LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 201


__ADS_3

Happy reading ..


****************


Belanda, Eropa ..


“If I still unable to contact Villa, then I will fly to Indo by today, as soon as possible, no matter what. ( Jika aku masih tidak bisa menghubungi Villa beberapa saat lagi, maka aku akan terbang ke Indo hari ini juga secepatnya, apapun yang terjadi )”


Putra yang masih duduk di tempatnya di dekat sebuah pesawat telepon yang salurannya sangat rahasia dan berada di dalam kamar pribadi Ramone itu berbicara dengan tatapan serius pada sang ayah baptis.


“But you have to consider about the weather too. ( Tetapi kau harus mempertimbangkan tentang cuaca juga )” Ucap Ramone pada Putra.


Putra terdiam, lalu melirik ke arah luar.


“You can’t go if there’s a blizzard winds. ( Kau tidak bisa pergi jika ada badai salju )”


Ramone berucap.


“I know .... ( Aku tahu .... )”


Putra menyahut pelan. Lalu melirik ke arloji di pergelangan tangannya, kemudian meraih lagi gagang dari pesawat telepon yang tadi ia gunakan.


“I’ll try once more. ( Aku akan coba sekali lagi )” Ucap Putra.


Putra pun kembali memutar beberapa angka di badan telepon rotary dial yang ada di dalam kamar pribadi Ramone itu.


“Give me Frans safe number, if I still unable to reach line at Villa. ( Berikan aku nomor Frans yang aman untuk dihubungi, jika aku masih tetap tidak bisa menghubungi Villa ) ....” Ucap Putra.


Ramone mengangguk, dan Putra sedang menunggu suara dari balik gagang telepon yang sudah tertempel di telinganya.


Hingga kemudian suara helaan lega, terdengar dari Putra.


****


Indonesia..


“Is that Putra?.... ( Apa itu Putra?.... )” Gadis bertanya pada Addison yang telah menghampirinya dan Bruna setelah Addison selesai berbicara di saluran telepon rahasia dalam Villa. Gadis merasa sedikit was-was karena wajah Addison seperti nampak tegang dalam pandangannya.


“No it wasn’t Putra. ( Tidak itu bukan Putra )” Jawab Addison.


“Then who?.... ( Lalu siapa?.... )” Kini Bruna yang bertanya.


“Hiz.” Jawab Addison sembari menatap pada Bruna.


“There’s a bad news right?....”


( Ada kabar buruk bukan?.... )


Melihat wajah serius sang suami setelah menerima berbicara di telepon, membuat Bruna memiliki kesimpulan.


Wajah Bruna juga nampak was-was seperti halnya Gadis, dan Bruna juga merasa sedikit khawatir.


Dan wajah Bruna menjadi nampak semakin khawatir saat Addison menganggukkan kepalanya. “About?.... ( Tentang?.... )” Tanya Bruna lagi.


“Anth ....” Jawab Addison.


“Anth?!” Bruna mengernyitkan dahinya.


“Apa Anthony dalam bahaya?. Em, I mean, is Anthony is in danger?” Gadis yang sempat bertanya dengan bahasa Indonesia lalu meralatnya itu, juga spontan mengajukan pertanyaannya terkait ucapan Addison tadi.


“Let’s have a seat first. ( Kita duduk dulu )” Ajak Addison.


Bruna dan Gadis mengangguk dan mengiyakan ajakan Addison.


“Literally, Anth is not in danger. ( Secara harfiah, Anth tidak sedang dalam bahaya ) ....”


Bruna dan Gadis memperhatikan dan mendengarkan setiap ucapan Addison dengan seksama.


“But what Hiz said is connecting with Anth. ( Tetapi apa yang tadi Hiz katakan berkenaan dengan Anth )”


“What is it? ( Apa itu? ) ....” Bruna sontak langsung bertanya pada Addison. Sementara Gadis belum berkomentar lagi, karena sesungguhnya ia belum paham tentang apa yang Addison dan Bruna sedang bicarakan.


Yang membuat Gadis bertanya pada Addison tadi, karena salah satu saudara lelaki dari suaminya itu menyebut nama Anthony dengan wajah yang serius.


Jadi Gadis langsung saja merasa was-was dan khawatir, jika anak lelakinya dan Putra itu andai berada dalam bahaya. Sedikit banyak Gadis sudah tahu kisah Anthony dan Putra, jadi berdasarkan hal itu, Gadis memiliki kekhawatiran bahkan ketakutannya sendiri, jika Anthony terancam bahaya, meskipun Anthony bukan anak kandungnya dan Putra.


“Is it also connecting with that bastardo? ( Apakah ini juga berkaitan dengan b*jingan itu? )....”


Bruna kembali bertanya pada Addison. Dan Addison yang tahu siapa orang yang disebut sebagai b*jingan oleh istrinya itu kemudian mengangguk.


“Hiz said, that bastardo will be heading to Ravenna. ( Hiz mengatakan, b*jingan itu akan pergi ke Ravenna )” Papar Addison.

