
Happy reading ..
“Thinking about something Putra. If we waiting untill Anth get normal, we won't start anything and means we give a big opportunity for Jaeden”
“( Pikirkan sesuatu Putra. Jika kita menunggu sampai Anth benar – benar normal, kita tidak akan bisa memulai segalanya dan itu artinya kita memberikan kesempatan besar bagi Jaeden )”
“....”
“You know what that means right? ( Kau paham maksudnya kan? )”
“Yes”
“Even if we started everything like we did at Ravenna from now on, still we need some times to collect all of things”
“( Meskipun juga kita memulai semua seperti apa yang kita buat di Ravenna, tetap saja kita membutuhkan waktu untuk mengumpulkan segala hal )”
“So it would be better that we don’t postpone to start our business in this country and make it bigger then we can spread to collect allies and power”
“( Jadi sebaiknya kita jangan menunda lagi untuk memulai bisnis di negeri ini dan membuatnya besar lalu mengembangkan sayap untuk mengumpulkan dukungan dan kekuatan )”
“Soon is better Putra ( Lebih cepat lebih baik Putra )” Ucap Garret. “We want to make him pay what he had done to Rery, Madelaine and our brothers right? ( Kita ingin membuatnya membayar apa yang telah dia perbuat pada Rery,
Madelaine dan saudara – saudara kita bukan? )”
“Anth must have his life that had been loot by Jaeden ( Anth harus mendapatkan hidupnya kembali yang sudah Jaeden rampas darinya )”
“Kingsley Smith must back to Anth and we need to make us stronger from now on. Just like what Rery’s plan ( Kingsley Smith harus dikembalikan pada Anth dan kita harus membuat kita lebih kuat mulai sekarang. Seperti rencana Rery )”
Putra mengangguk paham.
“I will call Pak Abdul tomorrow to find out every owner of the garden around Villa and our garden”
“( Aku akan menghubungi Pak Abdul besok untuk mencari informasi siapa saja pemilik perkebunan teh yang ada di sekitar Villa dan perkebunan kita )”
Damian dan yang lainnya bersama Putra kemudian manggut – manggut.
“Should we change our identity? Just in case ( Apa perlu kita merubah identitas kita? Hanya untuk berjaga – jaga )”
“No need. Jaeden will never thought that we are here. His known only England and around of it. His brain will never get about this country”
“( Tidak perlu. Jaeden tidak akan pernah menduga kita disini. Pengetahuannya hanya sebatas Inggrid dan sekitarnya. Otaknya tidak akan pernah sampai ke negara ini )”
Putra menanggapi ucapan Bruna barusan.
“But if I am not mistaken, I heard that Jaeden is looking for you?”
“( Tapi jika aku tidak salah, aku dengar Jaeden bukannya sedang mencarimu? )”
Bruna bertanya lagi. Addison yang memang pernah menyampaikan informasi tersebut pada Putra dan lainnya mengangguk.
“He is ( Iya memang )” Ucap Addison.
“So? ( Lalu? )”
“He just noticed me because I am the one Jaeden saw near Rery. He didn’t know my status”
“(Dia hanya mengingat kalau akulah yang paling sering berada di dekat Rery. Tapi dia tidak tahu statusku )”
“Are you sure about it? ( Apa kau yakin akan itu? )” Tanya Garret.
“I’m sure ( Aku yakin ). Jaeden only knows me as Rery’s bodyguard since the first time he met me at Kingsley
Mansion ( Jaeden hanya tahu aku sebagai pengawal pribadinya Rery sejak pertama kali ia bertemu denganku di Kediaman Kingsley )”
“Indeed ( Benar )” Sahut Addison. “Beside, Putra was not there when Yanni met Rery at the Factory, and the time before Putra was not around of Rery ( Lagipula, Putra tidak ada saat Yanni menemui Rery di pabrik dan diwaktu –
waktu sebelumnya Putra juga tidak terlihat ada disekitar Rery )”
“.......”
