LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 25


__ADS_3

Happy reading ....


“Are you happy Anth? ( Apa kamu senang Anth? )”


Putra bertanya pada Anthony yang sedang bersamanya berkeliling diatas kuda yang baru kemarin dia beli demi menyenangkan bocah kecil kesayangannya itu.


Putra tersenyum saat dia menoleh untuk bertanya pada Anthony yang ia dudukkan didepannya dan bocah kecil itu pun mengangguk. Memang Anthony belum lagi berbicara sejak ia mengigau saat Putra menemukannya seperti sedang bersembunyi di kamar mandi pada kamar pribadinya.


Namun wajah Anthony sekarang, setidaknya tak lagi sesuram beberapa hari belakangan.


“I will take you for a ride every morning then ( Aku akan membawamu berkeliling dengan kuda setiap pagi kalau begitu )”


Anthony mengangguk lagi.


Putra pun meneruskan mengajak Anthony berkeliling diatas kuda, menyusuri daerah sekitar Villa termasuk kebun teh milik mereka bersama Damian dan Garret yang ikut serta diatas kuda mereka masing – masing.


Cuaca yang selalunya sejuk didaerah tempat tinggal mereka sekarang terlebih saat pagi, memang dirasa pas untuk sekedar berjalan – jalan dengan menunggangi kuda.


Pak Abdul juga ikut serta, karena Putra minta diantarkan berkeliling ke daerah yang sedikit jauh dari Villa. Untuk melihat – lihat karena Putra berencana untuk membuat satu lingkungan itu menjadi daerah mereka saja.


Untuk mempersempit akses orang luar yang bisa saja mengganggu ketenangan mereka, karena Putra sejatinya memang orang yang tertutup.


***


Putra, Damian dan Garret masih tinggal di Villa selama mereka menunggu kabar dari Addison dan Bruna yang sedang berada di Ibukota untuk mencarikan seorang Psikiater untuk Anthony. Saluran telepon di Villa sudah terpasang jadi komunikasi sekarang dapat menjadi lebih mudah bagi Putra dan lainnya.


“What take you so long to call?. Are you and Bruna go for a Honeymoon? ( Apa yang membuatmu lama untuk menghubungi?. Apa kau dan Bruna sedang berbulan madu? )”


Putra sedang tersambung dengan Addison di saluran telepon.


Addison terdengar terkekeh dari sebrang telepon.


“Not many of Psychiatrist here yet, Bos! ( Belum banyak Psikiater disini, Bos! )”


Putra berdecih kemudian.


Addison terkekeh lagi. “But don’t worry I already found two person( Tapi jangan khawatir, aku sudah menemukan dua orang )”


Kemudian Addison menjelaskan tentang dua Psikiater yang menurut informasi merupakan dua yang terbaik dari beberapa jumlah kecil Psikiater yang ada di Ibukota.


“You decided which one that you think is eligible for Anth ( Kau putuskan mana yang kau pikir memenuhi syarat untuk Anthony )”


“You help me to choose Ad ( Kau bantu aku memilih saja Ad ). Or ask Bruna, she must be known which one is the best one for Anth ( Atau tanya Bruna, dia pasti paham mana yang terbaik untuk Anth )”


“Hmm .... alright then I said and ask her later. She is taking a bath now ( baiklah akan kukatakan dan tanyakan padanya nanti. Dia sedang mandi sekarang )” Sahut Addison.


“Better both of you get marry as soon as possible before Bruna get pregnant ( Lebih baik kalian berdua menikah secepatnya sebelum Bruna keburu hamil )” Ucap Putra.


“Haha! ... I will marry her don’t you worry about that. But now, let us concentrate to Anth first, hem? ( Aku pasti akan menikahinya kau tak perlu mengkhawatirkan itu. Tetapi sekarang, kita konsentrasi pada Anthony terlebih dahulu, hem? )”


“Ya, ya whatever you say Ad! ( Terserah kau lah Ad! )”


“I am a faithful man Bos ( Aku pria yang setia Bos )”


“Heeeemm”


Putra menanggapi dengan malas ucapan Addison.


“Not a Casanova like Dami! ( Bukan seorang pemain wanita macam Dami! )”


Gantian Putra yang terkekeh. Lalu Putra dan Addison pun mengakhiri hubungan telepon mereka.


***


“What did Bruna said? ( Apa yang Bruna katakan? )”


Damian bertanya, setelah beberapa waktu lalu Putra berbicara dengan Addison di telepon dan tak lama kemudian Bruna menghubungi Putra juga.


