LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 216


__ADS_3

Happy reading....


“Aku mengantuk, selamat malam.”


“Aku belum selesai bicara Gadis...”


Putra mencoba berbicara pada Gadis yang sedang berdebat kecil dengannya sedari mereka di balkon kamar, dan kini istrinya itu nampak sedang merajuk.


“Aku bilang aku sudah tidak ingin mendengar apa-apa lagi darimu Putra...”


Gadis yang matanya sedikit basah dan sempat menyorot tajam mata Putra dengan tatapan matanya itu, telah menggeser sedikit dirinya lalu melepaskan home room slipper (sendal rumahan)nya dan menaikkan kakinya ke atas ranjang.


“Karena aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan.”


Dan dengan cepat Gadis merebahkan dirinya, serta memunggungi Putra. Ia rasanya sudah malas untuk beradu argumen dengan Putra, agak kesal. Selain hatinya terasa sedikit sesak.


“Jika tahu batinku akan tersiksa seperti ini, mungkin seharusnya dari pertama tidak membiarkanmu masuk dalam hidup dan hatiku, dan mungkin juga seharusnya aku tidak menikah denganmu.”


Gadis memang menggumam, dengan dirinya yang sudah tidur dengan posisi menyamping dan memunggungi Putra itu.


“Apa katamu?!”


Namun Putra masih dapat menangkap gumaman Gadis, dan kini wajah Putra nampak geram.


“Kamu katakan kalau kamu menyesal hidup bersamaku?!”


Gantian suara Putra yang terdengar penuh penekanan.


Tapi seperti halnya Gadis yang tadi sempat berucap tajam padanya namun dengan suara yang istrinya itu atur sedemikian rupa agar tidak sampai teriak atau bahkan memekik, begitu juga Putra saat ini. Saat ia bertanya pada Gadis, setelah mendengar gumaman sang istri yang dirasa Putra menyinggung perasaannya itu.


Wajah Putra nampak geram memang, namun ia juga menjaga intonasi suaranya meskipun terdengar tajam saat meminta kepastian Gadis atas gumamannya itu, yang Putra tangkap kalau Gadis menyesal telah menikah dan hidup bersamanya.


“Jawab aku, Gadis.” Ketus Putra, namun Gadis bergeming.


Dan Gadis yang nampak masa bodoh itu sedikit banyak membuat Putra merasa kesal, hingga ia menggeram dalam, namun dengan suara yang terdengar tertahan.


“Gadis.”


Putra memanggil lagi Gadis dengan ketus. Ia masih dalam posisinya semula saat Gadis meninggalkannya untuk berbaring dan memunggunginya. Putra sudah nampak kesal, namun ia coba menahannya.


Putra kesal karena diabaikan seperti ini oleh Gadis.


Namun meski begitu, meski rasanya Putra geram, ia hanya berbicara dan memanggil Gadis walau suaranya sudah terdengar ketus.


Putra menahan diri untuk tidak berlaku kasar pada Gadis, meskipun hanya sekedar ingin meraih lengan Gadis, dan membalikkan tubuh istrinya yang sedang berbaring memunggunginya itu, dan memaksa untuk menghadapnya.


Menunggu beberapa detik, sembari menurunkan emosinya, Putra memandangi Gadis yang tetap bergeming pada posisinya itu. Hingga didetik selanjutnya, helaan nafas berat terdengar dari Putra. Helaan nafas yang terdengar lebih pada ke dengusan kesal.


“Jadi kau memilih untuk mengabaikan ku, hem?!” ketus Putra.


Putra kemudian berdiri dari posisinya, namun matanya tetap menatap pada Gadis yang tetap saja mempertahankan posisinya.


“Baik ....”


Putra kembali berbicara.


Rasanya emosi Putra menaik lagi karena tidak dapat respon dari Gadis.


“Aku tahu kamu belum tidur, jadi dengarkan ini baik-baik ....”


Mata Putra masih menyorot tajam pada Gadis.


“Terserah mau bagaimana sikapmu padaku. Saat ini, esok hari atau seterusnya, terserah!.  Tapi aku, tidak akan me-ngubah keputusanku. Ingat itu baik-baik!”


Putra juga memberikan penajaman pada ucapannya barusan.


“Kamu dengar itu?!”


Putra menegaskan ucapannya pada Gadis yang masih memunggunginya itu. Lalu ia dengan cepat membalikkan badannya, dan menjauh dari Gadis.

__ADS_1


***


Putra yang sedang merasa kesal pada Gadis itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar pribadinya dan Gadis, namun tanpa menutup pintu dengan keras.


Hawa dingin menyapa lapisan kulit Putra saat ia keluar dan duduk di teras halaman belakang Villa setelah ia membuat kopi sendiri, mengingat para asisten rumah tangga sudah pergi beristirahat, begitu juga semua orang di dalam Villa.