“But Jaeden is looking for Putra. Means that he might have a suspicion right? ( Tapi Jaeden sedang mencari Putra. Ada kemungkinan dia memiliki kecurigaan bukan? )”
“Maybe ( Mungkin )”
“Then must be trying that hard to find you ( Jadi pasti dia benar – benar akan mencarimu )”
“Even so, but he won’t ever thought that I’m here ( Meskipun begitu dia tidak akan pernah menduga aku berada disini )”
“But your father was become Kingsley right hand ( Tetapi ayahmu kan pernah menjadi tangan kanannya Kingsley )” Ucap Garret lagi.
“Jaeden never know about that. Dami’s father already replace my father after he passed away and that before Jaeden came ( Jaeden tidak pernah tahu soal itu. Ayahnya Dami sudah keburu menggantikan ayahku setelah ia meninggal dan itu sebelum Jaeden datang )”
“It is right ( Itu benar )”
“He might also looking for me, even he never met me. Maybe he also already find out that I’m the one who was my father ask to save Kingsley’s will at the first time”
“( Dia mungkin mencariku juga, meskipun aku dia tidak pernah bertemu denganku. Mungkin saja dia sudah tahu kalau aku yang disuruh ayahku untuk menyelamatkan surat wasiat Kingsley pertama kali )”
“But there is a good thing you live at Ireland all this time, Dam. Before you totally follow Rery just like us ( Tapi ada bagusnya juga kau tinggal di Irlandia selama ini, Dam. Sebelum kau benar – benar mengikuti Rery seperti kami )”
“Ya and I’m glad for it, even I have to lose my father because Jaeden killed him, for at least after all that my relationship with him was not really good, he trust me to do a very important thing”
“( Ya dan aku bersyukur untuk itu, meskipun aku harus kehilangan ayahku karena Jaeden membunuhnya, setidaknya walau hubunganku dengannya tidak terlalu baik, tapi dia mempercayakan ku untuk melakukan hal yang sangat penting )”
“........”
“And because of that, I can have a new family which is better ( Dan karena itu, aku dapat menemukan keluarga baru yang lebih baik )”
Damian memandangi Putra, Addison, Bruna dan Garret yang langsung tersenyum padanya.
“Even some of them are not with us anymore ...”
“( Meskipun beberapa dari mereka sudah tidak bersama kita lagi ... )”
Wajah Damian menjadi sedikit sendu, begitupun empat orang yang bersamanya itu.
“Well, let us make their sacrifice was not useless ( Kalau begitu, ayo kita buat pengorbanan mereka tidak percuma )”
“Of course! ( Tentu saja! )”
***
Setelah pembicaraan semalam, Putra, Damian, Addison dan Garret sudah terlihat sibuk menyusun segala rencana untuk apa yang akan mereka lakukan ke depannya di negara baru yang akan menjadi tempat tinggal mereka. Sementara Bruna yang menemani Anthony, agar empat pria tersebut bisa fokus dengan apa yang sedang mereka kerjakan.
Hari ini Anthony tidak memiliki jadwal terapi dengan Ilse.
“By the way, any progress of Anth? ( Ngomong – ngomong, ada kemajuan lagi dari Anthony? )”
Addison bertanya, setelah mereka berempat selesai menyusun dan mencatat serta membahas rencana jangka pendek mereka.
Putra mengangguk. “I can say yes ( Bisa kukatakan ya )”
“Really? ( Benarkah? )”
“Ya, the point is Anth is getting usual with Ilse ( Ya, intinya Anth sudah terbiasa dengan keberadaan Ilse )”
Damian menimpali seraya menggoda Putra, kemudian ia terkekeh.
__ADS_1
Sementara Putra melirik sebal pada Damian, yang kekehannya kemudian diikuti oleh Addison dan Garret.
“You all do not listen this chatterer ( Kalian semua jangan mendengarkan penggosip ini )” Celetuk Putra membuat Damian berikut Addison dan Garret membesarkan kekehan mereka.
****
‘Isn’t that the nurse who carried Anth yesterday? ( Bukankah itu perawat yang menggendong Anth kemarin? )’ Putra yang sedang menunggu Anthony yang sedang melakukan sesi therapy bersama Ilse itu terpake sejenak kesatu arah.