“She said I have to bring Anth meet that two Psychiatrist then see which one that makes Anth feel comfortable ( Dia bilang aku harus membawa Anth bertemu dengan dua Psikiater itu untuk melihat yang mana yang lebih membuat


Anth merasa nyaman )”


“Are they women? ( Apa mereka wanita? )” Guyon Damian dengan wajahnya yang nampak menjengkelkan di mata Putra saat ini. Garret hanya terkekeh.


“Cih!” Decih Putra.

__ADS_1


Damian pun terkekeh juga.


“Oh please understand me Mister Putra Adjieran, I need a warmness from a woman”


“( Oh tolong mengertilah aku Tuan Putra Adjieran, aku butuh kehangatan dari seorang wanita )”


“Ya right ( Masa bodoh )”


Putra menanggapi dengan malas ucapan Damian. Dan Damian kembali terkekeh bersama Garret.


“But Dami was right Putra, for at least we need some ‘diversion’ ( Tapi Dami benar Putra, setidaknya kita butuh sedikit ‘hiburan’ )”


Putra menghela nafasnya saja. Tapi bagaimanapun Putra mengerti keinginan dua saudaranya ini.


Toh saat di Italia kala kehidupan mereka masih berjalan lancar, bersenang – senang dengan para wanita sudah sering Damian lakukan. Garret pun juga.


Hanya Putra yang seolah anti pada wanita, bahkan dari sejak masih berada di Inggris. Jangankan membawa wanita keatas ranjang, melirik pun tidak.


Seolah di otak Putra itu hanya ada soal Rery, Madelaine dan Anthony. Tiga orang itu lah yang menjadi prioritas Putra selama hidupnya. Rery dan Madelaine telah tiada, dan kini ia membuat dirinya seorang yang merasa punya


tanggung jawab besar pada Anthony.


Terlebih Putra memiliki perasaan bersalah yang teramat sangat atas kematian Rery dan Madelaine, dan pada apa yang sudah menimpa Anthony hingga kondisi mental bocah itu sedikit terganggu, namun bukan dalam artian gila.


Mungkin dapat dikatakan autis, meski kini Anthony sudah nampak lebih baik. Namun bocah itu masih menutup rapat mulutnya, dan rasanya memang seorang Psikiater dibutuhkan untuk membantu Anthony menjadi seperti semula.


“Both of you can ask Ad to bring you to the place where you can get ‘women warmness’ when we go to the Capital ( Kalian berdua bisa meminta Ad untuk membawa kalian ke tempat dimana kalian bisa mendapatkan ‘kehangatan wanita’ saat kita pergi ke Ibukota )”


Damian dan Garret kompak mengangkat jempol mereka dengan wajah sumringah yang membuat Putra malas melihatnya.


“Are you will go with us? ( Apa kau ikut dengan kami? )” Tanya Damian iseng.


“Ya right. You need to get some too ( Iya benar. Kau membutuhkannya juga )” Timpal Garret.


“Never! ( Tidak akan pernah! )”


Putra menyahut dengan cepat.


“Oh come on Putra, it is time for you to let go your virginity ( Oh ayolah Putra, sudah saatnya kau melepas keperjakaanmu )”


“Feel that I want to sew your mouth! ( Rasanya aku ingin menjahit mulutmu! )”


Damian dan Garret malah terbahak kompak.


****


Putra, Anthony, Damian dan Garret menempuh beberapa jam dari Villa untuk sampai di Ibukota bersama Addison dan Bruna yang menjemput mereka, yang datang kembali ke Villa sehari sebelumnya.


Beruntung, para pria yang merupakan mereka yang sangat setia pada Rery itu sudah terbiasa menyetir. Perjalanan jauh mengemudikan mobil pun sudah sering mereka lakukan saat di Italia. Jadi meskipun cukup jauh jarak yang ditempuh dari Villa ke Ibukota, tak ada keluhan yang keluar dari mulut mereka.


Jika pun salah satu merasa lelah mengemudi, maka mereka akan saling menggantikan.


****


“You bought this house? ( Kau membeli rumah ini? )”


Putra bertanya pada Addison saat mereka sudah sampai di dalam pekarangan sebuah rumah cantik dimana banyak bunga – bunga yang tumbuh di pekarangannya.


