LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 128


__ADS_3

Happy reading..


đŸ”đŸ”đŸ”đŸ”


"Oh iya Gadis, ada yang ingin aku tanyakan padamu.." Putra sedikit mengurai rengkuhannya pada Gadis.


"Mau bertanya tentang apa?.."


"Jika aku menangkap ucapan soal Restoran yang sudah menjadi milik keluarga itu, sepertinya kamu sangat mengetahuinya?.."


“Iya, memang aku tahu tentang Restoran itu” Jawab Gadis. “Tapi setahuku dulu, kalau kata ayahku, Restoran itu


milik keluarga paling kaya yang ada di daerah ini” Sambung Gadis. “Jadi apa itu memang keluarga kamu?”


“Bukan” Tukas Putra. “Kami belum lama ini membelinya”


Gadis manggut-manggut. “Huumm”


“Apa kamu sering datang kesini?” Tanya Putra.


“Ke Restoranmu itu?... Restoran keluargamu itu maksudku”


“Bukan. Ke kota ini maksudku. Kamu sepertinya tahu sekali tentang Restoran itu dan daerah ini”


“Huumm...”


“Sering datang ke kota ini?”


“Aku lahir dan besar di daerah ini Putra”


“Oh ya?!” Putra nampak sedikit terkejut.


Gadis pun manggut-manggut.


“Tapi kampung halamanku masih jauh sekali dari Pusat Kota. Masih berkilo-kilo meter lagi jauhnya”


Gantian Putra yang manggut-manggut.


“Apa daerah asalmu dekat dengan Villa kami?”


“Aku kan belum tahu dimana letak Villa kalian..”


“Oh iya ya ..”


“Memang, nama daerah Villa kamu dan keluarga kamu berada disini itu apa namanya? ..”


“Aku tidak tahu” Tukas Putra sembari mengendikkan bahunya. “Aku hanya tahu nama kota ini” Sambung Putra. “Tidak memperhatikan tentang nama daerah Villa kami berada .. hanya memperhatikan rute dan jalanan saja untuk kami hafal ..” Tambah Putra.


“Huumm ..” Gadis kembali manggut-manggut. “Tuan Arthur dan Pak Ray juga tidak tahu?” Tanya Gadis pada


kedua orang di kursi depan mobil.


“Aku juga tidak tahu, Nona Gadis” Jawab Arthur.


“Saya juga tidak tahu, Nona” Jawab Ray. “Saya sejak diajak ke Villa milik Tuan Putra hanya mengikuti arahan


jalannya saja..”


Gadis pun manggut-manggut lagi.


“Mungkin nanti kamu bisa beritahukan padaku apa nama daerah tempat Villa kami berada itu. Aku juga tidak


pernah menanyakannya Pak Abdul, Ibu Marsih dan Suheil”


“Mereka itu siapa?..” Tanya Gadis.


“Orang-orang yang membantu mengurus Villa kami”


“Oohh ..”


**


“Kenapa?..”


Putra spontan bertanya kala mobil yang ditumpanginya bersama tiga orang lainnya itu sudah memasuki daerah tempat Villa mewah Putra dan keluarga berada.


“Apa kamu tahu daerah ini? ..” Tanya Putra dan Gadis mengangguk. “Daerah asalmu disini?..”


“Bukan ..”


Gadis menggeleng.


“Kampung halamanku masih lebih jauh lagi dari sini”


“Lalu kenapa kamu nampak antusias sekali aku perhatikan?”


Bukan tanpa alasan memang Putra bertanya seperti itu.


Gadis nampak sedikit tidak tenang dalam duduknya dan mata berikut kepalanya nampak celingukan dengan aktif ke arah jendela mobil yang berada disisi kanan Putra.


“Bisa tidak kita bertukar posisi?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Putra sebelumnya, Gadis yang memang nampak antusias itu malah minta Putra untuk bertukar posisi duduk dengannya.


Putra hanya mendengus geli saja.


“Sebentar saja, ya?”


Gadis nampak memohon dan Putra geleng-geleng.


“Kadang-kadang sikapmu ini macam Anth..” Ucap Putra seraya menggumam, namun Putra mengikuti keinginan Gadis dengan menggeser duduknya, dan Gadis sudah menempati tempat duduk Putra sembari kepalanya menoleh ke sisi kanannya.


Gadis nampak begitu antusias.