“.........”
“Eh?!”
Kemudian Putra terhenyak karena merasa ada yang menggandeng tangannya.
“Hey Anth.....”
Anthony yang memegang tangan Putra dan Putra langsung berjongkok di depan bocah itu.
“What’s wrong? ( Ada apa? )”
“Nothing ( Bukan apa – apa )”
Putra menjawab cepat pertanyaan Ilse sambil kembali berdiri dan mengeratkan genggamannya pada tangan mungil Anthony.
“Eeemmm..... Mister Putra.....”
“Yes? ( Ya? )”
“About.... my invitation to have a coffee ..... how about that? ( Tentang..... undanganku untuk minum kopi ..... bagaimana? )”
Ilse nampak sedikit salah tingkah di hadapan Putra.
“Sure ( Tentu )”
“Really?! ( Benarkah?! )”
“Yes of course ( Ya tentu saja )”
Putra menyunggingkan sedikit senyumnya yang terlihat ramah.
‘For at least I have to thank her for her effort helping Anth become better’
‘( Setidaknya aku harus berterima kasih padanya atas usahanya membantu Anth untuk menjadi lebih baik )’
Putra membatin meski sedikit heran melihat Ilse yang nampak begitu senang.
“So when you have time then? ( Jadi kapan kiranya anda punya waktu? )”
“I think that question, it is me that should be asked ( Sepertinya pertanyaan itu, seharusnya aku yang menanyakan )”
Ilse tersenyum.
“How about now? It is my time to have a break actually. But that if you have time ( Bagaimana kalau sekarang? Sebenarnya ini juga sudah waktu istirahatku. Tapi itupun jika anda punya waktu )”
“Okay. I don’t mind if you want us to go right now ( Baiklah. Aku tidak keberatan jika kau mau kita pergi sekarang ). Beside Anthony need to have a lunch also ( Lagipula Anthony juga harus makan siang )”
“I’m glad to hear it! Shall we? ( Aku senang mendengarnya! Mari? )”
“But I don’t know this city that well. Not yet. So maybe you can show me the good place ( Tetapi aku belum mengetahui kota ini dengan baik. Belum. Jadi mungkin kau bisa menunjukkan padaku tempat yang bagus )”
“Yes, sure! ( Ya, tentu! )”
“But not too far, because I don’t want Anthony become too tired”
“(Tapi jangan terlalu jauh, karena aku tidak ingin Anthony menjadi terlalu lelah )”
Putra kemudian mengangguk.
“Sounds good. Shall we? ( Terdengar bagus. Mari? )”
****
‘Reminds me to Larry’s place ( Mengingatkanku pada tempatnya Larry )’ Putra membatin saat ia sudah berada di depan sebuah restoran yang memang berada tak jauh dari Rumah Sakit.
Disamping tempat Putra berdiri sekarang, tampak memang seperti sebuah area yang di khususkan untuk tempat orang – orang mengisi perut.
“Well, this is not really luxurious. But I can’t guarantee all of restaurant here are clean. And some are famous for people here ( Yah, ini bukan tempat yang mewah. Tapi aku bisa jamin kalau semua restoran yang ada disini cukup bersih. Dan beberapa cukup terkenal )”
“It doesn’t matter luxurious or not. As long as Anthony feel comfortable I will be okay ( Tidak masalah mewah atau tidak. Selama Anthony merasa nyaman aku tidak masalah )”
“Okay. Well, feel pleased to choose Mister Putra ( Baiklah. Silahkan memilih, Tuan Putra )”
“Better I ask Anthony ( Sebaiknya aku tanya Anthony )”
Putra beralih pada Anthony yang sudah berada dalam gendongannya kini.
“Where do you want to eat Anthony? ( Kamu mau makan di mana Anthony? )”
Ilse bertanya dengan ramah sembari memegang tangan Anthony sekaligus tersenyum pada bocah tersebut.
Tapi Anthony tidak menanggapi Ilse.
