LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 102


__ADS_3

Happy reading ..


“Have you put someone to guard Gadis?”


“( Apa kau menempatkan seseorang untuk mengawal Gadis? )”


“Directly No. Kind of it, yes ( Secara langsung tidak, semacam itu, ya )”


“Means? ... ( Maksudnya? )..” Tanya Damian yang kurang paham maksud ucapan Putra.


“Think by yourself! ( Pikir sendiri! )”


Sembari Putra melirik Damian dengan raut wajah malas.


“Stupido! ( Bodoh! )”


“Tsk!” Damian berdecak.


Membalas tatapan malas Putra dengan ekspresi yang sama.


“So, regarding to Gadis and you... you guys in relationship now? .. ( Jadi, sehubungan dengan Gadis dan dirimu .. kalian berdua sudah menjalani hubungan saat ini?.... )”


“Heemm ..”


“Now you admit that you love her? ..”


“( Sekarang kau mengaku jika kau mencintainya?... )”


“Heemm ..”


“Seriously that you already said to her about it?"


“( Tetapi benar kau sudah mengatakan itu padanya? )”


“Heemm ..”


“You didn’t push her to accept you, really?”


“( Kau benar tidak memaksanya untuk menerimamu? )”


“Hish!”


Putra mendesis sebal.


Memandang malas pada Bruna yang mencecarnya.


“She loves me too okay?! ( Dia juga mencintaiku oke?! )”


“Cih!”


Bruna berdecih.


“You can ask it to her when you meet her later! ..”


“( Kau bisa langsung tanyakan padanya jika kau bertemu dengannya nanti!.... )”


“Of course I will! ( Tentu saja akan kulakukan! )” Sambar Bruna. “Then ..... tell us, how did you say that you love her?.. ( Lalu.. katakan pada kami, bagaimana cara kau mengatakan kau mencintainya? .. )”


“Such a person who want to knowing every particular object of someone else!”


“( Dasar orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain! )”


“You guys won’t believe it, if I tell you that this guy..... ( Kalian tidak akan percaya, jika aku katakan bahwa pria ini )..”


Damian menyambar sembari menatap Addison dan Bruna dan menunjuk Putra.


“Prepare a sweeet moment on a yacht to clothe his feeling to that nurse ( Menyiapkan kesan maniiis diatas kapal layar untuk mengungkapkan perasaannya pada perawat itu ). Tacky! ( Norak! )”


Damian membuka kartu Putra didepan Addison dan Bruna yang spontan membuka mulutnya dan terkekeh, juga nampak sedikit tak percaya dengan cerita Damian barusan tentang bagaimana Putra yang memang menyiapkan apa yang Damian ceritakan itu.


“Really?? ... ( Benarkah?? .. )”


Bruna dan Addison berikut Garret terkekeh.


“Re-ally! ( Be-nar! )” Sambar Damian lagi.


“Wow! .... I don’t know if you can be that sweet Putra ....”


“( Wow! ... Aku tidak tahu jika kau bisa semanis itu Putra )..”


“Slave of love ... ( Budak cinta )..”


Addison mencibir.


“Heh! Like you’re not! ( Macam kau tidak! )” Putra balas mencibir.


“However ... I wonder .. ( Bagaimanapun... Aku penasaran.. )”


Damian kembali bersuara, dengan wajah yang dibuat serius seraya menatap Putra.


“You were quite long on yacht with her .. and from what I’ve heard, the beach is also a private place...... so, had you let your virginity go? ...”


“( Kau kan cukup lama berada di atas kapal layar bersamanya ... dan dari apa yang kudengar, pantai itu adalah tempat yang privasi .. jadi, apakah kau sudah melepas keperjakaanmu? ) ... I’m seriously asking ( Aku serius bertanya ) ...”


Putra spontan mendelik dimana Damian menahan kekehannya.


“Bastardo! ( Ba*ngan! ) I’m not you!* ( Aku ini bukan kau! )” Seru Putra dan Damian langsung tergelak, disertai gelakan dari tiga lainnya.


“But make-out! ( Tapi saling menyentuh! ), right? ( Benar kan? ), hem? hem?”

__ADS_1


Damian terus meledek Putra.


“I bet you are! .... ( Aku berani taruhan pasti iya! .... )”


“Shut your ****n’ mouth!* ( Tutup mulut sialanmu itu! )”


Putra mengumpati Damian seraya menendang kaki Damian yang orangnya tergelak bersama Garret, Addison dan Bruna.


**


Hari beranjak siang dan kesemua penghuni Villa kemudian makan siang dan melakukan aktifitas mereka masing-masing.


Addison sedang menghitung perkiraan pengeluaran, untuk pembangunan sebuah pabrik teh sebagaimana usulan Putra tadi, berikut segala hal yang perlu dipersiapkan.


