LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 228


__ADS_3

Happy reading....


♣♣♣♣♣♣♣♣♣


“Jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku janji tidak akan lama berada di Pabrik. Hanya ingin melihat sejauh mana pembangunannya..”


Putra yang tadi membahas jika ia dan para saudaranya itu ingin mengunjungi bakal Pabrik Teh mereka yang sedang dalam tahap pembangunan itu, sedang berbicara pada Gadis.


Gadis menggeleng pelan.


“Aku kan sudah bilang, kalau aku tidak ingin sedetik pun jauh darimu hari ini ...” Dimana ucapan Gadis, membuat Putra sedikit menghela nafasnya berat.


“Ya sudah ...”


Putra menarik sudut bibirnya dan mengiyakan permintaan Gadis, karena ia tidak ingin mengecewakan istri tercinta dan satu-satunya itu, tentu saja.


**


Selesai dengan makan siang mereka, Putra berikut Anthony dan Gadis, berikut Addison, Bruna, Damian dan Garret, meninggalkan Restoran milik keluarga mereka itu, untuk pergi mengunjungi Pabrik Teh mereka yang masih dalam tahap pembangunan.


Ke tujuh orang tersebut telah kembali menaiki mobil terpisah yang mereka tumpangi sejak dari Villa, kala mereka pergi berkeliling dan berjalan-jalan ke Pusat Kota. Minus Danny, yang standby di Restoran, dan akan kembali bertemu dengan tujuh orang yang sudah menganggap dan mengangkatnya sebagai bagian dari keluarga mereka itu saat waktu makan malam nanti.


Tiga mobil yang ditumpangi ke tujuh orang tersebut pun melaju ke sebuah daerah yang terhitung masuk dalam area Villa tempat tinggal mereka, namun cukup sangat berjarak.


**


Sambil sesekali memperhatikan jalanan yang dilewati mobil dengan supir yang mengemudikannya, Putra juga memperhatikan Gadis dan Anthony yang juga sedang memperhatikan jalanan dari luar jendela mobil.


Anthony, kadang berceloteh, dan tentu saja Putra menanggapinya dengan antusias.


Gadis pun juga ikut menanggapi jika Anthony berbicara padanya. Lalu kembali menatap jalanan yang dilewati mobil yang ia tumpangi bersama Putra dan Anthony, dari jendela mobil yang berada disisi kanan Gadis.


Awalnya Gadis nampak antusias.


Bahkan saat akan melewati Villa mereka dan Putra bertanya lagi apakah Gadis tetap ingin ikut dan Gadis tetap mengatakan ‘iya’, kalau dia tetap ingin ikut melihat bakal Pabrik Teh mereka itu, Gadis terlihat masih antusias.


Hanya saja, semakin sudah melewati Villa dan mobil sudah hampir mencapai daerah tempat Pabrik Teh keluarga mereka akan berdiri nanti, Gadis nampak gelisah.


Dan itu tidak luput dari perhatian Putra. “Ada apa?” tanya Putra, yang membuat Gadis sedikit terkesiap.


Gadis dengan cepat menoleh, dan Putra menangkap raut kekhawatiran di wajah Gadis.


“Apa Pabrik Teh kalian---”


“Pabrik Teh kita,” potong Putra pada Gadis yang berucap barusan. “Apa kamu lupa jika kamu adalah istriku, hem?”


“Iya, maksudku Pabrik Teh kita.”


Gadis meralat ucapannya.


“Apa masih jauh dari sini? ...” tanya Gadis.


“Tidak ...” jawab Putra. “Kira-kira sepuluh menit lagi kita sampai.”


‘Jika sepuluh menit lagi, itu akan sampai di daerah tempat tinggal rentenir itu.’


Gadis membatin.


‘Aduh, bagaimana ini? ...’


Gadis pun kian gelisah.


“Ada apa, Gadis? ...”


‘Semoga saja Putra tidak berurusan dengan orang itu. Mana aku sedang tidak membawa uang untuk menebus kebun dan rumah ayah dan ibu lagi ...’


Namun Gadis yang sibuk bermonolog dalam hatinya itu tak memperhatikan Putra yang barusan bertanya padanya.


“Gadis,” panggil Putra lagi sambil menyentuh tangan Gadis yang jarinya terpaut, dan bergerak nampak gelisah.


“Ah ...”


Barulah Gadis terkesiap.


“Ada apa? ...” tanya Putra.


“Eeengg ... itu ...” Gadis tergugu.


