LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 87


__ADS_3

Happy reading.....


**********************


“.......”


“Then I will introduce you guys with Delima ( Kalau begitu aku akan memperkenalkan kalian dengan Delima )”


“De-lima?”


“The Rose of this place ( Mawarnya tempat ini )”


Si Bos Kasino memberikan gambaran tentang seseorang, yang dari kata-katanya menggambarkan kalau orang tersebut, yang bernama Delima dan kemungkinan besar adalah seorang wanita, adalah primadona di Pub itu.


“A very captivating lady, that probably can make you think to make her yours ( Wanita yang sangat mempesona, yang mungkin saja akan membuatmu berpikir untuk menjadikannya milikmu )”


“Hemmm...” Putra berdehem seraya menggumam pelan.


“A Local lady, but her beauty, cannot be compare with all of beautiful women here..”


“( Wanita lokal, tetapi kecantikannya, tidak dapat dibandingkan dengan semua wanita cantik disini )....”


Si Bos Kasino itu mengagungkan wanita yang ia katakan bernama Delima.


Putra menarik satu sudut bibirnya.


Jika mendengar penjabaran mengenai seorang wanita yang bernama Delima ini dari apa yang digambarkan oleh si Bos Kasino, rasanya wanita bernama Delima itu begitu memang sangat cantik dan mempesona.


Lagipula pria-pria ekspatriat macam Putra dan saudaranya ini, memang memiliki penilaian mereka sendiri mengenai wanita cantik. Mengingat juga, dulu saat masih di Inggris, yang mereka lihat adalah wanita-wanita yang berasal dari keluarga kaya, bahkan punya garis keturunan bangsawan.


Sudah terbayang bagaimana terawat nya wanita – wanita tersebut. Pun, wanita – wanita yang dapat dikatakan sebagai wanita penghibur, adalah wanita – wanita pilihan yang dikhususkan untuk melayani para pria kaya dan berpangkat serta memiliki status sosial yang tinggi.


Dan memang yang selama ini wara – wiri di sekeliling Putra dan para saudaranya, rata – rata adalah wanita Eropa. Dan si Bos Kasino yang memang seorang pria Eropa ini, pastinya memiliki selera yang tinggi juga soal wanita,


melihat betapa perlente nya dia, dan wanita yang menemani si Bos Kasino ini juga terlihat berbeda dari wanita penghibur lainnya.


Jadi, jika si Bos Kasino ini memuji wanita bernama Delima itu dengan sebegitunya, pastilah wanita itu memiliki daya tarik yang luar biasa.


Namun sungguh Putra tidak merasa tertarik sama sekali.


“Well, from how your face and the way you describe how gorgeous this woman, I believe she’s that beautiful and charming. But as I said, I don’t like a woman ..”


“( Dari bagaimana wajah dan caramu menggambarkan betapa memukau nya wanita ini, aku percaya dia secantik dan semempesona itu. Tetapi seperti yang kukatakan padamu... )”


“You don’t like the ‘touched’ woman ... ( Kau tidak suka wanita yang sudah ‘tersentuh’... )” Sambar si Bos Kasino seraya tersenyum.


Putra juga menyunggingkan senyum.


“Delima is not an escort lady. She’s a singer ( Delima bukan wanita penghibur. Dia penyanyi )”


“Hemmm...”


“So the ladies singer here are also giving another ‘pleasure’ than watch and hear them singing?.. ( Jadi penyanyi wanita disini juga bisa memberikan ‘kesenangan’ lain selain melihat dan mendengar mereka bernyanyi? ) ...”


Itu Garret yang menyambar dengan wajahnya yang nampak berbinar, karena kebetulan dia juga penasaran dengan penyanyi wanita yang salah satunya pernah ia lihat dan cukup menarik bagi Garret untuk ia coba ajak ‘berperang’ diatas ranjang.


“Not all of them. They have four ladies singer here, but two of them, you may say that they kind of difficult to ‘persuade’. Or maybe they have their own ‘taste’? to accept men who want to spend ‘more time’ with them? ( Tidak


semua dari mereka. Mereka memiliki empat penyanyi wanita disini, dua dari mereka, katakanlah sulit untuk ‘membujuk’ mereka. Atau mungkin mereka memiliki ‘selera’ mereka sendiri? Untuk menerima laki – laki yang ingin menghabiskan ‘waktu lebih’ dengan mereka? )”


Si Bos Kasino itu mengangkat bahu dan sedikit membuka tangannya, kemudian terkekeh kecil.


“Makes me feel challenged to try ( Membuatku merasa tertantang untuk mencoba )” Celetuk Garret.


“Hem, but not this time! ( Tapi tidak sekarang! )”


Addison langsung menyambar sembari mendelik pada Garret yang tersenyum lebar kemudian.


“Not to try to woo a singer, not even to do what your dirty brain planning right now! ( Tidak untuk merayu seorang penyanyi, tidak juga melakukan apa yang otak kotormu rencanakan saat ini! )” Sambar Addison lagi, seraya


melirik wanita yang sedang bergelayut manja pada Garret.


