
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indo,
“Nanti setelah kau mencapai kesepakatan dengan kenalanmu untuk diberi tugas tadi, kau katakan nominal bayaran mereka pada Devoss. Dan satu lagi, kau ataupun para bodyguard yang lain, jangan ada yang terlihat di desa kelahiran istriku itu saat para kenalanmu itu beraksi melakukan pekerjaan mereka. Cukup memantau dari jarak tertentu.”
Ucapan Putra pada salah satu bodyguard yang sebelumnya ia minta untuk segera menghadap padanya ketika mereka telah sampai di vila, selepas Putra menghabisi ibu dan saudari tiri Gadis.
“Baik, Tuan Putra. Saya sudah paham sepenuhnya,” jawab satu anak buah tersebut pada Putra, atas tugas yang diberikan oleh satu tuannya itu, dimana setelahnya yang bersangkutan undur diri pada Putra.
Dikala Putra telah mencukupkan bicara mengenai tugas yang satu anak buahnya itu minta untuk ia lakukan.
“Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan Putra – Tuan Damian – Tuan Gerret – Tuan Devoss –“
♦♦
“Bru told me. And you even finished them in front of Gadis (Bru sudah mengatakan padaku. Dan kau bahkan menghabisi mereka di depan Gadis)?”
Garret langsung lagi bicara pada Putra selepas kepergian Ray.
“Yes.”
Putra pun langsung menjawab.
Garret lantas manggut – manggut.
“She must be become shocked.”
(Dia pasti menjadi syok)
“Very.”
Damian menyambar, menimpali terkaan Garret.
“I’m sorry interrupted (Maafkan aku menyela)” ucap Devoss. “But how if Mrs. Gadis report about this to police (Tetapi bagaimana jika Nyonya Gadis melaporkan ini pada polisi)? –“
“She won’t do that (Dia tidak akan melakukannya)” tukas Putra. Normal nada bicaranya, selain nampak yakin.
“I’m sure about that too (Aku juga yakin seperti itu)” timpal Garret. “And if Gadis nought to do that, we have that man names Hasan, right (Dan jika Gadis nekat untuk melakukannya, kita punya pria yang bernama Hasan itu, bukan)? ...”
“Right.”
Putra langsung merespons.
“But we’ll see about it (Tapi kita lihat saja nanti) –“
♦♦
“However, what you have done to that 2 women will take effect to your relation with Gadis (Bagaimanapun, apa yang sudah kau lakukan kepada 2 wanita itu akan berpengaruh pada hubunganmu dengan Gadis) –“
“You guys no need to worry about that. It’s between me and her (Kalian tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Ini antara aku dan dia) –“
“Don’t mean to poke nose into you and Gadis (Tanpa bermaksud ikut campur diantara dirimu dan Gadis)”
Damian menukas ucapan Putra.
“But better you demoted your emotion facing her.”
(Tetapi sebaiknya kau menurunkan emosimu menghadapi dirinya)
Damian lanjut bicara, sekedar mengingatkan Putra agar jangan terlalu keras pada Gadis.
Putra mengangguk. “I never want to show my temper in front of her. But I’m just an ordinary human. And I have a limited patience, as you guys know. Only Anth, is an exception (Aku tidak pernah ingin menunjukkan kemarahanku di hadapannya. Tetapi aku hanya manusia biasa. Dan seperti yang kalian ketahui, aku memiliki kesabaran yang begitu terbatas. Hanya Anth, yang menjadi pengecualianku)”
♦♦
Lepas Putra berucap tadi, pembicaraan mengenai masalah yang melibatkan Gadis, tak lagi dibahas.
Apa yang Putra ucapkan, langsung dipahami oleh Garret, Damian dan Devoss---minus Arthur yang menurut apa yang Garret sampaikan, dia telah menyuruh satu orang kepercayaannya dan para saudaranya itu untuk beristirahat saja tanpa menunggu Putra kembali.
Selanjutnya, topik yang dibahas Putra dan 3 pria yang bersamanya itu menjadi sebuah sesi bercengkrama santai.
