LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 110


__ADS_3

Happy reading ....


*******************


“Cukup kamu menganggap aku murahan, Putra ... tapi setidaknya, dengan mengembalikan ini semua, aku tidak ingin kamu anggap sebagai wanita pengejar harta.....”


Gadis melangkah tergesa, hendak turun ke lantai bawah, namun tiba-tiba langkahnya tertahan.


“Nona ..”


Ada dua orang berbadan tegap berdiri di hadapan Gadis saat ini.


‘Mereka ini bodyguard baru kah?..’ Batin Gadis. ‘Atau bodyguardnya Tuan Eric?..’


Gadis menelisik kedua pria berbadan tegap tersebut. Menyeka sedikit sudut matanya, karena masih ada sedikit sisa airmatanya disana.


“Anda harus ikut dengan kami Nona ..”


“Iya, aku akan segera kembali ke tempat Tuan Eric, tetapi aku harus mengejar tamuku dulu yang baru saja pergi”


Gadis memiringkan sedikit tubuhnya sembari bergerak maju untuk melewati dua orang yang nampak sedang menghadangnya itu.


“Aku hanya sebentar”


Namun dua orang itu bergeming tak mau bergeser.


“Ada yang harus kukembalikan padanya.. tolonglah kalian minggir sebentar..”


“Anda harus ikut dengan kami Nona. Sekarang juga ..”


“Iya, aku tahu. Kembali ke tempat Tuan Eric, kan? Aku akan segera kesana setelah aku mengembalikan sesuatu pada tamuku tadi”


Gadis kembali mencoba untuk meloloskan dirinya dari dua orang tersebut.


“Minggirlah, nanti dia keburu pergi! ..” Seru Gadis. “Astagaa!! Benar-benar ya kalian ini! Tamuku yang barusan itu temennya Bos Frans juga loh ya, nanti aku kasih tau ke dia kalau kalian yang tidak membiarkanku mengembalikan barangnya..”


“Kami diperintahkan untuk membawa Nona”


Gadis pun geleng-geleng saja karena dua orang itu tetap bersikukuh tak memberikannya jalan dan juga kukuh memaksanya untuk ikut dengan mereka.


‘Haish! Pasti Tuan Eric yang menyuruh dua orang ini untuk buru-buru menjemputku karena tidak senang acaranya diganggu! Terlebih lagi dia sudah khusus membayar ekstra untuk jasaku tampil di acaranya .. Hhhh.. Nanti saja lah


aku cari cara untuk mengembalikan uang dan cincin ini pada Putra ..’


Gadis membatin lalu menghela nafasnya.


“Ya sudah! Ayo!” Ajak Gadis pada dua orang berbadan tegap tersebut.


Dua orang itu pun segera berbalik badan, yang satu memposisikan dirinya didepan Gadis, dan yang satu lagi dibelakang Gadis.


**


“Sebentar, aku harus ke ruang gantiku dulu. Dan tolong panggilkan Mba Govi, minta dia langsung ke ruang ganti pribadiku ya?..”


“....”


“Eh iya, ngomong-ngomong kalian bodyguard baru disini atau bodyguardnya Tuan Eric? Soalnya wajah kalian sepertinya baru aku lihat?”


Merasa tidak mendapat respon dari kedua orang tersebut, Gadis pun mengajukan pertanyaan pada keduanya.


“Sebelah sini Nona..”


“Aku kan bilang tadi, aku ke ruang gantiku dulu. Ada yang mau aku simpan ..”


“Maaf, tidak bisa Nona ..”


“Hanya sebentar! Aku hanya ingin menyimpan ini!”


Gadis yang akhirnya menjadi kesal dan menghentikan langkahnya itu, mengangkat segepok uang dalam genggamannya dan menunjukkannya kepada kedua orang bodyguard tersebut.


‘Aku kan tidak mungkin membawa uang ini ke ruangan tempat Tuan Eric dan kawan-kawannya berada itu!’ Batin Gadis. ‘Tidak ada cara lain..’ Gadis mendengus kemudian. “Ini ..”


Gadis menarik empat lembar uang dari gepokan dan menyodorkan nya kepada kedua orang tersebut.

__ADS_1


“Ambillah, nanti biar aku yang memberikan alasan pada Tuan Eric mengapa aku sedikit lama kembali ..” Ucap Gadis.