“Kamu nampak gelisah?” tanya Putra lagi.


“Apa kamu membawa uang banyak saat ini, Putra?”


Putra sedikit mengernyit mendengar pertanyaan Gadis barusan.


“Kenapa memangnya?” Putra balik bertanya. “Ada yang bisa kamu jelaskan padaku, hem?”


“Itu ...” Gadis masih tergugu.


“Katakan saja Gadis ...” ucap Putra. “Ada apa?”


“Eengg ...” Gadis nampak ragu untuk menjawab.


Putra masih menatapnya, bahkan Anthony juga sedang ikut menatapnya. Gadis sedang merangkai kata-kata di kepalanya, dengan matanya yang melirik pada jalanan di luar, dari jendela mobil penumpang depan, karena Gadis sudah duduk dengan posisi sedikit miring menghadap pada Putra dan Anthony yang ada disisi kirinya.


‘Oh tidak!’


“Bicara Gadis.”


“Aku, aku, nanti tidak turun ya?” Gadis nampak semakin gelisah. ‘Ini benar-benar satu area dengan tempat tinggal rentenir itu ...’


Kembali Gadis membatin.


‘Oh Tuhan, semoga saja Putra tidak berurusan dengan orang itu. Aku tidak mau Putra terlibat masalah dengan orang licik itu, jika ia melihatku bersama Putra’


Batin Gadis yang semakin khawatir.


“Kenapa tidak mau turun?”


Putra terdengar lagi bertanya, dan mulai mengintimidasi Gadis dengan pandangannya.


“Katakan padaku ada apa sehingga kamu gelisah seperti ini?” tuntut Putra. “Gadis?” Putra memberikan sedikit penekanan.

__ADS_1


Dan Gadis sudah tahu betul, jika tatapan Putra sudah seperti itu, ia pun tidak mampu untuk berkelit lagi.


“Sebenarnya, daerah ini adalah daerah tempat tinggal rentenir tempat ibu tiriku menggadaikan kebun dan rumah orang tuaku ...”


“Hem.”


Putra berdehem dan menyungging miring.


Suami Gadis itu sepertinya tahu siapa yang Gadis maksud.


“Aku takut bertemu dengannya, karena ibu tiriku juga membuat perjanjian dengannya, jika aku bisa diserahkan padanya, maka kebun dan rumah orang tuaku akan diberikan lagi oleh rentenir itu pada ibu tiriku.”


Putra masih tersenyum miring.


Hanya saja Gadis tidak melihat senyuman miring suaminya itu, karena ia sedang tertunduk.


“Rentenir itu sangat licik, dan dia pasti akan langsung mengenaliku jika ia melihatku nanti ... Dia pasti akan menyusahkanmu karena aku.”


“Baskoro maksudmu?”


Dimana Gadis langsung mengangkat kepalanya. Dan langsung juga menatap pada suaminya yang nampak santai dan nampak tersenyum miring.


“Pria itu yang kamu maksud bukan?”


“Kamu ... mengenalnya, Putra?” tanya Gadis.


“Aku tidak menganggap jika diriku mengenalnya ...”


Putra menjawab.


“Hanya pernah bertemu beberapa kali ...”


Putra melanjutkan.


“Apa ... kamu bekerja sama dengannya?”


“Tidak.”


Putra menjawab cepat.


Dan Gadis langsung terlihat lega. “Syukurlah jika kamu tidak bekerjasama dengannya ...”


“Kenapa memangnya?” tanya Putra.


“Dia laki-laki yang licik, selain tamak dan curang ...”


‘Juga menyebalkan.’


Putra menimpali dalam hati.


‘Maka itu aku membunuhnya.’


“Dan aku tidak ingin kamu terlibat masalah jika berurusan dengan laki-laki licik itu, Putra ...”


Putra menyungging miring selepas mendengar ucapan Gadis barusan.


“Tidak, dan tidak akan pernah,” jawab Putra kemudian. “Tenang saja,” lanjutnya.


*


Gadis nampak tenang.


Namun tak lama, karena kemudian ia terlihat gelisah saat mobil telah berbelok pada satu arah yang Gadis cukup kenali.


‘Ini ...’ batin Gadis.


“Kenapa?” Putra yang sadar Gadis nampak gelisah lagi pun sontak bertanya.


“Apa kamu berencana untuk bertemu dengannya?” Gadis balik bertanya.


“Siapa?” Putra menjawab dengan pertanyaan. “Baskoro?”


“Iy, a ...” jawab Gadis sembari mengangguk. “Karena ini jalan menuju rumahnya, Putra ...”


