
Happy reading .....
♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠
Inggris,
“Where those documents? ( Dimana dokumen – dokumen itu? ) ...”
Jaeden sedang bergumam selepas ia mengucapkan kalimat ledekan yang ia tujukan pada Putra dan mereka yang berada di pihak Putra.
Dimana pria yang sedang bersama Jaeden saat pria itu menyambangi satu bagian dalam mansion Kingsley Smith yang letaknya dapat dibilang tersembunyi itu karena jarang didatangi orang, mengeluarkan kalimat hinaan dengan sinisnya.
“Heh, those stupid people ( Heh, orang-orang bodoh itu ) –“
“Who did you call stupid ( Siapa yang kau sebut bodoh )?”
Namun sebuah suara terdengar menyergah ucapan pria yang menyertai Jaeden ke sebuah ruangan pada bagian tersembunyi di mansion Kingsley Smith tersebut.
“Hem?”
Yang mana sosok yang barusan menyergah ucapan pria yang ditengarai sebagai teman sekaligus sekutu Jaeden itu, adalah Putra.
Dan Putra, sedari tadi sudah perlahan mulai mendekat ke ruangan tempat Jaeden dan satu temannya itu sedang bercakap berada.
Kemudian Putra menampakkan dirinya setelah ia merasa cukup mendengarkan obrolan Jaeden dan temannya tersebut. Dimana obrolan kedua orang itu membuat Putra merasa geli sendiri, selain murka dan sinis serta juga geram dan muak.
Dan dua orang yang sedang mengobrol tadi dimana untuk beberapa saat Putra biarkan---yakni Jaeden dan temannya, langsung terkejut dengan mata mereka yang terbelalak saat melihat Putra ada di hadapan dua orang itu saat ini.
“Pu – Putra Vin – son –“
“You! ( Kau! )”
“Do you lost something?.. Moth*rfuck*r ( Apa kau kehilangan sesuatu?.. Keparat )“
“You-“
“Jaeden Zepeto, we meet again ( Jaeden Zepeto, kita bertemu lagi )-“
“How-“
“Same question ( Pertanyaan yang sama ) ...”
Putra memotong ucapan Jaeden.
“How ( Bagaimana ) ...” kata Putra lagi. “How will I punish you ( Bagaimana aku akan menghukummu ), Jaeden Zepeto ...”
Putra menyeringai kemudian.
♠♠♠
Jaeden dan temannya itu dibuat sangat terkejut dengan kehadiran Putra yang kini sudah masuk ke dalam ruangan tempat Jaeden dan temannya itu berada.
“A – a ...”
Putra bersuara sambil dia menggelengkan kepala.
Yang mana hal itu Putra lakukan, ketika ia menyadari gelagat Jaeden dan temannya yang ingin mengeluarkan senjata yang kemungkinan besar adalah senjata api.
Dan hal itu sudah Putra prediksikan sebelumnya. Dimana selain Putra, sudah ada tiga orang yang tahu-tahu muncul dari balik sudut tersembunyi ruangan yang terhalang oleh sebuah rak besar.
Tiga orang yang merupakan anak buah Putra, dimana ketiganya sudah terlebih dahulu bersembunyi sebagai dukungan saat Putra muncul ke hadapan Jaeden yang Putra datangi itu.
Ketiga orang anak buah Putra itu dengan sigap muncul dari tempat persembunyian mereka saat tiga orang anak buah Putra bersenjata lengkap itu, disaat mereka mendengar jika suara Putra sudah sangat jelas dan menandakan jika Bos mereka tersebut telah benar-benar berada dalam ruangan tempat mereka bersembunyi sebagai dukungan belakang Putra dalam mencegah ancaman yang bisa terjadi pada Putra.
Walau hal itu rasanya tipis saja, mengingat betapa piawainya Putra dengan senjata dan membela diri.
Yang sebenarnya bisa saja dengan cepat Putra menghabisi Jaeden saat ini juga dengan kecepatan dan keakuratan tangan Putra atas segala jenis senjata api. Namun tidak, bukan kematian seperti itu yang ingin Putra berikan kepada Jaeden yang kini sedang mengangkat kedua tangannya ke udara.
Dimana hal itu mau tidak mau Jaeden lakukan, karena ujung senjata dengan laras panjang sudah tertempel di kepala bagian belakangnya, berikut satu orang sudah menggeledah dan mempreteli dua senjata api yang ada di balik mantel Jaeden.