Kedua bodyguard itu menggeleng. “Silahkan kembali berjalan Nona .. Tuan kami sudah lama menunggu”


Sekali lagi Gadis mendengus. ‘Nanti aku akan bilang pada Bos Frans kalau aku tidak mau jika harus ditempatkan secara khusus jika Tuan Eric mengadakan jamuan lagi. Orang itu terlalu banyak mengatur!’


“Nona ..” Salah seorang bodyguard itu berbicara lagi dan Gadis langsung memutar bola matanya malas, sedikit kesal, sembari memikirkan cara apa yang harus ia perbuat dengan uang yang tadi dilemparkan Putra padanya, karena ia tidak diberi kesempatan untuk pergi ke ruang gantinya untuk menyimpan uang tersebut.


“Iya! Iya!”


**


‘Eh?..’ Gadis menyadari sesuatu.


“Nona ..”


“Seharusnya kita ke arah sana..” Tunjuk Gadis ke satu lorong.


“Sebelah sini Nona..”


Gadis mengernyitkan dahinya.


“Ka-lian mau bawa aku kemana..?” Gadis mulai sedikit gugup.


“Tuan kami sudah menunggu anda, Nona” Sahut salah seorang bodyguard tersebut.


‘Apa mereka bodyguard khususnya Bos Frans?..’ Batin Gadis bertanya-tanya. ‘Apa.. Putra mengatakan sesuatu pada Bos Frans?.. Tadi kalau tidak salah Govi bilang katanya, Putra itu temennya Bos Frans..’


“Nona ..” Suara bodyguard itu membuat Gadis yang kembali menghentikan langkahnya sejenak dan melamun kemudian terkesiap.


“Kalian ini bodyguardnya Bos Frans, kah? ..”


Namun kedua orang bodyguard itu tidak menjawab.


“Cepatlah Nona, anda sudah terlalu lama dan untuk itu kami bisa mendapatkan masalah”


“Kalian jawab dulu pertanyaanku” Ucap Gadis. “Jika tidak, aku tidak bersedia ikut kalian” Sambungnya.


“Jangan sampai kami memaksa anda Nona”


“Silahkan saja Nona”


Alih-alih mendapat jawaban karena mencoba mengancam, tapi jawaban dari kedua orang tersebut yang sepertinya tidak takut, membuat Gadis malah terkejut.


“Kami diperintahkan untuk membawa Nona apapun yang terjadi.. Jadi bekerjasamalah, karena kami diperbolehkan memaksa anda dengan cara apapun, jika memang terpaksa”


Ucapan salah seorang bodyguard itu sontak membuat Gadis menjadi mulai panik dan mulai takut.


Gadis menggeleng pelan, dan mencoba mundur, namun sayangnya slah seorang bodyguard yang membawanya itu ada dibelakangnya.


“Ti-dak, aku tidak mau! Siapa yang menyuruh kalian?!”


Gadis waspada, sembari berdiri miring dan menelisik dua bodyguard yang nampak saling tatap sejenak itu, bergantian.


Gadis menggeleng cepat, saat pria yang berada dibelakangnya mulai mendekat pada Gadis. “Ti-dak! Aku tidak bersedia ikut kalian!”


“Maafkan kami, tapi anda sendiri yang membuat kami harus memaksa anda”


Gadis menggeleng. “Tidak! Lepas!” Gadis pun meronta. “HARSA! MADANI!”


Gadis menyebut dengan kencang dua nama orang sembari ia meronta, kala lengannya sudah dicekal dan ia dipaksa berjalan untuk pergi menuju pintu yang berada di belakang Pub tempatnya berada sekarang.


“HARSA! MADANI! GOVI!” Teriak Gadis lagi sembari ia meronta dan mencoba menahan tubuh dengan kakinya. “TOLONG AKU!!” Namun tenaga Gadis kalah besar dari dua orang bodyguard yang memaksanya berjalan dengan memeganginya cukup kuat.


Namun begitu, dua orang tersebut juga nampak hati-hati memperlakukan Gadis, terlihat meski nampak memaksa Gadis untuk ikut dengan mereka, tetapi Gadis tidak diseret dengan kasar.


“HARSA! MADANI! GOVI! TOLONG AKU!! ”


“Hentikan teriakanmu Nona, karena itu percuma saja”


“LEPASKAN AKUU!!..”


****

__ADS_1


“Putra ...”


“..........”


“Putra, wait! ( tunggu! )”


“..........”


“Are you just leaving? ( Apa kamu sudah mau pergi? ) ..”