Ada dua bodyguard yang menjaga Villa yang memang terjaga, karena beberapa orang yang di pekerjakan oleh Putra dan keluarganya sebagai bodyguard punya ketetapan waktu untuk berbagi tugas. Namun mereka biasanya berjaga di gerbang depan Villa, meski kadang sesekali berkeliling untuk mengecek keamanan sekitar Villa.


***


Angin dingin yang berhembus di luar Villa dan mengenai kulit Putra seolah tidak ia rasa. Walau dingin, namun Putra masih bisa menahannya, meskipun ia hanya memakai kaos lengan pendek dan celana tidur, namun hawa dingin yang sedang terasa itu tak terlalu mengganggunya.


Mungkin karena masih terbiasa dengan hawa dingin di Eropa, jadi hawa dingin di negara beriklim tropis ini tidak terlalu berpengaruh di kulit Putra.


Walaupun Villa miliknya dan keluarganya ini berada di daerah pegunungan. Namun juga, mungkin karena panas yang sedang ia rasakan di hatinya itu, hawa dingin dari udara yang sedang berhembus dan menyentuh kulitnya itu, tidak Putra rasa.


‘Seharusnya tidak menikah denganku...’ kata Putra dalam hatinya, yang mengulang ucapan Gadis kala istrinya itu menggumam lirih, namun Putra dengan jelas mendengarnya. ‘Cih!’. Putra berdecih sinis, namun juga dalam hatinya. ‘Bisa-bisanya dia berkata seperti itu!’.


Lalu Putra menyesap kopinya, sembari menatap nanar ke arah selurusan matanya. Kemudian Putra menyandarkan dirinya di sandaran kursi teras yang sedang ia duduki.


“Aku selalu mencoba dan berusaha untuk mengerti diri kamu, Putra... Tapi apa kamu mengerti posisiku?... apa kamu mengerti perasaan seorang istri yang merasa ketakutan setiap detiknya, karena teramat sangat mengkhawatirkan keselamatan suaminya?...”


“Apa kamu memahami itu?... tidak bukan?...”


“Jika kamu paham, kamu seharusnya tidak mengambil keputusan secara sepihak!”


Namun kemudian ia mengingat beberapa kalimat yang dilontarkan Gadis padanya, sebelum istrinya itu menggumamkan kalimat yang membuat hati Putra rasa geram.


Dan kalimat-kalimat Gadis saat sebelum ia menggumamkan kalimat yang membuat Putra geram itu, terasa mengusik hati Putra.


Karena tak hanya ucapan Gadis yang ia ingat dengan suaranya yang melirih itu saja.


Namun wajah Gadis yang nampak putus asa, berikut dengan mata yang berkaca-kaca dan sedikit basah.


Membuat Putra mendengus kasar, namun setelahnya ia menghela nafasnya dan terdengar sedikit berat.


‘I supposed not to lick my own spit!. ( Aku seharusnya tidak menjilat ludahku sendiri! )..’


**


“You should feel pity to yourself ( Seharusnya kau mengasihani dirimu sendiri ), Putra.”


“For? ( Untuk? ) ..”


“Having someone, a woman, at your side ( Memiliki seseorang, seorang wanita, disisimu )”


“Haha! .. So funny ( Lucu sekali )”


“Warmed your bloody-cold-hearted ( Hangatkan hati-beku-sialanmu itu )”


“Well, this bloody-cold-hearted of mine, is totally comfort me ( Yah, hati-beku-sialanku ini, sangat membuatku nyaman )”


“Listen to me, take your time for a while. Probably you can find a woman who can charmed your heart and make you fall .. for at least, you will have someone to accompany you when you grow old, and not alone in this world .. or maybe, when you take your last breathe, she might took her last breathe in the same time with you ..”


( Dengarkan aku, rehat lah barang sejenak. Mungkin saja kau dapat menemukan seorang wanita yang dapat mempesona hatimu dan membuatmu jatuh cinta .. setidaknya, kau dapat memiliki seseorang yang bisa menemanimu saat kau menua, dan tidak sendirian di dunia ini .. atau mungkin, saat kau menghembuskan nafas terakhirmu, dia pun akan menghembuskan nafas terakhirnya bersamamu .. )


“Sounds beautiful  ( Kedengarannya indah ) ..”


“It is beautiful ( Memang indah nyatanya ) ..”


“No, Rery, I won’t fall into a woman. I won’t let that happen either. ( Tidak, Rery, Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada seorang wanita. Akupun tidak akan membiarkan itu terjadi )”


“....”