' I thought Anth already get usual with Ilse ( Aku pikir Anth sudah terbiasa dengan Ilse )'
Putra membatin.
“Hey Anth, Doctor Ilse asked you ( Dokter Ilse bertanya padamu )”
Putra kini yang mengajak Anthony bicara, namun Anthony juga tetap diam, bahkan tak menoleh pada Putra. Mata kecil Anthony nampak asik sendiri melihat – lihat.
“It is okay, Mister Putra. Like I said, it takes time ( Tidak apa – apa, Tuan Putra. Seperti yang pernah aku bilang, butuh waktu )”
Putra hanya mengangguk.
“But I can guarantee that I can make him to talk and be able to have a normal interaction as soon as possible”
“( Tapi aku bisa jamin kalau aku bisa membuatnya bicara dan berinteraksi dengan normal lagi secepatnya )”
“I really wish that it could be happen ( Aku sangat berharap itu bisa terjadi )” Jawab Putra.
“It will of course, if you and me can cooperate very well ( Tentu saja bisa, jika kau dan aku bisa bekerja sama dengan baik )”
‘What does she means? ( Apa maksudnya? )’
Putra sedikit heran dengan kalimat Ilse barusan. Namun kemudian Putra anggap angin lalu saja.
Entahlah apa maksudnya, yang jelas saat ini Putra merasa sedikit lapar. Dan ia kembali beralih pada Anthony.
“So you want to choose the place Anth? ( Jadi apa kamu yang ingin memilih tempatnya Anth? )"
Anthony pun langsung memberikan sekali anggukan.
“Which one, hem? ( Yang mana, hem? )”
“There?. That’s a toast place. Are you sure want to eat toast again? You eat that at breakfast”
“( Disana?. Itu tempat roti bakar. Apa kamu yakin mau makan roti panggang lagi?. Kamu sudah makan itu saat sarapan )”
__ADS_1
“.......”
“You still want it? ( Kamu masih menginginkannya? )”
Anthonypun mengangguk lagi.
“Don’t worry, they have another food also than toast ( Jangan khawatir, mereka juga menyediakan makanan lain selain roti panggang )”
“Oh okay then ( Baiklah kalau begitu )”
“Shall we? ( Mari kita kesana? )”
Putra mengangguk dan berjalan berdampingan bersama Ilse menuju sebuah tempat makan yang tadi ditunjuk Anthony.
***
Putra menarik kursi untuk Ilse duduki. Sebuah sikap yang sudah menjadi kebiasaan bagi pria di kalangan putra selama ini sebagai bentuk tata krama pada seorang wanita.
“Thank you ( Terima kasih )”
Ilse menunjukkan senyumnya yang disertai anggukan pada Putra atas sikap pria itu yang nampak gentle dimatanya.
Sepertinya benar yang diduga oleh Bruna dan Damian kalau Ilse menyukai Putra. Nampak wajah Ilse terlihat begitu senang saat ini, bisa duduk bersama Putra walau hanya sekedar minum kopi dan makan siang.
Dan sepertinya Ilse memiliki kebanggaannya sendiri bisa bersama Putra saat ini, melihat bagaimana Paras tampannya pria yang ada dihadapannya itu, meski jarang tersenyum. Dan saat ini Putra memang cukup jadi perhatian mereka yang ada di restoran tempat mereka berada sekarang.
Meski sudah tidak aneh, walaupun tidak terlalu banyak pria asing yang ada di Ibukota, beberapa juga tak kalah tampan dari Putra. Namun Putra seolah punya pesonanya sendiri.
“Which one do you want Anthony? ( Kamu mau yang mana Anthony? )”
Ilse bertanya pada Anthony sambil membuka gambar dalam buku menu dan menaruhnya di atas meja depan Anthony.
“Anth .....”
Putra menyentuh lengan Anthony agar bocah itu setidaknya menanggapi Ilse dengan melihat wajahnya.
“Anth!”
Putra spontan berseru sambil juga bangkit dari duduknya karena Anthony bangkit dari kursinya lalu berlari kecil ke satu arah.
