LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 334


__ADS_3

Happy reading....


**************


Inggris,


“He was made a fake report of Anthony’s dead( Dia membuat laporan palsu tentang kematian Anthony )-“


“Hem...”


“And from what I’ve known, that fake report of Anthony’s dead from Italy was already legalized by someone who has full right of authorization in that area ( Dan dari apa yang aku ketahui, laporan palsu tentang kematian Anthony sudah disahkan oleh seseorang yang memiliki hak otorisasi penuh akan hal itu )...”


Accursio sedang menjelaskan hal yang baru ia ketahui beberapa saat sebelum ia bertolak ke Inggris pada Putra, berdasarkan informasi yang didapat oleh orang-orangnya di Italia dan Inggris.


-----


“One of that motherfuckr’s allies of that thing, is quite strong here ( Satu dari sekutu si keparat itu yang mengurus hal tersebut, cukup kuat disini )”


Accursio menghela nafasnya sedikit berat.


“Even you killed that motherfuckr and that one of his ally, it won’t make Kingsley Smith family’s wealthy, be in Anthony’s hand.”


“( Meskipun kau membunuh si keparat itu dan satu sekutunya tersebut, itu tidak akan membuat kekayaan keluarga Kingsley Smith, dapat berada di tangan Anthony )”


Dimana satu sudut Putra tertarik sedikit. Hingga wajahnya membentuk sebuah ekspresi. Accursio melihatnya. Ekspresi Putra itu. Ekspresi yang pahami.


“Ah, how can I forget if my cold brother has a sharp instinct ( bagaimana aku dapat melupakan jika saudaraku yang dingin ini memiliki insting yang tajam )...”


Lalu Accursio terkekeh dan Putra mendengus geli.


“You already think until there ( Kau sudah berpikir sampai sana )”


Sambil Accursio menelengkan sedikit kepalanya.


Tersungging senyuman di bibirnya sambil memandang pada Putra, yang mana dia mengingatkan dirinya sendiri seperti apa seorang Putra yang dia kenal itu.


“Now, a penny for your thoughts including your plans? ( Sekarang, ceritakan apa yang kau pikirkan termasuk apa saja rencanamu? )-“


“Just save your penny ( Simpan saja uangmu )...”


Putra menukas ucapan Accursio sambil tersenyum kecil penuh arti.


“See and just follow it ( Lihat dan ikuti saja )...” lanjut Putra. “How the way I crush him before I tear him apart ( Bagaimana aku meremukkannya sebelum aku mencabiknya )”


“Hmm... can’t wait for that ( Aku tidak sabar )...”


**


“Seems that Dami ( Sepertinya itu Dami )”


Itu suara Hiz yang berucap spontan, kala terdengar suara dari salah satu alat komunikasi yang meminta respons dari penerima.


Putra mengangguk dan menoleh ke meja tempat alat komunikasi itu tergeletak, yang mana diberikan dengan sopan oleh satu anak buah yang memang standby di meja perangkat alat komunikasi tersebut, kepada Putra.


“Yes, Dami?...” ucap Putra setelah menerima alat komunikasi dimana suara Damian terdengar sebelumnya tadi, setelah Putra menerima alat komunikasi tersebut dari anak buahnya dengan berterima kasih melalui anggukan.


Lalu setelahnya, Putra mendengarkan dengan seksama apa yang Damian katakan padanya secara lugas – bersama dengan Garret, Hiz dan Accursio.


**


“We go now? ( Kita pergi sekarang? )” ucap Garret sambil memandang pada Putra.


“Come ( Ayo )”


Putra mengiyakan ucapan Garret. Tapi sebelumnya Putra menoleh lagi ke arah layar tabung monitor.


“Before you go ( Sebelum kau pergi ), Hiz..“ ucap Putra. “Tell our some men, to ‘pick up’ Gaines right when out from that hotel ( Katakan pada beberapa orang kita, untuk ‘menjemput’ Gaines tepat saat dia keluar dari hotel itu )”


Hiz mengangguk tanda paham.


“Leave it to me ( Serahkan saja padaku )”  Accursio yang menyahut, berucap dengan pasti.


Putra pun mengangguk samar sebagai tanggapan ia menyetujui ucapan Accursio, sebelum pergi bersama Garret.


**


Langkah Putra dan Garret terhenti di koridor gedung dalam tahap pembangunan yang sedang mereka kuasai sekarang.


Tiga orang yang merupakan bagian dari anak buah berdiri sigap dan langsung menghampiri Putra dan Garret ketika melihat dua Bos mereka itu keluar dari koridor gedung.

__ADS_1


Kemudian ketiga anak buah tersebut sedikit merundukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada Putra dan Garret.


“Sir ( Tuan )” sapa ketiga anak buah tersebut.


“Three of you are part from the ‘Five Jobs’? ( Kalian bertiga bagian dari ‘Five Jobs’? )”


“Yes, Sir,” jawab ketiga anak buah tersebut dengan serempak lagi, setelah Putra bertanya.


