
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia ...
“Leave us ( Tinggalkan kami )“
Adalah Putra yang berucap datar, setelah ia mendapatkan anggukkan dari Gadis mengenai dugaannya atas dua wanita asing yang sempat berada di dalam kamar Putra dan Gadis. Dan ucapan barusan itu dimaksudkan pada para saudara Putra berikut dua orang kepercayaan Putra dan para saudaranya, termasuk Pak Abdul.
“Ceritakan semua padaku, bagaimana bisa dua orang yang jika aku ingat sedikit ceritamu, mereka jahat padamu, tapi sekarang mereka ada di sini?”
Putra langsung saja bertanya pada Gadis, saat Garret serta yang lainnya telah keluar dari kamarnya dan Gadis --- serta menutup pintunya dengan rapat.
Gadis nampak agak takut dengan Putra yang menatapnya agak tajam padanya sekarang --- dalam pandangan Gadis.
🔵
“Duduklah dulu .. Jangan berdiri dan terlebih memandangiku seperti itu. Kamu membuatku takut, Putra ..”
Gadis mengiba tak lama kemudian sambil memelas memandang Putra yang lalu menghela nafasnya dengan agak berat.
Di detik berikutnya, Putra melakukan apa yang Gadis minta dengan tatapan memelasnya itu. Putra pun duduk di tepi ranjang dekat dengan Gadis yang langsung melingkarkan tangannya di salah satu lengan Putra.
“Maafkan aku kalau aku sudah lancang membawa ibu dan saudari tiriku tanpa persetujuan kamu sebelumnya, Putra. Saat itu aku khawatir pada ibu yang terlihat payah karena dia menderita asma yang juga kambuh saat aku sedang berada di desaku itu ---“
“Kenapa tahu – tahu kamu datang ke desamu? ---“
“Ya justru itu. Tidak sengaja juga aku ke sana pun tanpa rencana. Karena aku mengajukan diri untuk ikut dengan Bru, Garret dan Anthony juga ikut serta saat Bru dan Garret bilang ingin pergi ke suatu tempat yang mana aku tidak tahu kalau tujuannya ternyata adalah desa tempat tinggalku dulu. Aku sudah hendak meminta ijin kamu, tapi kamu sulit dihubungi dan tidak juga menghubungi ke sini---“
“Lalu sampai kamu membawa mereka ke sini?---“
“Aku bertemu ibu tiriku saat aku, Bru, Garret , Anthony dan para pekerja kita yang ikut bersama kami hendak pulang. Lalu bla .. bla .. bla ..”
🔵
“Ibu bahkan sampai memohon agar aku memaafkannya.” Gadis merampungkan ceritanya, lalu Putra kembali menghela nafas agak beratnya lagi, kemudian ia berkomentar.
“Tapi kamu tidak dapat begitu saja percaya jika tahu-tahu mereka bersikap baik dan mengiba padamu, Gadis .. Terlebih dengan dirimu yang sekarang. Maaf, tapi kamu bukan lagi wanita desa yang sederhana nan terbatas keuangannya ..”
“Ibu bahkan mengira aku ini bekerja pada Bru dan Garret saat aku bertemu dengannya lagi, Putra---“
“Meski begitu, Gadis---“
“Setiap orang dapat berubah, kan Putra?---“
“Tapi tetap aku tidak mengijinkan mereka untuk tinggal di sini.” Putra dan Gadis saling menukas ucapan, walau nada suara Putra tidak lagi terdengar gusar, dingin dan tajam.
Namun kemudian Putra memberikan penegasannya.
“Terutama saudari tirimu. Aku tidak menyukai sikapnya---“
“Maafkan dia Putra---“
“Sudahlah. Yang jelas aku tidak mengijinkan mereka tinggal di sini,” tukas Putra.
“Iya---“
__ADS_1
“Aku akan meminta Pak Abdul agar mengatakan pada mereka untuk merapikan barang-barang mereka sekarang---“
“Eum, Putra ..” tukas Gadis.
“Apa kamu sendiri yang ingin menyampaikannya pada mereka berdua? ..”
