LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 293


__ADS_3

Happy reading...


*****


London, England..


Bibir Putra membentuk senyuman tipis saat melihat Devoss berjalan santai sambil merokok - lewat kaca spion depan disamping kiri Jules, ke arah mobil dimana Putra masih duduk di kursi penumpang belakang, yang juga sedang merokok.


Devoss langsung masuk ke dalam mobil melalui pintu mobil di sisi sebelah kanan, dan mematikan rokoknya terlebih dahulu sebelum ia masuk.


Meskipun Putra tidak memperlakukannya seperti seorang anak buah, Devoss tetap menjunjung tinggi Putra sebagai Bosnya. Terlebih, secara tidak langsung Putra memanglah Bosnya – Bos besarnya malah.


Karena Putra sudah ditunjuk Ramone sebagai penerusnya secara resmi, sebagai pemimpin ‘keluarganya’ di Belanda. Jadi Devoss akan memperhatikan tata kramanya pada Putra. “Have you make sure that he drowned (Kau memastikan jika dia sudah tenggelam)?”


Putra langsung bertanya saat Devoss masuk ke dalam mobil dan duduk disampingnya dan Devoss segera mengangguk. “If no one dive into that river, then his body and car will never be found. I can guarantee (Jika tidak ada orang yang menyelam ke dalam sungai itu, maka tubuh dan mobilnya tidak akan pernah ditemukan. Aku bisa menjamin itu)”


Putra pun mengangguk puas. “Good-“


“What after this? That Livingston (Setelah ini apa? Menghampiri Livingston itu)?”


“Can you reach Dami (Apa kau dapat mengontak Dami), Jules? ...” Putra berbicara pada satu anak buahnya itu.


“I’ll try (Akan saya coba), Boss.” Jawab Jules.


*****


“Have you finished (Apa kau sudah selesai), Dam? ...”


Putra mendekatkan sebuah protofon ke mulutnya.


Tak lama, karena suara Damian dari seberang protofon tidak terlalu jelas.


“I’m at point one ... Get here (Aku di titik pertama ... Kemarilah)” ucap Putra.


“Okay ...”


“Jules --“


Putra memanggil pria itu sambil mengulurkan tangannya yang memegang protofon.


“Yes Boss?”


Jules menyahut sigap.


“Try get the two and tell them to go straight to TBW if they’re finish and don’t get any trouble (Coba kontak dua kelompok yang lain dan katakan pada mereka untuk langsung pergi ke TBW jika memang mereka telah selesai dan tidak mendapat masalah)”


“Yes Boss.”


*****

__ADS_1


Mobil yang ditumpangi Putra dan Devoss kini telah bersanding dengan mobil yang ditumpangi oleh Damian dan Garret.


“Livingston and Tes are in that round up to (Livingston dan Tes ada di pertemuan itu juga)” ucap Damian pada Putra, kala mereka berdiri berhadapan di sebuah lorong sepi tak jauh dari sebuah hotel.


“Then finish them here (Maka habisi saja mereka sekalian disini)” sahut Putra datar lalu menyesap rokoknya dalam – dalam, kemudian membuang puntungnya ke tanah.


Kemudian Putra dan Damian serta mereka yang sedang bersamanya, kompak menoleh dengan tangan yang sudah siap menarik senjata mereka, ketika melihat dua orang yang berjalan setengah tergesa ke arah mereka.


“Why you guys are here (Kenapa kalian disini)? ..” tanya Putra pada dua orang yang menghampiri dirinya dan kawannya dengan setengah tergesa itu, yang adalah anak buah mereka. “Did I tell you to go straight to TBW, and Jules already remind you guys, right (Bukankah aku katakan untuk langsung pergi ke TBW, dan Jules juga sudah mengingatkan kalian, bukan)?”


Dua orang anak buah Putra itu segera mengangguk. “Yes Sir (Iya Tuan)”


“Then why you guys are here (Lalu kenapa kalian disini), Rev?” tanya Putra lagi pada satu orang yang sudah ia kenali.


“I beg your pardon Sir, but we saw your car then we decided to see if everything okay (Mohon maafkan kami Tuan, tapi kami melihat mobil anda lalu kami memutuskan untuk melihat apa semua baik – baik saja )”


Revel kemudian langsung menjawab pertanyaan Putra. “We’re okay here. Better you take those our guys go to TBW and see if Richard already be there or not (Kami baik – baik saja disini. Sebaiknya kau bawa orang-orang kita itu pergi ke TBW dan lihat apa Richard sudah berada disana atau belum)”


“I think they’re better here (Aku pikir sebaiknya mereka disini saja) –“ Garret bersuara. “See (Lihatlah) –“


Lalu Garret menunjuk ke arah hotel.


“Seems that they’re bring more men (Sepertinya mereka membawa lebih banyak orang) –“


“Heemm ..”


