LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 115


__ADS_3

Happy reading .....


********************


“Dimana kamar tamunya?”


“Tidak ada kamar tamu disini. Sudah kukatakan bukan tadi, jika hanya ada tiga kamar disini?. Dan itu sudah ditempati oleh masing-masing dariku dan para saudaraku. Kami berbagi kamar disini. Aku dan Anth, Dami dan Garret, Ad dan Bruna. Seperti yang kukatakan, tempat ini kecil..”


“Lalu?.. Oh, aku tahu! Aku tidur di kamar kecil yang kamu bilang biasa digunakan oleh Pak Suheil dan para bodyguard mu itu?..”


“Bodoh.. mana mungkin aku membiarkanmu tidur disana?!”


“.......”


“Tentu saja kamu tidur di kamarku”


“H-hah? ....”


“Pergilah masuk kamar dan tunggu aku membawakan pakaian ganti untukmu”


Putra menunjuk ke satu arah.


“Kamarku di sisi paling kanan dari sini”


“Mmm ....”


“Haish ....”


Putra mendengus pelan sembari geleng-geleng karena Gadis belum bergerak ke tempatnya untuk pergi ke kamar seperti yang Putra katakan.


“Kamu ini....”


Putra bergumam seraya meraih pergelangan tangan Gadis dan membawanya berjalan menuju kamar Putra.


***


Gadis mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan yang ada di hadapannya saat ini. Kamar pribadi Putra. Yang Putra bilang tadi, jika kamar itu ditempati bersama Anthony juga, jika bocah itu dan keluarganya yang lain sedang berada di Ibukota.


Klasik dan elegan. Itulah kesan yang dapat Gadis tangkap dari kamar Putra. Furniture yang di dominasi dengan kayu jati berikut lantai kayu dan dinding yang bercat putih membuat kamar Putra tersebut terlihat cukup mewah.


“Benar-benar menggambarkan sekali bagaimana pemilik kamar ini. Bahkan lebih rapih dari kamarku”


Gadis menggumam.


Hingga tak berapa lama ....


“Gadis ....” Suara Putra membuat Gadis berhenti mengedarkan pandangannya di seisi kamar Putra.


“Putra....” Ucap Gadis. Di detik yang sama, hati Gadis mulai berdebar-debar.


“Soal pakaian gantimu ....” Putra berbicara, lalu melipat bibirnya. Nampak ragu untuk berkata.


“Iya kenapa? ....” Sahut Gadis.


“Maafkan aku, tetapi kamar Bruna di kunci dan aku tidak dapat menemukan kunci duplikatnya .... Jika aku menghubungi Villa saat ini pun, aku rasa tidak akan ada yang mengangkat telepon ....”


“Tuh kan, memang tidak seharusnya aku menginap disini malam ini?....” Gadis menyahut lagi.


Dimana Putra memajukan tubuhnya pada Gadis yang spontan memundurkan satu langkahnya akibat terkesiap oleh sikap Putra.


“A-ku akan tidur dengan gaun ini saja kalau begitu!”


Gadis langsung menyambar. Tidak ketinggalan untuk menunjukkan senyumnya dengan rentetan gigi gadis yang terlihat.


‘Haahhhh selamaatt ....’ Batin Gadis. ‘Aku selalu merinding jika Putra seperti ini!’


“Hemm ....” Hanya terdengar deheman pelan saja dari Putra.


“Ka-kalau begitu aku ingin mencuci mukaku” Ucap Gadis.


“Sudah tahu dimana kamar mandinya?” Tanya Putra.


Dimana Gadis langsung mengedarkan pandangannya.


“Ah, itu, kan?!”


Refleks, Gadis menunjuk ke satu pintu berwarna coklat yang ada di dalam kamar Putra itu.


Putra hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


“Kalau begitu, aku pergi ke kamar mandi dulu ....” Ucap Gadis lagi yang sedang sedikit gugup itu.