Sementara Putra, Damian dan Garret sedang mengawasi orang-orang yang sedang sedikit merenovasi kamar Anthony dan juga istal kuda mereka, serta sedang membangun sebuah hanggar untuk jet elit milik Rery yang ukurannya memang tidak terlalu besar.


“We don’t have an official permission for this jet here yet, right?. ( Kita belum memiliki ijin resmi untuk jet ini disini, bukan? )” Tanya Garret.


“Hemm, not yet. ( belum )”


“No need to worry, I think this place quiet hidden. ( Tidak perlu khawatir, aku rasa tempat ini cukup tersembunyi )”


“Hemm....”


“How about if they talk about it outside? ( Bagaimana jika mereka membicarakannya diluar? )”


Garret menunjuk para pekerja yang sedang membangun hanggar.


“Take it easy, I just ask Dalu to handle everything due to this jet ( Santai saja, aku tinggal menyuruh Dalu untuk mengurus segala yang bersangkutan tentang jet ini )” Sahut Putra.


“Ah ya, right!. ( Ah iya, benar! )” Timpal Garret.


“By the way, Putra.... Don’t you think that we should build a ‘Save House’ just like what we have at Ravenna? ( Ngomong-ngomong, Putra..... Tidakkah kau pikir kalau kita perlu membangun sebuah ‘Rumah Aman’ seperti yang kita punya di Ravenna? )”


“You probably right, Dam ... But maybe later. At least after all of this development and renovation things are finish, then we will discuss about it ( Mungkin kau benar, Dam ... Tapi nanti saja dulu. Setidaknya setelah segala urusan pembangunan dan renovasi ini selesai, kita akan membicarakan lagi soal ini )”


Damian pun manggut-manggut atas ucapan Putra.


***


Hari beranjak malam ....


Putra yang jatuh terlelap, saat para pekerja sudah menyelesaikan waktu bekerja mereka hari ini, terbangun dari tidurnya karena merasakan kering di kerongkongannya.


Putra yang tadi cukup sibuk mengurus dan mengawasi para pekerja yang sedang melakukan pembangunan hanggar, serta merenovasi Istal kuda yang hanya tinggal finishing berikut kamar baru Anthony itu langsung membersihkan dirinya dan merebahkan tubuhnya yang ia rasa lelah diatas ranjangnya.


Dimana Anthony yang juga tadi nampak sibuk mondar-mandir melihat kamar barunya yang sedang direnovasi sudah terlelap lebih dahulu.


Putra mendudukkan dirinya dan bersandar di sandaran ranjangnya.


17.30


Waktu yang Putra lihat di jam kayu model klasik dalam kamarnya.


Putra mengingat-ingat.


‘( But maybe Gadis already made a call and talk to Anth when I’m at the jet Tapi mungkin saja Gadis sudah menghubungi dan berbicara pada Anth saat aku berada di hanggar bersama Dami dan Garret tadi )’


Kemudian Putra melirik Anthony.


‘But Anth didn’t say anything about Gadis if she called him this noon,  from what I remember ....... ( Tapi Anth tidak mengatakan apapun tentang Gadis jika dia menelepon siang tadi, seingatku .... )’ Batin Putra lagi.


Putra meraih gelas minum yang ada diatas nakas sampingnya, lalu menuangkan air yang tertampung di teko kaca dalam gelas tersebut dan meneguk air yang ia tuangkan hingga habis.


‘But Gadis must be already get back home now ( Tapi Gadis pasti sudah pulang ke rumahnya sekarang )’


Putra melirik jam kayu di kamarnya lagi.


‘Haish!’


***


“Selamat malam Tuan” Sapa Pak Abdul saat ia berpapasan dengan Putra yang hendak berjalan ke arah ruang kerja.


“Selamat malam Pak Abdul”


Putra menjawab sapaan Pak Abdul.


“Dimana yang lain?” Tanya Putra.


“Sepertinya mereka juga masih beristirahat Tuan ..”


Putra pun manggut-manggut. “Ya sudah biarkan saja mereka beristirahat”


“Iya Tuan Putra” Ucap Pak Abdul. “Apa anda ingin makan malam duluan Tuan?..” Tawar Pak Abdul.


Putra menggeleng. “Tidak, nanti saja”


“Baik Tuan....”


“Siapkan saja makan malam untuk kami, karena kurasa mereka semua akan bangun sebentar lagi”


“Baik Tuan....”


“Kau juga, berikut yang lainnya segeralah makan malam dan pergilah beristirahat setelahnya” Ucap Putra.


“Iya Tuan, jika anda semua sudah makan malam baru kami akan pergi beristirahat...” Sahut Pak Abdul. “Apa anda ingin dibuatkan kopi saja terlebih dahulu Tuan?.....”