“Well then (Baiklah kalau begitu) ..”


Lalu Putra berbicara sembari manggut-manggut.


“Prepare your guns gentlemen, we’re more having fun in minute (Persiapkan senjatamu tuan-tuan, kita akan lebih bersenang – senang sebentar lagi)”


Putra menyungging miring, dimana para anak buahnya telah mempersiapkan senjata yang dapat memberondong peluru banyak dengan sangat cepat.


“You, find out how many men who guards (Kau, cari tahu ada berapa banyak orang mereka yang mengawal)”


Putra menunjuk satu orang anak buahnya, dan yang bersangkutan langsung mengangguk seraya menyahut sigap.


Lalu anak buah yang diberikan perintah oleh Putra pun langsung bergerak untuk melakukan apa yang Putra minta ia untuk lakukan.


Tak berapa lama anak buah Putra itu pun kembali melalui arah yang berbeda dari arah dia melangkah untuk mendekat ke hotel yang sedang mereka intai.


“Four cars of their men, but dozen guards (Ada empat mobil yang berisikan orang mereka, tetapi ada selusin penjaga)”


“Maybe they have hunch that the death angel want to stop by in front of them (Mungkin mereka punya firasat jika malaikat maut ingin mampir dihadapan mereka)”


Putra mencibir.


“And they want being guard to hell (Dan mereka ingin dikawal sampai neraka) ..”

__ADS_1


Garret menimpali ucapan Putra. Lalu ia, Putra dan mereka yang berada didekat kedua orang itu terkekeh bersama.


Putra dan kawanannya kemudian berwajah serius saat mata mereka menangkap suasana di hotel yang sedang mereka perhatikan itu.


“What’s your name (Siapa namamu)?” tanya Putra pada satu anak buahnya dari dua yang baru muncul tadi.


“Leo, Sir.”


Pria itupun menjawab dengan cepat namun sopan.


Putra menggangguk. “You, go to your car and get back here with those guys who with you and guns that ready (Kau, pergi ke mobilmu dan kembali kesini dengan mereka yang bersamamu dan senjata yang sudah siap).”


Lalu Putra memberikan perintah pada Leo yang langsung menggegaskan langkahnya.


“Rev, you stay behind. Back up, if there’s any of their companion that we miss there (kau tetap dibelakang. Berjaga, jika ada kawanan mereka yang kita tidak lihat disana)”


“Yes Sir (Iya Tuan)”


Revel menyahut dan mengangguk sigap.


Dan seperti Leo, ia pun langsung menderapkan langkah menuju mobil yang ia tumpangi sebelumnya, dimana ada tiga rekannya yang lain, juga berada di dalam mobil tersebut.


“Seems that they’re have finished (Sepertinya mereka sudah selesai) –“ Damian menggerakkan kepalanya dan menunjuk ke arah hotel yang sedang mereka perhatikan.


Putra dan lainnya menggangguk.


Kemudian Putra sedikit memberikan pengarahan pada kawanan yang akan menyertainya itu.


“Gaines also there. If he get shot (Gaines juga ada disana. Jika dia tertembak)?” tanya Damian.


“Then I will lose one fun (Maka aku akan kehilangan satu kesenangan)” jawab Putra. “And I have to skip for burning his body with my own hand(Dan aku harus melewatkan untuk membakar badannya dengan tanganku sendiri)”


Damian kemudian berdecak kecil seolah kecewa. “Too bad (Sayang sekali)...” menggeleng pelan juga. “Whereas I want to hear how the way he scream while he burning (padahal aku ingin mendengar bagaimana ia berteriak saat ia terbakar)---“


Putra pun mendengus. Lalu ia dan lainnya pun bergegas masuk ke mobil mereka, saat mulai ada kerumunan yang nampak keluar dari lobi hotel yang berada tak jauh dari tempat Putra dan kawanannya itu berada.


Mobil-mobil yang ditumpangi oleh Putra dan kawanannya pun melaju perlahan dan berjarak menuju ke arah hotel yang mereka perhatikan sebelumnya.


*****


Beberapa menit disaat lobi hotel yang tadi diperhatikan oleh Putra dan kawanannya mulai terlihat ramai, dan terlihat juga wajah-wajah yang memang sudah jadi incaran Putra dan kawananannya itu, disaat itulah tanpa mereka yang sedang berada di lobi hotel itu sadari, jika Putra dan kawanannya sudah beriringan dalam mobil mereka di depan hotel tersebut.


Dan didetik berikutnya, suasana yang tadinya tidak begitu ramai, mulai terdengar ricuh suara rentetan senjata dari satu sisi.


Dimana sepersekian detik, beberapa orang langsung jatuh terkapar bersimbah darah di tempatnya, lalu suasana semakin bising, karena suara senjata api mulai bersahutan tanpa jeda.


*****


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2