“Gadis....” Suara Putra yang terdengar memanggilnya, membuat Gadis spontan menelan salivanya.


‘Jangan bilang dia mau ikut masuk ke kamar mandi ....’


Dengan ragu-ragu Gadis menoleh.


“I, ya? ....” Ucap Gadis. “Ka-kamu mau a-pa?....”


Gadis spontan memundurkan satu langkahnya, kala Putra mendekatinya lagi.


Cup!.


“Selamat beristirahat” Ucap Putra setelah mengecup kening Gadis.


Dimana satu tangan Putra memegangi wajah Gadis di garis rahangnya.


“Ada bathrobe, jubah man- ....”


“Iya aku tahu apa itu bathrobe!” Sambar Gadis seraya merungutkan sedikit bibirnya.


Dimana Putra spontan mendengus geli.


‘Hish! Tidak sadarkah dia yang membentuk bibirnya seperti itu membuatku tak tahan? ....’

__ADS_1


“Aku kan tidak norak-norak amat!”


Gadis menyambung kalimatnya dengan ekpresi yang sama, bak anak kecil yang sedang merajuk.


‘Terlalu menggoda ....’ Batin Putra lagi.


Cup!.


Satu kecupan mendarat dengan cepat di bibir Gadis.


Putra tak tahan melihat bibir Gadis yang tadi merungut itu, yang malah terlihat menggemaskan di mata Putra. Juga menggoda jiwa kelakian Putra.


Kecupan di bibir Gadis yang dilakukan oleh Putra itu tak sesingkat kecupan di kening Gadis. Bagi Putra, bibir Gadis itu macam candu baginya yang sulit untuk ia lepaskan sebelum ia merasa puas merasakannya.


Dimana jantung Gadis berdetak lebih cepat akibat ciuman Putra ini. Well, jantung Putra juga sama cepat berdetak nya dengan jantung Gadis saat ini.


“Pu-traa....” Lirih Gadis yang sekuat tenaga melepaskan bibirnya dari serangan bibir Putra karena asupan oksigen yang masuk ke paru-paru Gadis, ia rasa kian berkurang hingga membuatnya sulit bernafas.


Karena ciuman Putra yang barusan itu Gadis kategorikan sebagai ciuman yang brutal dimana Putra tak memberi jeda sedikit pun hingga Gadis bisa membebaskan bibirnya itu dari raupan bibir Putra.


Dan Gadis merasakan jika bibirnya sudah menebal saat ini.


“Lain kali, kondisikan bibirmu jika sedang berdua saja denganku seperti saat ini....” Ucap Putra dengan wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Gadis, hingga aroma mint yang menguar dari nafas Putra dapat tercium dengan jelas oleh Gadis, selain rasa mint itu sendiri sudah dicecap juga oleh Gadis kala Putra menciumnya barusan.


Pandangan mata Putra dan Gadis saling bertemu.


“Apa kamu mengerti? ....”Ucap Putra sembari mengusap bibir bawah Gadis dengan ibu jarinya dengan mata Putra yang nampak sedikit sayu. “Karena jika tidak, aku tidak janji jika aku bisa menahan diriku untuk merobek gaunmu ini....”


Gluk!....


Kondisi jantung Gadis kini semakin tak karuan.


“Lain kali, jika kamu tidak ingin aku menyerang bibirmu seperti tadi, buat bibirmu itu nampak biasa saja di depanku .... Karena bisa saja, lain kali aku tidak memberi ampun padamu ....”


‘Memang seperti apa sih bibirku yang seharusnya nampak biasa itu di hadapan Putra ini?!!....’ Batin Gadis. ‘Rasanya biasa saja juga bibirku ini bentuknya.... Haish.... Putra selalu saja membuatku bingung dengan kata-katanya....’


“Apa kamu mengerti, Gadis? ....” Ucap Putra dengan suaranya yang terdengar sedikit parau.


“I-iya....”