Putra tersenyum sebelum ia berbicara untuk menanggapi ucapan Gadis barusan. “Ini jalanan menuju Pabrik Teh kita, Gadis ...”


“Tapi ini menuju ---“


“Lihatlah.”


Putra yang duduk setengah miring menghadap Gadis dan Anthony itu menunjuk ke arah kaca mobil depan.


Membuat Gadis sedikit memajukan tubuhnya seperti Anthony, melihat ke arah luar jendela mobil yang berada di tengah depan itu.


Dan memang seperti yang Putra katakan, jika area di depan mereka, memang sedang nampak sedang ada pembangunan. Pembangunan Pabrik Teh milik mereka.


‘Eh? Seharusnya disini kan rumahnya si rentenir bernama Baskoro itu? ...’


Gadis pun membatin sambil memperhatikan arah di depannya itu, sampai mobil yang ia tumpangi bersama Putra dan Anthony dengan seorang supir itu berhenti berjarak dengan tempat pembangunan.


Gadis yang tidak menyadari jika mobil telah berhenti itu kemudian terkesiap, karena tahu-tahu pintu mobil yang berada disisi kanannya telah terbuka dan Putra telah juga berdiri disana. “Ayo turun.”


Putra mengulurkan tangannya pada Gadis, dan Gadis menyambut uluran tangan Putra itu, dengan meletakkan telapak tangannya, di atas telapak tangan sang suami yang sedang mengajaknya untuk segera keluar dari mobil.


“Tapi aku ingat betul, kalau seharusnya disana itu adalah rumahnya rentenir yang berurusan dengan ibu tiriku.”


Gadis yang wajahnya nampak sedikit bingung itu berucap, sambil masih mengedarkan pandangannya.


“Dan setahuku, lahan sekitaran rumahnya ini juga miliknya,” sambung Gadis. “Yah, walaupun rasanya juga dia ambil dengan paksa milik orang-orang disekitar sini yang tak mampu membayar hutang mereka pada laki-laki licik itu.” lanjut Gadis.


Gadis menoleh pada Putra, setelah ia berhenti mengedarkan pandangannya.


“Sekarang ini sudah menjadi milik kita. Baik lahan rumahnya ataupun area di sekelilingnya yang juga pernah ia kuasai.”


Putra menegaskan.


“Jadi dia menjual tanahnya ini ke kamu? ...”


“Tidak.”


Putra menjawab cepat dan mantap.

__ADS_1


Dimana Gadis mengernyit sambil memandang pada suaminya itu.


“Aku mengambilnya sebagai bayaran atas sikap tidak menyenangkannya pada kami.”


“Maksudnya? ...” tanya Gadis.


“Keparat itu pernah mencurangi kami dengan menghancurkan seluruh perkebunan teh yang sudah siap panen. Membuat kami sangat merugi. Jadi aku ambil lahannya disini sebagai ganti rugi,” jawab Putra.


“Lalu dia terima begitu saja, begitu? ...”


“Mau tidak mau,” jawab Putra. “Suka tidak suka ya itu yang harus dia terima sebagai ganjaran telah mengganggu keluarga kita.”


“Apa dia tidak memberikan perlawanan? ...” tanya Gadis. “Karena setahuku dia itu punya teman yang lumayan berpengaruh di Ibukota. Makanya si Baskoro itu sangat semena-mena ...”


Putra menyungging miring. “Apa yang dia punya tidak akan cukup untuk bisa melawan suamimu ini Gadis,” ucap Putra kemudian. “Hanya bajingan tengik yang tidak seberapa, tidak akan sanggup melawanku dan tiga orang saudara iparmu itu.”


“Jadi kamu dan Ad, Dami serta Garret mengambil paksa lahannya ini, lalu mengusirnya?” tanya Gadis lagi. “Tapi dia tidak akan tinggal diam begitu saja pastinya ...” ucap Gadis sebelum Putra sempat menjawab pertanyaannya. “Orang licik seperti itu.”


Gadis bersandar manja di lengan Putra yang berjalan bersisian dengannya saat hendak mendekat pada area pembangunan Pabrik mereka, yang waktu bekerja dari orang-orang yang terlibat dalam pembangunannya sudah akan selesai tidak lama lagi.


Putra dan keluarganya memberikan jam kerja yang wajar bagi para pekerja mereka. Yang penting para pekerja itu haruslah disiplin dalam melakukan pekerjaan mereka.


