LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 141


__ADS_3

Happy reading....


Putra dan keluarganya sudah kembali ke Kediaman mereka yang berada di Ibukota.


Selepas makan siang, sesuai rencana, mereka semua pergi ke sebuah Pusat Perbelanjaan dimana Putra sudah dua kali membelanjakan Gadis disana.


Tempat yang Putra rasa sesuai juga untuk membeli pakaian baru untuknya dan seluruh keluarganya, termasuk juga Gadis yang lagi-lagi Putra belanjakan. Danny dan Arthur pun kebagian dibelanjakan oleh para Tuannya.


Bukan karena selera berpakaian Danny dan Arthur yang tidak bagus, namun dirasa Putra dan para saudaranya, penampilan Danny dan Arthur haruslah se-elegan mereka, karena kedepannya kedua orang itu kemungkinan besar akan sering menjadi wakil untuk Putra, Addison, Damian dan Garret untuk beragam urusan.


Hari sudah beranjak malam dan Putra seluruh keluarganya termasuk Gadis, sudah kembali duduk bersama di ruang makan Kediaman mereka saat ini.


“I think we better find a new Residence which is bigger than this one (Aku pikir kita sebaiknya mencari Kediaman baru yang lebih besar dari ini)”


Damian memulai percakapan disela makan malam mereka.


“This place is too small for us... (Tempat ini terlalu kecil untuk kita...)”


“I guess you are right Dam (Aku rasa kau benar Dam) ....” Putra bersuara.


Mengiyakan usulan Damian.


Putra juga merasakan hal yang sama seperti Damian.


Bahwa tempat tinggal mereka yang berada di Ibukota ini rasanya terlalu kecil untuk mereka tinggali.


Tidak heran memang, jika Damian dan Putra merasa seperti itu.


Damian dan Putra sama-sama lahir dari keluarga berada.


Tinggal di tempat yang cukup besar saat di Inggris, bahkan rumah bersama mereka di Ravenna, Italia pun mungkin bisa tiga atau empat kali lipat besarnya dari tempat tinggal mereka yang berada di Ibukota ini.


Bahkan Damian dan Putra terbiasa hidup dengan dilayani oleh para pelayan di tempat tinggal mereka saat di Inggris, termasuk juga kemewahan.


Jadi Kediaman mereka di Ibukota dalam sebuah Negeri tempat tinggal mereka yang baru ini, sebenarnya sedikit membuat Damian dan Putra yang terbiasa hidup di tempat tinggal yang luas, sedikit merasa sesak nafas tinggal di tempat yang kecil.


Ya bagi dua orang itu saja, Kediaman mereka di Ibukota itu dianggap kecil. Bagi yang lain, sih tidak masalah.


Addison yang masih memiliki kekerabatan dengan Damian baru ikut tinggal bersama ayah dan ibu Damian di Inggris saat orang tua Addison tiada.


Sebelumnya Addison tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah yang tidak kecil juga, hanya tidak semewah dan sebesar Kediaman orang tua Damian di Inggris.


Kalau Bruna sendiri, memang hidup keras sejak ia remaja, dan baru membaik kehidupannya setelah bertemu dengan Rery di Ravenna.


Sementara Garret, juga bukan berasal dari keluarga berada, meski hidupnya tidak susah juga.


Dan seperti halnya Bruna, kehidupan Garret menjadi sangat memadai setelah bertemu dengan Rery yang kemudian membiayai pendidikannya untuk menerbangkan pesawat terbang.


Dan sampai Rery memiliki sebuah jet elite, Garret yang kemudian menjadi pilot tetapnya.


****


“This place is too small for us... (Tempat ini terlalu kecil untuk kita...)”


“I guess you are right Dam (Aku rasa kau benar Dam)...”


Damian berucap dan Putra menimpali.


“We should find a new Residence which is bigger than this one ...”


(Kita harus mencari Kediaman baru yang lebih besar dari ini ...)


Putra menyambung ucapannya.


“What you guys think?... (Bagaimana pendapat kalian?) ...”


Damian kemudian melempar pandangan pada Addison, Bruna dan Garret.


“Beside, Putra and Gadis will get marry. And if we’re all have something to do here, Gadis and Anth, just like Bruna will follow us too... And I feel that this place is no longer fit enough for all of us (Lagipula, Putra dan Gadis akan menikah. Dan jika kita memiliki urusan disini, Gadis dan Anth, seperti halnya Bruna akan ikut dengan kita juga... Dan aku merasa jika tempat ini sudah tidak cukup memadai lagi untuk kita semua) ...”


