
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indo,
“Let her if she really want to go ( Biarkan dia jika dia ingin pergi )”
Ucapan yang keluar dari mulut Putra, pada empat orang yang kini ada di hadapannya.
Dimana sebelumnya Putra mendapatkan apa yang baginya adalah sebuah ancaman dari mulut Gadis, yang kemudian ia balas dengan tenang.
Namun balasan tenang Putra pada Gadis, cukup membuat wanita itu membeku kelu di tempatnya saat ini.
🔵🔵
Putra kini telah membelakangi Gadis.
Nampak ucapan Putra sampaikan pada Ramone, Garret, Bruna dan Damian.
“I want to see, how far she can run and hide from me ... and I’ll be waiting for that ( Aku ingin lihat, sejauh mana ia dapat lari dan bersembunyi dariku ... dan aku menunggu saat itu ) ... Merasakan lagi kesenangan akan ‘berburu’.”
Namun begitu, ucapan itu Putra lontarkan dengan dirinya yang sedikit melirik pada Gadis dari tempatnya.
Lirikan dengan sunggingan miring yang Gadis dapat tangkap dari jaraknya. Misterius makna. Tapi cukup membuat Gadis bergidik.
Wajah suaminya tetap sama tampan seperti yang ia kenal selama ini.
Namun ekspresi yang Putra tunjukkan berikut tatapannya dari lirikan tersebut, tak pernah Gadis lihat sebelumnya.
🔵🔵
Setelah kalimat terakhir Putra yang membuat Gadis kian bergidik, suami Gadis itu kemudian nampak melangkah menuju tangga tanpa lagi menoleh atau sekedar melirik ke belakang ---- langkahnya nampak santai.
Namun begitu, langkah Putra terlihat mantap. Membuat Gadis menilai, jika kalimat – kalimat yang Putra lontarkan tadi yang tertuju padanya itu bukanlah sekedar gertak sambal. Karena wajah Putra sungguh berbeda sekali dari wajah seorang Putra yang selama ini Gadis lihat.
Dingin. Tak sehangat dan seteduh seperti ekspresi yang selama ini Putra tampakkan di depan Gadis.
Jangankan tatapan memuja. Putra bahkan terlalu mengabaikannya. Pun, Putra mencetuskan ancaman pada Gadis.
“Gadis!” Empat orang yang masih ada di lantai dua, itu sama memekik ketika Putra nampak telah turun ke lantai bawah sambil menghampiri Gadis yang merosot terisak di tempatnya.
Gadis tak lama meluruh di tempatnya, yang kini telah dipegangi Bruna yang memandang tak tega pada Gadis.
Begitu juga Ramone, Garret dan Damian.
Yang menduga, pastilah Gadis cukup syok dengan ancaman Putra tadi.
“Let’s go back to your room ( Ayo kembali ke kamarmu ), Gadis.” bujuk Bruna. “Hem?”
“Come, Gadis ...”
“Let me and Bru who take her ( Biar aku dan Bru yang membawanya )”
Ramone yang berucap selepas Garret dan Damian hendak memapahnya.
“Both of you just go with Putra ( Kalian berdua pergilah bersama Putra )” kata Ramone lagi.
“Okay,” jawab Garret dan Damian.
Keduanya kemudian melangkah pergi dari tempat Gadis, Bruna dan Ramone berada setelah membantu Gadis berdiri.
“Let me who go with Putra ( Biar aku yang pergi dengan Putra )” kemudian setelah agak jauh dari tempat tiga orang tadi berada, Damian berucap pada Garret. “You better stay in Bru and Ad’s room to accompany Anth ( Kau sebaiknya tinggal di kamarnya Bru dan Ad untuk menemani Anth )”
__ADS_1
Kemudian Damian memandang pada Arthur dan Devoss.
"Both of you stay here, prepare for everything after me and Putra back here ( Kalian berdua tetap disini, bersiap untuk segala sesuatunya setelah aku dan Putra kembali ke sini )"
Lalu Damian berkata pada Arthur dan Devoss yang langsung mengangguk mengiyakan ucapan Damian tersebut.
🔵🔵
“You gave her permission to go, but you threatened her too ( Kau memberi ijin baginya untuk pergi, tapi kau mengancamnya juga )”
Damian kini sudah berada di dalam mobil, setelah ia kemudian melesat cepat dari lantai dua untuk mengejar Putra yang sudah lebih dulu berlalu dari lantai tersebut.
“Don’t mean to ( Tidak bermaksud begitu )“ respons Putra setelah ia yang sudah duduk di dalam mobil yang sudah siap berangkat menuju ke suatu tempat yang menjadi tujuannya itu sedikit terhenyak dengan geduran kecil di pintu mobil yang sudah ia tumpangi dan siap berangkat itu.