Namun ada juga selipan perencanaan untuk bagaimana mereka menjalani hidup ke depannya, setelah semua hal yang menyangkut dendam Putra dan saudara – saudaranya itu berikut hal yang seharusnya ‘pada tempatnya’ terkait Anthony dan orang tuanya telah selesai.
Lalu setelah beberapa puluh menit berselang, dua orang anak buah yang Putra beri perintah untuk ke ibukota dan mengambil berkas dari seorang dokter yang Putra mintakan bantuannya untuk mengurus beberapa hal terkait Gadis dan dzat yang membuatnya merasa curiga---datang ke ruangan tempat Putra, Garret, Damian dan Devoss berada. Kemudian memberikan titipan dari dokter tersebut untuk Putra.
“I’m going back to my room now (Aku akan kembali ke kamarku sekarang)” ucap Putra setelah dua anak buahnya dan keluarga yang ia berikan tugas menemui seorang dokter dan mengambil berkas darinya itu, sudah undur diri dari hadapan Putra dan 3 pria yang bersamanya itu selepas memberikan sebuah map berisikan lembaran – lembaran berkas kepada Putra.
Lalu Putra berdiri dari tempatnya.
Kemudian memasukkan beberapa lembar berkas lain yang sebelumnya diberikan oleh satu anak buahnya yang bernama Ray, ke dalam map yang didapat dari dokternya Gadis.
“I think I’m going back to my room too (Aku pikir aku juga akan kembali ke kamarku) ...”
__ADS_1
Damian lalu berkata, selepas Putra berpamitan.
Dimana ucapan Damian kemudian juga ditimpali oleh Garret dan Devoss yang punya rencana yang sama seperti Damian dan Putra, yakni kembali ke kamar mereka.
Mengkonsumsi agak banyak minuman beralkohol namun tidak sampai mabuk berat, membuat 4 pria itu jadi rasanya mengantuk.
♦♦
Putra mendapati Gadis sedang terduduk di atas ranjang mereka saat pria itu membuka pintu kamar pribadinya dan Gadis. Dimana Putra langsung saja membatin kala melihat Gadis terduduk di atas ranjang mereka sambil bersandar dan nampak lesu.
Selain wajah Gadis yang sebentar Putra perhatikan itu nampak juga begitu lelah dan terbebani.
Namun begitu, Putra tak mengucapkan sepatah kata pun pada Gadis bahkan untuk sekedar menyapa. Dan Gadis juga bersikap sama seperti Putra.
Hanya melemparkan pandangan pada Putra.
Namun mulut Gadis terkatup dan tak nampak juga hendak menyapa Putra yang kemudian langsung meloyor ke dalam kamar mandi pada kamar tidur pribadi mereka itu.
♦♦
“Nanti, setelah jasad ibu dan Madya kamu minta anak buah kamu angkat dari jurang tempat mereka .. jatuh .. kirim saja jasad mereka ke desa kelahiranku. Dan biarkan aku mengurus pemakaman mereka.“ suara Gadis baru terdengar, saat Putra yang telah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian---sudah duduk di kursi meja kerja dalam kamar tidur pribadi keduanya.
“Kamu tidak perlu mengurus apa – apa.” Dimana Putra, langsung menanggapi ucapan Gadis tersebut dengan santai. “Berhenti Merutukiku!” namun tak seberapa lama kemudian, sikap santai Putra mulai hilang.
Putra perlahan menampakkan emosi dari ketidaksenangannya atas beberapa kalimat yang Gadis lemparkan padanya, yang ujungnya Putra banyak mengucapkan kalimat sinis, bahkan ketus pada Gadis.
“Kamu begitu naiif Gadis .. Dan kenaifanmu itu membuatmu menjadi begitu bodoh.” Putra menutup pembicaraannya dan Gadis yang cukup menguras emosinya itu, dengan kalimat tajam yang tetap sinis dan ketus serta menahan geramnya juga.
