
Happy reading.....
*************
“I’m here to extend a message for you... (Saya disini untuk menyampaikan pesan pada anda)...”
“Extend a message?... (Menyampaikan pesan?)...” Putra mengernyit pada Frans.
“There is someone who wants to meet you (Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu)”
Putra melepaskan rengkuhannya dari Gadis, dan membuat Gadis berada dibelakangnya seraya menegakkan tubuhnya dan menatap serius pada Frans.
“Who? (Siapa?)”
“Well let me take you to him now (Kalau begitu mari saya bawa anda bertemu dengannya sekarang)”
“It’s him who wants to meet me right? (Dia yang ingin bertemu denganku bukan?)”
“Yes..”
“Then is him who has to come here to meet me (Maka dia yang harus datang kesini untuk menemuiku)”
Putra memberikan penegasan bernada datar pada Frans.
“I don’t care whoever he is, but if he wants to meet me, then isn’t me who has to stepping foot to approach him (Aku tidak perduli siapapun dia, tapi jika dia yang ingin bertemu denganku, maka bukan aku yang harus melangkahkan
kaki menghampirinya)”
Putra kembali menegaskan dengan lugas, dan memang terdengar sedikit arogan. Tapi begitulah Putra.
Bukan karena arogansinya yang terlalu dominan, namun ia menegaskan siapa dirinya pada mereka yang belum mengenalnya. Selain itu, Putra juga harus waspada pada setiap orang yang baru dikenalnya.
“Don’t mean to being rude, but I don’t accept a command from anybody except my family (Tidak bermaksud untuk
bersikap kasar, tapi aku tidak menerima perintah dari siapapun kecuali keluargaku)....”
Kembali Putra menegaskan pada Frans.
“Memang seorang Putra Adjieran Vinson yang aku kenal”
Suara seorang pria paruh baya terdengar dari balik pintu yang terbuka di belakang Frans.
Membuat mata semua orang yang berada dalam ruangan spontan menoleh ke arah sumber suara.
Tak seberapa lama, Putra sudah menarik tinggi sudut bibirnya.
“Tak pernah gentar oleh apapun, dan siapapun” Suara dari pria paruh baya itu terdengar lagi, bersamaan dengan sosoknya yang sudah terlihat saat Frans menggeser tubuhnya.
“Pak Tua yang seolah selalu tahu jika aku membutuhkannya....” Putra bersuara, lalu mendengus geli sembari menatap pria paruh baya berkacamata, dengan setelan jas yang flamboyan.
Seorang pria paruh baya berkewarganegaraan Belanda yang bahasa Indonesianya sangat fasih, meski aksen Belandanya sangat kentara.
“Hoe gaat het met je, Jongen? (Apa kabarmu, Nak?) ....” Sapa si pria yang baru muncul itu dengan menggunakan bahasa Belanda.
“Ik ben goed, peetvader .... (Aku baik, ayah baptis) ....” Balas Putra dengan bahasa yang sama pada pria paruh baya yang belum lama muncul di hadapannya itu.
Dan keduanya segera berpelukan layaknya lelaki kemudian. Nampak keduanya terlihat senang bisa bertemu kembali satu sama lain.
“Aku tahu kau pria yang kuat seperti selalunya ....” Ucap pria paruh baya tersebut sembari menekan pelan leher Putra lalu menepuk-nepuk punggungnya.
“Aku sudah berencana untuk pergi ke Netherland untuk menemuimu dalam waktu dekat, Vader ....” Tukas Putra sembari mengurai pelukannya dengan si pria paruh baya.
“Aku turut berduka untukmu atas apa yang menimpa pada Rery dan keluarganya, Zoon ....”
Pria paruh baya tersebut memposisikan wajah Putra untuk menghadapnya dengan tangannya yang masih terletak di leher Putra, dan satu tangannya lagi berada di pundak Putra.
“Dank Je (Terima kasih)”
Putra melipat bibirnya dan tersenyum tipis.
__ADS_1
“Seharusnya kau segera datang ke Netherland setelah apa yang terjadi di Ravenna”
“Aku hanya berpikir untuk menjauh dari Eropa saat itu.... Lagipula kami memang sudah mempersiapkan tempat tinggal baru disini”
Pria paruh baya tersebut pun manggut-manggut.
“Aku selalu percaya pada setiap keputusan yang kau ambil, Zoon”
Putra menarik sudut bibirnya. “Ja, dan itu semua berkatmu..”
