
Happy reading....
Keesokan paginya, Putra yang akhirnya jatuh tertidur di sofa panjang dalam ruang kerja itu, dibangunkan oleh Addison yang kebetulan ingin melakukan panggilan telepon di ruang kerja.
“Is Anth woke up already?.. ( Apa Anth sudah bangun? .. )” Tanya Putra dengan suara khas bangun tidur.
“Already, and he was looking for you. ( Sudah, dan dia mencarimu )” Jawab Addison.
“And where is he now?. ( Dan dimana dia sekarang? )” Tanya Putra lagi sembari ia bangkit dari sofa.
“Just finish take a bath. ( Baru selesai mandi )” Sahut Addison dan Putra mengangguk kemudian berjalan ke luar dari ruang kerja.
“By the way, Danny was called last night. Just informed that He arrived. ( Ngomong – ngomong, Danny menghubungi semalam. Hanya memberitahu jika dia sudah sampai )” Ucap Putra saat diambang pintu.
“Hem..” Sahut Addison seraya mengangguk.
“Are you going to make a call?. ( Apa kau ingin menelpon? )”
“Ya, I want to call our Resto before I make an appointment with Budi. ( Ya aku ingin menghubungi Resto sebelum aku membuat janji dengan Budi )”
“Budi?” Tanya Putra yang masih berdiri diambang pintu ruang kerja dan Addison mengangguk sekali.
“Another stock holder of the Resto. ( Pemegang saham Resto satunya )” Jawab Addison.
Putra manggut-manggut.
“I want to ask Con if the paper report that was Dan ever made already set up or not.. Because Danny leave it to Con in order to make Budi sell his share to us”
“( Aku ingin menanyakan pada Con jika berkas laporan yang pernah Danny buat sudah dirapihkan dan disiapkan atau belum. Karena Danny menunjuk Con untuk mengurusnya dalam rencana kita membuat Budi menjual sahamnya pada kita )”
Putra kembali manggut-manggut.
“You remember Con don’t you?. ( Kau ingat siapa itu Con bukan? )”
“Ya, I remember. ( Ya, aku ingat )” Putra kembali manggut-manggut, karena pernah tertukar mengenali antara Con dan Danny.
“I probably will go to our Resto and take Bruna with me. ( Aku mungkin akan pergi mengunjungi Resto kita dan mengajak Bruna kesana )”
“Okay”
“Are you coming?. ( Apa kau mau ikut? )”
“No. You know I have to take care few things here. ( Tidak. Kau tahu aku harus segera menyelesaikan beberapa hal disini )”
Addison manggut-manggut.
Dan Putra pun kemudian pamit dan berjalan meninggalkan Addison melakukan urusannya di ruang kerja untuk segera melihat Anthony.
***
Putra mengurai senyumnya saat ia menyambangi Anthony ke kamar pribadi Putra, yang sudah rapih berpakaian dengan di bantu Bruna . “Good morning. ( Selamat pagi )” Putra menyapa dua orang yang berada di kamarnya itu.
Anthony yang memang tadi menanyakan perihal ketidak beradaan Putra disisinya saat ia membuka mata pada Bruna, berikut pada Addison yang ikut juga tidur di kamar Putra itu langsung berhambur pada Putra. “Papa!. Where have you been Papa?. ( Papa kemana saja? )”
“Sorry Anth, I fell asleep at the workroom... ( Maaf Anth, aku ketiduran di ruang kerja ) ..”
“I will check our breakfast ( Aku akan mengecek sarapan kita ), hem?”
__ADS_1
“Okay” Sahut Putra pada Bruna. “Ah just a minute Bruna!... ( Ah tunggu sebentar Bruna! ) ..”
“Yes?”
Bruna menghentikan langkahnya seraya berbalik dengan cepat.
Putra sedikit mendekat pada Bruna dan Anthony melipir ke meja kerja Putra yang berada di sudut kamar.
“Could you tell Pak Abdul to bring me and Anth breakfast here?. I don’t want Anth meet that guy ( Bisa tolong kau katakan pada Pak Abdul untuk membawakan sarapanku dan Anth kesini?. Aku tidak ingin Anth bertemu dengan pria itu )”
Bruna mengangguk. Wanita itu paham pada Putra yang memang cukup over protektif pada Anthony, terutama pada orang yang baru dikenal. Dan orang yang dimaksud Putra juga terluka, dan Putra tidak ingin Anthony bertanya macam – macam.