Begitu juga pria yang bersama Jaeden di perlakukan, satu sisi kepalanya sudah tertodong oleh pistol milik Putra, yang tangannya terpasang sebuah knuckle.
Sementara satu anak buah yang berada didekat Putra melucuti teman Jaeden itu sekaligus mengambil satu senjata api milik pria tersebut setelah tubuhnya digeledah dengan seksama.
__ADS_1
“If them that you mean stupid is me and my brothers ( Jika mereka yang kau maksud bodoh adalah aku dan saudara – saudaraku )....”
Putra lanjut bicara, lalu nampak menjeda kalimat yang ingin ia ucapkan.
“Hem, what did you both have said ( Hem, tadi apa yang kalian berdua katakan )?....”
Lalu Putra bersikap seolah sedang berpikir keras. Yang mana tentu saja itu hanya dibuat-buat.
Kemudian Putra mendengus sinis.
“Survivals ( Para penyintas )....” kekeh Putra kemudian. “I’m sure you realized that you are wrong now ( Aku yakin kau sudah menyadari jika kau salah )”
“......”
“It’s you, both of you ( Kau, kalian berdua )....” ucap Putra lagi. “Also all people who stand by your side ( Juga semua orang yang berada di pihakmu ), Jaeden Zepeto....”
Putra menoleh sinis pada Jaeden dengan tangannya yang masih memegang senjata yang menempel lekat di kepala teman Jaeden, yang sedikit banyak Putra---meski tidak kenal, namun Putra tahu identitas pria yang ditengarai adalah teman Jaeden itu selain sebagai sekutunya juga.
“Are stupid ( Yang memanglah bodoh )....” hina Putra. “Oh no.... not stupid, but dumb ( tidak bodoh, tapi dungu )....”
Lalu Putra menoleh kepada pria yang sedang ia todong senjata kepalanya itu, dan satu anak buahnya memandang sigap setiap gerak – gerik teman Jaeden tersebut.
“Like you ( Seperti kau )....”
BANG!
Suara letusan dari pistol Putra terdengar, berikut robohnya teman Jaeden yang Putra todong kepalanya dengan senjata tak seberapa lama.
“Don’t worry, I won’t shot you just like I shot him. Too good for a lowly human like you ( Jangan khawatir, aku tidak akan menembakmu seperti yang kulakukan padanya. Terlalu baik untuk seorang manusia rendahan sepertimu ), Jaeden Zepeto.”
♠♠♠
“However, If I’m not mistaken. You’re here because of something? ( Bagaimanapun juga, jika aku tidak salah. Kau berada di ruangan ini karena sesuatu? )”
“You totally have guts ( Kau sungguh bernyali ), Patrick Junior-“
“Not like you, right? ( Tidak sepertimu, bukan? )-“
“Cih!-“
“Hahahaha!!....”
Jaeden tiba-tiba tergelak.
“I don’t care every curse you say about me.... because it won’t change anything that I already did due the majority of what Kingsley Smith and his family have ( Aku tidak peduli setiap rutukan yang kau katakan tentangku.... karena itu tidak akan merubah apapun yang telah aku buat sehubungan apa yang Kingsley Smith miliki berikut keluarganya untuk sebagian besar apa yang mereka miliki )-“
“And those connected with everything that you keep secretly in this room? ( Dan semua itu berhubungan dengan segala hal yang kau simpan secara rahasia di kamar ini? )” potong Putra, seraya ia menyeringai di hadapan Jaeden. “Just like ( Seperti )....” Putra menggantung ucapannya. “The document of this mansion belonging? ( Dokumen kepemilikan atas mansion ini? )”
♠♠♠
Wajah Jaeden serta merta berubah saat Putra menyebut soal kepemilikan mansion Kingsley Smith secara turun-temurun itu, sementara sudut bibir Putra meninggi.
Dan secara perlahan namun pasti, Putra lebih mendekat kepada Jaeden. “Those kind of things that you’ve been looking for here, don’t you? ( Sesuatu semacam itu yang kau sedang cari di sini, bukan begitu? )-“
“How ( Bagaimana )-“
“This mansion belonging, a small land at Yorkshire, etc.”
( Kepemilikan mansion ini, sebidang tanah di Yorkshire, dan sebagainya )”
Putra tersenyum miring dengan memandang remeh pada Jaeden yang nampak terkejut dengan ucapan Putra yang tepat sasaran dengan alasan keberadaannya di ruangan tempat ia berada sekarang.
