“What you guys got? ( Apa yang kalian temukan? )”


Putra langsung bertanya dengan cepat pada kedua orang anak buah mereka lainnya yang baru muncul itu.


“That building, is the factory ( Gedung itu, adalah pabriknya )” salah seorang dari dua orang tersebut yang menjawab pertanyaan Putra.


“How many people inside there? ( Ada berapa orang didalam sana? )” tanya Putra lagi.


“About a dozen out from the workers ( Sekitar satu lusin, diluar dari para pekerja )”


Putra, Damian dan Garret berikut Devoss pun mengangguk, selepas satu anak buah mereka itu berbicara.


“You check the situation at front ( Kau periksa keadaan didepan )”


Putra kembali menurunkan perintah.


Kali ini pada satu anak buah yang barusan melaporkan situasi dan kondisi mengenai bangunan yang tadi ia periksa bersama satu rekannya.


Sedang satu rekannya sedang berjaga di bagian belakang Bar, waspada jika ada orang yang keluar dari bangunan yang tadi ia dan rekannya periksa.


“Give me your ‘Tommy’ ( Berikan padaku ‘Tommy’-mu )” ucap Putra pada anak buah yang barusan bicara padanya itu.


Si anak buah tersebut pun langsung memberikan pada Putra apa yang Bos-nya itu minta dengan segera.


‘Tommy’ yang dimaksud Putra adalah sebuah senjata api yang dikenal sebagai senjata sub-mesin terbaik pada Perang Dunia II.


Yang pada akhirnya menjadi senjata favorit para gangster dan mafia dari berbagai belahan dunia, karena dapat menembak secara otomatis dengan mengeluarkan banyak peluru sekaligus.


♠♠


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2