“And inform me if you guys already finish get your breakfast ( Dan beritahukan padaku jika kalian sudah menyelesaikan sarapan kalian )”
Bruna mengangguk sekali lagi seraya mengangkat jempolnya.
“Okay Boss!”
Bruna dan Putra terkekeh kecil kemudian.
Lalu Bruna pun melenggang pergi keluar dari kamar pribadi Putra.
***
Putra sudah menyelesaikan sarapannya bersama Anthony di kamar pribadinya.
Tidak membiarkan Anthony keluar kamar, sampai nanti Dalu pergi dari kediaman mereka. Jadi saat Anthony bertanya mengapa mereka berdua sarapan di kamar, Putra memakai alibi mengajarkan Anthony bahasa Indonesia.
Dan memang sukses membuat Anthony tak bertanya lagi, melainkan bocah itu nampak antusias saat Putra mengajarkannya kata – kata dasar dari bahasa di negeri yang mereka tinggali itu.
Setelah sebelumnya Putra berbicara secara tertutup bersama Garret, Damian, Addison dan juga Arthur.
Beberapa hal yang Putra dan tiga saudaranya itu inginkan untuk Arthur lakukan sehubungan dengan pria yang bernama Dalu tersebut.
“Tenang saja Tuan Putra, aku memang bukan orang yang bersih, tetapi aku orang yang konsisten pada ucapanku” Ucap Dalu sebelum ia menaiki mobil yang akan ia tumpangi bersama Arthur dan dua anak buah Arthur yang sudah dianggap bekerja pada Putra dan keluarganya itu.
“Sebaiknya memang seperti itu jika kau berurusan denganku, Tuan Dalu” Sahut Putra datar. “Silahkan kau mencoba mencari masalah denganku dan kau lari setelah itu, aku pasti akan menemukanmu. Dan kau akan mendapatkan hal yang lebih buruk dari yang kami berikan pada Baskoro”
“Saya tidak akan berani, yakinlah”
Dalu menjawab yakin.
“Bagus jika kau memang memahaminya” Sahut Putra.
“Baiklah, saya permisi. Dan terima kasih untuk semuanya”
Putra hanya menjawab dengan anggukan pelan ucapan terima kasih dari Dalu yang sekaligus berpamitan itu.
Lalu Dalu masuk ke dalam mobil dengan satu anak buah Putra yang ikut duduk untuk mengawasi Dalu di kursi penumpang belakang.
Yang Dalu lihat semalam di rumah Baskoro, pria bernama Putra Adjieran dan tiga saudara lelakinya itu nampak kejam saat menghabisi anak buahnya dan Baskoro hanya dalam waktu sebentar saja.
Kemudian menyiksa Baskoro dengan memotong satu – satu jarinya, sebelum Baskoro yang ternyata hanya pingsan itu dibakar hidup – hidup berikut rumahnya dan seluruh anak buahnya yang tewas dibantai oleh empat orang pria asing yang baru ia temui dan kenal semalam.
Sungguh membuat Dalu yang biasanya pongah itu merasa ngeri, dimana kengerian saat di rumah Baskoro tidak pernah ia rasa sebelumnya.
Namun nyatanya, saat ia membuat pria asing berdarah campuran itu menyetujui kesepakatan yang ia tawarkan demi keselamatan dirinya dan keluarganya, rasanya menurut Dalu pria bernama Putra Adjieran itu tidak buruk juga.
__ADS_1
Selain yah, sangat kaya raya, namun dari sikap dan gerak – gerik Putra yang Dalu perhatikan saat ia duduk bersama untuk makan, empat pria asing itu mempunyai sikap yang elegan.
Seperti berasal dari keluarga bangsawan atau yah setidaknya keluarga terhormat.
Lain itu, meski mungkin ke depannya Dalu akan menjadi budak, - kasarnya. Dari pria bernama Putra dan keluarganya itu, setidaknya setelah diinterogasi macam – macam setelah sebelumnya patah pada tangan dan luka tembak di salah satu paha Dalu diobati ternyata Dalu tidak diperlakukan dengan tidak baik.