Damian kembali berbicara.


“But, actually I like the environment around here ... (Tetapi, sebenarnya aku menyukai lingkungan di sekitar sini ) ...”

__ADS_1


Putra kemudian nampak manggut-manggut.


“So what you guys think then?... About us to find and buy a bigger Residence ...”


(Jadi bagaimana menurut kalian? ... Tentang kita mencari dan membeli Kediaman yang lebih besar...)


Putra mengulang pertanyaan Damian, sembari juga melempar pandangan pada Addison, Bruna dan Garret.


Putra juga menoleh pada Gadis dan Anthony yang nampak sedang asik berdua, dengan Gadis yang membantu Anthony mengambil makan malam yang bocah tampan itu inginkan.


Makan malam yang dibuatkan oleh Bruna dan Gadis untuk mereka semua yang berada di Kediaman, karena memang di tempat tinggal mereka yang berada di Ibukota itu, tidak ada asisten rumah tangga seperti halnya di Villa.


Namun di Villa juga, meski Ibu Marsih dan Pak Abdul dapat memasak, ditambah satu lagi asisten rumah tangga baru yang juga dapat memasak, Bruna seringnya yang membuatkan makanan untuk seluruh anggota keluarganya, kecuali jika Bruna sedang malas.


“Me and Bruna will leave that decision to both of you (Aku dan Bruna menyerahkan keputusan itu pada kalian berdua)...”


Addison bersuara.


“Since me, Bruna and maybe Garret have no problem to stay in everywhere ... (Aku, Bruna dan mungkin Garret rasanya tidak mempermasalahkan untuk tinggal dimanapun) ...”


“Ya, me same. Just like what Ad just said ... Place to live it’s all up to you, who I believe a little bit hard to breathe to live in a small place like this one ... (Aku sama. Seperti yang Ad baru saja katakan ... Soal tempat tinggal terserah pada kalian, yang aku percaya sedikit sesak nafas untuk tinggal di tempat kecil seperti ini)...


Garret menimpali.


‘Rumah sebesar ini mereka bilang kecil? ...’


Sementara itu, Gadis yang menyimak percakapan kelima orang yang sedang berbicara itu membatin dalam hatinya.


Kelima orang itu berbicara santai, jadi Gadis dapat memahami isi pembicaraan mereka tersebut. Namun Gadis, yang menjaga batasannya, meski ia akan menikah dengan Putra tidak mau menyela pembicaraan kelima orang itu.


“So, what do you think (Jadi, bagaimana menurutmu), Anth?... Do you agree if we buy a bigger house than this one? ... (Apa kamu setuju jika kita membeli rumah yang lebih besar dari ini?)...”


Putra menoleh pada Anthony untuk menanyakan juga pendapat bocah tampan tersebut. “Agree ... (Setuju)...”


Sembari Anthony mengangguk antusias. Putra dan lima orang dewasa lainnya kemudian tersenyum.


“Bagaimana menurutmu, Gadis?”


Putra juga bertanya pada Gadis. Biar bagaimanapun Gadis sudah menjadi bagian dari keluarganya juga, selain bagian dari Putra secara pribadi.


Gadis berkomentar dan Putra pun mendengus geli atas sedikit celotehan Gadis.


“Alright, then it’s been decide, we’re going to buy a bigger Residence than this place ... (Baiklah, sudah diputuskan jika begitu, kita akan membeli Kediaman yang lebih besar dari tempat ini) ...”


‘Hahh, dasar orang kaya. Mau membeli rumah seperti mau membeli kacang rebus’


Gadis membatin lagi.


“Are you going to buy a Residence as bigger as our Villa? (Apa Papa akan membeli Kediaman yang sama besarnya dengan Villa kita?) ...”


Anthony bertanya pada Putra.


“I don’t think there is a Residence just like our Villa in this area... (Aku pikir tidak ada Kediaman yang sebesar Villa kita di area ini ) ...”


Putra memberi tanggapan.


‘Tentu saja tidak ada ... Villa mereka itu bukanlah Villa melainkan istana! ...’


Gadis membatin lagi.


“If there is one, will you buy it?...”


(Jika ada, akankan Papa membelinya? ...)


“Sure (Tentu) ...”


Putra pun menyahut cepat.


“Why not? (Kenapa tidak?)”


Putra menambahkan.


'Luar biasa!'