“None of your business ( Bukan urusanmu ). Ilse .....”


“I know that you are upset now .... but why don’t you have a seat with me? Or maybe you want to go somewhere with me, if this place already make you feel uncomfortable?..... ( Aku tahu kamu pasti sedang kesal sekarang..... tapi


kenapa tidak duduk – duduk dulu denganku? Atau mungkin kamu mau pergi ke suatu tempat denganku, jika tempat ini sudah membuatmu tidak nyaman? ) ....”


Ilse menampakkan senyum terbaiknya, dan malah melingkarkan tangannya lebih dalam di celah lengan Putra karena merasa Putra tidak terlalu ketus padanya. Arthur hanya memperhatikan saja dari tempatnya yang berdiri tak jauh dari Putra.


‘Huh, she’s obviously flirtatious woman .... ( Huh, ternyata dia wanita yang genit juga .... )’ Batin Arthur.


“So, you want to go inside? Or want to go somewhere else?.... ( Jadi, apa kamu mau masuk ke dalam? Atau ingin pergi ke tempat yang lain.... ), Putra?”


“Put your hands off from me ( Jauhkan tanganmu dariku )” Ucap Putra yang memberikan lirikan sinis pada Ilse.


Namun Ilse belum menjauhkan tangannya yang melingkar manja di lengan Putra itu.


“Putra....”


“I Said Put Your Hands Off! ( Kubilang Jauhkan Tanganmu! )”


“Putra, please... ( tolong ) ...” Ilse menampakkan wajah terluka.


“Did I told you for not haphazardly touching me?! ( Bukankah sudah pernah kukatakan untuk tidak sembarangan menyentuhku?! )”


Putra menggoyangkan tangannya dengan sedikit kencang agar tangan Ilse segera terlepas dari lengannya.


“Are you upset because of her? because you know that I’m right?! That the nurse that you like, is not as good as you thought?! That she’s just a slut who.... ( Apa kau kesal karenanya?! Karena aku benar?! Bahwa perawat yang kau sukai itu, tidak sebaik yang kau kira?! Bahwa dia hanya seorang wanita murahan yang )..”


“Mind your words ( Jaga ucapanmu )” Potong Putra seraya mengangkat tangannya dan mengarahkan telapak tangannya itu didepan wajah Ilse, dengan suara Putra yang terdengar dingin.


Ilse mendengus sembari geleng-geleng tak percaya menanggapi sikap Putra padanya saat ini.


“Why you always being rude to me Putra?... Even you already know that the nurse is such a **** .. ( Mengapa kamu selalu bersikap kasar padaku Putra? .. Meski kamu sudah tahu jika perawat itu hanya seorang wanita murahan ).....”


“I-Said, Mind Your Words! ( Aku-bilang, Jaga Ucapanmu! )”


Dengan cepat Putra meraih dagu Ilse dan mencengkram nya hingga sontak saja wajah Ilse menjadi nampak mulai ketakutan dengan Putra yang mencengkram dagunya, serta mata Putra yang menyorot nya dengan tajam.


“I-I’m.... ( Aku-Aku .. )”


“You! Have no right at all to say anything bad about her! ( Kau! Sama sekali tidak memiliki hak untuk mengatakan segala hal yang buruk tentangnya! )..”


Putra menegaskan.


“Not you! Not anyone else but Me! ( Tidak kau! Tidak juga orang lain selain Aku! )”


Lalu melepaskan dengan kasar tangannya dari dagu Ilse.


Dan berjalan pergi kemudian setelah mobil yang tadi ditumpanginya dengan Arthur yang berdiri tak jauh dari Putra dan sedari tadi diam saja memperhatikan Putra dan Ilse, sudah datang dengan salah seorang anak buah Putra yang menyetir mobil tersebut.


***


Putra diam saat sudah duduk di kursi penumpang belakang mobilnya dan Arthur sudah mengambil tempat di kursi penumpang depan dan menyuruh anak buahnya yang menyetir itu untuk segera menjalankan mobil.


“Emm... are we going to residence or want straight go to Villa, or maybe you want to go to somewhere else, Sir? .. ( apa kita kembali ke kediaman atau ingin langsung kembali ke Villa, atau mungkin kau ingin pergi ke suatu tempat


lain, Tuan? ) ...”


“Residence ( Kediaman )”


***


To be continue..

__ADS_1


Jempolnya jangan lupa ya


Enjoy


__ADS_2