LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 55


__ADS_3

Happy reading..


“Aku sepertinya harus berpamitan, karena jam istirahatku sudah hampir habis”


“Aku, Damian dan Danny belum selesai makan”


“.......”


“Satu hal yang kurang sopan bukan? Jika kamu meninggalkan meja ini sementara kami belum selesai menghabiskan hidangan makan siang kami?”


“Iya.. tapi kan kamu tahu biasanya juga kita selesai makan siang sebelum jam istirahat aku berakhir Putra”


“Duduklah dengan tenang hingga aku selesai”


“Tapi aku..”


“Aku tidak suka dibantah..”


“Putra, pekerjaanku sangat banyak hari ini dan aku juga harus menyerahkan laporan pada Dokter Bajra..”


“Aku tidak suka jika ada yang menyela ucapanku sebelum aku menyelesaikannya”


“......”


“Aku tegaskan sekali lagi padamu Nona Gadis. Duduk diam – diam di tempatmu hingga aku menyelesaikan makan siangku, jika kamu masih ingin bekerja di Rumah Sakit tempatmu bekerja saat ini”


‘I don’t know what this lovers wannabe has been talking, but I quite sure that this Papa Putra will be a little bit upset because this beautiful nurse name Gadis was interrupted when his talking ( Aku tidak tahu calon kekasih ini bicarakan, tapi aku yakin kalau si Papa Putra ini akan menjadi sedikit kesal karena perawat cantik bernama Gadis ini menyela saat dia masih berbicara )’


Damian membatin, kurang lebih sama seperti yang sedang di pikirkan Garret.


Sementara Danny yang memang paham pembicaraan Putra dan Gadis karena ia paham bahasa Indonesia, memiliki pemikiran lain di otaknya selain memperhatikan kedua orang yang nampak sedang sedikit berdebat itu, dengan si pria yang mulai mendominasi si wanita dari mulai tatapan hingga cara bicara dan kalimat yang


dilontarkannya.


‘Apa itu?. Dia ini sedang mengancamku atau apa?’


Gadis juga membatin setelah Putra bicara dengan memberikan tatapan yang sedikit terasa tajam untuk dirinya, sembari melirik takut – takut pada Putra.


Tiga orang pria yang bersama Gadis dan Putra saat ini sedang memperhatikan keduanya dalam diam.


Sementara Anthony masih asyik dengan makanan penutup di hadapannya, yang sedang ia nikmati. Gadis menghela nafasnya dengan sangat pelan.


Namun sejenak kemudian ia memberanikan dirinya untuk bicara lagi pada Putra. “Apa barusan kamu mengancam aku Putra?” Tanya Gadis sembari berlagak kalau dia seolah tidak terpengaruh oleh tatapan intimidasi Putra padanya.


“Ya” Putra menjawab cepat pertanyaan Gadis, dengan masih memberikan tatapan serius pada perawat cantik yang amat disukai oleh Anthony itu.


Gadis menyungging miring sedikit berdecih mendengar jawaban singkat Putra yang terdengar sangat  yakin,


tergambar dari cara bicara Papanya Anthony itu.


“Putra, aku menghargai hubungan baik kita atas nama Anthony sampai detik ini” Ucap Gadis percaya diri. “Tapi aku tidak suka diancam”


“Sudah ku..”


“Aku akan berpamitan pada Anthony” Sambar Gadis.


‘Hish! This lady! Really like to interrupt my words! ( Wanita satu ini! Suka sekali menyela ucapanku! )’


Putra membatin sebal.


Gadis hendak menoleh dan berbicara pada Anthony yang masih menikmati es krim bertabur coklat diatasnya.


Namun,


“Satu patah kata berpamitan keluar dari mulutmu pada Anth saat ini, maka akan kupastikan Bapak Tamas akan memecat mu dengan tidak hormat, Sus-ter Gadis”


Gluk!


Gadis  kembali menoleh pada Putra dan kini raut wajahnya nampak terkejut sampai dirinya melongo.