Dimana Putra langsung berbalik badan dan keluar cepat dari kamar pribadinya dan Gadis setelah ia bahkan sempat mengatai Gadis yang kemudian menatap kepergian Putra dari kamar mereka dengan nanar, dengan mata Gadis yang sudah basah.
Lalu sesudahnya, Gadis yang sempat melirih dalam hatinya saat Putra keluar dengan nampak kesal dari kamar mereka---terdiam kelu. Kemudian Gadis memandangi dan membaca lagi kertas – kertas yang ada di dalam map yang sebelumnya Putra lemparkan padanya dengan begitu saja.
“Ya Tu-haan .. Aku tak sangka jika Ibu dan Madya sampai berbuat sejauh ini padaku,” lirih Gadis, terduduk lesu di atas sebuah sofa dalam kamar tidurnya dan Putra itu. Dimana selanjutnya, Gadis merutuki dirinya sendiri.
♦♦
“Good morning, Bru ..” sapa Gadis pada Bruna yang ia temui di ruang makan setelah mandi pagi dan berpakaian.
“Morning, Gadis. How was your sleep? –“
“Not well (Tidak nyenyak) ..“
Bruna mengulas senyuman maklum pada Gadis setelah saudari iparnya itu berucap lesu.
♦♦
Dari apa yang Bruna katakan pada Gadis, Putra menempati satu kamar tamu berdasarkan laporan kepala art di vila mereka tersebut. Lalu menitipkan pesan juga, jika ia tidak ingin diganggu. Dan Gadis memaklumi hal itu.
“Putra memang orang yang dingin pada dasarnya. Selain memang dia akan menjadi sangat keras mengenai sesuatu yang tidak ia sukai atau bahkan ditentangnya. Dia sangat mencintaimu, aku yakin betul akan hal itu. Namun jika ada pemikiranmu yang tidak sejalan dengannya atau bahkan ditentangnya, bersabar untuk memaklumi jika dia bersikap keras padamu ..” ucap Ramone lagi. “Kamu faham maksudku kan, Dear? ..”
“Iya, Vader. Aku faham –“
♦♦
Seperti nasehat Ramone padanya, Gadis bersabar menghadapi Putra yang nampak jelas mengacuhkannya dari sejak pertengkaran mereka pada dini hari tadi. Berusaha maklum dan berpikir positif tentang Putra yang tidak menunjukkan batang hidungnya saat sarapan hingga sarapan itu selesai, namun merasa miris kemudian saat Gadis mengetahui jika Putra sepertinya sudah bangun tetapi suaminya itu tidak juga keluar dari kamar tamu yang sedang ditempatinya, karena Gadis mendapati art vila menyiapkan makanan dan minuman yang katanya untuk Putra.
“Biar aku saja yang membawakannya untuk suamiku, Pak Abdul,” ucap Gadis menawarkan diri untuk membawakan makanan dan minuman untuk Putra.
“Dengan segala hormat saya mohon maaf Nyonya Gadis, tapi Tuan Putra berpesan jika beliau sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun itu.”
Pak Abdul menjawab sopan, namun ada tidak teganya juga pada Gadis. Yang mau tidak mau Pak Abdul katakan itu pada Gadis karena memang itu pesan yang Putra katakan padanya jika ada yang mencari satu tuannya itu.
“Ya sudah tidak mengapa, Pak Abdul,” jawab Gadis. “Dan kalau suamiku mencariku, aku ada di taman, ya? ..”
Pak Abdul lalu menyahut mengiyakan ucapan Gadis tersebut.
Lalu kepala art vila tersebut undur diri dari hadapan Gadis. Dimana Gadis kemudian melangkah menuju halaman belakang vila setelah mengiyakan Pak Abdul yang permisi untuk mengantar makanan Putra padanya.
‘Dari taman aku akan bisa melihat jika Putra telah keluar dari tempatnya sekarang. Lalu aku akan mengajaknya bicara secara baik – baik ..’ batin Gadis.
♦♦
‘Jadi maksudnya Putra itu hanya tidak ingin diganggu olehku saja ..’