“Oh come on Ad .... ( Ayolah Ad .. )”


“Ad was right.. you can do it later with Dami. But not tonight”


“( Ad benar .. kau bisa melakukannya nanti bersama Dami. Tapi tidak malam ini )”


Putra menimpali ucapan Addison sembari melemparkan sorotan tatapan yang Garret pahami maksudnya.


“Alright, Alright ...”


Garret pun mengiyakan ucapan Putra.


Lagipula memang saat ini, Garret tahu pasti kedatangan mereka hanya untuk sekedar melakukan pertemuan bisnis saja.

__ADS_1


Tidak santai seperti tiap minggunya jika mereka mengajak Anthony turut serta ke Ibukota.


“Well, seems that we have to go now.. ( Baiklah, sepertinya juga kami harus berpamitan sekarang .. )”


Putra hendak beranjak pergi.


“That fast?.. ( Secepat itu?.. )”


“Hemm ..”


Putra yang sudah berdiri dari duduknya itu manggut-manggut.


“Well, for at least let me introduce you with Delima, then you can decide if everything I describe about Delima is right”


“( Yah, setidaknya biarkan aku memperkenalkan mu dengan Delima, dan kau bisa menilai jika semua yang aku gambarkan tentang Delima itu benar )”


“Next time maybe .. ( Lain kali saja .. )”


Lagi, Putra menolak dengan halus.


“Won’t be long ( Tidak akan lama )..”


Si Bos Kasino itu memanggil seorang pelayan pria lalu berbisik padanya.


“Delima is sweet and nice, also smart. So when you came here again, you can ask her to accompany you for a chit-chatted .. ( Delima itu manis dan baik, juga pintar. Jadi jika kau datang kesini lagi, kau bisa memintanya untuk


sekedar menemanimu ngobrol )..”


Si Bos Kasino kembali berbicara pada Putra selepas ia berbisik pada seorang pelayan pria dan pelayan itu kemudian berlalu ke lantai bawah.


**


Selang beberapa menit...


Pelayan pria yang tadi pergi setelah si Bos Kasino itu berbisik padanya kini sudah kembali lagi ke tempat dimana Putra berada dan kini sudah berdiri sembari merokok seraya menunggu seorang wanita yang hendak diperkenalkan oleh si Bos Kasino tersebut.


“Bagaimana? ... hari ini Delima datang?” Tanya si Bos Kasino yang terlihat sudah fasih juga berbahasa Indonesia pada pelayan yang tadi ia suruh itu.


“Datang Tuan” Jawab pelayan tersebut. “Tapi Mba Delima tidak bisa menghampiri Tuan sekarang, karena dia akan tampil setelah Mba Connie dan Mba Delima sedang bersiap di ruang ganti saat ini. Jadi Mba Delima mohon maaf baru bisa menemui Tuan setelah ia tampil nanti ...”


“Hm, begitu ya?..”


Si Bos Kasino itu manggut – manggut.


“She has to perform ( Dia harus tampil )” Sahut Putra. “Right? ( Benar bukan? )” Sambung Putra.


“So, you understand Bahasa? ( Jadi, kau mengerti Bahasa?)” Tanya si Bos Kasino dengan tersenyum pada Putra.


Putra juga menyunggingkan senyum. “Aku mengerti dan kurasa aku juga dapat berbahasa Indonesia dengan baik” Ucap Putra kemudian.


“Wow!” Si Bos Kasino tersebut nampak takjub karena kefasihan Putra juga cukup jelas saat berbicara bahasa dalam negerinya para Inlander ini.


“Baiklah, jika begitu, kami permisi sekarang ..”


Putra mengulurkan tangannya untuk berjabat seraya berpamitan pada si Bos Kasino tersebut kemudian berpamitan juga pada Dalu, yang membawa sebuah tongkat kayu untuk membantunya berjalan karena kakinya sedikit pincang itu.


Si Bos Kasino pun manggut-manggut seraya menerima uluran tangan Putra, lalu Addison, Garret dan Arthur.


Dan setelahnya, Putra bersama tiga orang yang bersama dengannya termasuk juga dua pengawal pribadi yang ikut serta, bergegas untuk keluar dari dalam Pub tersebut.


**


🎵


Betapa Sedih dan Luka Hatiku .. S’lama Ini Ia Merawat Sakitku ..


Walau, Kini Aku Akan Pergi, Jauh ..


🎵


Putra sekilas memalingkan wajahnya ke arah Pub saat sayup-sayup suara merdu seorang wanita melantun dari dalam sana.


‘Sepertinya itu penyanyi wanita yang sama yang juga bernyanyi saat pertama kali kami datang kesini’


Putra membatin. Hendak menegasi wajah penyanyi wanita yang memang suaranya sangat merdu itu. Yang Putra bisa kenali suaranya, karena sejak awal mendengar, rasanya Putra menyukai suara penyanyi wanita yang mendendangkan lagu ber melodi santai berbahasa Indonesia tersebut.


“We’ll comeback to Villa tomorrow morning right? ( Kita kembali ke Villa besok pagi bukan? )” Suara Garret membuat Putra memalingkan wajahnya dari arah dalam Pub.


