LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 145


__ADS_3

Happy reading ..


**********


Anthony dan Putra berikut Gadis, sudah berada didalam mobil saat ini. Ketiga duduk di kursi penumpang belakang mobil, sementara di bagian depan ada Danny dan seorang anak buah Putra yang bertugas menjadi supir. Putra hendak mengantar Gadis ke Rumah Sakit, tempat Gadis bekerja sebagai seorang Perawat selama ini. Yang mana, Gadis akan mengajukan surat pengunduran resminya untuk berhenti bekerja di Rumah Sakit tersebut sekaligus berpamitan pada para rekan sejawat Gadis.


“Putra ..”


Gadis memanggil Putra.


“Yes?.. ( Ya.. )”


Putra langsung menanggapi.


“Apa bisa mampir ke rumah kontrakanku dulu sebelum ke Saint?”


“Bukannya kita baru akan kesana setelah urusanmu selesai di Saint?”


“Iya memang, rencanaku seperti itu tadi. Tapi aku baru ingat sesuatu”


“Apa?”


“Masa kontrak bekerja ku kan belum habis di Saint, aku baru teringat ada denda yang mungkin harus aku bayarkan jika aku mengundurkan diri sebelum masa kontrak kerjaku habis .. jadi aku ingin mengambil buku tabunganku dulu di rumah kontrakanku dan setelahnya aku minta diantarkan ke Bank untuk mengambil uang ..”


Putra kemudian menarik sudut bibirnya ke atas.


“Tidak perlu mengkhawatirkan soal denda yang kamu katakan itu..”


Satu tangan Putra kemudian terulur ke puncak kepala Gadis dan mengelusnya pelan.


“Biar aku yang mengurusnya ..” Ucap Putra.


“Tapi Putra..”


“Itu sudah kewajibanku sebagai orang yang memintamu untuk berhenti bekerja”


“Kamu sudah terlalu banyak mengeluarkan uangmu untukku Putra”


“Uangku, uangmu juga. Sudah pernah aku katakan padamu bukan? ..”


“Tapi ..”


“Sudahlah, simpan saja uang dalam tabunganmu untuk hal lain nanti”


“.....”


“Hem?”


“Iya sudah..”


Gadis pun mengangguk.


Kemudian Gadis berinteraksi dengan Anthony yang duduk diantara dirinya dan Putra.


**


Putra tersenyum tipis seraya menoleh pada Gadis yang sedang berinteraksi dengan Anthony. Tak ada gurat tertekan di wajah Gadis-nya saat ini. Meski Putra yakin, ada sedikit rasa berat di hati Gadis untuk berhenti bekerja atas permintaan Putra.


‘Maafkan ke-egoisan-ku Gadis ...’ Batin Putra.


“Kenapa?..” Tanya Gadis kala ia menyadari jika Putra sedang memperhatikannya.


“Hem?..”


“Kamu melihatku sedari tadi”


Putra menampakkan senyumnya.


“Aku memperhatikan calon istriku yang cantiknya bukan main dan sedang berkata dalam hati betapa beruntungnya aku ini bisa memiliki calon istri seperti dirimu, apakah itu salah?..”


“Manis sekali mulutmu”


Putra mendengus geli saja mendengar jawaban Gadis, yang orangnya melayangkan senyumnya pada Putra yang barusan menggombali nya dengan kata-kata manis.


Gadis juga sedikit merona, karena ada Danny dan satu anak buah Putra di kursi supir, yang jelas paham bahasa Indonesia. Danny yang memang paham bahasa Indonesia itu, mengulum senyumnya setelah mendengar Putra mengeluarkan kata rayuan untuk Gadis.

__ADS_1


‘Since when, that cold-heart man has a good skill in seducing? .. ( Sejak kapan pria dingin itu menjadi pandai merayu? .. )’


Danny membatin geli.


“Did you just seducing Gadis, Papa? ( Apa Papa sedang merayu Gadis? )” Pertanyaan Anthony membuat Putra dan Gadis sontak terkekeh geli, dan Danny sedikit memutar tubuhnya ke arah kursi penumpang belakang.


“Why if I’m seducing my own beloved woman? ( Kenapa memang jika aku merayu kekasihku sendiri? )..” Putra balik bertanya pada Anthony, sembari mencubit pipi bocah tampan itu dengan gemas seraya terkekeh kecil.


“Did he quite often seducing Gadis ( Apa dia sering merayu Gadis ) , Anth? ..” Danny mengeluarkan celetukan.