“Ya, ya ... don’t mean to, but you quite enough pushed her ( tidak bermaksud, tapi kau cukup menekannya )” balasan Damian setelah ia mendengus geli selepas Putra menanggapi ucapannya, lalu bilang kalau satu saudaranya itu tidak bermaksud mengancam Gadis. Yang mana Damian ragukan kalau Putra tidak ada seriusnya melakukan itu.
🔵🔵
“What else you said to her except that you will hunt her if she dare to go from you? Because Gadis looks shocked and afraid ( Apalagi yang kau katakan padanya selain jika kau akan memburunya jika dia berani pergi darimu? Karena Gadis terlihat syok dan takut ) –“
“I will put her in the place where she unable to see sun and moon until the rest of her life ( Aku akan menempatkannya di tempat dimana dia tidak dapat melihat matahari dan bulan sampai akhir hidupnya ) ... If she dare to go and I can find her ( Jika dia berani pergi dan aku dapat menemukannya )”
“Damned.”
Damian pun langsung berkesah tercengang setelah mendengar jawaban Putra barusan.
“No wonder Gadis looks that shocked ( Tidak heran Gadis terlihat syok begitu )”
“Yeah, but she’s quite stubborn that you thought ... make me curious how big her guts to do her threaten about leaving me ( tapi dia lebih keras kepala dari yang kau kira ... membuatku penasaran seberapa besar nyalinya untuk melakukan ancamannya tentang meninggalkanku )”
“And if Gadis really do that? ... leaving you ... will you do your threaten to her? About placing her in the place that you said ( Dan jika Gadis benar – benar melakukannya? ... meninggalkanmu ... apa kau akan mewujudkan ancamanmu padanya? Menempatkannya di tempat yang seperti tadi kau katakan )”
Damian bertanya lagi.
“Yes, I’ll do it with no hesitation ( Iya. Aku akan melakukannya tanpa keraguan )”
Lalu didetik berikutnya, Damian menegakkan tubuhnya.
Dimana dia dan Putra kemudian saling terdiam selama beberapa saat.
“So you really gonna kill them? Gadis’ step mother and sister? ( Jadi kau benar – benar akan membunuh mereka? Ibu dan saudari tiri Gadis? )”
Setelah sejenak bungkam, Damian kemudian bersuara lagi dan melontarkan pertanyaan. Dimana jawaban Putra langsung terdengar dengan pria itu yang menjawab dengan yakin.
“Yes.”
🔵🔵
“Tuan,” sapaan terdengar di kala Putra telah sampai di tempat tujuannya, sebagaimana perintah yang ia katakan pada satu anak buahnya untuk membawa ibu dan saudari tiri Gadis ke sana.
“Sudah kau pastikan, jika tidak ada seorang pun yang akan datang ke sini?”
Putra yang menjawab sapaan satu anak buahnya itu, kemudian langsung melontarkan pertanyaan pada yang bersangkutan.
“Sudah, Tuan –“
“Sehari – hari juga ga akan ada orang yang ada di kawasan ini pada jam segini, Tuan.”
“Dimana mereka?” tanya Putra kemudian. Lalu, anak buahnya menyahut.
“Seperti yang Tuan perintahkan, kami membawa mereka ke hutan di belakang,” kata si anak buah yang menjawab pertanyaan Putra barusan.
“Sudah juga dipastikan tidak ada orang yang tahu kalian membawa mereka dari tempat keduanya berada?”
__ADS_1
“Aman Tuan.”
“Bagus jika begitu,” balas Putra pada jawaban satu anak buahnya. “Karena jika ada kecurigaan yang mengarah padaku atau keluargaku ke depannya atas menghilangnya dua wanita keparat itu, kau dan teman – temanmu akan menerima ganjaran dariku atas kelalaian kalian.”
“I – iya, Tuan Putra. Saya mengerti ...”
Putra lalu meminta anak buah yang barusan bicara dengannya itu kembali menunjukkan keberadaan ibu dan saudari tiri Gadis yang sudah mereka bawa dari rumah keduanya.
🔵🔵
“Oh iya, Tuan Putra ...”
Satu anak buah Putra yang tadi bicara dengannya itu kemudian kembali bersuara, sambil ia mendampingi Putra berjalan ke tempat tujuannya.
“Ini ...” Kemudian menyodorkan beberapa lembaran kertas yang terlipat dua kepada Putra. “Surat – surat yang anda minta ...”
“Hem ...” jawab Putra dengan berdehem sambil menerima lembaran kertas yang satu anak buahnya itu sodorkan padanya.
“Dari tempat yang mereka tunjukkan, kami hanya menemukan surat – surat ini aja. Dan sudah kami paksa untuk mengakui apa ada yang lain lagi, mereka bilang hanya ini aja surat – surat berharga yang mereka punya selain surat – surat dari beberapa perhiasan yang kami temukan yang sudah kami amankan berikut perhiasannya, Tuan.”
