
Happy reading .....
✳✳✳✳✳✳✳✳✳✳
Indonesia ...
“Terima kasih ya, Sayang?” ucap Putra pada Gadis yang kini sudah berada di atas tempat tidur, setelah membawa sesi panas yang bermula dari bathtub di kamar mandi mereka ke atas peraduan karena Putra yang sedikit mengkhawatirkan kandungan Gadis dengan posisi mereka di bathtub. Jadilah Putra membawa Gadis ke peraduan mereka saja demi keamanan bakal anaknya dan Gadis.
Gadis tersenyum menanggapi ucapan terima kasih Putra itu.
“Maaf ya? Kamu jadi sangat menahan diri,” ucap Gadis kemudian, lalu Putra tersenyum.
“Tidak perlu meminta maaf kalau itu menyangkut anak kita –“
“Hahh.” Gadis berkesah.
“Kenapa?”
Membuat Putra lantas bertanya.
“Aku harus membiasakan diri mulai sekarang.”
“Untuk? ..” tanya Putra dengan sedikit mengernyit sambil memandang pada Gadis.
“Untuk menerima jika aku hanya akan mendapat sisa – sisa kasih sayang Papa Putra.”
“Kenapa bicara seperti itu? –“
“Tadi kamu bilang apa?” tukas Gadis seraya bertanya.
“Yang mana? ..” Putra balik bertanya. Mengernyit sekali lagi.
“Tidak perlu meminta maaf kalau itu menyangkut anak kita.“
Gadis menjawab.
“Ada yang salah dengan itu?” tanya Putra langsung.
“Salah sih tidak –“
“Lalu? ..” tukas Putra.
Gadis menahan senyumnya.
“Ya kamu sangat memperhatikan anak kita ini.”
Berucap kemudian.
“Kalau dari ucapanmu tadi kan, sepertinya kamu memperhatikan sekali kenyamanannya? ..”
__ADS_1
“Memang sudah sepatutnya, bukan?”
Putra berkomentar.
“Iya memang –“
“Lalu apa yang salah dengan itu?”
“Tidak ada yang salah dengan itu memang, tapi yang terkadang salah adalah sikapmu padaku. Coba ingat, jika sebelum aku hamil? Kamu kan tidak pernah menanyakan kenyamananku jika sedang menuntut hakmu. Main sambar saja! --- Bukan begitu?? ..”
Gadis sedikit merungut. Dan Putra yang paham kini, lantas terkekeh.
“Aku bukannya tidak memikirkan kenyamananmu. Tapi kamu terlalu sayang untuk dilewatkan.”
“Saking terlalu sayang untuk melewatkan, kamu seringkali ‘menghajar’ku habis – habisan! ..” timpal Gadis, dan Putra terkekeh geli.
“Habis, Mama Gadis ‘lezat’ sekali,” sahut Putra.
“Heh –“
“Ah mengingat ‘kelezatanmu’ aku jadi ingin lagi ‘mencicipimu’.”
✳✳
“Katanya mengkhawatirkan sekali anaknya .. tapi sekarang malah minta nambah,” gerutu Gadis pada Putra yang sudah kembali mengukungnya. Dimana Putra terkekeh geli sekali lagi.
“Siapa yang menantangku duluan, hem?”
“Jadi anda menyesal memberikan hadiah natal untuk suamimu, Nyonya Putra?”
“Humm. Begitulah –“
“Sungguh, aku tidak peduli.”
“Sudah kuduga kalau Tuan Putra akan bicara begitu.”
“Sungguh istri yang pengertian ..” timpal Putra dengan canda, dan Gadis tersenyum geli karenanya.
Namun alih – alih ‘mengerjai’ Gadis, Putra menatap wajah istrinya itu dengan teduh seraya tersenyum lembut. Gadis pun melakukan hal yang sama.
“Aku sungguh berterima kasih pada Tuhan telah menghadirkanmu dalam hidupku, Gadis. Selain kedua orang tuaku, Rery dan keluarga baru yang aku punya karenanya --- serta Anth ..” tutur Putra sambil membelai lembut wajah Gadis. “Kamu, adalah anugerah terindah yang aku miliki –“
“Aku mencintaimu, Putra ..”
“Aku lebih mencintaimu, Gadis.”
Putra menjawab mesra kalimat romantis Gadis, lalu mencium lembut bibir istrinya itu.
✳✳
__ADS_1
“Jadi berapa hari kamu akan berada di sini, Putra?” tanya Gadis pada Putra setelah mereka selesai bermesraan, namun tak sampai lagi mengulang memacu gairah dalam hubungan suami istri yang intim.
Putra hanya sekedar menggoda Gadis saja tadi. Walau memang keinginannya selalu besar untuk dapat memacu kenikmatan bersama Gadis. Hanya saja, seorang Gadis bagi Putra bukanlah alat pemuas nafsu --- walau wanita itu adalah istrinya secara resmi dan sepatutnya melayani ‘kebutuhan’ Putra sebagai seorang suami dan pria.
Putra tulus mencintai Gadis. Hatinya sebagai seorang pria memang mencintai istrinya itu secara penuh.
Meski Gadis selalu terlihat menggoda imannya, Putra tidak ingin juga egois dengan memaksakan kehendak untuk hal yang menyangkut soal keintiman.
Terlebih, Gadis sedang hamil sekarang. Dan meski Putra tidak tahu pasti soal seorang wanita yang sedang hamil muda jangan dulu ‘dicicipi’ selama tiga atau empat bulan ke depan seperti yang Gadis sempat sampaikan padanya, namun Putra mempercayai Gadis.
Karena bagi Putra, diluar ibu kandungnya --- Gadis adalah wanita yang istimewa.
Sangat bahkan.
✳✳
“Jadi berapa hari kamu akan berada di sini, Putra?” tanya Gadis yang berada dalam dekapan Putra.
“Sekitar tiga hari saja,” jawab Putra.
Gadis menanggapinya dengan gumaman.
“Sebentar sekali." Lalu Gadis berkomentar kemudian.
“Maaf untuk itu. Tapi aku tidak punya pilihan –“
✳✳
Waktu tiga hari pun berlalu, dan seperti yang memang sudah dijadwalkan, Putra akan kembali pergi ke Inggris. Enggan sebenarnya. Karena di tempat tinggalnya yang baru Putra sudah mendapat lebih dari cukup kebahagiaan. Bahkan dalam beberapa bulan ke depan, bahagianya Putra rasa akan benar – benar menjadi sempurna, karena ia akan memiliki seorang anak lagi.
Anak kandung Putra sendiri.
Dari wanita yang amat Putra cintai, yang juga mencintai Putra sebesar Putra mencintainya.
✳✳
Inggris ...
“YOU ( KAU )!” seseorang dalam sebuah jeruji besi berseru dengan kencang pada orang yang sedang berdiri di hadapannya, di luar jeruji besi yang dua pilarnya ia genggam dengan kuat.
“Enjoy your time here\, m*therf*cker ( Menikmati waktumu di sini, k*parat )?”
Adalah Putra yang ada berbicara, dengan menyeringai pada Jaeden Zepeto yang sebelumnya ia titipkan pada seorang kenalan yang dapat Putra sangat andalkan.
“FIGHT ME ONE BY ONE IF YOU DARE ( HADAPI AKU SATU LAWAN SATU JIKA KAU BERANI )!” teriak pria yang berada di balik jeruji besi, yang adalah Jaeden Zepeto.
“Sure, why not ( Tentu, kenapa tidak )?” jawab Putra santai. “Take him out ( Keluarkan dia )”
✳✳✳✳
__ADS_1
To be continue ...