“Ka – kamu kenal dengan Tuan Tamas?”


Gadis bertanya dengan ragu – ragu. Sembari hatinya sedang berspekulasi juga.


‘Tidak mungkin dia kenal akrab dengan Tuan Tamas kan?. Bisa saja papanya Anthony ini asal bicara. Toh Tuan Tamas memang cukup di kenal sebagai Kepala Yayasan dari Rumah Sakit tempatku bekerja kan? Ah iya pasti begitu. Dia asal bicara saja’


“Jika kamu berpikir aku hanya asal bicara, silahkan bangkit dari dudukmu dan pergilah tanpa perlu berpamitan pada anak laki – lakiku dan pergilah ke kantor Tuan Tamas lalu tanyakan langsung padanya apa dia juga mengenalku atau tidak”


 ‘Oh Tuhan, bagaimana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan? Apa papanya Anthony ini punya indera ke enam?. Dia


seolah selalu tahu apa yang ada dalam pikiranku’


“Dia kepala Yayasan Rumah Sakit Saint, bukan?. Dia memiliki hak penuh untuk menerima sekaligus me-me-cat setiap orang yang bekerja disana, benar begitu bukan?. Dan setahuku hari ini dia sedang berada di kantornya di Rumah Sakit” Ucap Putra.


Gadis terdiam. Suster cantik itu sedang bergelut dengan pertimbangannya dalam hati, dan kata - kata Putra sungguh mempengaruhinya.


“Dan,”


Putra beralih pada Danny.


“Ya Putra?”


“Apa kau sudah selesai makan?”

__ADS_1


“Sudah”


“Bisa kau pergi ke kantor kepala yayasan Saint dan menemui Bapak Tamas?”


“Tentu”


“Tunggu”


Gadis menginterupsi.


“Kenapa? Bukankah kau tidak percaya padaku?”


Putra bertanya dengan datar saja.


‘Jika aku tetap tinggal, aku bisa saja dapat teguran ketidak disiplinan dalam bekerja. Tapi jika aku tetap pergi dari sini tanpa seijin papanya Anthony dan ternyata benar kalau dia ternyata mengenal Tuan Tamas atau bahkan kenal


baik dengan beliau, aku benar – benar bisa saja kehilangan pekerjaan dan benar – benar dipecat dengan tidak hormat!’


Batin Gadis kembali berperang pendapat sendiri.


‘Uugghhh Tuhaann ..’ Gadis merasa frustasi. “A – aku, aku percaya!” Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Gadis. Entah mengapa dia percaya dan takut juga pada ucapan berikut ancaman yang sebelumnya Putra lontarkan padanya tadi.


“Apa yang kamu percaya?” Tanya Putra lagi dengan menunjukkan raut wajah berikut nada suara yang datar, padahal hatinya tersenyum lebar.


“Ehem!”


Gadis berdehem.


“Itu tidak terdengar seperti sebuah jawaban”


Gadis berdecak kecil. “Memang itu bukan jawabanku!”


“Apa kau baru saja membentakku?”


“Bu – bukan!”


Gadis menyanggah dengan cepat.


“Aku bukan membentak mu tadi”


“Lalu? Nada bicaramu terdengar meninggi” Ucap Putra.


“A – aku hanya.. hanya.. kaget! Ya kaget!”


“Kaget?” Tanya Putra.


“Terkejut!”


“Heem ..” Putra manggut - manggut.


“Intonasi suaramu masih meninggi”


‘Oh Tuhaan tolong aku! ..’ Keluh Gadis dalam hati. “Putra, aku, percayaa kalau kamu mengenal Tuan Tamaas ..”


Putra ingin sekali tertawa rasanya melihat ekspresi Gadis saat ini kala perawat cantik itu kemudian meralat intonasi bicaranya pada Putra saat ini.


Putra gemas sekali melihat Gadis yang berbicara dengan lembut dan manis padanya, namun tetap ketara betapa hal itu begitu di buat – buat oleh Gadis.