Pria paruh baya berkebangsaan Belanda itu juga tersenyum pada Putra.
“Apa mereka yang ikut bersamamu dari Ravenna?..”
Pria paruh baya itu kemudian beralih pada setiap sosok di belakang Putra.
Putra pun membalikkan tubuhnya.
“Ya”
Putra menyahut cepat.
“Damian dan Garret” Ucap Putra. “Mereka datang bersamaku dari Italia...”
Putra memperkenalkan Damian dan Garret pada ayah baptis nya tersebut, dan tiga orang tersebut langsung berjabat tangan.
“Itu Arthur, aku mengenalnya saat disini dan dia bersamaku sekarang” Sambung Putra.
Arthur dan pria paruh baya yang merupakan ayah baptis Putra itu juga saling berjabat.
“Dan ini, Gadis” Putra meraih tangan Gadis. “Calon istriku”
Ayah baptis Putra itu tersenyum lebar.
“Jadi ini wanita hebat yang dapat memenangkan hati anak baptis ku yang dingin dan beku?...”
Gadis tersenyum ramah pada ayah baptis Putra tersebut, yang kemudian meraih tangan Gadis dan mencium punggung tangannya, sebagai salam perkenalan darinya.
***
Putra mengantar Gadis untuk menemui semua temannya yang berada dalam Pub, setelah ayah baptis nya undur diri karena tidak dapat berbincang lama-lama dengan Putra.
Pria paruh baya berkebangsaan Belanda yang memang ingin Putra temui dalam waktu dekat itu belum lama sampai di Indo dan langsung menemui Putra.
Ramone Zeeman, si pria paruh baya yang merupakan ayah baptis Putra karena bersahabat dengan almarhum sang ayah langsung saja bertolak ke Indo untuk menemui Putra setelah sempat tidak ia ketahui kabarnya setelah kabar mengenai Rery dan keluarganya, berikut orang-orangnya yang dibantai di Ravenna.
Ramone begitu syok saat mendengar soal apa yang terjadi di Ravenna, berdasarkan dari informasi yang ia dapat.
Berduka atas kematian Rery yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri, layaknya Putra. Tapi memang, Ramone lebih memiliki hubungan kuat dengan Putra.
Dan sangat khawatir jika Putra juga ikut tewas seperti halnya Rery. Hingga kabar jika tidak ada nama Putra yang tewas bersama Rery, membuat Ramone menaruh harap yang besar jika Putra masih hidup dan sedang bersembunyi di suatu tempat.
Ramone sudah menyebar beberapa orang untuk mencari informasi tentang keberadaan Putra, hingga pada akhirnya kabar mengenai Putra yang kini berada di tanah kelahiran ibu kandungnya sampai di telinga Ramone.
Dan tanpa berpikir panjang lagi, Ramone segera bertolak ke Indo dari Belanda untuk segera menemui Putra.
Ramone ingin melihat sendiri dengan mata kepalanya, jika itu adalah benar Putra, yang merupakan anak baptis nya, yang sangat dekat dengannya, karena Putra sering berbagi hal dengan Ramone, termasuk meminta saran dari ayah baptis Putra tersebut, meski mereka tinggal di negara yang berbeda.
Ramone tak hanya seorang ayah baptis Putra.
Namun pria itu adalah juga guru Putra untuk banyak hal.
Putra pernah tinggal lama dengannya di Belanda, makanya ia dan Ramone sangat dekat.
Ramone yang dikenal sebagai orang yang disegani dan ditakuti di negeri kincir angin tersebut, berjasa dalam menempa Putra, hingga Putra memiliki kemampuan diatas rata-rata dalam bermacam-macam hal, baik bela diri, hal-hal tentang senjata, dan ragam ilmu lainnya.
Makanya Putra sangat segan, selain menyayangi dan menghormati seorang Ramone Zeeman.
Namun selepas insiden Ravenna, fokus Putra memang hanya pada Anthony terlebih dahulu, sembari ia menyusun satu-satu rencana untuk membangun kekuatannya dari nol.
__ADS_1
Hingga pada suatu hari, Putra mengingat ayah baptis nya itu yang pasti akan bisa membantunya, mengingat Ramone adalah penguasa dunia bawah di Belanda. Hanya saja Ramone tidak dapat dicari dan ditemui dengan mudah.