“Ya boleh”

__ADS_1


“Baik, tunggu sebentar Tuan..”


Pak Abdul merundukkan sedikit badannya pada Putra.


“Ah iya Pak Abdul...” Panggil Putra.


“Saya, Tuan .....”


“Apa Gadis ada menghubungi siang tadi?”


“Sepertinya hari ini tidak Tuan” Jawab Pak Abdul seraya menggeleng. “Nona Gadis tidak ada menelpon kesini hari ini” Tambahnya.


“Pak Abdul yakin?”


“Yakin Tuan”


“Heemm .....”


“Bahkan sampai sekarang juga telepon di Villa ini tidak berdering Tuan ..”


Putra manggut-manggut. “Mungkinkah ada kerusakan pada kabel jaringannya? ...”


“Tidak ada Tuan, saya sudah mengeceknya, dan telepon masih berfungsi dengan baik, hanya memang tidak ada panggilan satupun hari ini, baik dari Nona Gadis ataupun yang lainnya”


Putra kembali manggut-manggut. “Ya sudah jika begitu” Ucap Putra dan Pak Abdul mohon diri kemudian. ‘Kemana dia, sampai tidak sempat menghubungi?’


Putra membatin.


‘Apa ada yang terjadi pada Gadis? ..’


****


Putra sudah duduk bersama di ruang makan untuk makan malam dengan seluruh anggota keluarganya yang sudah bangun dari istirahat mereka tak lama setelah Putra bangun, termasuk juga Anthony. Namun hati Putra sedikit tidak tenang saat ini.


‘Better I call Arthur after dinner ( Sebaiknya aku menghubungi Arthur selepas makan malam )’


“.....”


‘Is he already ..... ( Apakah dia sudah ) ..’


“Papa!! ...”


Lamunan Putra buyar kala seruan Anthony berikut sentuhan yang Putra rasa ditangannya membuat Putra terkesiap.


“W-hat? .. ( A-pa .. )” Tanya Putra sedikit tergugu dan menoleh pada Anthony.


“I asked you! .... ( Aku bertanya padamu tadi! ) ..” Sahut Anthony.


“Asked what, hem? .. ( Tanya apa, hem? .. )”


“Was Gadis called today?, because I remember that I was so busy then I fell asleep ( Apakah Gadis menelepon hari ini?, karena seingatku aku sangat sibuk hari ini lalu aku tertidur )”


Putra, Addison, Bruna, Damian dan Garret terkekeh kecil mendengar celotehan Anthony itu.


“No, she wasn’t ( Tidak, dia tidak menelpon )..” Sahut Putra. “Maybe she’s also very busy like you ( Mungkin dia juga sedang sangat sibuk sepertimu )”


Anthony  pun manggut-manggut, namun wajahnya tidak menampakkan kesenduan.


“Can we call her in the morning? Because Gadis must be already get back to her home now, right Papa? ( Bisakah kita menghubunginya saat pagi? Karena Gadis pasti sudah pulang kerumahnya sekarang, bukan begitu Papa? ) ..”


Putra mengangguk.


“So we call her by morning?”


“( Jadi kita menghubunginya saat pagi? )”


“Yes, sure ( Iya, tentu ) .....”


****


“Anth, I have to do some works in the office room, so could do something with Padre, Madre or duo Dads? .. ( Anth, ada pekerjaan yang harus aku lakukan di ruang kerja, jadi bisakah kau melakukan sesuatu bersama Padre, Madre dan dua Dad? )......” Ucap Putra pada Anthony selepas makan malam.


“Sure, Papa! ( Tentu, Papa!  )”


“Thank you, My Boy .... ( Terima kasih, Nak... )”


“You welcome ( Sama-sama ), Papa! ..”


“I won’t be long ... ( Aku tidak akan lama.... )”


“Okaaaayy!! ...”


Putra langsung pergi menuju ruang kerja selepas Anthony berlalu dari hadapannya.


****


‘Hopefully Arthur in his place right now ( Semoga saja Arthur ada di tempatnya saat ini )’ Batin Putra. Ia pun bergegas masuk ke dalam ruang kerja.


Telepon di ruang kerja berdering saat Putra baru saja mendudukkan dirinya di kursi kerja dalam ruangan tersebut.


‘Maybe it’s Arthur, and he has something to inform me ( Mungkin ini panggilan dari Arthur, dan dia punya beberapa informasi untukku )’


Putra langsung mengangkat gagang telepon, karena kebetulan tadinya dia juga hendak melakukan panggilan.


“Hello..” Sapa Putra.


‘Halo?.....’


Putra spontan mengernyitkan dahinya setelah mendengar suara sahutan dari sebrang telepon.

__ADS_1


****


To be continue ....


__ADS_2