“Aku khawatir nanti dia kembali, lalu mencari masalah denganmu dan membuat kamu, Ad, Dami dan Garret terkena masalah yang besar karena kenalannya yang merupakan orang berpengaruh itu.”


“Keparat bernama Baskoro itu tidak akan dapat lagi mencari-cari masalah denganku, dengan keluarga kita,” ucap Putra yakin. “Tenang saja ...”


“Kamu ini, selalu menggampangkan sesuatu, Putra.”


“Memang seperti itu kenyataannya, sayangku Gadis ...”


Putra meletakkan dua jarinya di dagu Gadis, dan menggoyangkannya pelan.


“Keparat bernama Baskoro itu harus keluar dulu dari neraka untuk bisa mencari masalah denganku lagi ...”


Gadis yang tadinya tersenyum itu, kini wajahnya menjadi sedikit tegang. “Apa mak-sudmu? ...” tanya Gadis yang menaruh perhatian pada kalimat Putra barusan.


“Aku membunuhnya.”


*


Betapa Gadis terperangah, diantara kaget dan tak percaya dengan apa yang baru saja Putra katakan perihal apa yang sudah Putra lakukan pada seorang laki-laki yang dulu pernah hampir menguasai Gadis karena kelakuan ibu dan saudari tirinya.


“Aku membunuhnya.”


Ucapan Putra itu membuat Gadis bingung harus merasa bagaimana.


Kalau senang, seharusnya Gadis senang bukan, karena ancaman dalam hidupnya selain ibu dan saudari tirinya sudah mati?.


Tapi disisi lain Gadis juga bergidik setelah mendengar ucapan Putra. Walau, sedikit banyak Putra telah menceritakan jalan hidup suaminya itu padanya.


Putra juga sudah pernah mengatakan, jika tangannya sudah berlumuran darah. Tapi tetap saja Gadis tidak dapat menutupi jika dia sedang syok sekarang atas pengakuan Putra yang sudah membunuh seorang rentenir yang bernama Baskoro.


“Kamu ... benar-benar membunuh laki-laki itu, Putra? ...” tanya Gadis ragu-ragu dan tergugu.


“Ya,” jawab Putra dengan pasti.


“Tapi, kenapa? ...” lirih Gadis. “Kenapa sampai mem-membunuhnya? ...”


“Selain dia membuat keluarga kita merugi, dia juga mengancamku, menantangku. Dan aku sangat membenci hal itu, selain aku membenci keparat yang sudah menghabisi orang tua Anth dan para saudaraku yang menyertai keduanya kala itu.”


Putra menggenggam tangan Gadis yang nampak tegang itu.


“Dan untuk mereka yang mengancam serta menantangku, aku tidak memberikan ampunan,” tegas Putra.


“Tapi ... apa harus sampai mem-bu-nuh? ...” tanya Gadis dengan tergugu.


“Ya.”


Putra menyahut pasti.


“Dengan begitu satu masalah selesai.”


Putra menghentikan langkahnya, lalu membuat dirinya dan Gadis berhadapan.


“Keparat, pengkhianat yang merugikan ku, atau keluargaku tidak akan aku ampuni walau sedikit saja,” tutur Putra. “Aku sudah pernah menceritakan kepadamu bukan?”


“I, ya ...” Gadis mengangguk. “Ta-pi kamu benar-benar sudah membunuh rentenir yang bernama Baskoro itu? ...”


Putra mengangguk.


“Termasuk semua anak buahnya.”


“A-apa? ...”


“Dan aku membakar mereka semua, berikut tempat tinggal keparat itu ...”


Putra menyungging miring.


“Jika ingat para keparat, aku jadi tak sabar ingin segera pergi menghampiri keparat pembunuh orang tua Anth dan para saudaraku ...”


Putra memandang sedikit nanar ke arah selurusan matanya.


“Jika memang memungkinkan nanti, akan aku bawa kepala keparat bernama Jaeden itu untuk aku letakkan di kaki Anth ...”


Putra kembali menyungging miring kemudian.


“Kalau perlu aku mutilasi juga setiap bagian tubuhnya ...”


‘Oh Tuhan ...’ Gadis rasanya kelu.


“Hah, semoga saja aku bisa melakukannya dengan mudah. Doakan aku ya, agar dapat memisahkan kepala keparat itu dari tubuhnya? ...”


Enteng saja Putra berbicara.


‘Apa suamiku ini seorang psikopat? ...’


**


To be continue ...


Terima kasih masih setia.

__ADS_1


__ADS_2