Meski rasanya perut Putra geli, tapi Putra menahan dirinya untuk tetap menjaga image didepan Gadis dengan mempertahankan sikap datarnya. “Bagus jika memang kamu percaya pada ucapanku”


“Apa anda sudah cukup puas dengan cara bicara aku yang lemah dan tak berdaya ini Tuan Putra?” Ucap Gadis sedikit mencibir. “Sudah cukup lembut kah?”


“Tidak buruk” Sahut Putra datar. Gadis menghela nafasnya pelan. “Namun nampak sekali dipaksakan” Celetuk Putra. “Membuatmu terlihat konyol, hingga wajahmu malah terlihat buruk”


Gadis spontan mendelik. ‘Menyebalkan sekali papanya Anthony ini!! Uugghh ingin sekali aku jambak rambutnya’


Gadis merutuki Putra dalam hatinya.


“Apa kamu tidak terima dengan ucapanku?”


“Tidak!” Sahut Gadis yang sempat merutuki Putra dalam hatinya saja itu.


Memang dalam hati Gadis saja, karena pada kenyataannya ia segan mengarah ke takut juga dan sudah malas untuk berdebat dengan ayah muda nan tampan dihadapannya itu.


“Lalu kamu mau apa? Memukulku karena tidak terima kalau aku mengatakan kalau wajah konyol mu itu buruk?” Kata Putra.


“Bu – bukan itu maksudku!..”


“Intonasimu terdengar meninggi lagi”


‘Oh ya ampuunn..’ Gadis benar – benar dibuat serba salah oleh papa muda satu ini.


Gadis mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan menarik nafas dan menghembuskannya dengan sangat pelan.


Gadis menarik sudut bibirnya dengan terpaksa. “Jadi begini Putra.. aku tidak merasa terganggu jika kamu bilang wajahku jelek. Toh aku juga tidak merasa cantik”


“Okay!”


Putra menjawab singkat saja dan melanjutkan kembali makannya tanpa menoleh lagi pada Gadis yang menjadi kian sebal karena dimata perawat cantik itu Putra nampak santai saja menjawab klarifikasi jawaban dan intonasi suaranya yang dikatakan tidak sopan oleh papanya Anthony itu padanya tadi.


‘Oke? Hanya oke saja jawabannya? .. setelah aku mencoba membuat wajah dan suaraku semanis mungkin? ..’


‘Aku tahu dia pasti sedang merutuki diriku dalam hatinya saat ini’ Batin Putra.

__ADS_1


‘Benar – benar menyebalkan sekali ya papanya Anthony ini ternyata!’


Seperti dugaan Putra, Gadis memang sedang merutuki dirinya dalam hati perawat cantik itu.


‘Bagus saja dia tampan. Sangat tampan bahkan. Jadi tidak terlalu menyebalkan! Daripada dia berbicara ketus, bukankah lebih baik bibirnya itu dibuat untuk melakukan sesuatu yang manis? Mengecup pipiku misalnya?..’


‘Rasanya ingin aku kecup pipinya yang sedang merona itu’


Putra membatin geli.


‘Oh ya Ampun Gadiissss! .. apa yang kamu pikirkan sih?!’


Gadis merutuki dirinya sendiri kini yang sempat terpesona pada Putra, padahal dirinya sendiri sedang kesal pada pria itu.


‘Aduh, mengapa dia makan lama sekali sih?!. Biasanya dia selesai lebih dulu daripada aku dan Anthony!’ Gadis membatin gelisah sembari melirik Putra.


Gadis tidak tahu saja, kalau Putra memang sengaja melambatkan makannya saat ini. ‘Aku benar – benar menikmati kegelisahannya ini’ Batin Putra yang tertawa.


Namun sekuat tenaga, Putra mencoba untuk tidak mengeluarkan tawanya itu. Hanya satu sudut bibirnya saja yang berkedut, dan tentu saja tidak terlihat oleh Gadis.


