LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 148


__ADS_3

Happy reading ....


🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇


Addison dan Bruna kini sudah menapakkan kaki mereka di sebuah rumah ibadah. Tidak hanya Bruna dan Addison yang datang ke rumah ibadah tersebut bersama Suster Neni yang sudah membuat janji untuk bertemu disana.


Tapi juga Putra, Gadis, Anthony, berikut Damian, Garret dan Danny yang hari ini mengikuti lagi jadwal para Tuannya yang sudah menganggap Danny sebagai bagian dari keluarga. Namun hanya Addison dan Bruna, serta Suster Neni dan Danny yang kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang adalah sebuah kantor pengurus rumah ibadah tempat mereka tersebut diatas itu sedang berada saat ini.


“Gadis..”


Putra memanggil Gadis yang duduk disebuah kursi panjang berderet yang menghadap ke arah sebuah altar berdampingan bersama Anthony dengan nada suara yang rendah.


Gadis yang baru saja selesai berdoa itu langsung menoleh dan menyahut pada Putra yang mengambil tempat dibelakang Gadis dan sedikit merundukkan tubuhnya.


“Ya?...”


“Aku titip Anth padamu sebentar ya?”


“Kamu mau pergi, Putra? ..” Tanya Gadis.


“Aku hendak ke tempat Addison dan Bruna serta Suster Neni berada. Aku diminta kesana”


“Oh, ya sudah.. Pergilah kalau begitu. Biar Anthony dengan aku....”


“Jika membutuhkan sesuatu, atau ada yang Anth inginkan katakan saja pada Dami dan Garret”


Putra sedikit memiringkan tubuhnya dan menunjuk pada Damian dan Garret yang berdiri dengan pintu masuk rumah ibadah tersebut.


“Iya”


****


“Thank you so much.. ( Terima kasih banyak .. )”


Itu Bruna yang mengucapkan terima kasih pada salah seorang mantan rekan sejawat Gadis yang telah membantunya untuk mencari informasi perihal pernikahan di sebuah rumah ibadah yang juga merupakan salah satu objek wisata bersejarah di Ibukota.


“You are welcome Madam. ( Sama-sama Nyonya ) ..” Jawab Suster Neni yang kenal dengan salah satu pengurus rumah ibadah tersebut.


Saat berpamitan dengan para rekan sejawatnya kemarin Gadis sekaligus mencari informasi perihal rumah ibadah yang diinginkan oleh Bruna dan Addison untuk melangsungkan pernikahan, dan kebetulan Suster Neni ternyata memiliki kenalan disana.


***


Bruna, Addison, berikut Putra, Danny dan juga Suster Neni sudah keluar dari ruangan tempat mereka berada sebelumnya.


“Terima kasih Suster Neni” Itu Putra yang kemudian berterima kasih pada Suster Neni selepas Bruna dan Addison yang berterima kasih pada suster setengah baya yang ramah itu.


Suster Neni pun tersenyum. “Jangan begitu sungkan pada saya, Tuan Putra. Saya sudah menganggap Gadis seperti adik saya sendiri ....” Ucap Suster Neni. “Jadi saat saya tahu jika ada laki-laki yang mencintai Gadis dengan tulus, saya sangat berbahagia mendengarnya. Apalagi laki-laki yang bersahaja seperti anda, Tuan Putra....”


“Saya begitu tersanjung”


Putra berkata dengan nada suara rendah dan ramah pada Suster Neni. Ia dan Suster tersebut tengah mengobrol sembari mulai berjalan menjauhi ruangan tempat mereka berada tadi.


“Terima kasih sudah begitu baik pada Gadis selama ini” Ucap Putra dan Suster Neni kembali menyunggingkan senyumnya.


“Seperti yang saya bilang tadi.... Saya sudah menganggap Gadis seperti adik saya sendiri. Karena Gadis itu baik dan tulus....”


“Iya memang benar, makanya saya sampai tergila-gila padanya”


Suster Neni terkekeh kecil.


“Dan saya merasa beruntung mendapatkannya. Selain memenangkan hatinya juga”


Sementara Putra tersenyum tampan.


“Saya rasa kalian berdua sama-sama beruntung mendapatkan satu sama lain”


“Saya rasanya yang lebih beruntung dapat memenangkan hati Gadis dan dia mau menjalin hubungan dengan saya”


Suster Neni kembali menampakkan senyum keramahannya.


“Gadis pun beruntung bisa membuat pria seperti anda jatuh cinta padanya....”


“....”


“Gadis memang pantas sih mendapatkannya.... Memang sudah seharusnya, wanita yang baik dan penuh ketulusan seperti Gadis mendapatkan laki-laki yang terbaik....”