Dan Anthony langsung saja mengangguk antusias.


“Papa is so girlish now, Uncle ( Papa itu sangat genit sekarang, Paman )”


Dan Danny sontak terkekeh mendengar ucapan Anthony barusan.


“Really?? .. ( Benarkah?? .. )” Tukas Danny dan lagi-lagi Anthony mengangguk antusias.


“Papa even ogled his eyes to Gadis ( Papa bahkan mengerlingkan matanya pada Gadis )”


Anthony melirik jahil pada Putra yang sedang terkekeh itu.


“Totally girlish! .. ( Benar – benar genit!.. )” Tambah Anthony.


“Haha! ..”


Dan Putra serta Danny pun sama-sama tergelak kemudian.


“But I’m happy to see you like this ( Tetapi aku senang melihatmu seperti ini ), Papa..”


Anthony mengelus satu pipi Putra, yang sudah mengganti gelakannya dengan senyuman sembari menatap Anthony.


“Because I don’t want to see you sad anymore ( Karena aku tidak ingin melihat Papa bersedih lagi ) ..” Ucap Anthony dengan ketulusan yang terpancar dari matanya yang sedang menatap Putra itu.


Didetik selanjutnya, Putra langsung merengkuh tubuh mungil Anthony yang duduk diantaranya dan Gadis, lalu memberikan beberapa kecupan di pucuk kepala Anthony yang juga sudah merengkuh tubuh Putra disampingnya.


“I already made a promise to you that I won’t be sad anymore, remember? ( Aku kan sudah berjanji padamu jika aku tidak akan bersedih lagi, ingat? )”


“Yes Papa, I remember.. ( Iya Papa, aku ingat.. )”


“Then I won’t be sad anymore, if you promise me, that you won’t be sad anymore also ..”


“Yes Papa, I promise ( Iya Papa, aku berjanji )”


“That’s my Boy ( Itu baru anakku )” Putra kembali merengkuh Anthony, dan mendaratkan beberapa kecupan lagi di pucuk kepala Anthony yang kemudian mengecup pipi Putra.


Gadis dan Danny sama-sama melayangkan senyum mereka melihat interaksi Putra dan Anthony yang selalu nampak hangat itu.


**


Putra dan mereka yang bersamanya sudah sampai di rumah sakit tempat Gadis bekerja sebagai seorang perawat selama ini. Yang pertama didatangi Putra bersama Gadis, Anthony dan Danny adalah ruangan kepala yayasan rumah sakit tersebut.


Dimana si kepala yayasan rumah sakit itu sendiri dan wakilnya, juga satu staf yang merupakan asisten keduanya memang sudah menunggu kedatangan Putra yang sudah dibuatkan janji terlebih dahulu oleh Danny perihal kedatangan mereka itu.


“Ada apa?” Tanya Putra, selepas Gadis sudah mengutarakan pengunduran dirinya dari rumah sakit yang bernama Saint itu pada si kepala yayasan dan rumah sakit itu sendiri dengan menyerahkan surat pengunduran diri  Gadis sebagai seorang perawat secara resmi, yang sudah dibuatkan oleh Danny.


Sekaligus juga, Gadis berpamitan kepada tiga orang yang cukup berpengaruh di rumah sakit tempat Gadis bekerja selama ini.


“Tidak apa-apa” Jawab Gadis, setelah dia sempat celingukan sebentar setelah keluar dari ruangan kepala rumah sakit dan kini sedang berjalan untuk menuju ruangan khusus para perawat.


Sementara Danny, masih berada di ruangan kepala yayasan rumah sakit, karena ada sedikit yang ingin dibicarakan dengan si kepala rumah sakit dan dua orang yang bersamanya, sesuai titah Putra yang sudah diutarakannya pada Danny.


“Apa kamu khawatir bertemu Ilse?”


“Iya..” Jawab Gadis seraya mengangguk.


Putra dan Gadis berjalan berdampingan di belakang Anthony yang berjalan didepan mereka.


“Mengapa harus khawatir bertemu dengannya?. Kamu tidak perlu takut padanya..”


“Bukannya aku takut pada Dokter Ilse..” Sambar Gadis. “Aku hanya malas menanggapi segala ucapan dan sikap sinisnya padaku..”


“Aku yang menanggapi setiap orang yang sinis padamu nanti”


Putra meyakinkan.