__ADS_1


“But what for? ( Tetapi untuk apa? ) ....” Tanya Bruna.


“To search for Anth’s corpse. ( Untuk mencari jasad Anth )”


“He what???!!! ( Dia apa???!!! )”


Bruna sampai sedikit memekik saking ia terkejut.


Gadis juga terkejut mendengar ucapan Addison soal jasad Anthony yang kata Addison sedang dicari seseorang yang Bruna dan Addison sebut sebagai bastardo.


Gadis memang tidak ingat nama, tapi rasanya ia tahu bastardo yang dimaksud oleh Bruna dan Addison. Orang yang telah membunuh orang tua kandung Anthony.


Namun Gadis diam saja. Memilih untuk mendengarkan dulu apa yang akan Addison katakan selanjutnya.


Mungkin saja, setelah itu Gadis bisa membantu memikirkan sebuah solusi.


“What Hiz got from his informant, that bastardo get a new ‘friend’ ( Apa yang Hiz dapat dari informan nya, b*jingan itu mendapatkan seorang ‘teman’ )....”


Addison menekankan kata ‘teman’ dalam ucapannya.


“Which is someone in England’s PD ( Yang mana seseorang di Kepolisian Inggris )....” Sambung Addison. “Who said, if Jaeden could find Anth’s corpse, then that guy in PD could help Jaeden get the letter of Anth’s death ( Yang mengatakan, jika Jaeden dapat menemukan jasad Anth, maka pria itu dapat membantu Jaeden mendapatkan surat kematian Anth ) ....”


“.....”


“Which that means ( Dan itu artinya )....”


“That bastardo can use that letter to take out Kingsley’s and Rery’s money and wealthy in England, and make those become his ( B*jingan itu dapat menggunakan surat tersebut untuk mengeluarkan uang dan kekayaan Kingsley serta Rery di Inggris, dan menjadikan itu miliknya )”


“Exactly ( Tepat sekali )” Tukas Addison, setelah Bruna menyambar kalimat yang ingin ia ucapkan sebelumnya. “Even if Jaeden knows that Rery has some assets in Ravenna and some other at the different places in Italy, he might try to take those too, regarding that no one of Rery’s men was left at there ( Bahkan jika Jaeden mengetahui kalau Rery memiliki beberapa aset di Ravenna dan pada tempat lain yang berada Italia juga, dia kemungkinan akan mencoba mengambilnya juga, mengingat tidak ada satupun orang-orangnya Rery yang tersisa disana ) ....”


"Then are you telling Putra about this? ( Lalu apakah kau akan mengatakan ini pada Putra? )" Tanya Bruna pada Addison, sekedar memastikan.


"I have to ( Aku harus mengatakannya )." Jawab Addison pasti.


"Ya I know Putra must be told about this, but what I mean is the time that you have to tell him ( Iya aku tahu kita memang harus mengatakan pada Putra soal ini, tapi maksudku adalah waktu kau untuk menyampaikannya ) ...."


"When Putra called, then I will tell him directly ( Saat Putra menghubungi, aku akan langsung mengatakan padanya )"


"Isn't it better if we told him when he and Garret comeback here first?.... ( Bukankah sebaiknya kita memberitahukan Putra, saat dia dan Garret kembali terlebih dahulu kesini? .... )"


Addison tak menyahut. Ia kemudian menimbang-nimbang ucapan Bruna barusan.


***


Gadis bersuara, saat Addison tengah nampak sedang berpikir.


Lalu Addison dan Bruna mengiyakan ucapan Gadis barusan.


"I call Dami and Danny then ( Aku akan memanggil Dami dan Danny kalau begitu )" Ucap Addison.


“But before better all of us take breakfast first? .... ( Tapi sebelumnya, sebaiknya kita semua sarapan dulu? .... )”


“Ya sure ( Ya tentu )”


Addison dan Bruna kembali mengiyakan ucapan Gadis.


Gadis, Bruna dan Addison pun segera bangkit dari duduk mereka, dan hendak melangkah untuk keluar dari ruang kerja utama tersebut.


Triingggg ....


Namun baru saja satu langkah terayun, dering telepon dari pesawat telepon dengan saluran rahasia dalam ruang rahasia di ruang kerja tempat Gadis, Bruna dan Addison sedang berada itu terdengar berbunyi.


***


Belanda, Eropa ..


“I’ll try once more. ( Aku akan coba sekali lagi )” Ucap Putra.


Lalu Putra pun kembali memutar beberapa angka di badan telepon rotary dial yang ada di dalam kamar pribadi Ramone itu.


“Give me Frans number if I still unable to reach line at Villa. ( Berikan aku nomor Frans jika aku masih tetap tidak bisa menghubungi Villa ) ....” Ucap Putra lagi.


Ramone mengangguk, dan Putra sedang menunggu suara dari balik gagang telepon yang sudah tertempel di telinganya.