Setelahnya, satu anak buah Putra itu memberikan keterangan yang sedikit panjang.
“Aku tidak butuh perhiasan itu ... buang saja,” ucap Putra kemudian. Lalu ia menghentikan langkah.
Membuat mereka yang sedang berjalan bersama Putra jadi ikut menghentikan langkah mereka. Lalu serempak menoleh pada Putra yang sedang berpikir itu.
Dimana beberapa detik kemudian, Putra lalu bicara. “Simpan dulu perhiasan itu, lalu letakkan nanti di dekat jasad dua perempuan keparat tersebut.”
“Baik Tuan ...”
“Pastikan tidak ada satupun sidik jarimu dan teman – temanmu di perhiasan itu.”
“Baik Tuan ...” jawab satu anak buah itu lagi.
🔵🔵
Putra telah sampai di dalam sebuah hutan di belakang pabrik miliknya dan keluarga yang masih belum selesai pembangunannya.
Tatapan Putra yang mengintimidasi kemudian terlihat ketika ia sudah berhadapan dengan dua orang wanita yang bersimpuh saling menempel ketakutan di tempat mereka yang sedang ditahan kuat salah satu sisi bahu dari masing – masingnya oleh dua orang anak buah Putra yang berada di sisi kiri dan kanan dua wanita tersebut.
Yang mana keduanya adalah ibu dan saudari tiri Gadis, dan keduanya bersimpuh dengan mulut yang tersumpal sebuah kain pada masing – masing mulut keduanya, dimana kain tersebut diikat ujungnya di belakang kepala ibu dan saudari tiri Gadis. Tak hanya mulut ibu dan saudari tiri Gadis yang disumpal dengan dua kain yang berbeda, namun tangan keduanya juga terikat ke belakang.
Dalam diam dan tatapan penuh intimidasi pada ibu dan saudari tiri Gadis, Putra melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat kepada keduanya yang ekspresi wajahnya sudah sangat ketakutan menatap pada Putra. Dimana airmata ibu dan saudari Gadis itu telah juga membanjiri wajah mereka. “Aku akan melepaskan sumpalan di mulut salah satu dari kalian yang harus menjawab pertanyaanku. Bekerjasamalah, jika tidak ingin pisauku ini memotong nadi di leher kalian. lalu kalian mati macam hewan sembelih ...”
Putra yang sudah setengah berjongkok di hadapan ibu dan saudari tiri Gadis yang masih nampak menangis dan memandangi Putra dengan tatapan takut serta memohon juga itu, berbicara dengan menyematkan kalimat ancaman dalam ucapannya ---- sambil Putra menunjukkan pisau yang telah ia keluarkan dari dalam saku celananya, dan membuka sarung pisau tersebut di hadapan ibu dan saudari tiri Gadis yang kini nampak bertambah ketakutannya. Putra lalu tersenyum miring menatap pada keduanya.
“Yah, walau akhirnya kalian juga akan tetap mati di tanganku. Tapi setidaknya, jika kalian bisa bekerjasama, aku akan memberikan kematian yang cepat dan tidak membuat kalian menderita sebelumnya ...” Putra kembali bicara kemudian.
Dimana setelah Putra bicara itu, ibu dan saudari tiri Gadis nampak menggelengkan kepala mereka dengan cepat. Dan suara mereka yang tertahan pun ikut terdengar, nampak memohon dengan sangat. Merintih. Namun suara mereka tidak dapat jelas terdengar.
“Jadi nanti kalian jawab saja pertanyaanku ...”
Putra kembali berkata, setelah sebelumnya ia mengkode satu anak buahnya untuk melepaskan sumpalan di mulut ibu tiri Gadis yang ia pilih.
“Jika jawabanmu tidak memuaskanku, kau, akan langsung aku sembelih. Mengerti? ...” kata Putra lagi dengan nada suara yang datar, namun ujung pisaunya sudah ia tempelkan tanpa tenaga di leher ibu tiri Gadis, setelah sarung pisaunya Putra lepaskan kemudian sarung tersebut ia estafetkan pada Damian.
🔵🔵
“Am – ampuun, Tu – aan ...” rintihan mohon ampun terdengar terbata diucapkan oleh ibu tiri Gadis yang kepalanya jadi memaku karena ujung pisau Putra yang sedang menempel di lehernya itu.
Wanita itu merintih sambil terus menangis, memohon ampun pada Putra ---- dimana anak perempuannya juga masih terus menangis dalam posisinya.
Putra menyungging miring sekali lagi. “Tentu, aku akan mengampunimu seperti yang aku katakan tadi,” ucap Putra kemudian. “Tapi hanya mengampuni untuk memberikan kematian yang cepat untukmu, bukan mengampuni nyawamu dan anak perempuanmu yang menjijikkan ini.”
__ADS_1
🔵🔵🔵🔵
To be continue ......