Putra mengulum senyumnya sembari menyentuh kepala Gadis yang sedang tertoleh ke sisi kanannya.


“Memang apa yang membuatmu sampai meminta bertukar posisi duduk seperti ini? ..” Tanya Putra yang sedikit penasaran.


“Ada yang ingin aku lihat..”


“Apa? Rumah kenalanmu?”


“Bukan”


“Lalu, apa yang ingin kamu lihat?”


“Sebuah tempat yang indah .. Villa sih hitungannya, tapi Villa itu benar-benar indah menurutku”


Putra sontak berdecak geli.

__ADS_1


“Hanya ingin melihat sebuah Villa saja kamu sampai bersemangat seperti ini?..”


“Tapi memang Villa itu sangat indah Putra” Tukas Putra. “Dulu aku sering melewatinya jika ayah mengajakku ke Pusat Kota”


“.....”


“Villa itu berada diatas bukit. Bangunannya sangat indah, meski aku hanya bisa melihat dari jauh saja setiap aku melewatinya, tapi dari jarakku melihat setiap kali melewati Villa yang entah punya siapa itu, aku yakin memang


bangunan itu sangat indah aslinya.. Dari jauh saja sudah indah, sangat luas juga sepertinya”


“Villa yang berada diatas bukit?..” Putra bertanya pelan, sembari menautkan sedikit alisnya.


“Iya..”


Gadis manggut-manggut.


“Masa kamu tidak memperhatikan ada bangunan indah seperti itu setiap kali kamu lewat daerah ini?” Kata Gadis.


“Villa di..”


“Jika Villa milikmu dan keluargamu ada di daerah ini, pastinya setiap kali kamu pergi akan melewati jalanan ini kan? Masa kamu tidak lihat bangunan seindah dan semegah itu setiap kali lewat sini? Itu satu-satunya Villa yang


berdiri dengan kokohnya diatas bukit dan Villa yang paling megah diantara semua Villa yang ada di daerah ini ..”


‘Satu-satunya Villa yang berada diatas bukit yang berada di daerah sini, adalah Villa tempatku dan keluargaku tinggal?..’ Batin Putra.


“Pelan-pelan sedikit ya Pak Ray, aku ingin benar-benar memperhatikan bangunan indah itu..”


“Baik, Nona Gadis”


“Sini,” Gadis sedikit menarik tangan Putra. “Kamu lihat sebentar lagi, indah sekali bangunan Villanya. Mudah-mudahan kamu mengenal pemiliknya. Karena aku penasaran sekali ingin masuk kesana dan melihat-lihat, termasuk ingin tahu juga orang seperti apa yang tinggal di bangunan semegah itu ..”


“Maksud..”


“Nah, itu!”


Gadis yang wajahnya nampak sumringah itu kemudian menarik lagi lengan Putra dengan satu tangannya, dan satu tangannya lagi menunjuk pada satu bangunan yang sudah terlihat dari tempatnya berada sekarang.


‘Ah ya Tuhan..’ Putra membatin geli.


“Indah bukan?..”


Gadis berkata antusias pada Putra, namun matanya tetap pada bangunan yang sedang ia kagumi itu.


Sementara Putra sedang mengulum senyumnya, begitupun Arthur yang sempat sekilas saling tatap dengan Putra.


“Benar indah kan?” Gadis yang mungkin sudah puas melihat itu, kemudian menoleh pada Putra untuk meminta pendapat. Tidak lagi fokus ke arah luar.


Putra senyam-senyum saja.


“Ngomong-ngomong Villa kalian ada didekat-dekat sini?..”


Putra manggut-manggut.


“Huumm”


Gadis ikutan manggut-manggut.


“Masih jauh dari sini?” Tanya Gadis lagi.


“Tidak”


“Di sebelah mana?..”


“Itu” Putra menunjuk ke satu arah. “Bangunan yang tadi kamu tunjuk itulah Villa kami”


“Ap-aa??!! ..”


Mata Gadis terbelalak dengan sempurna berikut wajahnya yang nampak syok.


Putra manggut-manggut sembari tersenyum geli.


Gadis memandangi Putra, lalu menoleh cepat ke arah jendela mobil.


Ingin sekali Gadis mengatakan jika Putra hanya bercanda. Tapi mobil yang dikendarai Ray sudah sedang menyusuri jalanan yang sedikit berliku dan menanjak namun tidak curam, persis seperti jalanan dalam Villa yang nampak dari luar tadi.