“However, you can use this house local line to call the local line at Villa ( Ngomong-ngomong, kau bisa menggunakan saluran lokal di rumah ini untuk menghubungi Villa di saluran yang biasa )....”


Namun Putra menggeleng.


“I don’t want to take any risk ( Aku tidak ingin mengambil resiko apapun )” Ucap Putra pasti, dan Ramone pun mengangguk paham.


Hingga kemudian suara helaan lega, terdengar dari Putra saat nada sambung dari sebrang terdengar di telinganya. Dimana artinya dia dapat berkomunikasi dengan mereka yang memiliki akses pemberitahuan jika ada panggilan masuk ke saluran telepon rahasia di Villa.

__ADS_1


“Now is able to contact? ( Sekarang sudah dapat dihubungi? )”


“Yes it is ( Iya sudah ) ....” Jawab Putra karena nada sambung yang ia dengar sudah bukan bernada sibuk lagi. "The tone sounds not busy anymore ( Nadanya sudah tidak sibuk lagi )...."


“Hopefully everything are okay there .... ( Semoga keadaan baik-baik saja disana .... )” Harap Ramone, dan Putra pun mengangguk samar.


***


Putra memajukan sedikit tubuhnya saat suara sapaan dari sebrang telepon terdengar di telinganya.


“Ad,” ucap Putra yang langsung mengenali jika suara yang menyapanya itu adalah suara Addison.


‘Putra.’


“Did you just used the line? ( Apakah kau baru saja menggunakan saluran ini? )....” Tanya Putra.


‘Hiz just called few moments ago ( Hiz menghubungi beberapa saat yang lalu )’ Jawab Addison.


“And what news from him? ( Dan ada kabar apa darinya? )....”


‘Ad,’


Terdengar suara lain yang tertangkap di telinga Putra.


Suara yang juga Putra kenali siapa pemiliknya. “Is Bruna with you? .... ( Apakah Bruna sedang bersamamu? .... )”


‘Yes she is, and also Gadis ( Iya, dan juga Gadis ) ....’


“Gadis is also with you now? .... ( Gadis juga bersamamu sekarang? .... )” Putra memastikan, juga merasa sedikit heran.


‘Yes she is ( Iya )....’ Sahut Addison.


“With Anth also? ( Dengan Anth juga? )”


‘No, Anth still sleeping ( Tidak, Anth masih tidur )’


Putra manggut-manggut, sementara Ramone masih diam saja memperhatikan Putra yang sedang berbicara di saluran telepon rahasia, dalam kamar pribadinya itu.


‘Do you want to talk with Gadis? ( Apa kau ingin berbicara dengan Gadis? )....’ Gantian Addison yang bertanya.


“Ya of course I want. But before that, tell me what news from Hiz. Bad or good things? ( Ya tentu saja aku mau. Tapi sebelum itu, katakan padaku ada kabar apa dari Hiz. Kabar buruk atau bagus? ) ....” Jawab Putra.


‘Consider it’s something that ungood ( Anggap saja ini sesuatu yang tidak bagus ) ....’


Wajah Putra nampak berubah sedikit serius.


“Tell me .... ( Katakan padaku .... )” Ucap Putra.


‘It’s about something that Jaeden wants to do ( Ini tentang sesuatu yang ingin Jaeden lakukan ) ....’


“Explain. ( Jelaskan )”


Lalu Addison menjelaskan semua informasi yang ia dengar dari salah satu orang yang berada di pihaknya dan Putra, yang berada di Inggris.


“HE WHAT??!!.... ( DIA APA??!!.... )”


Dan Putra langsung berseru dengan sangat kencang, berikut wajahnya yang menampakkan keterkejutan yang amat sangat, membuat Ramone juga ikut merasa terkejut bukan main.


Tapi kegeraman juga nampak terlihat di wajah Putra, dimana sorot mata Putra nampak tajam ke arah selurusannya, dengan rahang yang mengetat.


“Motherfcker!”*


Didetik berikutnya, Putra terdengar mengumpat kasar, setelah mendengar pemaparan Addison panjang lebar dari Addison barusan.


‘Then what your plan now? ( Lalu apa rencanamu sekarang? )’ Tanya Addison.


“I’m heading to Ravenna then ( Aku akan pergi ke Ravenna kalau begitu )”


‘Don’t do something reckless. ( Jangan melakukan hal yang ceroboh )’


Addison dengan segera mengingatkan Putra.


Putra terdiam kemudian.


‘Look, I know you feel wroth now ( Aku tahu, kau sedang gusar sekarang )....’


Sementara itu Addison kembali berbicara.


‘But you can’t go face Jaeden at Ravenna with not enough preparation ( Tapi kau tidak bisa begitu saja menghadapi Jaeden di Ravenna tanpa persiapan yang cukup )....’


“I think, now I can get enough preparation Ad ( Aku rasa, sekarang aku sudah bisa mendapatkan cukup persiapan Ad )” Tukas Putra.

__ADS_1


***


To be continue .....


__ADS_2