“I know all of it ( Aku tahu semua itu )” ucap Putra lagi. “And I have it all now ( Dan semua itu ada di tanganku sekarang )” tambahnya, lalu menyeringai memandang tajam pada Jaeden. “And now ( Dan sekarang )....”
Putra menegakkan tubuhnya.
“I want to convey a greeting from Rery ( Aku ingin menyampaikan salam dari Rery)....”
Suara Putra mendingin dengan sorot mata yang kian menajam memandang pada Jaeden, dimana kedua tangan Putra yang sudah dilingkari oleh sepasang knuckle itu telah ia kepal dengan sangat kuat.
“Before I send you to beg at him ( Sebelum aku mengirimmu untuk berlutut di hadapannya )”
BUGH!
__ADS_1
Putra langsung melayangkan satu tinjunya dengan sangat keras ke wajah Jaeden dengan tangan Putra yang dipasangi sebuah alat peninju itu.
“Argh!” pekikan pun sontak keluar dari mulut Jaeden.
Pukulan Putra dengan tangan yang menggunakan knuckle itu tentu saja membuat efek kesakitan yang luar biasa pada wajah Jaeden.
BUGH!
Satu pukulan lagi Putra layangkan ke wajah Jaeden, lalu beberapa pukulan tanpa jeda pun menyusul, hingga wajah Jaeden mulai dihiasi darah.
♠♠♠
“I won’t let you die that soon ( Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan cepat )-“
“Cih!” Jaeden berdecih, setelah Putra telah kembali menegakkan dirinya sambil melepaskan knuckle yang melingkar di buku-buku jarinya.
Tiga orang anak buah Putra yang tadi sudah siap sedia di dalam ruangan sebelum Jaeden memasukinya itu kini memegangi Jaeden setelah Putra menjauhkan diri dari pria yang wajahnya lebih dari sekedar babak belur itu.
“You not bad for a lowly coward m*therfuck*r ( Kau lumayan juga untuk ukuran seorang keparat pengecut rendahan )“ sinis Putra yang terlihat tenang itu, setelah sempat nampak menyalang geram ketika menghujam wajah Jaeden dengan tinjunya.
♠♠♠
“Heh.” Jaeden bersuara remeh.
“......”
“You think, you, smart ( Kau pikir, kau, pintar ), huh?....”
“......”
“If these morons are the only men you bring now, even they’re good shooter, they still won’t handle my men around this mansion ( Jika hanya orang-orang bodoh ini yang kau bawa sekarang, meskipun mereka penembak yang jitu, mereka tetap tidak akan mampu mengatasi orang-orangku yang tersebar di seluruh mansion ini )-“
“Haha!....” Putra menukas ucapan Jaeden dengan tawa.
♠♠♠
“Your men ( Orang-orangmu), huh?....” ucap Putra kemudian setelah ia tertawa dingin.
“They will slay all of you before you try to kill me when you take me as your hostage ( Mereka akan membantai kalian semua sebelum kau berusaha membunuhku saat kau membawaku sebagai sandera )-“
“Hostage-“
“And for your information, I have a hidden guard that your eyes may can’t see. But his bullet will fastly touched throughly your head ( Dan sebagai informasi untukmu, aku memiliki pengawal tersembunyi yang matamu tidak dapat melihatnya. Tapi peluru miliknya akan dengan cepat menyentuh dalam kepalamu )-“
“Jaeden Zepeto.”
Putra menukas tenang ucapan Jaeden sambil menatap pria yang beberapa kali menyeka mulutnya yang mengeluarkan darah itu. Lalu Putra menyungging miring.
“You don’t know me that well ( Kau tidak mengenalku dengan baik )....”
“You don’t have options Patrick Junior.... I know the reason why you won’t kill me now.... You need my sign for several things due the Kingsley’s wealthy.”
( Kau tidak punya pilihan Patrick Junior.... Aku tahu alasan mengapa kau tidak mau membunuhku sekarang.... Kau memerlukan tanda tanganku untuk beberapa hal yang menyangkut kekayaan Kingsley )
Putra menyungging miring sekali lagi. “Hem-“
Lalu Putra berdehem samar. Sementara Jaeden terus merepet.
“And when you take me out of here, you also have no options. Because my men ( Dan saat kau membawaku keluar dari sini, kau juga tidak punya pilihan. Karena orang-orangku )-“
“Your men....”
BANG!
BANG!
BANG!
BANG!
Suara tembakan yang bersahutan terdengar sebelum Putra menyelesaikan kalimatnya.
♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠
__ADS_1
To be continue......