LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 409


__ADS_3

Happy reading .....


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


Indonesia,


“Gadis?!”


Bruna memekik terkejut saat ia mendengar suara seperti benda yang terjatuh keras ke atas tanah, lalu ia menoleh dan mendapati jika Gadis telah terduduk di atas tanah.


“Are you okay, Gadis? –“


“Yes, Bru. I’m okay.”


“Do you feel pain in your stomach? ( Apa kamu merasakan sakit di perutmu? )”


Bruna tergesa bertanya, karena meski Gadis mengatakan dirinya tidak apa – apa, namun Gadis tidak berhenti meringis. Namun meski begitu, Gadis menggeleng kemudian. "No, Bru. My stomach is okay ( Tidak, Bru. Perutku baik - baik saja )" kata Gadis setelahnya. Karena memang dia merasakan jika perutnya tidak apa – apa.


****


"Better we go home now ( Sebaiknya kita pulang sekarang ) --"


"Iya." tukas Gadis patuh pada perkataan Bruna.


“Eum, bi ... sa tolong, panggilkan orang kami ... yang berdiri, di dekat mobil itu?”


Lalu Bruna berbicara sambil menatap kepada istri kepala desa yang langsung menyuruh salah seorang keluarganya yang ikut serta bersamanya menemani Gadis, Bruna dan Anthony itu untuk memanggilkan bodyguard yang Bruna maksud.


Hanya saja, bodyguard yang dimaksud itu sudah keburu datang dengan setengah berlari ketika ia menyadari jika ada kepanikan di tempat dua majikannya berdiri tadi.


****


“Sudah, Bu.”


Gadis berujar.


“Mereka kan tidak sengaja.”


Mencoba menghentikan istri kepala desa yang sedang memarahi tajam beberapa anak remaja kampung yang tadi menabrak Gadis hingga jatuh.


“Ya habis bercanda di jalanan engga liat – liat kanan kiri!”


Istri kepala desa itu menanggapi Gadis, tapi matanya tetap melotot kepada beberapa remaja kampung yang sedang berdiri tertunduk sambil meminta maaf dengan nada takut – takut pada istri kepala desa tersebut.


“Minta maaf sama Teh Gadis cepet! –“


“I – iya, Bu –“


****


"Kami minta maaf ya Teh? ..."


“Eum, kamu, panggilkan Garret dan Arthur, segera ya?”


Bruna berbicara kepada bodyguard yang sebelumnya ia minta tolong dipanggilkan, namun sudah keburu berinisiatif untuk menghampirinya dan Gadis duluan ----- saat beberapa remaja yang menabrak Gadis itu sedang meminta maaf kepada Gadis.


“Mama, what happened ( apa yang terjadi )?” Ini Anthony yang bertanya pada Gadis dengan khawatir, dimana saat ini dia telah berada di dekat Gadis ----- setelah sebelumnya ia mendengar salah seorang bodyguard yang sedang menemani dan menjaganya itu berseru sedikit panik di mata Anthony, sambil menunjuk ke arah tempat Gadis berada.


Lalu Anthony yang meski kurang jelas dan paham bodyguard tersebut mengatakan apa, langsung menoleh ke arah yang ditunjuk salah seorang bodyguard yang barusan berseru itu.


Kemudian Anthony langsung berlari setelah  melihat Gadis yang sedang dipegangi oleh Bruna dan wanita yang bersama dua ibu angkatnya itu, dengan Suheil dan dua bodyguard yang bersamanya mengekori.


Termasuk juga seorang lelaki yang merupakan keluarga dari kepala desa.


“Mama Gadis was fell, so better we go home now, okay Anth ( Mama Gadis terjatuh, jadi sebaiknya kita pulang sekarang, ya Anth )? –“


“Yes, Madre.”


Anthony menyahut patuh pada Bruna yang menjawab pertanyaannya sebelumnya, yang sebenarnya Anthony tujukan pada Gadis.