__ADS_1


“Lagipula jika Ilse yang kamu khawatirkan saat ini, itu tidak perlu”


“Iya, aku tahu kamu pasti membelaku” Ucap Gadis. “Tapi aku tidak ingin ada keributan lagi, gara-gara dia cemburu padaku yang dekat denganmu”


“Wajar saja jika dia cemburu padamu”


Putra berucap.


“Aku kan pria tampan dan kaya raya, tidak hanya Ilse yang akan cemburu padamu yang dekat denganku, bahkan menjadi calon istriku.. Semua wanita di Negeri ini pasti cemburu padamu”


Putra berkelakar. Dan Gadis terkekeh kecil. “Percaya dirimu memang luar biasa sekali Tuan Putra”


“Untuk ukuran pria sepertiku, wajar jika memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi”


“Ya, ya” Gadis memutar bola matanya malas. “Tapi jika kita berpapasan dengan Dokter Ilse, abaikan saja ya?” Pinta Gadis.


“Kita tidak akan berpapasan dengannya” Sahut Putra cepat.


“Yakin sekali kamu” Sambar Gadis. “Justru karena aku ingat jika hari ini adalah hari prakteknya disini, makanya aku khawatir berpapasan dengannya, lalu harus mendengarkan sindiran Dokter Ilse lagi padaku”


Gadis mengerucutkan bibirnya.


“Dan aku juga malas jika melihatnya bersikap manis padamu ..”


Putra terkekeh kecil.


“Apa Gadis-ku sedang cemburu?”


“Menurutmu?”


Gadis balik bertanya, dan Putra kembali terkekeh kecil.


“Lagipula Dokter Ilse itu sangat cantik, jika ia terus-terusan mendekatimu bisa saja kamu kemudian tergoda padanya”


“Itu tidak akan terjadi”


Putra langsung menyambar dugaan Gadis sekaligus mematahkannya.


“Lagipula, saat ini kita memang tidak akan berpapasan dengannya”


Putra meraih tangan Gadis dan menggandengnya.


“Apa yang membuatmu sangat yakin?”


“Karena dia tidak disini” Jawab Putra.


Gadis pun serta merta mengernyitkan dahinya sembari menatap ambigu pada Putra.


**


‘Apa maksud Putra itu Dokter Ilse sudah tidak praktek disini lagi???..’ Gadis spontan saja membatin dalam hatinya setelah ucapan Putra yang bilang jika Ilse tidak ada disini. ‘Benarkah begitu? .. Ah aku jadi penasaran’


Gadis kemudian menoleh pada Putra saat mereka sudah hampir sampai ke ruang khusus para perawat, dimana Anthony sudah lebih dulu berbelok ke arah ruangan tersebut.


‘Aku ingat waktu Putra memergoki ku, Dokter Ilse juga ada di JP’ Batin Gadis lagi ‘Apa Dokter Ilse yang memberitahukan Putra perihal aku yang bekerja di JP untuk membuat Putra menjauhiku, lalu setelah hubunganku dan Putra membaik, Putra meminta Pak Kepala Yayasan untuk memecat Dokter Ilse dari sini?’


Gadis melirik Putra.


‘Putra ini susah dimengerti jalan pikirannya.. Tapi apa iya sampai seperti itu?.. ‘ Sambung batin Gadis. ‘Jika iya, seharusnya aku senang ya?..’


Tapi kenyataannya Gadis tidak sepicik itu hatinya.


‘Tidak ah, meski Dokter Ilse menyebalkan jika bersikap padaku, tapi dia kan Dokter dan Psikolog hebat.. Jika memang Dokter Ilse tidak praktek disini lagi dan itu karena Putra, aku rasanya harus bicara pada Putra..’


“Ada apa?”


Putra langsung bertanya, karena Gadis menghentikan langkahnya dan Anthony sudah masuk ke dalam ruangan khusus perawat yang sudah berada dihadapan Putra dan Gadis saat ini.


“Maksudmu tadi jika Dokter Ilse tidak ada disini itu apa?” Gadis langsung saja menanyakan apa yang mengganjal di hatinya pada Putra.


“Bukan hal yang penting untuk dibahas” Jawab Putra datar.


“Kamu tidak meminta pada Pak Kepala mencabut  ijin praktek kerja Dokter Ilse disini bukan?”


Gadis langsung melontarkan dugaannya. Dan wajah Putra masih nampak datar saja. “Menurutmu?”

__ADS_1


**


To be continue ...


__ADS_2