“Where’s the other? ( Mana yang lainnya? )”


“They were at TBW-them who’s with us ( Mereka sudah di TBW-yang bersama kami)..”


“The other representive is on the way here, Sir ( Perwakilan lainnya sedang menuju kesini, Tuan )”


Dua anak buah yang merupakan bagian dari misi terbaru itu menjawab pertanyaan Garret yang kemudian langsung mengangguk bersama Putra.


“And here, Sir. The Access ( Dan ini, Tuan. Aksesnya )-“


“We just need two. This one and the coming access, give to Accursio ( Kami hanya butuh dua. Yang satu ini dan yang akan datang menyusul, berikan pada Accursio )”


Putra mengambil dua benda yang diberikan oleh masing-masing dari tiga anak buah yang sedang berhadapan dengannya dan Garret itu, yang merupakan akses masuk acara di hotel yang menjadi target Putra dan kawanan.


“Yes, Sir..” ketiga anak buah menyahut santun. Lalu Putra dan Garret masuk ke dalam mobil yang disertai oleh dua anak buah di dalamnya.


Beberapa mengikuti di belakang, namun dalam jarak tertentu.


"And 'them', being 'took care' already? ( Dan 'mereka', sudah 'diurus' semua? )"


Putra bertanya sebelum mobil yang ia dan Garret tumpangi berjalan.


"Nothing's left, Sir ( Tidak ada yang tersisa, Tuan )"


**


“Are you sure that you won’t be able to recognize by that mothrfucker’s men?* ( Apa kau yakin jika kau tidak akan dikenali oleh orang-orangnya si keparat itu? )-“


“Don’t you worry, fratello mio ( Jangan khawatir, saudaraku )-“


Putra berucap, sambil mengulum senyum penuh arti.


“See that guy over there ( Lihat pria yang ada disana )” ucap Putra lagi sambil mengarahkan dagunya dari dalam mobil ke satu orang yang berdiri di dekat pintu masuk hotel tujuan Putra dan Garret.


Meski jarak hotel tujan dari bangunan yang menjadi markas dadakan Putra dan kawanan tergolong sangat dekat, tapi Putra dan Garret tetap menggunakan sebuah mobil untuk mencapai hotel tersebut, demi menambah kesan yang meyakinkan jika mereka memang undangan, meski kartu akses masuk ke dalam hotel yang hari ini nampak lebih ketat itu sudah Putra dan Garret kantongi.


Garret menyahut sambil ia memandangi pria yang Putra tunjuk dengan dagunya tadi.


“Yes..” Putra mengiyakan. “That’s Tommy ( Itu Tommy )-“


Putra kembali berucap.


“That Birmingham guy ( Pria dari Birmingham itu )”


“Indeed ( Benar sekali )-“


Putra mengiyakan terkaan Garret.


“He’s here, means a lot of his men are here.. so we will easily through the hotel’s gate ( Dia ada disini, itu artinya sebagian besar orangnya ada disini.. jadi kita dapat masuk dengan mudah di gerbang hotel )”


Lalu Putra lanjut bicara.


“Even there more tightly check inside, the men at there will only check the invitation without having any attention to face ( Walaupun pemeriksaan di dalam cukup ketat, mereka yang bertugas memeriksa disana hanya akan mengecek undangan tanpa memperhatikan wajah )”


Setelahnya Garret mengangguk.


Paham maksud ucapan Putra.


Dan didetik berikutnya Putra dan Garret terdiam, kala mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di bagian gerbang hotel tujuan mereka.


Yang kemudian dihampiri oleh dua orang yang nampak mengambil alih satu orang yang tadinya hendak mendekat.


Dua orang yang mendekat pada sisi dan kanan mobil itu tidak berkata apa-apa, hanya merunduk sedikit, lalu menganggukkan kepala mereka dengan samar kepada Putra dan Garret yang duduk di kursi penumpang belakang.


**


“Passed him ( Lewati saja dia )-“


“Okay,” Garret menyahuti ucapan Putra saat mereka hendak turun dari mobil yang telah berhenti di depan lobi hotel tujuan mereka.


Yang mana Garret tahu siapa yang Putra maksud untuk dilewati itu. Pria dengan penampilan klasik era tahun 1919. Dengan wajah yang menggambarkan seorang pria Inggris tulen, dimana pria itu pun seolah tak mengenal Putra, saat Putra melewatinya.

__ADS_1


“Restroom or Exit? ( Toilet atau tangga darurat? )”


“See where our men lead us ( Lihat saja kemana orang-orang kita mengarahkan )”


Jawaban Putra atas pertanyaan yang dilontarkan Garret dengan samar, dimana Putra juga menjawab dengan suara samar-namun keduanya mampu memahami ucapan dengan bibir yang hampir tak bergerak itu, sambil mata Putra menyapu keadaan sekelilingnya-yakni area dalam lobi hotel targetnya dan kawanan tersebut.


Lalu tak lama, nampak dari kejauhan-seorang pria dengan setelan jas memandangi Putra dan Garret, dimana mata Putra menangkap kehadiran pria yang memandang ke arahnya tersebut dan menggerakkan kepala dengan samar.