Gadis membatin lagi, selang beberapa lama ia menyibukkan dirinya di taman yang ada di belakang vila sambil seringkali ia melihat ke arah tempat kamar tamu berada yang dapat Gadis lihat dari tempatnya berada sekarang. Lalu senyuman miris terbit di bibir Gadis serta ada rasa sedikit ketersinggungan juga dalam hatinya kala ia memandangi area kamar tamu, khususnya kamar yang sedang di tempati Putra.
Karena pasalnya, Gadis diberitahukan oleh Pak Abdul jika Putra sedang tidak ingin diganggu. Namun dari beberapa belas menit yang lalu, hampir semua orang yang berada di dalam vila, wara – wiri ke kamar tamu tempat Putra berada.
Termasuk Anthony dan Bruna yang tadi sempat menemaninya berkebun.
“Gadis, I want to pick strawberries with Anth also. Do you want to join us (Aku ingin memetik stroberi bersama Anth juga. Apa kamu ingin bergabung bersama kami)?” Bruna datang menghampiri Gadis.
“No, Bru. I think I’m going to stay in my room and Putra. Say my appologize to Anthony (Tidak, Bru. Aku rasanya ingin berada di kamarku dan Putra saja. Sampaikan maafku pada Anthony) ..” jawab Gadis. “I want to take a rest, for a while (Aku ingin beristirahat, barang sejenak)”
Dimana Bruna langsung mengiyakan ucapan Gadis. Lalu mengiyakan ucapan Gadis yang kemudian pamit dari hadapan Bruna untuk menuju ke kamarnya dan Putra. Dan meski Gadis sedikit miris dan tersinggung pada sikap Putra yang Gadis nilai terang – terangan menghindarinya, namun Gadis pasrah saja.
__ADS_1
Karena sedikit banyak, Gadis menyadari betul kalau sikap yang sedang Putra tunjukkan padanya itu juga timbul dari kesalahan yang sudah Gadis buat dengan bersikap naif sampai histeris---banyak menentang Putra perihal ibu dan saudari tirinya.
♦♦
‘Putra juga tidak akan selamanya menghindariku, bukan? Toh Putra juga ada salahnya dengan menghilangkan nyawa ibu dan Madya walau sedikit banyak hal itu Putra lakukan untuk membalas perbuatan mereka padaku ..’
Gadis membatin kala ia berjalan menuju kamarnya dan Putra.
“Hhhh ..” Gadis menghela berat nafasnya. “Aku memang menentang perbuatan Putra yang enteng saja menghilangkan nyawa ibu dan Madya. Tapi aku juga tidak sanggup berlama – lama menghadapi sikap dingin Putra padaku.”
Gadis merasa dilema.
“Dan rasanya lebih baik sekarang, kalau aku memperbaiki hubunganku dengan Putra terlebih dahulu.”
Gadis menggumam lagi, mengenai hal yang ia rasa dan pikir adalah hal utama yang harus dia lakukan terkait hubungannya dan Putra---lalu bersabar menunggu Putra di kamar mereka, yang Gadis yakini kalau Putra tidak akan berlama – lama menempati kamar tamu. Sambil Gadis memikirkan tentang bagaimana cara Gadis memulai pembicaraan dengan Putra, saat nanti suaminya kembali ke kamar mereka.
Hingga sampai setelah hari menjelang siang, penantian Gadis akan Putra yang kembali ke kamar mereka pun berujung---saat pintu kamarnya dan Putra terbuka, lalu suaminya itu terlihat.
“Putra ..” Hanya saja Gadis harus sedikit menelan pahit. Karena Putra masih nampak begitu dingin padanya, dimana saat Putra muncul dan sempat memandang ke arahnya lalu Gadis menampakkan senyumnya dengan tipis namun hangat---Putra bungkam sambil berjalan begitu saja melewati Gadis yang sedang duduk di sofa dalam kamar pribadi keduanya itu.
♦♦
Gadis terus menyabarkan dirinya.
‘Bagaimanapun aku harus bisa mengajak Putra bicara sekarang.’