Sementara itu, satu bodyguard yang wajahnya paling garang itu kemudian melotot ke arah beberapa anak remaja yang masih berdiri tertunduk sekaligus memarahi mereka.

__ADS_1


“Kalian yang bikin Nyonyaku jatoh tadi?! –“


“I – iya, Kang –“


“Kurang A –“


“As ...”


Gadis langsung terdengar bersuara, kala satu bodyguardnya dan keluarga itu hendak berkata kasar kepada beberapa anak remaja yang kini sudah nampak ketakutan.


“Tidak perlu kasar pada mereka.”


Gadis meneruskan ucapannya dengan memberi penekanan pada satu bodyguard yang sangar itu.


“Ma – maaf Nyonya Gadis. Saya kesel abisnya.”


Bodyguard itu menyahut dengan sedikit tergugu.


“Nyonya kan katanya lagi hamil?” tambah bodyguard itu. “Nah Nyonya tadi jatoh gara – gara mereka terus nanti kalo anaknya Tuan Putra yang ada di dalem perut Nyonya kenapa – napa, selain saya merasa salah, saya pasti dihukum berat sama Tuan Putra bakalan –“


****


“Aku tidak apa – apa.”


Gadis berujar, menanggapi ocehan bodyguardnya dan keluarga yang paling sangar wajahnya itu.


“Tidak perlu berpikir terlalu jauh –“


“Come, let’s go to the car ( Ayo, kita pergi ke mobil )”


Bruna keburu menyambar untuk bicara sebelum Gadis menyelesaikan kalimatnya pada bodyguard bertampang sangar tersebut.


“Iya, Bru ...“


Gadis mengiyakan ucapan Bruna.


“Sudah, kalian boleh pergi.” Lalu Gadis beralih pada beberapa anak remaja yang menyebabkannya jatuh tadi.


Salah seorang remaja angkat bicara dengan gugup, menanggapi ucapan Gadis yang mempersilahkan mereka pergi tanpa marah sama sekali.


Bahkan Gadis menanggapi ucapan satu orang bicara mewakili teman – temannya itu, dengan tersenyum lembut seraya Gadis mengangguk.


“Tidak apa – apa. Hati – hati saja lain kali,” ucap Gadis kemudian.


“Iya, Teh –“


“Udah sana pergi kalian!”


Suara bodyguard bertampang sangar itu terdengar lagi.


“Tapi awas ya kalo sampe Nyonya saya kenapa – napa, saya cari kalian sampe dapet terus saya gebukin satu – satu –“


“As!”


Gadis dengan cepat menyergah tajam, cerocosan bodyguard sangarnya  dan keluarga yang mengancam beberapa remaja tersebut.


“Sudah.”


“Iya, Nyonya Gadis.”


****


Setelah Gadis memberi peringatan kepada satu bodyguardnya dan keluarga walau tidak keras, Bruna kemudian lebih memposisikan dirinya untuk memapah Gadis untuk sampai ke mobil mereka.


Dan istri kepala desa pun juga ikut untuk memapah Gadis.


“I still can walk by myself ( Aku masih bisa jalan sendiri ), Bru.”


Gadis berkata pada Bruna. Namun Bruna tetap memaksa untuk memapah Gadis untuk berjalan. Dengan Bruna yang tidak melepaskan pegangannya pada lengan Gadis.


Gadis pun tersenyum geli saja ----- selain pasrah. Dengan paksaan kecil Bruna itu.

__ADS_1


“Tidak apa, Bu. Aku masih bisa jalan sendiri.”


Lalu Gadis berkata pada istri kepala desa. “Iya engga apa – apa, Dis. Biar sekalian Ibu anter kamu sampe masuk mobil.”


Istri kepala desa itu pun langsung menanggapi ucapan Gadis padanya tadi.


****


“Terima kasih, Bu.” Sahutan Gadis pada istri kepala desa yang ingin mengantarnya hingga masuk mobil itu.