‘Ini tidak mungkin!’


Hati Gadis memberi sangkalan.


Namun matanya sudah menangkap mobil yang digunakan oleh Addison dan Danny.


Dan kedua pria tersebut sudah berdiri di depan pintu masuk Villa yang Gadis amat kagumi itu, bersama tiga orang lainnya, nampak menunggu mobil yang Putra dan tiga orang yang bersamanya sampai.


Putra yang sudah keluar dari pintu mobil disebelah kirinya itu kini sudah berada disisi kanan Gadis yang pintunya sudah dibukakan oleh Ray yang sudah memberhentikan mobil didekat lima orang yang sedang berdiri itu.


“Bukankah kamu ingin sekali masuk dan melihat-lihat tempat ini?..” Ucap Putra yang sedikit merundukkan tubuhnya menatap Gadis yang masih nampak terpaku di tempat duduknya.


Putra masih mengulum senyumnya karena raut wajah Gadis yang nampak syok itu, hingga membuat wajah Gadis menjadi nampak lucu.


“Ayo, kamu bisa melihat-lihat semua yang ada di tempat ini sesuka hatimu sekarang” Putra mengulurkan tangannya pada Gadis.


‘Ini tidak mungkin..’ Gadis masih rasanya tidak percaya.


**


Sudut bibir Putra masih melengkung naik dan sesekali mendengus geli karena wajah Gadis masih nampak lucu di matanya akibat keterkejutan wanita itu yang nampaknya belum selesai juga.


Gadis masih sempat berpikir saat turun tadi, jika bisa saja Villa yang sangat Gadis kagumi sejak lama itu adalah milik kenalannya Putra dan Putra mengajaknya mampir karena Gadis sangat ingin masuk dan melihat-lihat Villa


tersebut dari dekat.


Tapi nyatanya, benar seperti yang Putra bilang kalau itu memang Villa milik Putra dan keluarganya. Tiga orang yang tadi berdiri bersama Addison dan Danny, langsung menyapa sembari membungkuk hormat pada Putra, juga pada Gadis.


Kemudian menurunkan barang-barang yang ada di bagasi mobil Putra dan memasukkannya ke dalam Villa.


Selain itu, tidak lama Damian, Bruna dan Garret juga muncul dari dalam rumah saat Putra sudah membawa Gadis masuk ke dalam ruang tamu. Semakin Gadis tidak dapat menyangkal jika itu memang tempat tinggal Putra dan keluarganya setelah melihat beberapa foto dan lukisan diri dari Putra berikut Anthony juga dan keluarganya.


“Masih belum percaya jika ini tempat tinggal kami?” Tanya Putra yang sudah membawa Gadis ke dalam kamarnya yang baru. Karena didalam kamarnya yang lama, ada Anthony yang belum terjaga dari tidur siangnya yang terlambat.


Putra pun meminta agar Anthony jangan dibangunkan.


Agar malam nanti Putra dapat memberikan kejutan pada Anthony yang menurut Bruna, Damian dan Garret, Anthony sedang merasa kesal sekali pada Putra yang tidak pulang-pulang.


“Jujur saja, aku memang rasanya masih tidak percaya jika ini adalah tempat tinggalmu, Putra.. Dan lebih tidak percaya lagi, kalau aku berada didalam Villa yang selama ini aku kagumi dan aku harap-harap bisa berada


didalamnya sejak aku kecil. Aku seperti bermimpi saja..”


Tuk!.

__ADS_1


“Aduh!” Gadis mengaduh.


“Sakit? ..” Tanya Putra sembari mengulum senyumnya.


“Ya tentu saja sakit!” Gadis mengusap-usap dahinya yang disentil Putra.


“Berarti kamu tidak sedang bermimpi ..” Ucap Putra.


“Tapi kan tidak perlu sampai menyentilku!”


Gadis melayangkan protes seraya mencebik.


Membuat Putra terkekeh kecil karenanya.


“Aku kan hanya membantu membuktikan jika kamu tidak sedang bermimpi saat ini..”


“Ck!”


Gadis berdecak kecil.


“Ya sudah aku minta maaf”


Putra kemudian mengusap dahi Gadis yang ia sentil dengan gemas tadi.


Cup!.


Lalu Putra memberikan kecupan kecil di dahi Gadis itu.


“Sudah tidak sakit bukan?”


Putra sudah menangkup wajah Gadis.


