
Happy reading ....
*********************
“Alright! I will move here ( Baiklah! Aku akan pindah kesini )”
“No, not here ( Tidak, bukan disini ). There! ( Disana! )”
Anthony menunjuk kamar yang diperuntukkan untuk almarhum kedua orang tuanya. Kamar yang tersambung dengan kamarnya.
Putra menunjukkan senyumnya.
“No Anth. I can’t move there .. ( Tidak Anth. Aku tidak bisa pindah kesana )..”
“But why Papa? .. ( Tapi kenapa Papa? .. )”
“That is your parents room Anth.. ( Itu kamar orang tuamu Anth )..”
“But they’re gone .. ( Tapi mereka sudah tiada ) ..”
“Anth..”
Putra bersimpuh di hadapan Anthony.
“And now I have you .. ( Dan sekarang aku memilikimu.. ) Papa..”
Tangan Anthony terulur membelai wajah Putra yang tersenyum padanya.
“Also Madre, Padre, Dad Dami, Dad Garret ..”
Anthony menatap ke empat orang itu kemudian sembari menunjukkan senyumnya.
Yang pada akhirnya Garret dan Damian ikut bersimpuh di sisi kanan dan kiri Anthony sembari juga mengukirkan senyuman di wajah mereka.
Sementara Addison dan Bruna sedikit merundukkan tubuh mereka, mendekap Anthony sekilas lalu mengecup pucuk kepalanya. Dengan senyuman yang juga nampak di wajah mereka.
“So you can stay at Dad and Mom’s room Papa... or maybe all of you? .. ( Jadi Papa bisa tinggal di kamar Dad dan Mom... atau mungkin kalian semua? .... )”
Bruna dan empat orang lainnya pun spontan terkekeh kecil.
“I don’t want to stay in the same room with your Papa..... He has a lot of rules! ....”
“( Aku tidak mau tinggal di kamar yang sama dengan Papa-mu .. Dia punya banyak peraturan ... )”
“Indeed, apart from that he is fretful! .. ( Benar, selain dia itu cerewet! )..”
“Cih!”
“Hahaha ...”
**
“So you’re the one who will stay at Dad and Mom’s room Papa? ( Jadi Papa yang akan tinggal di kamar Dad dan Mom? )”
Putra mengangguk pada Anthony.
“Yeeeaayy....” Anthony bersorak senang.
Membuat Putra dan empat saudaranya itu ikutan tersenyum senang melihat Anthony yang nampak memiliki kebahagiaan kecilnya sendiri.
**
Putra pun kembali membawa Anthony ke kamar mereka sebelumnya, agar Anthony bisa tidur kecil untuk beberapa jam. Karena Putra berpikir bisa saja Anthony sedikit lelah setelah melalui perjalanan yang agak jauh dari Ibukota ke
Villa mereka. “Do you want to change the color of your room’s wall Anth? .. ( Apa kamu ingin merubah warna dinding kamarmu Anth? )..”
Putra menatap Anthony yang beringsut keatas ranjang. “Can you make it like a sky Papa? ( Bisakah Papa membuatnya tampak seperti langit? )..”
Putra nampak berpikir sembari memilin bibirnya.
Kemudian Putra manggut-manggut, lalu tersenyum pada Anthony sembari membetulkan bantal Anthony.
“I will try to make it like you want .. ( Akan aku usahakan seperti apa yang kamu mau ) ..” Ucap Putra. “Take a rest then ( Beristirahatlah )”. Ucap Putra lagi dan Anthony mengangguk patuh. Lalu Putra hendak beringsut dari sisi ranjang.
“Heemm Papa”
Putra menoleh.
“Yes Anth?. Do you want a chocolate milk? ..”
__ADS_1
“( Ya Anth?. Kamu mau susu coklat? .. )”
“No Papa” Jawab Anthony sembari mendudukkan dirinya.
“Then? ( Lalu? )” Tanya Putra lagi.
“Did you ask Gadis phone number? She has it, right? .. ( Apa Papa sudah menanyakan nomor telepon Gadis? Dia punya, bukan? .. )”
‘Ah Gadis! I almost forget that I supposed to call her when I arrived here .. ( Aku sampai lupa kalau aku seharusnya menghubungi dia saat sampai kesini ) ..’
Putra membatin.
“Gadis has no phone at her home, but I know the hospital phone number where Gadis work at there”
“( Gadis tidak memiliki pesawat telepon di rumahnya, tetapi aku tahu nomor telepon rumah sakit tempat dia bekerja itu )”
Senyum Anthony merekah kemudian. “Can we call her now?! ( Bisakah kita menelponnya sekarang?! )”
Anthony nampak antusias.
“Heemmm....”
Putra nampak berpikir.
Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu membuat Putra tak menjeda untuk menjawab pertanyaan Anthony.
“Permisi, Tuan Putra, Tuan Muda ....”
“Masuklah Pak Abdul....” Ucap Putra.
Pak Abdul pun mendekat pada Putra yang masih terduduk di sisi ranjang.
“Ada apa Pak Abdul?”
“Ada telepon untuk anda, Tuan ..”
“Dari siapa?”
“Dari seorang wanita bernama Gadis , Tuan ..”
“Ehem!” Putra berdehem, menutupi sikapnya yang tadi sempat menjadi antusias karena senang secara spontan.
Pak Abdul tersenyum kecil, sementara Anthony ternyata sudah turun dari ranjang dan sudah memakai sandalnya.
Bahkan kini Anthony sudah memegang satu tangan Putra dengan dua tangan kecilnya itu. “Come Papa! I want to talk with Gadis! ( Ayo Papa! Aku mau bicara dengan Gadis! )” Anthony menarik Putra melalui tangannya dengan semangat.