“Aduh, Dis, Dis. Gitu aja kok pake terima kasih segala. Kan katanya juga tadi kamu mau titip sesuatu buat Aang sama ibunya?”


Lalu istri kepala desa pun menanggapi ucapan terima kasih Gadis padanya itu. Dimana Gadis tersenyum lalu berujar setelahnya. “Oh iya. Un –“


"Eh, Gadis?! ..." sebuah suara dari seseorang yang datang dari arah belakang Gadis dan mereka yang sedang berjalan bersamanya itu memotong ucapan Gadis yang hendak menjawab ucapan istri kepala desa yang mengingatkannya untuk mengambil buah tangan di dalam mobil yang ingin Gadis berikan pada teman lamanya.


Dimana suara yang memanggil Gadis itu, terdengar bersamaan dengan sosoknya yang seperti tergesa untuk menghampiri Gadis yang kemudian nampak terkejut melihat sosok yang sedetik lalu memanggilnya dan sudah ada di hadapannya kini. "I - ibu --"


“Ya ampun! Ini beneran kamu, Gadis?! ...” sosok yang berada di hadapan Gadis itu berseru, di saat Gadis berkata dengan sedikit tergugu.


“I – iya ...”


“Ya ampun Gadiis ... akhirnya kamu pulang, Nak ...” lalu sosok yang adalah seorang wanita paruh baya itu melirih dengan memegang lengan Gadis sambil menatap Gadis dengan wajah yang dibuat berekspresi terharu, “Ibu udah laama cari kamu, Dis.”


****


Sementara itu di sudut lain yang lumayan jauh dari tempat Gadis dan mereka yang bersamanya berada,


‘Duuhh, ga sabar pengen tau rencana awal ibu sukses apa engga. Tuh anak – anak jadi ga ngelakuin apa yang ibu minta mereka buat lakukan?’ seorang wanita yang kiranya seusia Gadis, sedang berdiri dan membatin gusar di tempatnya ----- sambil ia celingukan tak sabar.


Serta juga sembunyi – sembunyi saat ia ‘memanjangkan’ lehernya untuk melihat keadaan, lalu mengendik – ngendik juga keluar dari balik tembok bilik tempatnya berdiri. Lalu wanita itu membatin lagi.


‘Ah jadi pasti. Tuh anak – anak masa ga mau diimingin duit?’ sambil wanita itu celingukan lagi ----- lalu tak lama dia nampak sumringah ketika ada beberapa anak remaja yang sedang berjalan ke arah tempatnya berada.


----


“Gimana?!”


“Udah Teh, kita udah ngelakuin apa yang Ibu Inu bilang tadi.”


“Terus, terus?!”


“Ya udah Teh Gadisnya jatoh.”


“Mati?”


“Ya engga lah Teh, Ibu Inu kan cuma bilang kita suruh lelarian terus nabrak Teh Gadis.”


‘Huh! Harusnya si Gadis berdiri di jurang biar pas kedorong langsung mati dan aku ambil deh suaminya. Kalo emang bener si Gadis itu nikah sama laki - laki londo yang kaya raya –‘


“Mana duitnya, Teh?!”


“Ih! Kalo soal duit aja cepet banget ingetnya!”


“Ya kan Ibu Inu udah janji mau ngasih duit kalo kita mau ngikutin apa yang dia suruh. Terus kalo udah selesai suruh minta duitnya keTeteh ...”


“Iya, iya!”


“......”


“Nih! Tapi bener ya kalian udah beneran dorong si Gadis?!”


“Iya bener lah Teh, masa kita boong? Tanya aja nanti sama Bu Inu jeung Teh Sari.”


“Iya udah aku percaya. Nih ambil duitnya! Tapi inget! Mulutnya ditutup rapet – rapet, kalo engga awas aja!”


“Iya, Teh Madya –“


🔵🔵🔵🔵🔵🔵


To be continue .....

__ADS_1


__ADS_2