“Rasanya anda terlalu menyanjung saya....” Ucap Putra. “Bisa-bisa kaki saya tidak menapak di bumi, jika Suster Neni terus-terusan menyanjung saya seperti ini” Sambung Putra.


“Memang seperti itu yang saya lihat kenyataannya ....”


“....”


“Jujur saja nih ya, dari sejak saya mengenal anda, diluar Anthony adalah anak anda, sebenarnya saya berharap anda belum menikah, jadi ada kemungkinan anda bisa jatuh hati pada Gadis....”


“....”

__ADS_1


“Dan setelah Gadis bercerita jika anda adalah orang tua tunggal, saya justru semakin berharap anda menaruh hati pada Gadis....”


“....”


“Karena saya merasa, jika Gadis sudah menaruh hati pada anda”


“Begitu ya?”


“Hu’um....”


“Tapi dia sedikit jual mahal saat aku mulai mencoba mendekatinya”


Suster Neni terkekeh kecil mendengar celotehan Putra.


“Bukannya jual mahal ....” Ucap Suster Neni. “Gadis hanya merasa rendah diri. Dari penampilan anda saja sudah bisa terlihat jika anda dari kelas yang berbeda dari kami....”


“....”


“Jadi Gadis merasa rendah diri, merasa dirinya tidak pantas memiliki pendamping seperti anda”


Putra menarik sudut bibirnya.


“Dan hal itu yang membuat saya kadang merasa sebal padanya .... Dia terlalu sering merendahkan dirinya sendiri”


Suster Neni pun tersenyum.


“Wajar saja jika Gadis seperti itu Tuan....” Ucap Suster Neni. “Dari penampilan anda, bahkan Anthony sudah jelas sekali anda dari kalangan yang bagaimana. Sementara Gadis merasa hanya seorang yatim piatu yang bekerja


sebagai perawat biasa saja. Terlebih ....”


Suster Neni menggantung ucapannya. Membuat Putra menoleh sedikit fokus padanya.


“Terlebih apa?”


Kemudian Putra spontan bertanya. Namun Suster Neni melipat bibirnya, nampak ragu untuk bicara dan meneruskan kalimatnya pada Putra.


“Terlebih dia bekerja di sebuah Klub Malam? ....”


Putra berucap seraya bertanya.


“Jadi anda sudah tahu?” Suster Neni balik bertanya.


“Iya saya sudah tahu mengenai itu. Saya sudah tahu semua tentang Gadis tanpa terkecuali” Jawab Putra, lalu menarik sudut bibirnya.


“Syukurlah kalau begitu ....”


“Berarti semua kata sanjungan saya untuk anda benar dong? ....”


Suster Neni berkata dengan tersenyum dengan kepalanya yang mendongak tajam pada Putra yang tingginya memang begitu menjulang.


“Anda memang pria terbaik yang dikirim Tuhan untuk Gadis” Sambung Suster Neni.


Didetik dimana Putra terkekeh tampan. “Aku tidak sebaik itu” Tukas Putra, dan ia mengalihkan pandangannya ke arah selurusan matanya.


Dan Suster Neni menyunggingkan senyumnya lagi pada Putra. “Laki-laki yang mau dengan tulus mencintai seorang wanita dan menerima wanita itu apa adanya tanpa memandang status sosial, sudah pasti lelaki yang baik. Dan yah,


jelas sekali anda sangat serius mencintai Gadis bukan???....”


Suster Neni sedikit memiringkan tubuhnya, dan menoleh ke arah belakang dirinya dan Putra.


Lalu Putra pun kembali terkekeh tampan. “Dan terima kasih, karena anda membantuku untuk itu”


“Pokoknya anda tenang saja ....” Tukas Suster Neni. “Saya pastikan jika saya dan para perawat genit di Saint akan membantu agar semuanya berjalan dengan lancar....”


“Akan kusiapkan bonusnya kalau begitu....” Celoteh Putra.


Lalu Putra dan Suster Neni pun terkekeh bersama.


**


Hingga obrolan Putra dan Suster Neni yang nampak asik itu sampai ke luar rumah ibadah yang mereka sambangi, dimana yang lain, yang datang bersama Putra sudah berada di pekarangan rumah ibadah tersebut.


Putra dan Suster Neni yang nampak akrab itu juga terlihat sering sekali terkekeh.


Membuat Gadis yang memperhatikan nampak sedikit terheran, meskipun ia mengulum senyum tipisnya.


“Membicarakan apa sih kalian? ....”


Gadis spontan saja bertanya pada Putra dan Suster Neni yang sudah berada dekat dengannya.


“Sepertinya seru sekali?” Ucap Gadis.


Putra dan Suster Neni sama-sama tersenyum lebar.


“Rahasia”

__ADS_1


Kemudian Putra dan Suster Neni berucap dengan kata yang sama berbarengan, lalu sama-sama terkekeh kecil.