“Not yet. I just lease it for now ( Belum. Aku hanya baru menyewanya untuk sekarang ini )”


Addison menjawab Putra saat ia sudah berdiri disisi Putra yang menggendong Anthony di depan sebuah rumah bergaya belanda yang dibangun pada tahun 1932 itu.


“Too many flowers ( Terlalu banyak bunga )”


Ucapan Putra membuat Addison terkekeh.


“Women. You know ... ( Wanita. Kau tahu lah ) ...”


Addison melirik Bruna dan Putra gantian terkekeh.


“Come, let us get ini. Anth must be tired ( Ayo, kita masuk. Anth pasti lelah )”


Putra mengangguk dan kemudian masuk kedalam rumah yang disewa oleh Addison tersebut.


****

__ADS_1


“I already make an appointment to meet that two Psychiatrist for tomorrow ( Aku sudah membuat janji dengan dua Psikiater itu untuk besok )”


“Okay...”


“Is it far from here? ( Apakah jauh dari sini? )”


Tanya Putra pada Addison.


“The first one is still around here, but the other one is working at the Hospital. But not really far from here”


“( Yang satu masih berada disekitar sini, tetapi yang satunya lagi bekerja di Rumah Sakit. Tapi tidak terlalu jauh dari sini )”


Putra manggut – manggut.


****


Putra dan lainnya sudah berada akan masuk kedalam sebuah bangunan yang letaknya tak jauh dari rumah yang disewa Addison. Hanya berada beberapa blok saja dari rumah tersebut. Putra masuk bersama Anthony, ditemani Addison dan Bruna. Sementara Damian dan Garret menunggu diluar bangunan, sembari melihat – lihat sekitar.


Putra mengalihkan matanya pada Damian dan Garret yang mulai akan mengayunkan langkah mereka untuk berkeliling. “Don’t get lost ( Jangan sampai tersesat )” Ucap Putra pada dua pria itu yang langsung terkekeh.


Addison dan Bruna juga ikut terkekeh.


“Don’t worry we won’t ( Jangan khawatir kami tidak akan tersesat )” Damian bersuara.


“How long approximately Anth will be check inside? ( Berapa lama kira – kira Anth akan dicek didalam? )”


Gantian Garret yang bersuara seraya bertanya.


“We don’t even know ( Kami juga tidak tahu )”


“Hmm.... we will comeback here after fifteen to thirty minutes then ( kami kembali kesini sekitar lima belas sampai tiga puluh menit lagi kalau begitu )”


“Alright ( Baiklah )”


“We will not go far from this block ( Kami tidak akan jauh – jauh dari blok ini )”


“Okay” Sahut Putra lalu ia pun masuk ke dalam bangunan didepannya bersama Anthony, Addison dan Bruna.


****


“How was it? ( Bagaimana? )” Tanya Damian yang kebetulan sudah kembali ke tempat yang sama tadi saat Putra dan tiga orang yang bersamanya itu keluar dari dalam bangunan. Putra kemudian menggeleng.


“Anth not feel comfortable with her ( Anth tidak merasa nyaman dengannya )” Sahut Putra. Damian dan Garret manggut – manggut.


“Then now we are hoping that Anth will suit with the other one at the hospital ( Maka kini kita berharap kalau Anth akan cocok dengan satu lagi yang berada di Rumah Sakit )”


****


“How could Anth not feel comfortable with the former Psychiatrist? ( Bagaimana Anth merasa tidak nyaman dengan Psikiater yang tadi? )” Tanya Damian.


“I can see it from Anth face ( Aku bisa melihat dari raut wajah Anth )” Sahut Putra pada Damian.


“Hmm..”


“How can she help Anth if she can make him feel comfortable at the first sight? ( Bagaimana dia bisa menolong Anth jika kesan pertama dia sudah membuat Anth merasa tak nyaman )”


“Well, I agree with that ( Yah, aku setuju dengan itu )” Timpal Garret.


****


Anthony bersama para Uncle dan satu Auntnya sudah hampir mencapai tempat Psikiater yang kedua. Addison yang memberitahukan kalau mereka hampir sampai di tempat tujuan.


“We almost arrive ( Kita sebentar lagi sampai )” Ucap Addison.


Putra pun mengangguk setelah mendengar ucapan Addison.


Dan kemudian mobil yang Addison kemudikan berbelok ke sebuah bangunan yang memanjang di sebelah kiri mereka.


“This is a mental hospital?! ( Ini rumah sakit jiwa?! )”


****


To be continue ..


Enjoy aja dulu

__ADS_1


__ADS_2