“Kecupan ku itu ampuh untuk mengobati perih di dahimu” Ucap Putra seraya tersenyum meledek pada Gadis yang kemudian mendengus geli.


“Selalu curi-curi kesempatan!” Gumam Gadis seraya mencebik manja dan Putra terkekeh kecil.


**


“Ngomong-ngomong Putra, apa ini kamar orang tua Anthony?..”


Gadis melayangkan pertanyaan itu karena melihat lukisan tiga orang yang nampak sangat berbahagia pada dinding di atas ranjang.


Yang sudah Gadis duga dengan yakin, dua orang dewasa di lukisan tersebut adalah kedua almarhum kedua orang Anthony yang sudah tiada. Karena ada Anthony yang duduk diatas pangkuan seorang pria berperawakan asing yang begitu tampan serta bersahaja.


“Seharusnya. Jika mereka masih hidup, kamar ini seharusnya menjadi kamar mereka ..”


Gadis pun manggut-manggut seraya matanya masih berkeliling ke seisi kamar.


Kamar yang jauh lebih besar dari kamar Putra yang berada di kediamannya di Ibukota.


“Gadis kemarilah” Putra yang sudah berdiri di tengah pintu suatu ruangan yang terbuka itu memanggil Gadis agar mendekat padanya.


Gadis pun dengan patuh menghampiri Putra.


“Jadi sekarang kamu yang menempati kamar ini?”


“Terpaksa”


“Kok?..”


“Karena Anth ingin tidur di kamarnya sendiri, jadi mau tidak mau aku harus menempati kamar ini agar Anth tidak jauh dari pengawasan ku” Jelas Putra. "Ini juga karena Anth yang meminta agar aku menempati kamar ini, karena kamar Anth, berhubungan dengan kamar ini.."


Gadis manggut-manggut, sembari memperhatikan ruangan yang ia jajaki saat ini.


“Aku meletakkan pakaianmu disini” Putra menunjuk pada sebuah lemari dalam ruangan tersebut.


‘Eh, ini tuh lemari? ..’ Batin Gadis sembari ia melayangkan pandangan ke sekeliling. ‘Ya ampuun, ternyata kamar dengan lemari dalam ruangan itu beneran ada, ya?..’


“Gadis..”


“Eh, iya?..”


Gadis yang sedang sibuk memperhatikan dengan kekaguman itu terkesiap saat mendengar Putra memanggilnya lagi.


“Nanti saja jika ingin melihat-lihat lebih detail” Ucap Putra. “Kemarilah”


Putra yang sudah berdiri di satu sudut lain lagi dan nampak ada pintu yang sepertinya adalah pintu geser dan sudah terbuka, menggerakkan tangannya seraya mengkode agar Gadis kembali mengikutinya.


“Ini kamar mandi yang terhubung dengan walk in closet” Putra mengulurkan tangannya pada Gadis lalu membawa Gadis masuk kedalamnya. Dan Gadis terus saja menunjukkan ketakjubannya.


‘Wow!’


Gadis membatin takjub seraya ia kembali melayangkan pandangannya dalam kamar mandi yang menurut Gadis luar biasa itu.


“Kamu menyukainya? ..” Tanya Putra.


“Kamarmu ini benar-benar luar biasa Putra”


Putra kemudian menarik sudut bibirnya. “Bukan kamarku..”


“Iya kamar orang tuanya Anthony ..” Tukas Gadis. “Tapi kan kamu bilang tadi kamu yang sekarang menempati?”


“Kita..” Putra merengkuh pinggang belakang Gadis hingga tubuh mereka menjadi rapat. “Ini kamar kita sekarang”


“Ki-ta?..”


“Apa kamu lupa kita akan menikah?”


“Iy-ya tapi .. apa kita tetap tinggal satu kamar meski belum menikah?..”


“Satu ranjang juga”


“Eummm ..”


“Ayo..” Putra mengurai rengkuhannya dan kini sudah menggenggam tangan Gadis.


“Kemana?.. Apa ingin melihat Anthony?”


“Tengah malam nanti baru kita temui Anth”


“Jadi kamu mau mengajakku kemana?” Tanya Gadis, sementara seringai kecil nampak di bibir Putra yang tidak terlihat oleh Gadis yang Putra gandeng dan berada dibelakangnya itu.


“Mengajakmu mencoba kenyamanan ranjang di kamar ini ..”


Ehem!.


**


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2