“Yes we are ( Iya )”


“Alright ( Ya sudah )”


“Please, ( Silahkan )”


Arthur mempersilahkan Putra untuk masuk ke mobil terlebih dahulu.

__ADS_1


Namun Putra bergeming sejenak. “You guys comeback first .. ( Kalian berdua kembalilah duluan.. )”


Putra berkata pada Garret dan Addison.


“I have one thing to do, ( Ada satu hal yang ingin kulakukan terlebih dahulu )”


**


“You wait here ( Kau tunggu saja disini ), Arthur..”


Putra berkata pada Arthur yang menemaninya berikut satu orang anak buah mereka yang menjadi supir.


Sementara yang dua lagi mengantar Garret dan Addison ke kediaman mereka yang berada di Ibukota itu.


“Okay”


Arthur menyahut seraya mengangguk dan Putra keluar dari mobil.


Arthur tidak bertanya kepentingan Putra yang minta diantar ke sebuah tempat yang nampak seperti pemukiman orang biasa itu.


Meskipun ada juga beberapa rumah besar di sekitar area tersebut. Namun tetap Arthur bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, tentang perihal apa yang membuat Putra minta diantar ke sebuah tempat yang nampak cukup padat


penduduknya itu.


Terlebih lagi Putra terlihat memasuki sebuah jalanan kecil di depan sana. “Apa tidak sebaiknya kita menemani Tuan Putra saja, Tuan Artur?” Ucap pria yang menjadi supir saat ini. “Saya khawatir daerah ini berbahaya ..”


“Kau masih ingat apa yang sudah dia lakukan dua hari yang lalu pada seseorang yang bernama Baskoro?”


“Masih Tuan. Tidak mungkin saya lupa” Sahut si pengawal pribadi yang merangkap sebagai supir saat ini.


“Jadi seharusnya kau paham sekarang, kalau Tuan Putra mampu menjaga dirinya jauh lebih hebat daripada kau dan aku”


“Oh iya benar juga Tuan!” Pria yang menjadi supir itu cengengesan.


“Tempat ini aku rasa aman dari kejahatan, kalaupun ada, penjahat-penjahat disini bukan tandingan Tuan Putra”


Arthur kemudian berkata lagi pada anak buahnya itu.


‘I just wonder, what is he doing here? ( Aku hanya heran, apa yang dia lakukan disini? )’


Arthur membatin kemudian, sembari pikirannya menerka-nerka tentang urusan Putra datang ke pemukiman biasa seperti itu, sambil juga menunggu Putra muncul kembali.


**


Sementara itu Putra menyusuri jalan yang pencahayaannya temaram hingga ia sampai didepan sebuah rumah bercat putih dengan pagar yang sudah pudar warna cat nya dan mengelupas dibeberapa bagian.


Putra sempat celingak-celinguk melihat keadaan sekitar yang sunyi dan sepi itu, namun kemudian beralih lagi ke rumah yang sudah ada di hadapannya itu.


‘Mungkin dia sudah tidur ya?’


Putra membatin, sembari berdiri didepan pagar yang terpasang gembok itu.


‘Haish Putra! Pastilah Gadis sudah tidur! Pukul berapa ini? Stupido!’


Putra merutuk dalam hati.


'Tapi aku sungguh merindukannya’


Putra menghela nafasnya. Hatinya ingin sekali mengetuk pagar, agar Gadis keluar dari rumahnya dan Putra bisa melihatnya sebentar saja.


Meski sebenarnya saat pagi hari Putra juga bisa saja mampir ke Rumah Sakit tempat Gadis bekerja karena memang dekat dengan kediamannya juga.


Tapi Putra rasanya tak sabar menunggu pagi datang untuk bertemu dengan Gadis. Dan kebetulan rumah Gadis lumayan dekat dengan Pub yang tadi Putra sambangi. Jadi ya sudah, sekalian lewat.


Meski sudah dirasa begitu larut, namun Putra berharap, siapa tahu dia beruntung bisa bertemu dengan Gadis malam ini. Dan siapa tahu Gadis mau dibujuk untuk menginap di rumah Putra yang berada dekat dengan Rumah Sakit tempat Gadis bekerja.


Putra celingak-celinguk sekali lagi. Melihat kanan kiri rumah yang bersisian dengan rumah Gadis.


‘Tapi mengapa rumah Gadis gelap sekali ya?’ Batin Putra. ‘Apa dia tidak punya uang untuk membayar tagihan listrik?’


Ada kekhawatiran kecil di hati Putra.


‘Tapi..’ Ada satu hal yang berkelebat di otak Putra. ‘Tidak mungkin juga jika rumahnya gelap seperti ini dan itu karena Gadis tidak berada di rumah saat ini bukan?’


Lamunan Putra buyar kala telinganya menangkap suara derap langkah seseorang dari arah jalanan kecil tempat ia masuk.


Hingga Putra menoleh dan menangkap sosok yang belum terlihat jelas wajahnya akibat temaramnya penerangan, namun rasanya Putra mengenali perawakan orang tersebut.


**


Inlander : “Pribumi” istilah/sebutan untuk para penduduk asli nusantara yang tercetus di era kolonial hindia belanda.


**


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2