“Seems that we need to take some of them when we’re all back to Indo ( Sepertinya kita perlu membawa sebagian dari mereka saat kita kembali ke Indo )-“


Garret berkomentar dengan suara rendah, saat ia dan Putra berjalan di sebuah koridor hotel setelah diarahkan menuju tangga yang jarang sekali ada lalu lalang orang dalam hotel kecuali para staf hotel itu sendiri.


Putra tersenyum miring saja mendengar ucapan Garret tersebut, setelah melirik beberapa orang yang ada dalam ruangan dengan banyak monitor di dalamnya-dimana itu adalah mereka yang Putra tugaskan untuk ‘mengurus’ petugas keamanan hotel yang sebelumnya bertugas disana.


“They could trained our men at Indo, right? ( Mereka bisa melatih orang-orang kita di Indo, iya bukan? )”


Garret lagi berkomentar, berdasarkan penilaiannya atas kesigapan beberapa orang yang tadi mereka lihat di dalam ruang kontrol kamera pengawas hotel.


“Since our ‘kingdom’ will built from there? ( Sehubungan ‘kerajaan’ kita akan dibangun mulai dari sana? )”


Putra manggut-manggut, sambil lagi menarik tipis salah satu sudut bibirnya.


“I’m gonna think about it ( Akan aku pikirkan soal itu )”


**


“Jaeden’s wife was just go to the 4th floor, Sir ( Istrinya Jaeden baru saja pergi ke lantai empat, Tuan )” ucap seseorang yang kemudian datang dengan hati-hati kehadapan Putra dan Garret yang sudah menunggu di sebuah koridor sepi sebuah pintu keluar darurat dalam area hotel.


“What’s on 4th floor? ( Ada apa di lantai 4? )”


Putra sontak bertanya, ketika satu informasi diberitahukan padanya dan Garret oleh salah seorang yang ditengarai adalah anak buah mereka juga.


Diyakini sebenarnya, karena para anak buah Putra yang merupakan gabungan anak buahnya Ramone dan Accursio itu memang berbeda dari anak buah Jaeden.


Potongan rambut tertentu menjadi ciri spesifik yang dapat dengan mudah dikenali oleh Putra, tentang mereka yang adalah anak buahnya.


“Usually it was used by some of high class women to gather, Sir ( Biasanya digunakan oleh beberapa wanita kelas atas untuk berkumpul, Tuan ) ---“


“Hem ..”


Putra dan Garret manggut-manggut samar.


“And those women at the 4th floor now, are wifes or mates from the men who were part of Jaeden guesses today ( Dan wanita-wanita yang sedang berada di lantai 4 tersebut saat ini, adalah para istri atau pasangan dari para pria yang menjadi bagian sebagai tamu Jaeden hari ini )”


“Hem ..” tanggap Putra, lalu terdiam sesaat.


Setelahnya Putra bicara untuk bertanya.


“Is there any chance that mothrfucker names Jaeden will comeback to his room* ( Apa ada kemungkinan si keparat Jaeden akan kembali ke kamarnya )?”


“I think he won’t, Sir ( Saya pikir tidak, Tuan ) ..” jawab anak buah yang sedang menyampaikan informasi kepada Putra. “He already ready in his suit and busy with some of his guesses that already come and talk privately with some men ( Dia sudah begitu rapih dan sibuk dengan beberapa tamunya yang sudah datang dan berbicara secara pribadi dengan beberapa orang pria )”


Putra pun manggut-manggut. “Any guards in front of his room ( Ada penjaga di depan kamarnya )?” tanya Putra kemudian.


“No, Sir ---“


“Gar, you bring ‘those stuffs’ right ( Gar, kau membawa ‘barang-barang itu’ bukan )? ..”


Putra beralih pada Garret.


“Always in my pocket ( Selalu dalam sakuku ) ..”


Garret menjawab dengan sunggingan miring di bibirnya.


Membuat Putra sama menyunggingkan bibir seraya mendengus geli dengan samar dan singkat.


“What time he will started ( Jam berapa dia akan mulai )?”


Putra beralih lagi pada anak buah si pemberi informasi saat ini.


“About fifteen minutes less or more, Sir ( Sekitar lima belas menit lagi kurang lebihnya, Tuan ) ..”


“Alright then, meet that mothrfucker’s wife and tell her that her husband is waiting her at their room. Tell her to get there very fast* ( Baiklah kalau begitu, temui istri si keparat itu dan katakan padanya jika suaminya menunggu di kamar. Katakan padanya untuk datang dengan segera )”


Putra menurunkan perintah, yang langsung di iyakan anak buahnya itu dengan segera-berikutnya sigapnya si anak buah bergerak yang langsung undur diri dari hadapan Putra dan Garret untuk melaksanakan perintah dari Putra tadi.


Setelah satu anak buah pemberi informasi itu pergi, Putra dan Garret melangkah tak lama kemudian.


Menuju kamar Jaeden dalam hotel, dan menunggu satu sasarannya di sana.

__ADS_1


*****


To be continue..


__ADS_2