**


“A ... aku langsung masuk ya?” Gadis berkata dengan was – was pada Putra setelah dia dan Putra serta Anthony berikut tiga pria lainnya sampai didepan lobi depan Rumah Sakit.


“Silahkan”


Putra mengangguk dan mempersilahkan Gadis yang sudah nampak gelisah itu.


“Terima kasih!” Gadis tersenyum dan berpamitan dengan cepat pada Anthony lalu setengah berlari menuju area dalam Rumah Sakit dengan tergesa.


“Is – he Gadis boyfriend, Papa?... ( Ap – a dia itu kekasihnya Gadis, Papa? ) ...” Tanya Anthony saat Putra hendak menggandengnya. Putra menaikkan satu alisnya.


“Hem?” Sahut Putra.


“Th – at Doctor... ( Dok – ter itu... )” Anthony menunjuk ke satu arah dimana ada pemandangan tidak sedap bagi Putra di tempat telunjuk Anthony mengarah.


‘How dare... ( Berani – beraninya... )’


Putra spontan merutuk dalam hatinya saat melihat seorang pria berpakaian dokter dan satu wanita berpakaian perawat yang adalah Gadis, sedang berjalan berdampingan dengan satu tangan Dokter pria itu berada di satu sisi bahu Gadis.


“Still want to wait to chase her, hem? ( Masih mau menunggu untuk mengejarnya, hem? )”


Damian yang juga ikut melihat pemandangan yang sama seperti Putra meledek saudaranya itu yang nampak cemburu melihat Gadis yang berjalan sembari dirangkul oleh seorang Dokter pria meskipun tidak nampak mesra.


“Cih!” Decih Putra.


Namun Putra menyorot tajam pada Gadis dan Dokter pria yang ia kenali perawakannya, sebelum ia menggandeng tangan Anthony untuk segera kembali ke tempat tinggal mereka.


“I won’t let someone get in between me and  a woman that I already choose ( Tidak akan aku biarkan seseorang berada diantara diriku dan wanita yang sudah aku pilih )”


Putra bergumam.


"And I don't have to chase a woman that verifiable as mine ( Dan aku tidak harus mengejar wanita yang sudah dipastikan adalah milikku )"


**


‘Tunggu dulu’


Gadis yang sedang berjalan di sebuah koridor Rumah Sakit selurusan dengan ruangan khusus para perawat, menghentikan sejenak langkahnya  saat pandangannya tertuju pada seseorang yang sedang bersandar di salah satu pilar, tak jauh dari ruangan khusus perawat tersebut.


Sementara seseorang yang tadi bersandar sembari mensedekapkan kedua tangannya di bawah dada itu kemudian menegakkan tubuhnya setelah melihat Gadis.


Gadis melanjutkan langkahnya dengan ragu.


‘Apa yang dia lakukan di sini pada jam seperti ini?’ Batin Gadis. ‘Sepertinya aku melihat dia sudah pulang tadi?’


Gadis masih membatin sambil berjalan pelan.


‘Mungkin dia sedang ada urusan lain’


Gadis menerka – nerka sendiri dalam hatinya.


‘Mungkin juga dia ingin bertemu Dokter Ilse untuk melanjutkan terapinya Anthony?. Tapi sepertinya dia sedang memperhatikanku? Menungguku? Ah rasanya tidak mungkin!’


Gadis berdehem kemudian setelah berada di hadapan orang yang bersandar di pilar tadi dan kini sudah berdiri tegak dihadapannya hingga Gadis seperti biasa harus mendongak untuk melihat wajah orang tersebut.


“Putra ..” Sapa Gadis.


“Sudah selesai bekerja?”


Gadis mengangguk.


“Anthony, mana?” Tanya Gadis yang sedikit kikuk.


“Dia di rumah. Sudah kuantar tadi” Jawab Putra yang adalah seseorang yang bersandar di pilar tadi.


Gadis manggut – manggut. “Lalu kamu .. sedang apa disini?”


Dan ucapan yang keluar dari mulut Putra, sontak membuat Gadis cukup terkejut.


“Menjemputmu”


**

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2