__ADS_1


Gadis pun membatin takjub.


‘Aku sungguh jadi penasaran. Sebenarnya sekaya apa sih Putra dan keluarganya ini?’


Gadis membatin lagi, sembari melirik pada Putra yang sedang asik menanggapi pertanyaan Anthony.


‘Mau membeli sebuah rumah, yang aku yakin jika mereka bilang lebih besar dari rumah ini, pastinya adalah rumah mewah yang mau mereka beli, tanpa berdiskusi soal harga rumah dan enteng sekali mengatakan mau membeli rumah yang setara dengan istana mereka itu...’


Gadis sampai menghela nafasnya.


“But if there is no such Residence just like our Villa around here, is that okay? ... (Tetapi jika tidak ada Kediaman yang seperti Villa kita disekitar sini, apa tidak mengapa?)...”


“It’s okay Papa! ... (Tidak apa-apa Papa!) ...”


“But I will try to find a Residence which is way bigger than this place of course (Tapi tentu saja aku akan mencoba mencari Kediaman yang jauh lebih besar dari tempat ini)...”


“Okay!”


Anthony nampak bersemangat.


Membuat enam orang dewasa yang berada didekat Anthony itu mengukir senyuman di bibir mereka.


“And I want have my own room also just like at our Villa, if you find a new Residence ... (Dan aku mau memiliki kamarku sendiri juga seperti di Villa, jika Papa sudah menemukan Kediaman Baru)...”


“Okay!”


*****


“Papa...”


Anthony yang sudah menyelesaikan makan malam seperti para orang tua angkatnya kemudian berbicara lagi.


“Heemm?”


Putra menyahut.


“I want to sleep with Daddy Dami and Daddy Garret tonight, is okay right?!... (Aku ingin tidur bersama Daddy Dami dan Daddy Garret malam ini, boleh kan?!) ...”


“Really???! (Benarkah???!)” Papa Putra tetiba saja menjadi begitu berbinar.


“Yes (Iya), Papa!”


‘Splendid! (Luar biasa!)’


Hati Papa Putra begitu membuncah senangnya.


“But why you suddenly want to sleep with Daddy Dami dan Daddy Garret? (Tapi kenapa tiba-tiba kamu ingin tidur dengan Daddy Dami dan Daddy Garret?)”


Sesungguhnya Papa Putra hanya berbasa-basi saja pada Anthony.


“Just want! (Ingin saja!) ...”


Anthony segera menyahut.


“All this time, I often sleep with you. But now, you have Gadis to accompany you. It means, you are not alone anymore. So, I have to be fair. I already sleep with you and Gadis last night, I also often sleep with Padre and Madre, then I also have to sleep with Daddy Dami and Daddy Garret ...”


(Selama ini, aku kan seringnya tidur denganmu. Tetapi sekarang, Papa memiliki Gadis yang menemanimu. Itu artinya, Papa tidak sendirian lagi. Jadi, aku harus adil. Aku sudah tidur bersamamu dan Gadis semalam, aku juga sering tidur bersama Padre dan Madre, maka itu aku juga harus tidur dengan Daddy Dami dan Daddy Garret ) ...”


“What a good boy you are (Kamu memang anak baik)” Papa Putra tersenyum lebar.


“Cih!. Look how happy his face is, to be able just he and Gadis in his room... (Lihat betapa bahagia wajahnya, dapat berduaan saja dengan Gadis di kamarnya)...”


Damian kemudian menggumam, namun Addison dan Garret masih dapat mendengarnya. Keduanya pun sontak cekikikan.


Sementara Putra tak mendengar, karena ia berjalan dengan sangat bersemangat bersama Anthony untuk menuju ke kamarnya.


Karena Anthony ingin membersihkan gigi dan berganti pakaian tidur lalu pergi ke kamar Damian dan Garret untuk tidur bersama kedua ayah angkatnya itu.


Bruna dan Gadis sedang membawa peralatan makan kotor ke dapur jadi tidak mendengar celotehan Damian.


“I’m very sure that jerk already tear off his virginity! (Aku sangat yakin jika kparat itu sudah melepaskan keperjakaannya!) And he get addicted!* (Dan dia pasti ketagihan!)”


Damian menambahkan celetukannya, dan Addison serta Garret pun sontak tergelak geli. Selanjutnya tiga orang itu pun asik kasak-kusuk membicarakan rasa penasaran mereka atas hal yang sedang mereka bahas itu.

__ADS_1


*****


To be continue....


__ADS_2