“Bukan itu ..”
“Lalu?” tanya Putra lagi.
“Kalau boleh, besok saja mereka di suruh pulang. Soalnya ibu habis cek up Putra .. paling tidak .. biarkan dia beristirahat semalam lagi di sini. Aku sedikit tidak tega kalau tahu-tahu sekarang menyuruh ibu dan Madya pergi. Nanti mereka pikir aku terlalu sombong dengan statusku sekarang---“
“Hhh ..” Putra langsung menghela nafasnya setelah mendengar penuturan Gadis dengan permintaannya yang terkesan memohon itu, lalu Putra langsung berkomentar lagi. “Dua wanita itu harus meninggalkan villa ini esok hari dan tidak ada tawar menawar lagi,” tegas Putra kemudian.
Gadis pun menganggukkan kepalanya, “Iya, aku paham,” kata Gadis setelahnya, lalu Putra menyuruh Gadis untuk beristirahat, sementara ia akan pergi mandi.
🔵
Putra telah selesai mandi dan telah juga berganti pakaian rumahan, setelah beberapa belas menit dia menghabiskan waktunya di kamar mandi pribadi dalam kamarnya dan Gadis. “Aku tinggal sebentar, hem?” pamit Putra pada Gadis karena ia hendak pergi ke ruang kerja utama dan ke bilik rahasia dalam ruangan tersebut untuk menghubungi Addison seperti yang sebelum mandi Putra katakan pada Gadis.
Gadis pun mengangguk patuh seraya ia tersenyum pada Putra yang setelah berpamitan tadi mengelus lembut kepala Gadis lalu mengecup ringan kening dan bibir Gadis.
“Beristirahat, hem? ..”
“Aku tunggu kamu kembali ke sini saja.”
“Ya sudah. Aku usahakan tidak akan lama. Jika memang ingin menungguku baru kamu mau tidur, tak apa. Tapi ingat, jangan turun dari tempat tidur ..”
Gadis mengiyakan seraya mengangguk patuh setelah Putra mengatakan kalimatnya barusan, “Oh iya, Putra ..” Gadis menahan Putra kala suaminya itu hendak melangkah menjauh darinya.
Putra pun menahan langkahnya. “Kamu menginginkan sesuatu?” tanya Putra kemudian.
“Tanyakanlah.“
🔵
Gadis kemudian mengatakan apa yang ingin ia tanyakan pada Putra. “Waktu aku ikut Bru dan Garret yang pergi ke desaku itu, sedikit banyak aku mendengar mengenai Garret yang ingin tahu tentang siapa saja orang – orang yang ada di desaku itu yang menggadaikan surat penting mereka kepada rentenir yang katanya sudah meninggal itu ..”
“Lalu?”
“Kamu ingat tidak aku pernah cerita mengenai aku yang ingin menebus tanah orang tuaku makanya aku bekerja sebagai perawat dan penyanyi klub?---“
“Ingat---“
“Rentenir itu adalah rentenir yang sama yang mana surat-surat tanah bahkan mungkin rumah orang tuaku digadaikan.”
“Lalu?”
“Jika Garret meminta daftar orang-orang itu kepada kepala desa di desaku itu, apa itu artinya sekarang surat-surat penting mereka yang digadaikan pada rentenir yang bernama Baskoro, ada pada kalian?”
“Iya,” jawab Putra.
“Kok bisa?---“
“Anggap saja that loan shark --- ren - tenir itu memiliki hutang pada kami jadi kami ambil apa yang kami rasa dapat membayar hutangnya pada kami.”
“Begitu ya?” respons Gadis.
__ADS_1
🔵
“Mengenai apa yang kamu tanyakan ini, apa kamu ingin memintaku mengecek jika surat – surat penting orang tuamu yang digadaikan itu termasuk dalam surat – surat penting orang – orang di desamu yang digadaikan kepada loan shark itu? benar seperti itu?”
Putra lalu mengatakan dugaannya pada Gadis yang langsung menjawabnya. “Iya benar---“
“Ya sudah aku akan sekalian mengeceknya.”