Gadis membatin saat ia telah menyusul Putra ke dalam walk in closet mereka.
Melapangkan dadanya, karena meski dirinya sudah memanggil Putra dengan lembut---Putra tidak menyahut.
Bahkan Gadis menjadi sedikit heran, karena Putra nampak berganti pakaian dengan pakaian yang cukup rapih.
“Kamu .. mau pergi? ..“ Gadis spontan bertanya.
“Ya.” Baru Putra menyahut. Itupun singkat saja. Pun, terdengar datar dan dingin.
♦♦
Hingga spontan juga Gadis mempertanyakan kemana Putra hendak pergi.
“Mencari hiburan ..“ Dimana jawaban Putra, sekali lagi membuat Gadis heran dan mengernyit.
“Mencari .. hiburan??“
Gadis pun bertanya dengan spontan lagi, mengulang ucapan Putra.
Yang sebenarnya Gadis memastikan pendengarannya, serta juga berharap Putra akan memberinya penjelasan tentang ucapannya yang katanya ingin ‘mencari hiburan’.
“Kamu nikmati saja waktumu, karena aku juga tidak berencana pulang malam ini.”
Namun alih – alih mendapat penjelasan, Putra yang nampak terus saja melengkapi penampilannya yang hendak pergi itu---malah mengucapkan kalimat yang membuat Gadis terperangah. “Ti – tidak pu, lang? ..” gugu Gadis kemudian. “Ta – pi, kenapa .. kamu tidak sampai pulang malam ini? ..” tanya Gadis lagi, dengan masih tergugu. “Dan lagi .. memangnya mau kemana sampai tidak berencana pulang?”
“Mencari hiburan.”
Putra langsung menjawab Gadis.
“Seperti yang aku katakan tadi,” tambah Putra dengan masih nampak datar dan dingin sikapnya pada Gadis.
♦♦
Gadis berdiri menghalangi Putra, saat suaminya itu telah selesai berpakaian dan nampak akan hengkang dari walk in closet setelah memasukkan dompetnya ke dalam sebuah jaket kasual yang Putra kenakan.
Gadis mempertanyakan lagi kemana Putra pergi hingga suaminya itu mengatakan kalau suaminya itu sampai berencana tidak pulang untuk mencari hiburan. Namun alih – alih mendapatkan penjelasan dari Putra, yang ada Gadis dibuat membeku kelu oleh suaminya itu yang berkata,
“Kamu tidak perlu tahu kemana aku pergi. Yang jelas aku sedang merasa bosan, dan aku sedang tidak ingin berada di dekatmu. Nikmati saja waktumu, karena aku akan menikmati waktuku –“
♦♦
♦♦
“So, what’s your plan by going to Capital (Jadi, apa rencanamu pergi ke Ibukota)?” tanya Garret yang sudah duduk bersebelahan dengan Putra dalam sebuah mobil.
“Even if you having thing to do at the Capital or you still upset to Gadis, but I don’t think you should not just leave her like that (Meskipun ada hal yang hendak kau lakukan di Ibukota atau kau masih kesal pada Gadis, tetapi aku rasa kau tidak sampai meninggalkannya begitu saja) ..”
Damian menimpali ucapan Garret pada Putra kemudian.
“I want to take some 'fresh air' (Aku ingin mencari 'udara segar')”
“And where exactly your destination to get that fresh air at the Capital (Dan kemana tepatnya tujuanmu untuk mencari udara segar di Ibukota)?” tanya Garret lagi pada Putra setelah satu saudaranya itu merespons ucapannya dan Damian, dimana Putra langsung lagi menjawab,
“The best club at there, sees if I can find a perfect and gorgeus creature called woman more than I have one at home, to erase my temper ( Klub terbaik yang ada di sana, melihat – lihat jika aku dapat menemukan makhluk sempurna dan sangat indah yang disebut wanita lebih dari yangaku miliki di rumah, untuk menurunkan amarahku) ..”
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
To be continue ..
__ADS_1