Putra sontak langsung mengejar Anthony, begitupun Ilse yang juga ikut bangkit dari tempat duduknya.
Hanya beberapa langkah, kemudian Putra berhenti karena Anthony juga berhenti didekat seorang wanita berpakaian perawat yang langsung terkesiap saat Anthony memegang tangannya kala ia sepertinya baru selesai makan dengan teman – teman seprofesinya.
“Eh?”
Perawat yang tangannya dipegang oleh Anthony langsung menoleh padanya, sementara rekan – rekan sejawatnya pamit undur diri duluan.
“Anth ...”
Putra juga sedikit terkesiap saat perawat tersebut menoleh.
‘She... ( Dia ) ...”
“Maaf, dia...” Putra merasa sedikit tidak enak pada perawat tersebut yang kemudian langsung berjongkok dihadapan Anthony dengan tersenyum.
Perawat tersebut menoleh pada Putra sebentar.
“Tidak apa – apa , Tuan ...” Ucap Perawat tersebut.
Dan perawat itu kembali menoleh pada Anthony sambil mengacak pelan kepala Anthony.
“Hallo handsome boy... ( Hallo anak tampan )”
“Dia tidak bisa menjawab kamu”
Putra menoleh karena dia mendengar Ilse bersuara. Sedikit terkejut dan tidak suka dengan pernyataan Ilse barusan.
“Dokter Ilse, selamat siang ...”
“Why did you talk like that? ( Kenapa kau bicara seperti itu? )”
Putra langsung saja berucap pada Ilse yang nampak menjadi salah tingkah. Hingga membuat Ilse mengabaikan sapaan dari perawat yang dihampiri oleh Anthony.
“I understand Bahasa, and I don’t like you talk like that about my son ( Aku mengerti Bahasa, dan aku tidak suka kau bicara begitu tentang anakku )”
Putra berbicara dengan nada yang datar, namun ketidak sukaan nampak di wajah tampannya.
“I’m-I’m sorry ... I don’t mean... ( Aku-aku mohon maaf... Aku tidak bermaksud ... )”
“Just watch the way you talk about my son ( Tolong perhatikan perkataanmu tentang anakku )”
“Yes, I will... ( Tentu ). I’m sorry... ( Maafkan aku )”
Perawat yang sedang berjongkok itu juga ikutan salah tingkah, melihat dua orang yang nampak sedang berdebat di dekatnya.
“Maaf, saya tidak bermaksud membuat anda berdua bertengkar”
“Tidak perlu anda pikirkan” Jawab Putra.
“Maksudku, dia tidak berbicara dengan orang yang tidak terlalu ia kenal”
Ilse meralat ucapannya.
Perawat itu pun tersenyum pada Ilse.
“Maafkan saya kalau begitu”
“Tidak apa” Ucap Putra yang nada suaranya kembali biasa.
“Bagaimana kalau kita berkenalan? Na...” Perawat itu kembali menoleh pada Anthony.
“Sudah saya katakan tadi, dia tidak berbicara dengan orang asing”
Ilse menyela. Bicaranya lembut, namun ketidaksukaan nampak sedikit tergurat di wajahnya. Melihat kalau perawat tersebut berparas cantik.
“Kami sudah pernah bertemu satu kali. Dan sepertinya anak ini mengenali saya Dokter. Makanya dia menghampiri saya”
Perawat itu berbicara dengan tenang sembari menatap Ilse. Putra jadi memperhatikan perawat tersebut dengan sedikit intens.
“Hallo. I’m Gadis. What’s your name? ( Aku Gadis. Siapa namamu? )” Perawat bernama Gadis itu mengulurkan tangannya pada Anthony.
Ilse menatap remeh pada Gadis.
“Maaf, mungkin dia tidak bisa menjawab pertanyaan anda”
Putra bersuara.
“Oh...”
“Namanya...”
“Anth-Anthony...”
****
To be continue ..
__ADS_1
Jempol jangan lupa kalo masih suka Gaeshhhhh.