“Bagus ....” Ucap Putra.


Namun Putra masih belum melepaskan tubuh Gadis yang pinggang belakangnya sedang ia rengkuh dan ibu jari Putra masih memainkan bibir Gadis.


“Mmm, Putra....?”


“Heemm? ....” Putra masih asik dengan kegiatannya.


“A-aku ingin ke kamar mandi....” Ucap Gadis yang gugup, takut Putra menyerang bibirnya lagi karena Putra perlahan mulai kembali mencondongkan wajahnya.


Putra menyunggingkan senyumnya. Lalu perlahan melepaskan Gadis. “Baiklah” Sahut Putra.


“Per-misi ....”


“Hemm....” Ucap Putra yang hanya terdengar dengan deheman pelannya saja itu.


“Selamat beristirahat” Ucap Putra dan hendak melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar.


‘Putra itu mau pergi berjalan keluar dari kamar ini, berarti dia tidak tidur disini? .... Haah!.... Syukurlah’


Gadis membatin.


‘Tapi dia tidur dimana? .... Jika kamar Nyonya Bruna terkunci, bisa jadi kamar yang satunya juga sama terkunci.... Perlu kutanyakan tidak ya, Putra akan tidur dimana?’


Gadis menggigit bibir bawahnya.


“Mmm, Putra....”


“Hem? ....” Sahut Putra yang  sudah memegang knob pintu kamar dan berhenti serta langsung menoleh saat Gadis memanggilnya.


“Kamu .... mau kemana? ....” Tanya Gadis.


Dimana Putra langsung menyunggingkan senyumannya.


“Mengunci pintu....”


Gluk!.


***


“Mak-sudmu kita tidur sekamar, begitu??”


“Apakah kamu mengundangku?”


“Ah! Bukan! Tidak! Itu....”


“Aku tidak keberatan ....”


“Tetap di tempatmu!”


“Dengan senang hati .... Aku akan tetap disini ....”


“Bu-bukan itu maksudku! Tadi kamu bilang akan mengunci pintu kamar ini ....”


“Aku tidak bilang akan mengunci pintu kamar ini ....”


“Ta-....”


“Aku bilang akan mengunci pintu .... mengunci pintu rumah ini ....”


“Ah! Itu ternyata maksudmu ....”


“Apa kamu berharap jika aku tidur disini bersamamu, hem? ....”


“Hah?, Apa?”

__ADS_1


“Baiklah, jika kamu memaksa, aku akan tidur disini denganmu ....”


“Ah tidak! Tidak!”


“Sekaligus membantumu melepas gaunmu pun aku tidak keberatan ....”


“Cepat keluar dari kamar ini, Putra!”


‘Gadis .... Gadis .... Menggemaskan sekali wajahmu jika sedang panik seperti tadi ....’


Putra mendengus geli sendiri mengingat ekspresi wajah Gadis saat Putra menggodanya tadi sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya sendiri, karena Gadis akan menggunakannya.


“Apa dia sudah tidur? ....” Putra bertanya sendiri dengan mengangkat sedikit kepalanya yang tertopang diatas sanggahan sofa tempatnya tadi dan Gadis bicara dan bertengkar saat datang.


Putra tengah berbaring kini, diatas sofa dalam ruangan tersebut.


“Aku penasaran.... Apa Gadis mengunci pintunya? ....” Putra mendudukkan dirinya.


Putra kemudian menatap lurus ke lorong searah kamar pribadinya, dimana ada Gadis didalam sana.


“Aku ingin sekali melihatnya....” Putra masih bergumam. “Bagaimana wajah Gadis saat tertidur, ya?”


Putra berdiri dari tempatnya. Melenggangkan kaki menuju kamar pribadinya.


‘Emmmm....’ Tangan Putra sudah hampir mencapai knob pintu.


Namun Putra tak langsung menempelkan tangannya itu di knob pintu tersebut.