“Terima kasih Putra---“
“Tetapi aku tidak tahu apakah semua surat – surat berharga dari that loan shark itu adalah milik semua orang di desamu yang berurusan dengannya, ataupun meski mereka menggadaikan pada pria itu, aku belum tahu apa kesemua surat – surat berharga di desamu itu ada pada kami. Makanya kami ingin meminta daftar itu dengan Garret dan Arthur yang mengurusnya. Karena bisa saja that loan shark telah memindahkan sebagian surat – surat berharga tersebut ke pihak ketiga.”
Putra menukas ucapan Gadis, lalu bicara panjang lebar. Gadis pun mengangguk paham, lalu berkomentar.
“Iya Putra. Aku hanya ingin tahu saja. Meski seingatku tanah ataupun rumah orang tuaku itu telah berganti nama kepemilikan dengan nama ibu tiriku, tetap aku ingin tahu. Walau aku tidak ingin lagi memilikinya setelah melihat kondisi kehidupan ibu dan saudari tiriku sekarang, tapi setidaknya surat – surat tanah ataupun rumah orang tuaku tidak sampai dipegang pihak ketiga yang kapan – kapan bisa tahu – tahu datang dan mengusir ibu dan Madya.”
“........”
“Itu juga yang menjadi alasanku selain asmanya ibu dengan mengajaknya ke sini sementara waktu, dan itu juga yang menjadi ketakutan mereka yang takut andai ada tukang pukul datang dan mengusir mereka kapan saja bahkan dengan kekerasan. Karena seingatku, para tukang pukul rentenir bernama Baskoro itu memang seringnya kasar bila menagih hutang. Aku tidak tega saja membayangkannya---“
“Aku bangga memiliki istri yang baik hati sepertimu. Tapi jangan sampai kebaikanmu itu menjadi boomerang bagi dirimu sendiri, Gadis,” tukas Putra.
“Iya, Putra. Tapi jika mengenai ibu dan saudari tiriku itu, aku yakin mereka memang sudah berubah karena yaah seingatku mereka orang yang sulit untuk mengakui kesalahan mereka dulu. Tapi sekarang mereka bahkan meminta maaf padaku, ibu bahkan sampai sempat berlutut di hadapanku. Dan aku memang melihat kalau ibu tiriku yang dulu sombong pada orang di desa itu, sekarang sudah santun sikapnya pada mereka.”
🔵
“Tuliskan nama ibu tirimu.”
Putra menyodorkan selembar kertas berikut bolpoin yang ia telah sempat ia ambil dari meja kerjanya pada Gadis.
"Sekaligus nama orang tuamu. karena siapa tahu surat - surat tanah dan rumah orang tuamu itu belum dipindahkan namakan atas nama ibu tiri kamu seperti yang dia katakan padamu."
"Iya," sahut Gadis. “Ini ..”
Gadis lalu mengembalikan kertas yang Putra sodorkan padanya setelah ia menuliskan nama ibu tiri dan kedua orang tuanya di sana.
“Ya sudah. Aku akan segera meminta Arthur mengeceknya .. aku tinggal ya sekarang ya? Dan ingat pesanku tadi.”
“Iya,” jawab Gadis.
Putra lalu keluar dari kamarnya dan Gadis tak lama kemudian.
🔵
“Ar, please check the papers of lands and house that we take from that filthy loan shark and give me the papers who’s having this names on it.”
“( Ar, tolong cek surat – surat tanah dan rumah yang kita ambil dari rentenir menjijikkan itu dan berikan aku surat yang memiliki nama - nama ini di atasnya )”
“Yes, Boss.”
Arthur segera mengiyakan dan melakukan apa yang Putra minta padanya barusan, setelah Putra datang ke ruang kerja utama.
Lalu beberapa menit kemudian, Arthur memberikan laporan atas tugas yang tadi Putra perintahkan padanya.
“There’s no paper of this name ( Tidak ada surat atas nama ini )” kata Arthur. "None of this name ( Tak ada satupun dari nama - nama ini )"
🔵🔵🔵
__ADS_1
To be continue ..