Putra tersenyum saja sembari geleng – geleng sembari melihat Anthony yang nampak senang itu.
“Saya akan menerima telepon di ruang kerja Pak Abdul” Ucap Putra.
“Baik Tuan ..” Jawab Pak Abdul sembari mengangguk hormat. Lalu Putra melangkahkan kakinya, membawa Anthony ke ruang kerja yang berada di lantai yang sama tempat dimana semua kamar berada.
**
Putra yang lebih dulu mengangkat gagang telepon saat dirinya dan Anthony sudah berada dimeja kerja dalam ruang kerja yang merangkap perpustakaan kecil di Villa mereka itu.
Ada senyum yang dikulum Putra saat mengangkat gagang telepon diatas meja kerja tersebut. “Hello”
“Halo Putra”
‘Sial .. hanya mendengar suaranya saja membuatku rasanya ingin langsung ke Ibukota hanya untuk menciumnya ..’
Putra membatin saat suara lembut Gadis membalas sapaannya dari seberang telepon.
“Merindukanku hem? ..” Ucap Putra kemudian seraya menggoda Gadis yang terhubung dalam panggilan telepon itu.
“Wah, percaya diri sekali Tuan Putra!” Sahut Gadis yang sebelumnya terkekeh kecil.
Sudut bibir Putra pun melengkung keatas saat mendengar guyonan kecil dari Gadis.
“Jadi, tidak merindukanku?..” Ucap Putra lagi.
“Hmm..” Gadis tidak menjawab pasti.
“Papa ..”
Suara Anthony yang samar seperti rengekan terdengar sebelum Gadis lengkap menyahut dengan lengkap ucapan Putra.
__ADS_1
‘Ah aku sampai lupa kalau ada Anthony!’ Batin Putra.
“I want to talk to Gadis ( Aku ingin bicara dengan Gadis ) ..”
Anthony kembali merengek kecil.
Putra menarik sudut bibirnya sembari mengangguk pada Anthony.
“Gadis ..”
Putra hendak memberitahukan Gadis kalau ia sedang bersama Anthony saat ini.
“Putra? Apa kamu sedang bersama Anthony?. Aku seperti mendengar suaranya?”
Namun cerocosan Gadis keburu terdengar. Putra spontan mengangguk, seolah Gadis dapat melihat anggukan nya itu.
“Iya Anth sedang bersamaku, dan dia sudah merengek ingin berbicara denganmu” Sahut Putra.
“Ya sudah. Cepat sambungkan aku dengan Anthony! ..”
“Berani memerintah ku hem?” Sahut Putra sembari tersenyum sendiri dan kekehan renyah Gadis terdengar dari sebrang telepon.
“Papa..”
Putra mendengus geli melihat Anthony yang sudah menggoyangkan tangannya itu.
“You’re so impatient ( Kamu tidak sabar sekali )” Ucap Putra pada Anthony sembari dirinya mendengus geli itu.
“Makanya mengalah-lah!”
Gadis terdengar menyambar dari seberang telepon.
“Baiklah, baiklah. Bicaralah dengan Anth dulu, baru bicara denganku setelahnya”
“Papa yang baik” Guyon Gadis. Putra pun memberikan gagang telepon pada Anthony.
Yang langsung disambar oleh Anthony dengan antusias. Membuat Putra terkekeh kecil.
Dan Putra membiarkan Anthony berbicara dengan Gadis yang terhubung dalam panggilan telepon itu.
Sementara Putra memilih dan mengambil sebuah buku untuk iseng ia baca sembari menunggu Anthony merasa puas berbicara dengan Gadis, baru setelah itu gilirannya berbicara dengan wanita pemilik hatinya itu.
***
‘Eh?’
Putra yang sedang duduk membaca sebuah buku disofa yang tak jauh dari meja kerja dimana Anthony sedang duduk di kursinya itu spontan mengangkat wajahnya yang sedikit tertunduk saat mendengar suara seperti gagang telepon yang diletakkan di suatu tempat.
‘What?!’ Batin Putra, yang sedikit mendelik karena benar saja kalau Anthony meletakkan gagang telepon ke atas pesawat telepon rotary dial yang ada diatas meja kerja itu.
Anthony melemparkan senyum saat Putra sudah berada di dekatnya kini.
“W-hy .... ( Ke-napa ) ..”
“Gadis said send her regards for you Papa.. ( Gadis kirim salam untukmu Papa ) ..”
Anthony berkata dengan polosnya pada Putra yang sedikit tergugu itu setelah ia meletakkan gagang telepon ketempatnya.
“But, why you cut off the call ...? .. ( Tetapi, kenapa kamu memutuskan panggilannya..?.. )” Putra masih tergugu.
“I’m finish talking Papa ... ( Aku kan sudah selesai bicara Papa ) ..” Jawab Anthony dengan polosnya.
‘Oh Anth .. I also want to talk with Gadis again .. ( Ya ampun Anth .. Aku kan juga ingin berbicara dengan Gadis lagi )..’
Putra membatin miris. Sementara Anthony sudah beringsut dari kursi kerja dan melenggang senang berjalan keluar dari ruang kerja tanpa beban.
“Gadis also said ‘bye-bye’ because she want to get back home as soon as possible Papa ( Gadis juga bilang ‘da-dah’ karena dia mau pulang ke rumah secepatnya Papa )”
Meninggalkan Papa Putra yang masih membeku di tempatnya dan merutuki nasibnya yang tidak sempat lagi berbicara dengan Gadis.
‘Haish! ...’
***
To be continue...
Feb 2th, 2022
Salam sayang,
__ADS_1
Emaknya Queen