‘Bagaimana jika ternyata Gadis tidak mengenakan bathrobe dan tidur dengan melepaskan gaunnya juga, dengan tanpa menggunakan sehelai benang pun???....’


Putra mendadak ragu, menurunkan tangannya yang hendak meraih knob pintu kamar pribadinya.


‘Tapi aku hanya penasaran melihat wajah Gadis saat tidur! .... Sungguh!’


Memposisikan tangannya lagi untuk menyentuh knob pintu.


‘Tapi jika Gadis benar tidak mengenakan apapun bagaimana, ya???....’


Putra yang sudah berdiri didepan pintu kamar pribadinya itu, menggaruk kepalanya yang tak gatal.


‘Aku akan menyelimutinya dengan rapat! Mengintip pun tidak!’


Putra menjawab dengan pasti pertanyaan hatinya sendiri.


‘Apa kau yakin tidak akan tergoda pada kemolekan tubuh Gadis yang bahkan saat ia mengenakan seragam perawat saja sudah terlihat, Putra?....’


Hati Putra bertanya-tanya sendiri lagi.


‘Yakin!’ Jawab hatinya pasti. ‘Tidak yakin!’


Namun kemudian Putra menyangkal jawaban pertamanya dengan cepat.


‘Aku rasanya tidak yakin akan tahan jika sampai melihat tubuh polosnya!’


Putra mengusap kasar wajahnya. ‘Hish!’ Gemas sendiri. ‘Aku hanya ingin melihat wajah Gadis saat tidur! Itu saja!’


Berkutat dengan hati dan keinginannya, Putra menaik-turunkan tangannya ke arah knob pintu kamar pribadinya itu.


‘Jika dia polos tak berbusana?’


Ah, hati Putra mengeluarkan pertanyaannya lagi.


‘Aku akan menahan diriku!’


Dan hatinya menjawab sendiri lagi.


‘Yakin?.... Melihat bibir Gadis saja kau sudah tak tahan, apalagi melihat tubuh polosnya????’


Dan si hati pun mencibir. Disaat dimana Putra akhirnya meremas rambutnya sendiri.


“Saat seperti ini, kenapa aku berharap dapat berpikir seperti dua b*jingan itu!”


Papa Putra gemas sendiri, menggerutu sendiri seraya berbalik badan, tak jadi mengecek Gadis yang berada didalam kamar pribadinya itu.


“Jika cara berpikirku terhadap wanita seperti Dami dan Garret,  aku kan tidak perlu memperdulikan untuk masuk kedalam kamar dan melihat Gadis meski ia tak mengenakan sehelai benang pun?! ....”


Putra Mendengus kemudian.


“Hish! Sial!”


Papa Putra gemas sendiri, kesal sendiri.


“Anda terlalu gentleman rasanya saat ini, Tuan Putraaa ....”


Hingga sampai Papa Putra duduk kembali ke sofa tempatnya tadi dengan kepala yang tertunduk dan menggaruk cepat dan kasar rambutnya sendiri.


‘Aku harus cepat menyuruh Ad dan Bruna menikah! Kalau perlu nanti saat aku kembali ke Villa, aku ajak pendeta sekalian untuk menikahkan mereka hari itu juga! Jadi aku akan cepat menikahi Gadis setelahnya’


Putra manggut-manggut.


‘Ya! Kurasa sebaiknya begitu....’


Kemudian Putra menolehkan kepalanya ke arah lorong selurusan kamarnya.


‘Oh Gadis....’ Lirih Putra dalam hatinya yang memelas. ‘Pikiran sialan!’ Rutuk Putra. ‘Aku kan jadi gelisah memikirkan Gadis didalam sana yang tak berpakaian!’


Papa Putra belingsatan, karena terasa ada yang mulai tidak nyaman dibawah sana.


‘Arrkkkhh!!!!’


Papa Putra macam orang frustasi.


‘Hish! Membuat kedua kepalaku sakit saja!’


***

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2