Toh dia tidak ditempatkan di sebuah ruangan yang buruk. Dia bahkan diberikan pakaian ganti yang bersih dan bagus, bahkan lebih bagus dari pakaian – pakaian mahal yang Dalu punya. Meski sedikit kebesaran, karena Dalu dipinjamkan – Oh bukan, diberikan pakaian oleh Addison yang postur tubuhnya bisa dibilang lebih kecil daripada ketiga saudara lelakinya, untuk ukuran pria asing.
Karena baik Addison, Garret, Damian, terlebih lagi Putra, tidak akan menggunakan pakaian yang sudah dipakai orang lain.
Dalu diajak duduk bersama untuk makan, dan ditempatkan disebuah kamar tamu yang bak kamar hotel mentereng di Ibukota.
Setidaknya perlakuan yang baik itu membuat Dalu menjadi memliki kekagumannya sendiri pada Putra dan tiga saudaranya itu, meski memang mulai sekarang Dalu harus berhati – hati untuk tidak menyinggung pria bernama Putra berikut tiga saudara lelakinya itu.
Karena semalam, dia sudah mendapatkan peringatan yang tipis – tipis sama seperti sebuah ancaman dari mulut Putra. Pria itu menyuruh anak buah yang sepertinya cukup dipercaya untuk mencari semua detail tentang Dalu, bahkan keluarganya.
Dan Dalu yakin betul, meski nama keluarga di belakang nama Putra cukup asing di telinganya, mengingat apa yang bisa mereka lakukan, dalam hal ini Baskoro dengan mudahnya. Ancaman Putra untuk menghabisi keluarga Dalu jika ia berani macam – macam, rasanya bukan sebuah gertakan saja.
Jadi yah, saat sampai di Ibukota nanti, selain mengistirahatkan dirinya, mencari alasan pada istrinya mengapa ia tidak pulang dan tidak memberi kabar, dan alasan karena kemungkinan istrinya akan bertanya tentang para tukang pukul yang ikut bersamanya semalam tidak ikut lagi bersamanya kembali ke rumah mereka.
Sisanya, Dalu akan beraktifitas seperti biasa, hingga sampai saat dimana pria bernama Putra atau para saudaranya itu mencarinya, dan mungkin menyuruhnya melakukan sesuatu.
***
“You keep your eyes on him very carefully Arthur... ( Kau awasi dia baik – baik Arthur ) ...” Putra berbicara pada Arthur sebelum pria itu menaiki mobil dan duduk di kursi penumpang depan.
Salah seorang anak buah yang lain yang akan menyetir mobil milik Dalu yang ditumpangi empat orang tersebut.
Sementara satu anak buah lainnya akan mengendarai mobil Arthur dan mengiringi mobil Dalu di belakangnya.
“Yes I will. ( Ya pasti )”
Arthur menyahut mantap.
“You remember what I have told you, right?. ( Kau ingat apa yang aku katakan padamu tadi, kan? )”
“Of course I remember ( Tentu saja aku ingat )”
“Good. ( Bagus )” Sahut Putra. “Because if there’s any problem comes to me, which it means that will make my family find any difficulties because you remiss to watch him... ( Karena jika ada masalah yang datang padaku, yang mana itu menyebabkan keluargaku mendapatkan masalah karena kau lengah mengawasinya .. )”
Putra menunjuk Dalu yang sudah berada dalam mobil dengan dagunya.
“I won’t be bashful to you ( Aku tidak akan sungkan padamu )”
Putra berucap dengan datar dan nampak tenang memang, namun sorot mata berikut penekanan dalam ucapannya, membuat Arthur langsung paham kemana arah kalimat Putra barusan mengarah.
“But I won’t kill you, consider that you gave some of helps to me and all of us here. ( Tapi aku tidak akan membunuhmu, mengingat kau sudah sering membantuku dan kami semua disini )...”
Putra menyunggingkan senyum tipis.
“Only you have to say goodbye to your fingers, or maybe your tongue. ( Hanya saja kau harus mengucapkan selamat tinggal pada jari – jarimu, atau mungkin lidahmu )”
Gluk!
***
To be continue ...
__ADS_1