“Because that, can make me having a weakness. And I won’t let that weakness in me. ( Karena itu, bisa membuatku memiliki kelemahan. Dan aku tidak akan membiarkan kelemahan itu ada padaku )”


***


‘And that weakness is in me now!. Damn It!. ( Dan kelemahan itu kini ada padaku!. Sial Sekali! )’ Putra membatin.

__ADS_1


Setelah sekelebat ingatan tentang pembicaraannya dengan Rery mampir di otaknya, dikala Putra sedang merasa geram juga gusar pada sikap Gadis padanya.


Putra kemudian menghela nafasnya lagi. Masih ada sisa kegeraman pada Gadis dalam hati Putra sebenarnya, namun justru itu terasa mengusik hingga membuat hatinya terasa tidak nyaman saat ini.


‘I guess it was you who send her and make her come into my life. And make my calm heart all this time without thing about woman, become mussy like this ( Aku rasa kau yang mengirimnya serta membuatnya masuk dalam hidupku. Hingga hatiku yang biasanya tenang tanpa ada hal tentang wanita, menjadi kacau seperti ini ), huh, Rery?’


Putra membatin geli sendiri, sembari ia geleng-geleng, saat ia sudah kembali ke dalam kamar, dan mendapati Gadis tetap berada di atas ranjang mereka, dengan posisi yang persis seperti saat ia tinggalkan Gadis di kamar, saat Putra keluar dari sana tadi.


Putra kemudian menghembuskan nafas berat, sebelum ia melangkahkan kakinya untuk berjalan ke arah ranjangnya dan Gadis.


“Kamu egois, Putra.”


Sebaris kalimat gadis tersebut terngiang lagi di telinga juga benak Putra, melihat tubuh Gadis yang meringkuk di atas ranjang.


Putra mengusap wajahnya sedikit kasar.


Bahkan sepertinya Gadis tidak bergeming dari posisinya sedikit pun saat ia telah mulai mengabaikan Putra, hingga Putra keluar dari kamarnya saking ia kesal.


Putra berjalan ke arah dimana tubuh Gadis menghadap, dan bersimpuh di sisi ranjang tempat Gadis berada. Ada jejak air mata, di mata istrinya itu. Membuat Putra jadi bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, hal yang sepertinya tidak patut ia tanyakan.


‘Apa dia menangis sampai ketiduran? ..’


Ada sesal yang mendera kemudian dalam hati Putra karena jejak air mata di mata Gadis itu.


Kemudian Putra berdiri, lalu menghela lagi nafasnya.


Setelahnya, Putra menarik selimut dan membalut tubuh Gadis yang sedang meringkuk di atas ranjang itu.


Putra pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan membersihkan mulutnya, setelah ia menyelimuti Gadis.


***


Putra langsung naik ke ranjang dan menelusupkan dirinya ke dalam selimut yang membalut tubuh Gadis.


Dengan berbaring miring, Putra memandangi punggung Gadis, menunggu Gadis berbalik, kemudian memeluk dirinya seperti biasa.


Karena sejak mereka sudah tidur bersama, Gadis akan selalu tidur dalam dekapannya. Namun saat ini, terasa berbeda bagi Putra. Sudah beberapa lama ia menunggu, tapi Gadis tidak juga membalikkan tubuhnya, atau bahkan sedikit bergerak.


‘Apa kamu begitu sakit hati padaku, sampai alam bawah sadarmu pun menahan dirimu agar tidak berbalik dan memelukku? ..’ Putra bertanya lagi dalam hatinya.


Satu tangan Putra kemudian sudah terangkat untuk menyentuh Gadis, namun urung.


‘Jika kamu serius dengan perkataanmu tadi, apa saat bangun kamu akan meminta untuk berpisah denganku, Gadis? ..’


Ada pergolakan batin dalam hati Putra saat ini.


***


Pergolakan dalam batinnya Putra abaikan, dan kini ia merapatkan dirinya dengan Gadis yang masih nampak bergeming pada posisinya.


Putra menggeser tubuhnya hingga berdekatan dengan Gadis, sampai punggung yang biasanya terasa hangat tapi sedang terasa dingin sekarang itu menempel pada dadanya.


Putra kemudian mendekap erat tubuh Gadis, dan seolah tak perduli jika Gadis terbangun karena ulahnya, Putra membalikkan tubuh Gadis agar menghadapnya.


Namun tetap, Putra membalikkan tubuh istrinya itu dengan hati-hati dan perlahan.


Tanpa bisa Putra tahan juga, ia memberikan beberapa kecupan di kepala dan kening Gadis.


‘Tidak akan kulepas, meski kamu ingin melepas. Gadis ..’


***


To be continue ..


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan kalian untuk karya receh dari author yang juga receh ini, yawgh.


Hehe ..


Terima kasih sebelumnya.

__ADS_1


Loph Loph.


__ADS_2