****


“Silahkan dinikmati Suster Neni, jika ada yang kurang atau lainnya yang Suster inginkan tolong jangan sungkan” Ucap Putra pada Suster Neni yang ikut bersama Putra dan rombongan ke sebuah restoran yang berada dalam sebuah hotel ternama di Ibukota.


“Iya terima kasih Tuan Putra” Ucap Suster Neni.


“Tolong, Putra saja”


Putra segera menginterupsi.


“Panggil nama saya saja mulai sekarang”


“Tapi..”


“Jika anda sudah menganggap Gadis sebagai adik anda sendiri, berarti jika nanti aku menikahinya, aku akan menjadi adik ipar Suster Neni bukan?..”


“Waduh, saya jadi merasa terhormat bisa punya adik ipar semenawan Tuan Putra ini” Sahut Suster Neni dan Putra tersenyum padanya.


“Lihat kan? Suster Neni saja mengatakan jika aku menawan..” Bisik Putra ditelinga Gadis. “Tapi kamu malah menyamakanku dengan penjual barang bekas! ..”


Putra kemudian menjauhkan bibirnya dari telinga Gadis sembari melemparkan lirikan setengah sinis. Dimana Gadis langsung saja mengerucutkan bibirnya. “Aku kan sudah minta maaf”


Lalu Gadis mencebik sembari juga membalas lirikan setengah sinis Putra.


“Dan lagi, semalam kamu sudah memaksa aku membayar hukumanku”


Gadis spontan menjawab gemas dengan satu tangannya yang mencubit pinggang Putra.


Putra pun terkekeh kecil sembari melirik Gadis yang masih menunjukkan wajah sebalnya pada Putra.


Cup!.


“Putra!”


Gadis spontan menepak pelan lengan Putra yang baru saja mencium sudut bibirnya tanpa malu.


Lalu Gadis yang wajahnya sedikit merona itu langsung tertunduk malu, karena semua mata yang berada dalam satu lingkaran meja makan, melihat ulah Putra yang mengecupnya itu barusan.


Kalau dirangkul posesif di pinggang atau bergandengan tangan dengan Putra Gadis sudah tak canggung, tapi kalau dikecup didepan banyak orang seperti ini walaupun orang-orang disekeliling Gadis adalah keluarga Putra yang sudah mulai dekat dengannya, tetap saja Gadis merasa malu.


Terlebih ada Suster Neni juga yang ikut makan bersama dengan Gadis, Putra, dan keluarga calon suaminya itu.


“You see your Papa now, Anth? .. ( Kamu lihat itu kelakuan Papamu sekarang, Anth? ) ..” Celoteh Damian. Dan Anthony langsung manggut-manggut.


“Ya I know, Daddy. Papa is so girlish now. ( Iya aku tahu, Daddy. Papa itu genit sekali sekarang )” Cetus Anthony.


Sementara Putra yang mendengar jika Damian dan Anthony sedang membicarakan dirinya itu segera menoleh kearah dua orang yang berada disisi kirinya tersebut.


“Envy, huh?. ( Iri, ya? )”


Sembari Putra memainkan alisnya, masih menoleh pada Anthony dan Damian.


Anthony sontak terkekeh, karena Putra nampak lucu saat ini di matanya, dan Damian mendengus geli.


“Is his head ever hit that hard, lately?.. ( Apakah kepalanya pernah terbentur dengan keras, akhir-akhir ini? ) ..”


Bruna kasak-kusuk pada Addison, karena melihat Putra nampak menjadi seperti bukan Putra yang seperti biasanya.


“Perhaps that because his too happy, that’s why his brain is little bit disturbed ( Mungkin saja karena terlalu bahagia, jadi otaknya menjadi sedikit terganggu )”


**


“Gimana ya kalau Dokter Ilse lihat betapa mesranya perlakuan Tuan Putra padamu ini Dis?” Celetuk Suster Neni pada Gadis setelah ia juga melihat Putra mengecup satu sisi sudut bibir Gadis.


“Pastilah dia akan lebih memusuhi aku, Mba Nen ..” Sahut Gadis.


“Pasti dia keki banget ya. Orang kentara banget kalau Dokter Ilse itu sangat menaruh hati pada calon suamimu itu ..”


Gadis pun manggut-manggut.


“Sayang Dokter Ilse ga praktek lagi..”


“Heu?.. Apa Mba Neni bilang?..”


Gadis memotong ucapan Suster Neni barusan.


“Dokter Ilse ga praktek lagi? ..”


“Iya..”


Gantian Suster Neni yang manggut-manggut.


“Jadi kamu benar-benar membuat Dokter Ilse keluar dari Saint Putra?”

__ADS_1


**


To be continue ....


__ADS_2