Makanya Putra sudah menyusun rencana dan mencari waktu yang tepat untuk bertolak ke Belanda, untuk menemui langsung ayah baptis nya tersebut di tempat tertutup dan sangat rahasia yang hanya segelintir orang saja yang tahu.
Dan Putra merasa sangat beruntung, hingga pada akhirnya Ramone sendiri yang lebih dulu menemukannya. Kini Putra dapat lebih merasa kukuh untuk membangun kekuatannya kembali setelah bertemu kembali dengan sang ayah baptis.
****
Esok hari ...
Sapaan selamat pagi terdengar di dalam Kediaman Putra dan keluarga yang berada di Ibukota.
“When we can move to our new home Papa? (Kapan kita bisa pindah ke rumah baru kita Papa?) ...”
Anthony yang sudah rapih, tampan dan segar itu bertanya pada Putra saat mereka tengah berkumpul untuk sarapan.
Hanya Anthony, Bruna dan Addison dan Gadis serta Putra yang nampak sudah rapih pagi ini.
Sementara Damian dan Garret masih menggunakan piyama mereka, karena keduanya pulang lebih larut dari Putra dan Gadis.
Karena seperti selalunya, Damian dan Garret yang merupakan pria bebas itu, tidak akan menyiakan kesempatan yang datang untuk berpacu dalam kenikmatan bersama para wanita cantik dan aduhai di atas ranjang.
Terlebih, si pemilik Pub yang cukup tersohor yang mereka sambangi semalam, kini dapat dikatakan merupakan bagian dari mereka, karena pemilik Pub yang bernama Frans Ruben itu nyatanya tunduk dan takut pada Ramone Zeeman yang merupakan ayah baptis nya Putra.
Jadi wanita-wanita penghibur yang terbaiklah yang disuguhkan oleh Frans pada Damian dan Garret semalam. Hingga membuat dua pria bebas itu betah berlama-lama menghabiskan waktu dalam kamar yang memang tersedia dalam Pub bersama para wanita pilihan mereka.
“I really can’t wait to swim! (Aku sudah tidak sabar untuk berenang!)”
“Be patience would you?.. There is still some process to make that house become ours (Sabar sedikit dulu ya?.. Ada beberapa proses untuk membuat rumah itu menjadi milik kita) ..” Putra memberikan pengertian pada Anthony.
“Okay Papa!” Sahut Anthony antusias. Lalu bocah tampan tersebut melanjutkan sarapannya dengan semangat.
“Apa setelah rumah yang kemarin kita lihat itu kalian beli, kita akan pindah kesana? ..”
“Tidak” Jawab Putra pada Gadis. “Fungsi rumah itu sama seperti rumah ini .. tempat tinggal utama kita tetap di Villa ..”
Gadis pun manggut-manggut selepas mendengar penuturan Putra barusan. Lalu beralih pada Anthony, karena bocah tampan itu mengajaknya bicara.
“By the way, are we still going back to Villa today, or want to wait until the process of buy-sell that house is finish? (Ngomong-ngomong, apa kita tetap akan kembali ke Villa hari ini, atau mau menunggu sampai proses jual-beli rumah tersebut selesai?)”
Bruna bertanya.
“About house it’s not a big deal. Arthur and Danny can make the process run fast.. (Tentang rumah bukan masalah besar. Arthur dan Danny dapat membuat prosesnya berjalan cepat) ..”
“Then we’re still going back to Villa today? (Jadi kita tetap kembali ke Villa hari ini?) ..”
“No (Tidak)”
“Was there any problem? (Apa ada masalah?) ..”
Gantian Addison yang bertanya sembari memandang pada Putra, Gadis, Damian dan Garret bergantian.
Karena setahu Addison juga Bruna, Putra pergi ke Pub untuk menyelesaikan masalah kontrak kerja Gadis pada sebuah Pub yang cukup tersohor di Ibukota, dimana sang pemilik sesuai dengan informasi dari Arthur adalah orang yang cukup disegani di Ibukota, meskipun ia warga negara asing.
“No problem at all.. (Tidak ada masalah sama sekali) ..”
Putra menyahut lagi.
“I just have something to do today (Hanya ada sesuatu yang mau aku lakukan hari ini) ..”
“And what is that?.. (Dan apa itu?)..”
Bruna menelisik pada Putra.
“Don’t say that you will keep going with your plan (Jangan katakan bahwa kau tetap akan menjalankan rencanamu itu?)..”
Addison bertanya dengan penuh selidik pada Putra.
****
__ADS_1
To be continue .....